
Belum sampai di toilet, Fiona dibuat terkejut ketika tangannya ditarik oleh seseorang. "Ikut aku."
Fiona yang masih belum sadar sepenuhnya hanya bisa mengikuti langkah pria yang menariknya. Pria itu menyeretnya ke sudut ruangan yang sepi.
Dengan gerakan cepat pria itu merapatkan tubuh Fiona pada tembok dan memegang kedua bahunya. "Fiona, apa kau sungguh ingin menguji kesabaranku?" Steven berkata dengan nada berat dan menatap nyala pada Fiona.
"Ap-apa maksudmu?" Fiona tergagap dan menatap takut pada Steven.
"Siapa pria itu?" tanya Steven dengan suara berat dan tatapan tajam.
"Di-dia Reynald," jawab Fiona terbata-bata.
"Apa hubunganmu dengannya?"
Fiona menatap takut pada Steven. "Aku tidak memiki hubungan apapun dengannya Steve," jawab Fiona dengan suara pelan.
"Kau terus memancing amarahku dengan berdekatan dengan pria lain. Tidak cukup dengan James, Leon dan sekarang Reynald. Apa kau sengaja ingin membuatku marah?"
Awalnya Steven tidak ingin memperdulikan Fiona ketika dia tidak sengaja melihatnya datang bersama dengan Reynald.
Melihat interaksi mereka yang terlihat sangat dekat, membuat dada Steven memanas apalagi saat melihat Reynald sempat merangkul pinggang Fiona meskipun hanya sebentar. Steven akhirnya memutuskan untuk menghampiri Fiona ketika dia berjalan sendirian.
"Steve, kau salah paham. Aku hanya menemani Reynald karena dia ingin memperkenalkanku kepada semua orang penting yang hadir di sini agar aku memiliki koneksi yang luas."
Steven mendesis. "Fiona, kalau hanya itu tujuanmu ke sini. Aku juga bisa mengenalkanmu pada mereka. Asal kau tahu, aku adalah tamu istimewa di acara ini. Mereka semua mengharapkanku untuk datang ke sini hanya untuk mendekatiku dan membina hubungan baik denganku agar mereka bisa menjalin kerja sama dengan perusahaanku. Seharusnya kau mengandalkanku bukannya Reynald," ucap Steven sinis.
"Lalu kenapa kau tidak mengajakku dan justru mengajak wanita lain?" tanya Fiona dengan wajah tidak suka.
"Apa kau cemburu dengan Sera?"
"Tidak," jawab Fiona cepat sambil mengalihkan pandangannya ke samping.
"Jadi, kau tidak cemburu sedikit pun padanya?"
"Aku tidak memiliki hak untuk cemburu padanya," jawab Fiona acuh. Padahal dia merasakan sakit saat melihat Sera yang terus menempel pada Steven.
"Jadi, kau tidak memiliki perasaan apapun padaku selama ini?" tanya Steven dengan alis bertautan.
Fiona hanya diam, tidak menjawab pertanyaan Steven. Melihat Fiona tidak juga meresponnya, Steven lalu berkata, "Baiklah. Aku sudah tahu jawabanmu."
Steven tersenyum getir, menatap ke bawah sejenak sebelum kembali menatap Fiona dengan wajah serius. "Fiona Adiguna Wangsa, dengarkan aku baik-baik."
Steven menatap lekat mata Fiona. "Mulai sekarang aku tidak akan pernah ikut campur dengan kehidupanmu lagi. Kau bebas melakukan apapun yang kau mau. Aku membebaskanmu untuk dekat dengan siapapun. Hutang budimu padaku, aku anggap lunas. Jangan pernah muncul lagi dihadapaku." Steven terlihat sangat marah dan kecewa pada Fiona.
__ADS_1
"Janjiku untuk menemukan keluarga ibumu dan makam orang tuamu akan tetap aku tepati. Erick akan mengabarimu. Kau tidak perlu repot-repot menemuiku lagi hanya untuk bertanya padaku. Kau boleh tinggal di mansionku sampai kau menemukan tempat tinggal yang baru."
Steven langsung meninggalkan Fiona setelah selesai bicara.
Fiona mematung sesaat. Dia hanya memandang Steven yang mulai menjauhinya. Detik kemudian dia menyusul Steven. "Steve, tunggu!" Fiona menahan tangan Steven.
"Apa kau sudah tidak mau mengenalku lagi?" tanya Fiona dengan tatapan sedih.
"Aku tidak mau terlibat denganmu lagi," jawab Steven acuh.
Mata Fiona berkaca-kaca. "Kenapa kau begitu marah padaku hanya karena melihatku bersama dengan Rey. Seharusnya kau berkaca pada dirimu sendiri. Kau juga datang bersama dengan wanita lain. Kau mengacuhkanku hanya karena aku memilih untuk berbicara dengan Leon. Kau sengaja menghindariku lalu sekarang kau marah hanya karena melihatku datang ke acara ini bersama laki-laki lain."
Fiona juga mulai terpancing emosinya ketika mengingat Steven tampak sangat dekat dengan wanita yang bersamanya.
Steven berbalik dan menatap lekat mata Fiona. "Apa kau sungguh tidak tahu alasan, kenapa aku begitu marah padamu jika kau berdekatan dengan pria lain?"
"Mana aku tahu kalau kau tidak pernah bilang," ucap Fiona sambil mengalihkan pandangannya.
"Fiona, tidak semua hal harus dibicarakan dengan jelas."
Fiona kembali menatap Steven. "Tapi, jika tidak dibicarakan dengan jelas akan menimbulkan kesalahpahaman," balas Fiona.
"Alasan kenapa aku tidak suka kau dekat dengan pria lain adalah karena aku cemburu Fio," ungkap Steven dengan wajah serius.
Fiona terlihat sangat terkejut ketika mendengar pengakuan Steven. "Aku hanya butuh pengakuan dari mulutmu Steve. Aku tidak mau salah sangka nanti."
Steven tersenyum sinis. "Fiona, aku bukan tipe pria yang suka mengumbar kata cinta seperti pria lain. Seharusnya dengan aku mengajakmu menikah sudah bisa membuktikan keseriusanku padamu. Pernikahan bukanlah hal yang bisa diucapkan oleh seorang pria hanya untuk merayu wanita seperti mengucapkan kata cinta," ucap Steven sambil menatap lekat mata Fiona.
"Apa kau pikir, aku mengajakmu menikah waktu itu hanya untuk main-main? Banyak pria di luar sana yang dengan mudah mengatakan kata cinta dan janji-janji manis diawal tapi berakhir begitu saja dengan dalih sudah tidak cinta lagi. Kata cinta mudah diucapkan, tapi tidak dengan pernikahan Fiona."
Fiona langsung terdiam. Kata-kata Steven membuatnya tertegun. "Maafkan aku Steve." Fiona menunduk dengan perasaan bersalah.
Steven meraih dagu Fiona. "Sekarang jawab aku dengan jujur, apa kau juga mencintaiku?" Jantung Steven berdetak lebih cepat ketika menanti jawaban dari Fiona.
Fiona menelan salivanya saat melihat tatapan lembut dari Steven. "Aku... Aku...."
"Fiona, jangan membuatku menunggu." Steven mulai terlihat tidak sabar.
"Aku juga mencintaimu Steve," jawab Fiona dengan suara pelan sambil menunduk. Wajahnya sudah memerah karena malu.
Ekspresi Steven langsung berubah menjadi cerah dan senyum lebar tercetak jelas di wajahnya. "Kau bilang apa tadi?" Steven sengaja bertanya karena ingin mendengar lagi dari mulut Fiona.
"Aku mencintaimu Steve," ulang Fiona. Dia memberanikan diri menatap Steven.
__ADS_1
Steven memegang kedua lengan Fiona. "Kau tidak berbohong, kan?"
Fiona menggeleng. "Tidak," jawab Fiona mantap.
Steven langsung memeluk erat tubuh Fiona. "Terima kasih, Fio." Fiona mengangguk sambil tersenyum.
"Apa kau sudah tidak marah padaku lagi?"
Steven melepaskan pelukannya. "Maafkan aku. Aku terbawa emosi tadi."
"Steve, siapa wanita yang datang bersamamu?" Fiona baru berani menanyakan langsung pada Steven setelah mereka resmi menjalin hubungan.
Steven tersenyum tipis sambil merapikan anak rambut Fiona. "Kau bilang tidak cemburu dengannya lalu kenapa sekarang kau menanyakannya?" goda Steven.
"Lupakan saja kalau kau tidak mau menjawabnya." Fiona menampilkan wajah acuhnya.
"Dia temanku," jawab Steven seadanya.
"Mana ada teman yang sikapnya seperti itu Dia terus menempel padamu seolah kau adalah suaminya."
Melihat Fiona cemburu pada Sera, membuat Steven merasa senang. "Dia memang temanku. Aku akan mengenalkanmu padannya nanti."
"Benarkah hanya teman?" Fiona masih ingat dengan jelas kalau dia sudah 3 kali melihat Steven bersama dengan wanita itu.
Steven lalu mengecup singkat bibir Fiona ketika melihat tatapan curiga darinya. "Steve, kenapa kau menciumku di sini?" Fiona menoleh kanan-kiri dengan wajah panik.
"Memangnya kenapa?" tanya Steven santai.
"Bagaimana kalau ada yang melihat?"
Steven mengedarkan pandanganya juga. "Aku tidak peduli," ucap Steven dengan wajah acuh.
"Steve, jangan pernah lakukan itu di tempat umum." Fiona hanya takut ada yang melihat dan mengambil foto mereka diam-diam lalu menyebarkannya dan hal itu bisa merusak reputasi Steven nantinya.
"Kalau begitu, lebih baik kita pulang." Steven lalu menarik tangan Fiona menuju pintu samping menuju parkiran.
"Tapi Steve, aku harus bicara dengan Rey dulu."
"Hubungi saja dia lewat telpon. Aku tidak suka kau dekat-dekat dengannya."
"Tapi acaranya belum selesai Steve"
"Biarkan saja. Aku tidak mau berlama-lama di sini."
__ADS_1
Bersambung...