
Agenda siang hari yang seharusnya mereka mengemas barang yang akan mereka bawa untuk berbulan madu, terpaksa tertunda karena ulah Steven. Siang itu justru Fiona masih tertidur di tempat tidur, sementara Steven, baru saja mandi.
Dia keluar mandi sambil mengeringkan rambutnya yang masih setengah basah sambil berjalan menuju tempat tidur. Beberapa tetesan air mengalir di tubuhnya.
Steven duduk di tepi ranjang, memandang wajah istrinya sejenak lalu memberikan kecupan singkat di pipi istrinya. "Saat tertidur pun kau masih terlihat manis sayaaang." Steven tidak pernah menyangka, wanita yang tidak sengaja dia tolong waktu itu kini menjadi istrinya.
Steven masih ingat bagaimana wajah Fiona ketika pertama kali melihatnya saat hujan. Wajah polos dan lugu dengan mata jernihnya membuat hati Steven bergetar. Itu pertama kalinya Steven merasakan getaran aneh setelah sekian lama tidak merasakannya.
Hati Steven tergerak dan langsung meminta Erick untuk memberikan tumpangan, padahal biasanya Steven tidak pernah peduli pada seseorang yang tidak dikenalnya. Saat itu, dia juga merasa heran, bagaimana bisa dia memiliki perasaan aneh pada wanita yang baru saja dia jumpai untuk pertama kalinya.
Saat sedang sedang larut dalam lamunannya, ponselnya tiba-tiba berbunyi. "Ada apa?" Dengan suara kecil, Steven menjawab ponselnya. Dia berjalan menjauh dari tempat tidur agar Fiona tidak menganggu tidur istrinya.
"Baiklah, tunggu di ruang kerjaku, aku segera ke sana." Steven mengakhiri panggilan telponnya, berbalik menuju lemari untuk memakai baju.
Sebelum keluar dari kamar, Steven menghampiri istrinya terlebih dahulu, memberikan kecupan di pipi dan dahinya lalu pergi ke ruang kerjanya.
Steven menuju meja kerjanya setelah melihat Erick duduk di sofa di ruangan itu. "Ada apa?" Dengan ekspresi tenang, Steven menatap Erick.
"Nona Lily ada di negara ini, Tuan, dia ingin bertemu dengan Anda," info Erick.
Raut wajah Steven sedikit mengencang. "Untuk apa dia ke sini?"
"Dia tidak terima saat mengetahui Anda menikah dengan nona Fiona. Dia masih menganggap kalau Nona Fiona lah yang menyebabkan kakaknya meninggal," jeda Erick sejenak, "jika anda tidak menceraikan nona Fiona, dia berniat untuk membuka kembali kasus nona Gwen, dia ingin Nona Fiona membayar atas apa yang sudah dia lakukan terhadap kakaknya. Dia bilang tidak akan melepaskan Nona Fiona."
Steven memejamkan matanya beberapa saat, ketika matanya terbuka kembali, ada kilatan kemarahan dalam sorot matanya. "Apa ayahnya tahu dia ke sini untuk menuntut pertanggung jawaban Fiona?"
"Tuan Darius sedang dalam perjalanan bisnis di negara barat, jadi tidak tahu kalau Nona Lily ke sini. Saya rasa, Nona Lily marah karena Tuan menikahi orang yang dianggap sebagai pembunuh kakaknya."
Lily memang sampai saat ini, masih menganggap kalau Fiona yang sudah menyebabkan kakaknya meninggal. Padahal, ayahnya berkali-kali mengatakan kalau Fiona tidak salah, tapi Lily seolah menulikan telinganya.
Diam-diam dia berniat untuk membalas dendam pada Fiona. Saat mendengar berita pernikahan Steven dan Fiona, Lily meradang. Dia merasa marah karena menganggap Fiona mengambil keuntungan atas meninggalnya Gwen.
Apalagi, sebenarnya dia juga menyukai Steven. Saat masih berpacaran dengan Gwen, Lily diam-diam sering memperhatikan Steven. Sikap baik Steven terhadapnya disalah artikan oleh Lily.
Steve berdiri lalu melangkah ke depan jendela sambil memandang keluar. "Bawa dia kembali ke negaranya, jangan sampai dia membuat masalah, apalagi sampai bertemu dengan Fiona. Aku akan menghubungi ayahnya nanti."
"Bagaimana kalau dia menolak untuk pergi?" tanya Erick hati-hati.
Steven menoleh tanpa membalik badannya. "Lakukan dengan cara apapun untuk membawanya pergi, termasuk membawanya secara paksa. Aku tidak mau ada seorang pun yang membahas masalah Gwen lagi di depan Fiona. Aku tidak akan mentoleransi siapapun yang berniat mengusik Fiona, meskipun dia adalah adik Gwen." Nada bicara Steven penuh penekanan.
"Baik, Tuan."
"Perketat penjagaan di mansion ini dan mansion ibuku, jangan sampai dia bertemu dengan keluargaku."
"Baik, Tuan."
Setelah kepergian Erick, Steven kembali ke kamarnya. Saat dia kembali, Fiona baru saja selesai mandi. "Kau dari mana?" Fiona yang sedang duduk di depan meja rias sambil mengeringkan rambutnya, menatap penasaran pada Steven yang baru saja masuk ke dalam kamar.
Steven tersenyum sambil menghampiri Fiona. "Aku habis berbicara dengan Erick." Steven mengambil alih hairdryer dari tangan Fiona lalu membantu Fiona mengeringkan rambutnya.
"Aku kira kau ke mana, aku mencari-carimu dari tadi, aku menelponmu berkali-kali, tapi tidak kau angkat," jelas Fiona sambil menatap Steven dari pantulan cermin yang ada di depannya.
__ADS_1
"Aku tidak membawa ponselku, sayaaang," ucap Steven lembut, "kenapa kau mencariku, apa kau sudah merindukanku?" goda Steven sambil tersenyum jahil.
Fiona berbalik sambil berdiri lalu memeluk Steven. "Aku mimpi buruk lagi," ucap Fiona lirih.
Steven membalas pelukan Fiona. "Itu hanya mimpi, sayaaaang." Steven mengurai pelukan mereka lalu mensejajarkan wajah mereka. "Dengar Fiona, aku tidak akan pernah meninggalkanmu dan tidak akan menyia-nyiakanmu lagi. Aku sangat mencintaimu. Aku tidak bisa hidup bahagia tanpamu, Fio. Percayalah padaku."
Fiona mengangguk. Steven duduk lalu menarik tangan Fiona agar duduk di pangkuannya ke posisi menghadapnya. "Apa kau masih lelah?" tanya Steven lembut sambil merapikan rambut Fiona.
"Tidak. Aku sudah cukup istirahat."
"Nanti bawa saja 3 stel baju dan barang yang kau anggap penting, kalau untuk pakaian, kita bisa membelinya saat tiba di sana."
Steven hanya tidak mau istrinya kelelahan, sebab itu dia melarang Fiona untuk membawa banyak barang saat berbulan madu.
"Iyaaa," jawab Fiona pelan sambil tersenyum.
Tangan Steven menyelinap ke dalam jubah mandi Fiona dan berhenti tepat di perutnya. "Sayaaaang, apa menurutmu, di dalam sini sudah ada anakku?" tanya Steven sambil mengelus perut rata Fiona.
Wajah Fiona memerah. "Aku tidak tahu, tapi sepertinya belum ada. Kita baru saja menikah, mana mungkin secepat itu aku hamil," jawab Fiona sambil mengalungkan tangannya ke leher Steven, "Apa kau sangat menginginkan anak?"
Steven mengeratkan pelukannya. "Iyaaa, aku sangat menginginkan anak darimu sayaang. Apa kau keberatan kalau kita segera memiliki anak?" tanya Steven sambil melepaskan pelukannya.
Fiona menggeleng pelan. "Tidak, aku juga ingin cepat hamil anakmu."
Senyum mengembang di wajah Steven. "Bagaimana kalau kita membuatnya lagi?" goda Steven sambil tersenyum nakal.
"Steve, apa kau ingin membuatku tidak bisa berjalan!" pekik Fiona sambil memukul dada suaminya.
Saat sedang bergurau, ponsel Fiona berbunyi. Dia kemudian beranjak meraih ponselnya yang ada di nakas lalu menjawabnya. "Siapa sayang?" tanya Steven setelah Fiona mematikan sambungan telponnya.
"Mama sudah di depan katanya." Fiona berjalan ke arah walk in closet untuk mengganti bajunya.
Selesai berganti pakaian, mereka berdua turun ke bawah. "Masuk Ma, maaf lama." Fiona tersenyum manis pada ibu mertuanya.
"Kalian baru saja mandi? Sepertinya kalian bekerja keras untuk membuatku keponakan," timpal Bryan yang berada di belakang Yesinta.
Wajah Fiona nampak memerah dan senyumnya terlihat kaku. "Diamlah atau kau ingin kuusir dari sini," ucap Steven sambil menatap tajam pada Bryan.
Bryan mendengus lalu melengos masuk ke dalam diikuti oleh yang lainnya. Mereka semuanya duduk santai di ruang keluarga. Fiona pergi ke dapur untuk mengambilkan minuman untuk ibu mertuanya.
"Ma, coba perhatikan kakak, menurut Mama apa yang berubah darinya?" Bryan menatap ke arah ibunya lalu beralih menatap Steven.
Yesinta memperhatikan anaknya dengan seksama.
"Lihatlah wajahnya nampak berseri-seri, sedari tadi wajahnya nampak bahagia sekali. Aku sangat penasaran, bagaimana kakak ipar bisa menaklukan pria yang dulu tidak tersentuh ini."
Sebelum mengenal Fiona, Steven memang jarang sekali tersenyum, sikapnya cendrung kaku dan serius.
"Playboy sepertimu, mana mengerti soal cinta," cibir Steven sambil menatap Bryan dengan wajah malas.
"Kau itu baru juga mengenal cinta sudah sombong," ejek Bryan, "pengalamanku ini lebih banyak darimu kalau soal wanita." Diremehkan oleh Steven, tentu saja membuat Bryan kesal.
__ADS_1
"Pengalaman bercinta maksudmu," ejek Steven, "berhentilah bermain-main dengan wanita Bryan, jangan menabur benihmu di mana-mana, atau kau akan kena batunya nanti."
Steven beralih pada ibunya. "Ma, lebih baik segera nikahkan dia, jodohkan saja dia dengan Mesy, latar belakangnya bagus, dia berpendidikan, dia juga sudah lama menyukai Bryan, dan yang lebih penting lagi, dia bisa menerima kelakuan buruk Bryan soal wanita."
Yesinta menoleh pada Bryan. "Bryan....."
Bryan langsung memotong ucapan Yesinta. "Tidak Ma, aku tidak menyukai Mesy, meskipun dia cantik, tapi aku tidak suka wanita pendiam seperti itu. Kami sangat bertolak belakang."
Yesinta menghela napas. "Kalau begitu, bawa wanita yang kau sukai pada mama. Jangan terlalu lama melajang."
"Tidak bisa secepat itu Ma, aku bahkan tidak memiliki kekasih saat ini. Lagi pula, umurku saat ini masih 28 tahun Ma. Aku masih ingin menikmati masa mudaku."
Tidak lama kemudian, Fiona datang membawa minum. Yesinta menatap menantunya dengan heran. "Fio, wajahmu agak pucat, apa kau sakit sayang?" tanya Yesinta dengan lembut.
Fiona menggeleng. "Tidak Ma, aku hanya kurang tidur."
"Itu pasti karena ulah kakak, dia tidak memberi waktu kakak ipar untuk beristirahat. Dia pasti membuat kakak ipar tidak tidur sampai lagi," tebak Bryan, "lihat jejak yang ditinggalkan di leher kakak ipar," ucap Bryan santai, "ternyata kau ganas juga, Kak. Aku tidak menyangka kau ahli juga, jangan-jangan...."
"Lebih baik tutup mulutmu, Jika tidak, akan kusuruh Erick untuk merobek mulutmu," ucap Steven sorot mata tajam.
"Lihat Ma, dia galak sekali. Aku kira jika dia sudah menikah, dia akan berubah, ternyata sama saja," ujar Bryan.
"Steve, jangan seperti itu pada adikmu. kalian ini selalu saja berdebat jika sudah bertemu."
Steven hanya menampilkan wajah acuh tak acuh.
"Kau juga Bryan, berhenti mengolok-olok kakakmu, lihatlah kakak iparmu sampai malu," ujar Yesinta.
Bryan seketika merasa tidak enak hati pada Fiona. "Maaf Kakak Ipar, aku tidak bermaksud untuk membuatmu malu, aku hanya ingin mengejek Kakak saja."
Fiona tersenyum kaku lalu berkata, "Iyaa,"
Steven menarik tubuh Fiona agar berdekatan dengannya lalu merangkul pinggangnya. "Jangan dengarkan dia, sayang. Dia itu hanya iri pada kita," ujar Steven.
"Jam berapa besok kalian akan berangkat?" tanya Yesinta mengalihkan pembicaraan.
Steven menoleh pada ibunya. "Pukul 2 siang."
"Nikmatilah waktu kalian dengan nyaman, jangan terburu-buru untuk pulang. Ada Bryan yang bisa menghandle urusan kantor jadi santai saja."
Steven tentu saja tahu maksud ibunya berkata seperti itu, tidak lain, tidak bukan agar mereka bisa segera memberikan cucu untuknya.
"Iyaa Ma."
"Kak, ingat bawakan aku satu gadis cantik dari sana," kata Bryan.
"Tidak akan ada yang mau dengan playboy sepertimu," ejek Steven.
"Kak, kau memang payah, wanita itu justru suka dengan pria sepertiku, hidupnya tidak monoton dan membosankan sepertimu," balas Bryan dengan wajah bangga.
Bersambung....
__ADS_1