Goresan Luka di Hati Fiona

Goresan Luka di Hati Fiona
Terkurung..


__ADS_3

Fiona kembali menggedor-gedor pintu kamarnya sambik berteriak. "Ma, buka pintunya, Ma. Ijinkan aku keluar." Hening, tidak ada jawaban sama sekali dari luar kamarnya.


"Buka Ma. Aku akan melakukan apapun yang mama minta asalkan mama membukanya. Tolong buka, Ma." Fiona kembali berteriak sambil terus menggedor pintu.


"Fio, tenanglah. Jangan berteriak terus nanti mama akan semakin marah padamu." Cindy menghampiri kamar Fiona ketika mendengar suara gaduh dari kamar Fiona.


"Kak Cindy, tolong buka pintunya Kak, aku mau keluar," mohon Fiona. Dia tidak lagi berteriak kencang agar tidak di dengar oleh ibunya. Dia mencoba untuk meminta bantuan kakaknya, mungkin saja kakaknya mau menolongnya.


"Fio, kunci dipegang oleh mama. Aku tidak bisa membukanya," info Cindy.


"Aku harus menemui Steven, Kak. Tolong sampaikan pada mama, aku ingin bicara dengannya."


"Fiona, lebih baik tunggu sampai besok, aku akan membujuk mama. Suasana hati mama sedang buruk. Percuma kau berbicara dengannya sekarang, yang ada mama akan bertambah marah padamu. Apalagi kedatangan Steven tadi membuat mama menjadi emosi," ungkap Cindy.


"Baiklah." Fiona akhirnya mengalah. Memaksa untuk bicara dengan ibunya ketika ibunya sedang marah dan emosi hanya akan merugikannya.


Cindy menatap pria yang berpakaian serba hitam yang sedang berdiri di depan kamar Fiona. "Biarkan aku masuk ke dalam. Aku ingin berbicara dengan adikku," ucap Cindy sambil menatap pria tersebut.


Pria tinggi dengan badan tegap dan kekar itu adalah pengawal yang sengaja Sarah sewa untuk berjaga di depan kamar Fiona agar Fiona tidak bisa kabur dari kamar tersebut ketika asisten rumah tangga Fiona membawakan makan dan minuman untuk Fiona.


"Maaf Nona, Nyonya Sarah memerintahkan saya untuk tidak mengijinkan siapapun untuk masuk ke dalam," ucap pria itu dengan tegas.


"Aku hanya ingin berbicara sebentar. Aku janji tidak akan mengatakan apapun pada mama. Aku hanya ingin melihat keadaan adikku."


Pria itu tidak bergeming. "Maaf Nona, saya tetap tidak bisa membiarkan Anda untuk masuk. Saya hanya menjalankan perintah dari ibu Anda. Sebaiknya Anda langsung bicara dengan ibu Anda jika ingin masuk ke dalam."


Cindy menghela napas lalu berjalan menuju kamarnya.


*******


"Apa kau sudah menyelidiki semua tentang ibu Fiona?" Steven yang baru saja masuk ke ruang kerjanya langsung bertanya pada Erick.


"Sudah, Tuan. Informasinya sudah saya kirimkan ke email pribadi Anda," jawab Erick sambil mengangguk.


Steven duduk di kursinya, sementara Erick berdiri di depannya. Steven mulai membuka ponsel untuk mengecek emailnya. "Ternyata begitu. Aku tidak menyangka ternyata ada hal menarik seperti ini. Awalnya aku kira, dia masih berhak sedikit atas Fiona."


Steven mendesis. "Ternyata dia sama sekali tidak berhak atas hidup Fiona dan berhak menyentuh Fiona sedikit pun. Dengan tidak tahu malunya dia menikmati apa yang bukan miliknya."


"Benar, Tuan. Tidak seharusnya nyonya Sarah memperlakukan nona Fiona dengan seenaknya."


"Apa kau yakin dengan informasi ini?" tanya Steven ketika selesai membaca informasi mengenai Sarah dan keluarganya.


"Tentu saja, Tuan. Bahkan nyonya Sarah tidak tahu mengetahui hal itu. Hanya mendiang tuan Halim dan pengacara tuan Halim yang mengetahui hal itu. Bahkan pengacara tersebut memiliki bukti yang tidak terbantahkan."


Steven menyeringai. "Apa tuan Halim mengetahui semuanya?"


"Iyaaa, Tuan. Tapi dia sengaja merahasiakannya dari istrinya."


"Apa kau memiliki salinan bukti itu?"


"Ada Tuan, saya dapatkan langsung dari rumah sakit."

__ADS_1


"Lalu di mana pria itu?"


"Dia baru saja kembali ke sini setelah mengetahui tuan Halim sudah meninggal."


"Baiklah, kita temui dia besok."


Steven meletakkan ponselnya di meja. "Aku akan mempermalukannya hingga dia tidak memiliki wajah lagi. Bawa sebagian pengawal besok, jika dia tidak mau bekerja sama denganku, aku akan mengambil Fiona dengan paksa."


"Apa Tuan ingin memberitahukan kebenaran pada nona Fiona besok?"


"Tidak, aku hanya akan berbicara dengan Sarah saja. Aku akan memberitahunya nanti setelah aku membawanya pergi dari rumah itu."


"Baik, Tuan."


******


Pagi harinya, sesuai janji Cindy dia datang untuk menemui Fiona setelah membujuk ibunya agar mau berbicara dengan Fiona. "Aku sudah mendapatkan ijin dari mama untuk masuk," ucap Cindy pada pria bertubuh tegap itu.


Pria tersebut berbalik lalu membuka pintunya. "Silahkan Nona."


Melihat pintu dibuka, Fiona langsung bangun dari tempat tidur dan menghampiri kakaknya. "Kak, apa mau mau bicara denganku?"


"Sudah, mama akan menemuimu nanti. Kau makan dulu." Cindy meletakkan makanan yang dia bawa untuk Fiona di atas nakas. Hari ini, dia tidak bekerja karena libur jadi dia memiliki waktu untuk berbicara dengan Fiona.


Cindy duduk di tepi ranjang bersama dengan Fiona. "Iyaa, Kak." Cindy terus menatap Fiona yang mulai menyendokkan makanan ke mulutnya.


"Fio, lebih baik kau akhiri saja hubunganmu dengan Steven. Sampai kapan pun mama tidak akan setuju dengan hubunganmu dengannya. Menikahlah dengan Leon, dia adalah pria yang baik."


"Kalau kau tidak mencintainya, kenapa kau menjalin hubungannya dengannya? Bukankah kalian juga berencana akan menikah sebelum kemunculan Steven?" Cindy memang tidak mengetahui tentang sandiwara Fiona dengan Leon.


"Kami hanya berpura-pura, Kak. Aku tidak punya pilihan lain karena ibu terus mendesakku untuk menikah dengan James," ungkap Fiona.


Mata Cindy terbelalak. "Mama akan marah dan akan segera menikahkanmu dengan James kalau dia tahu mengenai hal ini, Fio."


Fiona meletakkan piring di atas nakas lalu memegang tangan Cindy. "Tolong jangan beritahu mama, Kak. Aku tidak ingin menikah dengan James."


"Jadi, kau sudah memutuskan untuk menjalin hubungan kembali dengan Steven?" tanya Cindy.


Melihat Fiona terdiam sambil menunduk, Cindy berkata lagi, "Bukankah mama sudah mengatakan untuk menjahuinya? Kau ingin menentang mama?"


"Aku tidak memiliki alasan untuk menjauhinya, Kak. Aku tidak bisa menuruti keinginan mama."


Cindy geleng-geleng kepala. "Kau tidak akan bisa bersama dengan Steven, Fio. Lebih baik, segera akhir hubunganmu dengannya dan jauhi dia demi kebaikanmu. Hubungan kalian tidak akan ber...." Ucapan Cindy terhenti ketika pintu kamar Fiona terbuka dan terlihat Sarah berjalan masuk.


"Cindy, tinggalkan kami berdua," ucap Sarah sambil berdiri di depan Fiona dan Cindy.


"Iyaaa, Ma." Cindy berjalan meninggalkan kamar Fiona tanpa membantah sedikitpun.


Sarah menatap Fiona dengan wajah malas sebelum dia duduk di depan anaknya. "Apa yang ingin kau bicarakan dengan mama? tanya Sarah sambil melipat kedua tangannya.


"Ma, tolong ijinkan aku keluar, Ma. Aku harus bekerja dan juga aku...."

__ADS_1


"Ingin menemui pria itu?" lanjut Sarah sebelum Fiona menyelesaikan ucapannya.


"Ma, aku harus menemuinya."


Sarah berjalan menuju jendela kamar Fiona dan memandang keluar. "Mama tidak akan mengijinkan kau untuk bertemu dengannya sampai kapan pun." Sarah terlihat mengeryit ketika melihat deretan mobil berbaris di depan rumahnya dengan jumlah yang banyak.


"Mama tidak bisa terus mengurungkan selamanya di sini. Aku juga harus bekerja, aku bisa di pecat jika aku tidak pergi kantor dalam waktu lama," terang Fiona sambil berjalan mendekati Sarah.


Sarah berbalik menatap Fiona. "Mama tidak peduli. Kalau kau ingin keluar dari sini dan bebas seperti seperti dulu, kau harus berjanji untuk mengakhiri hubunganmu dengannya dan buat dia membencimu."


"Bagaimana kalau aku menolak untuk menjauhinya?" Fiona menatap ibunya dengan wajah serius.


"Maka, mama akan segera menikahkanmu dengan James."


Fiona membelalak. "Aku tidak mau menikah dengannya, Ma."


"Kau tinggal pilih, menjauhi pria itu atau menikah dengan James."


"Tok.Tok." Terdengar bunyi ketukan pintu kamar Fiona. "Masuk," ucap Sarah.


Pria tegap itu masuk ke dalam dan menghampiri Sarah lalu berbisik. "Apa yang ingin dia bicarakan denganku?" tanya Sarah sambil menatap pria tersebut.


"Sesuatu yang penting, Nyonya. Dia bilang akan memaksa masuk kalau Anda tidak mau menemuinya," ungkap pria itu.


"Baiklah, aku akan ke sana. Suruh dia menunggu."


"Baik, Nyonya." Pria itu membungkuk lalu pergi.


Sarah tersenyum sinis pada Fiona. "Apa kau tahu, pria itu datang ke sini untuk bertemu dengan mama. Dia pasti ingin memohon untuk bertemu denganmu."


Fiona langsung berjalan ke jendela dan melihat ke bawah. Jantungnya berdegup kencang ketika melihat Steven berdiri dan sedang melihat ke arahnya sambil tersenyum.


Fiona lalu berbalik menghadap ibunya. "Ma, ijinkan aku bertemu dengannya," mohon Fiona sambil memegang tangan ibunya.


Sarah menghempaskan tangan Fiona dengab kasar. "Tidak akan. Kalau kau tidak mau menjauhinya, maka, mama yang akan membuatnya menjauhimu dan membencimu. Akan mama pastikan kalau kalian tidak akan pernah bisa bertemu lagi." Sarah berbalik lalu berjalan ke arah pintu.


Fiona langsung menyusul ibunya. "Tunggu, Ma. Dengarkan aku dulu." Fiona menahan tangan Sarah.


Sarah menghentikan langkahnya lalu berbalik menatap Fiona dengan jengah. "Apalagi yang ingin kau bicarakan pada mama?"


"Kalau sampai mama lakukan itu. Akan kupastikan mama tidak akan mendapatkan sepersen pun dari harta warisanku."


Fiona sebenarnya tahu, kalau ibunya hanya memanfaatkannya dengan menyuruhnya segera menikah agar dia bisa menguasai warisannya. Dia pernah mengatakan kalau Fiona tidak berhak atas warisan itu.


"Beraninya kau mengancam mama." Sarah terlihat mulai marah dan emosi. "Dasar anak tidak tau diri."


"Plaaaak." Sarah kembali menampar Fiona dengan keras hingga pipinya memerah.


"Kau tidak berhak sama sekali dengan warisan itu," ucap Sarah dengab wajah sudah memerah karena marah.


Fiona memegang pipinya lalu menatap berani pada ibunya. "Tapi, sayangnya papa memberikannya padaku, Ma. Itu berarti itu adalah milikku. Jika, mama menginginkan semua warisanku, akan kuberikan dengan suka rela tapi dengan syarat. Jangan pernah menghalangi hubunganku dengan Steven dan jangan pernah ikut campur dengan urusan kami lagi," ucap Fiona dengan tegas.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2