Goresan Luka di Hati Fiona

Goresan Luka di Hati Fiona
Belum Menemukannya


__ADS_3

Pagi harinya, Erick berjalan menuju ruang keluarga di mana Steven yang sedang terlelap di sofa. Dia mulai membuka horden yang menutupi ruangan tersebut.


"Apa kau belum mendapatkan kabar juga?" Steven yang baru saja membuka matanya langsung bertanya ketika melihat Erick.


"Belum Tuan."


Semalam, sehabis pulang dari rumah Fiona, dia kembali ke mansionnya setelah meminta Jorsh untuk mengerahkan anak buahnya untuk mencari Fiona.


Steven bahkan tidak tidur hingga menjelang pagi. Dia hanya tidur selama satu jam karena terus gelisah menunggu kabar Fiona di ruang keluarga sampai tertidur di sofa.


Jangan ditanya lagi bagaimana penampilannya. Dengan rambut berantakan, wajah lesu dan lusuh, kemeja kusut yang tidak terkancing dengan benar. Tatapannya bahkan tidak pernah lepas dari ponsel semenjak keberadaan Fiona tidak diketahuinya.


"Erick, ini sudah pagi, tapi belum ada satu pun yang berhasil mendapatkan petunjuk mengenai keberadaan Fiona. Apa mereka tidak berguna semua?"


"Saya memiki sedikit petunjuk Tuan tapi ini juga belum jelas."


Steven yang tadinya tertidur dengan posisi bersandar di sandaran sofa, seketika duduk tegak sambil mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"


"Setelah Jorsh memeriksa CCTV yang ada di sekitar rumah nona Fiona, kami menemukan bahwa mobil yang membawa pergi nona Fiona adalah mobil Doni."


Tangan Steven langsung mengepal. "Maksudmu Doni yang membawa pergi Fiona?"


"Saya belum bisa memastikannya Tuan, tetapi ketika saya melihat jejak GPS yang berada di ponsel Doni dan nona Fiona, mereka memang berada di lokasi yang sama hingga kedua sinyalnya hilang di daerah utara. Wajahnya yang menarik tangan nona Fiona juga tidak terlihat jelas. Silahkan Tuan melihat sendiri." Erick berjalan ke sisi Steven dan memberikan ponselnya pada Steven.


Setelah melihat rekaman semua CCTV, Steven memberikan ponsel Erick lagi padanya. Seketika dia teringat ketika dia meminta Erick untuk menghubungi Doni, seketika itu juga Doni tidak mengangkat telpon darinya tapi Steven masih ragu.


"Apa ini ada hubungannya dengan Sarah?"


"Saya tidak yakin Tuan, tapi saya menurut infomasi dari pengawal yang ada di sana, tidak terlihat gerak-gerik mencurigakan dari nyonya Sarah, tapi sepertinya orang ini mengetahui persis letak kamera CCTV sehingga dia bisa menghindari wajahnya terekam jelas di kamera CCTV," ucap Erick.


"Selain Sarah, Cindy, Sera dan ibuku, menurtumu siapa lagi yang yang memiliki motif tersembunyi pada Fiona?"


Orang yang paling dicurigai Steven saat ini sebenarnya adalah Sarah. Bagaimana pun dia yang selama ini paling tidak menyukai Fiona.


"Tuan James, Tuan Leon dan Tuan Reynald. Mereka semua menyukai nona Fiona. Ada kemungkinan juga salah satu dari mereka, tapi melihat kemampuan Doni, itu berarti merekan bukan orang biasa."


Seperti yang diketahui, Doni memiliki kemampuan bela diri dan tidak mudah dilumpuhkan oleh orang biasa meskipun jumlahnya melebihi dia.


"Yaa, kecuali Doni menghianatiku."


Erick terlihat tidak yakin. "Sepertinya tidak mungkin Doni menghianati Anda Tuan."


"Aku akan membuat hidupnya sengsara kalau dia berani menghianatiku," ucap Steven dengan wajah mengeras.


"Selidiki semua orang yang masuk daftar orang yang mencurigakan, beritahu aku secepatnya," perintah Steven.


"Baik Tuan."


Steven memijat pelipis dan tengkuknya setelah itu berdiri. "Antarkan aku ke mansion orang tuaku."


"Apakah Tuan tidak ke kantor hari ini? Ada meeting penting dengan Tuan Rafael siang nanti," ujar Erick sebelum melangkah.


"Aku tidak akan pergi ke kantor. Minta Angel dan Sony untuk mewakiliku."


Zayn mengangguk. "Baik Tuan."


********


"Maa... Ma..." Steven berteriak memanggil ibunya ketika dia baru saja memasuki mansion orang tuanya.


Seorang wanita tua terlihat menghampiri Steven dengan berlari kecil. "Nyonya sedang berada di ruang baca Tuan."

__ADS_1


"Baiklah." Steven nampak tidak sabar, dengan langkah cepat dia melangkah ke ruang baca.


Ibu Steven langsung menoleh ketika mendengar suara pintu yang terbuka dengan keras. "Maa, katakan padaku di mana Fiona berada?"


Ibu Steven meletakkan buku yang sedang dibaca di atas meja lalu menatap anaknya dengan dahi berkerut. "Kenapa kau bertanya pada mama? Kau kira mama adalah ibunya."


Steven menumpukan kedua tangannya di atas meja sambil menatap nyalang pada ibunya. "Ma, Fiona menghilang dari semalam."


"Lalu?" Ibu Steven terlihat santai menanggapi kegusaran anaknya.


"Aku ingin bertanya, apakah Mama ada hubungannya dengan hilangnya Fiona?"


"Kau menuduh mama?" Ibu Steven terlihat mula terpancing emosinya.


"Bukankah selama ini Mama tidak pernah menyukainya? Mama sudah sering menyuruhku untuk menjauhinya, bahkan mama pernah bilang akan membuatnya pergi dari hidupku."


Ibu Steven meneliti penampilan anaknya sejenak. "Apa ini sebabnya kau pergi terburu-buru semalam dan baru kembali sekarang dengan keadaan seperti orang gila, hanya karena Fiona hilang?"


Fiona berusaha menahan emosinya, tangannya sudah mulai mengepal di atas meja. "Ma, jangan mengalihkan pembicaraan? Aku tidak akan tinggal diam jika mama terlibat dalam hilangnya Fiona."


"Kau mengancam mama?"


"Ma, jangan membuatku hilang kendali. Aku tidak memiliki banyak kesabaran jika berhubungan dengan Fiona."


"Steven, kau bahkan belum menikah dengannya, tapi kau sudah berani berperilaku kurang ajar pada mama." Sekilas, mata ibu Steven memancarkan sorot mata kecewa sekaligus kemarahan.


"Ma, maafkan aku. Aku hanya tidak bisa berpikir jernih saat ini. Aku mohon mama jawab dengan jujur, apakah mama sungguh tidak terlibat dengan kasus hilangnya Fiona?" Steven langsung menurun intonasinya setelah tadi sempat berbicara dengan nada tinggi.


"Mama memang mengharapakan dia pergi dari hidupmu dan tidak lagi berhubungan denganmu, tapi bukan berarti mama harus melakukan hal kotor seperti itu. Seharusnya kau tahu, mama bisa melakukannya dengan sangat rapi tanpa meninggalkan jejak sedikit pun kalau mama memang berniat membuat Fiona menghilang."


Steven mengusap kasar wajahnya. Memang benar yang dikatakan ibunya. Sangat mudah baginya untuk melakukan hal itu dengan koneksi yang dia punya, tapi Steven tidak begitu saja percaya dengan ibunya.


"Baiklah, untuk saat ini aku akan percaya dengan mama, tapi kalau aku tahu mama terlibat dalam kasus hilangnya Fiona. Aku tidak akan pernah memaafkan mama jika sampai terjadi apa-apa dengan Fiona."


Steven berbalik. "Mama bisa membantumu menemukan keberadaan Fiona secepatnya, tapi dengan syarat."


"Apa?" tanya Steven cepat.


"Akhiri hubunganmu dengannya dan menikahlah segera dengan Sera."


"Lebih baik aku menemukannya sendiri."


"Kau tidak akan bisa menemukannya dengan keadaan baik-baik saja, jika kau tidak menerima bantuan dari mama."


Steven mengepalkan tangannya. "Ma, aku akan melakukan apapun untuk menemukannya, apapun itu."


*******


Fiona mulai mengerjapkan matanya berkali-kali ketika matanya terkena sinar matahari dari celah jendela yang tidak tertutup hordeng.


Dia mengedarkan pandanganya keseluruh ruangan yang nampak asing. Dia berusaha menggerakkan tangan dan kakinya yang terikat.


"Di mana aku," gumam Fiona dalam hati. Dia ingin berteriak meminta tolong tapi mulutnya tertutup. Dia mencoba mengingat kejadian saat dia terakhir kali dia sadar sebelum hilang kesadaran.


Di ruangan yang berukuran besar, Fiona terbaring di atas tempat tidur besar, tidak jauh dari tempat tidur ada 4 kursi dan meja bulat ditengahnya. Di ruangan itu, juha da sebuah kamar mandi besar dan meja rias, lemari dan nakas.


Beberapa saat kemudian pintu terbuka, beberapa pria berseragam hitam memasuki kamar tersebut. "Nona Fiona, ternyata kau sudah bangun," ucap salah seorang pria yang bertubuh tinggi dan berkulit gelap.


Fiona terlihat menggerakkan tubuhnya berniat untuk menjauh ketika orang tersebut mendekatinya. "Jangan takut Nona Fiona, kami tidak akan meyakitimu selaki kau menurut pada kami," ucap pria tadi lagi.


"HHmmmmmh." Fiona bergumam tidak jelas.

__ADS_1


Pria berkuliat gelap itu memandang ke dua orang yang ada di sampingnya. "Pindahkan dia ke kursi lalu ikat dia."


"Baik Bos." Kedua orang itu perlahan melepaskan ikatan tangan dan kaki Fiona. "Jangan coba-coba berniat untuk kabur dari kami atau kau akan tahu akibatnya," ancam pria yang memberikan perintah tadi ketika melihat Fiona nampak mmberontak.


Setelah tangan dan kakinya diikat di kursi. Pria gelap tadi berkata lagi, "Buka penutup mulutnya."


Salah satu dari mereka maju dan membuka penutup mulut Fiona. "Siapa kalian sebenarnya? Kenapa kalian menculikku?"


Pria gelap itu tertawa jahat. "Tidak penting bagimu untuk mengetahui siapa kami. Yang harus kau tahu adalah kami dipertintahkan untuk menjagamu sampai bos kami datang."


"Siapa yang sudah menyuruh kalian?"


"Itu rahasia, kami tidak bisa memberitahumu."


"Berikan padanya," perintah pria berkulit gelap itu menoleh pada teman di sampingnya.


Seseorang berjalan mendekati Fiona dengan membawa nampan berisi makanan. "Buka mulutmu," perintah pria bertubuh kekar dan berkepala plontos.


"Aku tidak mau." Fiona mengalihkan pandangannyake samping, menolak untuk membuka mulutnya.


"Jangan keras kepala Nona, tidak ada gunanya kau bersikeras seperti ini. Lebih baik kau buka mulutmu sebelum kesabaranku habis," ancam pria bertubuh kekar itu.


Fiona tidak menghiraukan ucapan pria itu. Dia tetap membuang pandangannya ke samping. "Aku bilang bukan mulutmu!" Pria itu memalingkan wajah Fiona menghadapnya sambil menekan rahang Fiona agar mulutnya terbuka setelah itu memasukkan makananan ke dalam mulut Fiona.


"Pppuuuffftttt." Fiona menyemburkan semua makanan dari mulutnya ke wajah orang tersebut.


"Kau, berani sekali memuntahkan makanan ke wajahku," ucap pria itu dengan marah sambil melayangkan tangannya ke pipi Fiona.


"Plaaaaakkk." Terdengar suara tamparan keras di pipi Fiona. Seketika sudut bibir Fiona mengeluarkan darah segar.


"Boby, apa kau gila? Bos bisa membunuhmu kalau kau berani menyentuhnya."


Pria bernama Boby menoleh saat mendengar bentakan dari pria bertubuh gelap. "Dia yang memancing emosiku terlebih dahulu."


"Tahan emosimu. Kita tidak akan mendapatkan apa-apa jika kau menyakitinya."


Boby langsung mundur. Pria berkuliat gelap itu lalu mendekati Fiona. "Nona, sebaiknya kau menurut pada kami, jika kau masih ingin hidup."


Pria itu berbisik pada Fiona. "Jangan memancing emosi Boby karena dia bisa berbuat sesukanya jika kau berani memancing amarahnya lagi. Meskipun kami temannya tapi diantara kami tidak ada yang bisa mengendalikan kegilaannya apalagi dia menyukai wanita muda sepertimu."


Seketika tubuh Fiona merinding dan bergetar disaat bersamaan. Senyuman jahat yang ditunjukkan oleh pria gelap itu membuat Fiona ketakutan.


"Kita berada di pulau terpencil yang tidak mudah ditemukan, jadi, jangan pernah mencoba berpikir untuk kabur dari sini. Jika, kau tertangkap, maka tamatlah riwayatmu."


Pria itu kembali pada barisan teman-temannya. "Buka ikatan tangan dan kakinya."


"Tapi Bos....."


"Tenang saja, dia tidak akan berani macam-macam."


Dua orang maju lalu membuka ikatan tali yang ada di tangan dan kaki Fiona. "Letakkan saja makanan di atas tempat tidurnya," perintah pria berkulit gelap itu.


"Baik Bos."


Setelah semua ikatan terlepas, Fiona hanya duduk dan tidak berani bergerak ketika melihat salah satu pria mengarahkan pisau ke wajahnya. "Makanlah, jangan sampai kau mati sebelum orang yang membayar kami datang."


Fiona masih terdiam. Dia tidak lagi berani mengeluarkan suaranya ketika melihat tatapan mengerikan dari orang-orang tersebut.


"Ayoo keluar, tinggalkan saja dia sendiri." Pria berkulit gelap itu keluar diikuti yang lainnya. Setelah pintu tertutup, Fiona langsung mengeluarkan air mata yang sedari dia tahan.


Steve, tolong aku. Aku takuuuut.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2