
"Tok.Tok."
"Masuk." Terdengar sahutan dari dalam ruangan.
Cindy mendongakkan kepala lalu kembali sibuk dengan berkas yang ada di tangannya setelah melihat yang datang.
Fiona melangkah ke dalam ruangan Cindy sambil membawa map di tangannya. "Kak, ini berkas yang harus kaka periksa dan tanda tangani segera." Fiona meletakkan berkas di atas meja Cindy.
Cindy mengangkat kepalanya lagi. "Iya." Cindy membuka sekilas map tersebut.
"Aku kembali ke ruanganku dulu, Kak."
"Tunggu." Cindy segera menghentikan langkah Fiona yang sudah mau membalik tubuhnya.
Fiona kembali menatap kakaknya. "Ada apa, Kak?" tanya Fiona dengan wajah penasaran.
"Duduk dulu. Ada yang ingin aku bicarakan padamu." Cindy mengarahkan tangannya ke arah sofa panjang yang ada di ruangannya.
Fiona mengangguk lalu melangkah bersama dengan Cindy menuju sofa.
Cindy dan Fiona duduk bersebelahan. "Fio, kau sudah tahu bukan kondisi perusahaan kita sedang merugi."
Fiona mengangguk. "Kita harus bisa menjalin kerjasama dengan perusahaan besar untuk mempertahankan perusahaan kita agar tidak merugi terus."
Fiona bisa langsung menangkap arah pembicaraan kakaknya. "Kita harus bisa bekerja sama dengan perusahaan Retzh Group dan menarik investor baru."
"Kak, sebaiknya mulai sekarang kau harus berhati-hati dalam setiap mengambil keputusan. Kau sedang disorot Dewan Komisaris dan aku mendengar desas-desus kalau sebagian pemegang saham berniat melakukan gugatan terhadap perusahaan kalau terbukti kita melakukan kelalaian yang menyebabkan perusahaan merugi. Kalau begini terus mereka bisa mengajukan pembubaran perusahaan jika kita terus merugi. Aku tidak mau perusahaan yang sudah ayah bangun dengan susah harus hancur."
Cindy merenung sejenak. "Maka dari itu, bantu kakak untuk menjalin kerjasama dengan perusahaan Retzh Group agar perusahaan kita bisa bangkit lagi. Bukankah kau ahli dalam hal negosiasi dengan perusahaan besar. Kau sudah sering kali membantu papa dulu," pinta Cindy dengan wajah memohon sambil memegang tangan Fiona.
Fiona terlihat berpikir sejenak. "Baiklah. Berikan aku kontak yang bisa aku hubungi." Fiona sudah sering kali membantu mengatasi pemasalahan yang ditimbulkan oleh kakaknya, sama seperti saat ini.
"Tunggu." Cindy berjalan menuju mejanya dan mengambil sesuatu dari mejanya lalu kembali duduk di samping Fiona.
"Ini kartu nama sekertaris tuan Baldwin. Kau bisa menghubunginya untuk membuat janji temu." Cindy menyodorkan kartu nama pada Fiona.
Fiona meraih kartu nama tersebut lalu menyimpannya. "Baiklah."
"Aku dengar tuan Baldwin sangat berhati-hati. Sangat sulit untuk meyakinkannya. Beberapa perusahaan sudah ditolak olehnya. Aku harap kau berhasil meyakinkannya," ucap Cindy.
"Kakak harus mencari alternatif lain. Aku tidak bisa menjamin apapun tapi aku usahakan semampuku."
Fiona hanya tidak ingin kalau nanti kakaknya kecewa jika dia tidak berhasilkan menjalin kerjasama dengan perusahaan tersebut apalagi orang tersebut sulit untuk diyakinkan.
"Iyaaa, aku akan mencari investor juga."
"Kalau begitu aku permisi dulu, Kak," ucap Fiona sambil berdiri. "Iya," ucap Cindy sambil mengangguk.
Siang harinya saat Fiona akan makan siang, seseorang menghubunginya menggunakan nomor baru. Dia adalah Reynald, pria yang mobilnya di tabrak oleh Fiona. Sudah seminggu berlalu dan akhirnya pria untuk menghubungi Fiona untuk membicarakan mengenai mobilnya. Reynald meminta bertemu dengan Fiona sore hari.
Sore hari nya, Fiona berjalan menuju ruangan kakaknya sebelum dia pulang. "Kak, aku sudah menghubungi sekertaris tuan Baldwin, dan sekertarisnya bilang akan mengatur pertemuan dengan tuan Baldwin lusa. Beliau tidak bisa bertemu besok karena sudah memiliki janji."
Cindy mengangguk. "Baiklah."
******
Fiona sedang bersiap untuk pergi bertemu dengan Reynald. Setelah pulang kerja, Reynald mengajak Fiona bertemu di salah satu restoran di hotel berbintang.
__ADS_1
"Apa perkerjaanmu sudah selesai?" Cindy terlihat sudah bersiap untuk pulang.
Fiona mendongakkan kepalanya menatap kakaknya yang baru saja keluar dari ruangannya. "Sudah Kak, tapi aku tidak langsung pulang," jawab Fiona cepat.
"Memangnya kau mau ke mana?" Cindy terlihat menatap penasaran pada adiknya yang sedang merapikan berkas yang ada di atas meja.
"Aku ada janji, Kak." Fiona berdiri di samping kakaknya.
"Dengan Leon?" tanya Cindy dengan alis terangkat.
"Bukan Kak, aku akan bertemu dengan kenalanku."
Cindy memang mengenal Leon meskipun tidak dekat tapi dia cukup tahu kedekatan antara adiknya dan Leon.
"Baiklah." Cindy berjalan menuju lift bersama dengan Fiona karena waktu memang sudah menunjukkan jam pulang kerja.
Haya membutuhkan waktu 30 menit untuk tiba di tempat yang ditunjuk oleh Reynald.
Fiona terlihat mengedarkan pandangannya ketika dia masuki area restoran sambil memegang ponselnya.
"Nona Fiona, di sini." Seseorang melambaikan tangan ke arah Fiona.
Ketika melihat wajah Reynald, Fiona langsung mengangguk dan tersenyum seraya menghampiri Reynald.
"Apakah Anda sudah menunggu lama?" tanya Fiona ketika dia sudah duduk di depan Reynald.
"Belum, aku baru saja tiba lima menit yang lalu."
Reynald langsung memanggil pegawai restoran dan langsung memesan makanan. "Apakah mobil Anda sudah selesai diperbaiki?" tanya Fiona ketika mereka selesai memesan makanan.
"Sudah, maka dari itu aku menghubungimu." Reylnad terlihat sangat santai, tidak terlihat canggung sama sekali, berbeda dengan Fiona yang terlihat kaku dan bersikap formal.
"Tidak perlu terburu-buru, kita bisa makan terlebih dahulu."
Fiona tersenyum canggung. "Baiklah." Tidak lama kemudian makanan tiba. Mereka makan tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.
"Kau bekerja di mana?" tanya Reynald setelah mereka menyantap hidangan yang terjadi di atas meja.
"Aku membantu kakaku untuk mengelola perusahaan ayahku, Tuan," jawab Fiona sopan.
"Kau tidak perlu bersikap terlalu sopan terhadapku. Panggil saja aku Rey dan aku akan memanggilmu Fiona."
Fiona terlihat masih merasa canggung. "Tapi sepertinya tidak sopan memanggilmu dengan nama."
Reynald terlihat tersenyum tipis. "Tentu saja tidak, karena aku yang memintanya."
"Baiklah." Fiona akhirnya mengalah. Dia hanya tidak ingin berdebat hanya karena hal sepele. "Jadi, berapa yang harus aku ganti?" tanya Fiona kembali dengan wajah penasaran.
"Kau tidak perlu mengganti apapun," jawab Reynald santai.
"Tapi, bukankah kau mengajakku bertemu dengan membicarakan mengenai ganti rugi mobilmu?"
Fiona masih tidak mengerti maksud dari Reynald yang mengajaknya bertemu kalau dia tidak ingin menerima pergantian biaya perbaikan mobilnya.
"Aku hanya ingin bertemu denganmu."
"Bertemu denganku?" Fiona terlihat tercengang.
__ADS_1
"Maksudku adalah aku hanya ingin memberitahukan padamu secara langsung bahwa mobil sudah selesai diperbaiki dan kau tidak perlu mengganti apapun padaku."
"Tapi, aku tidak akan tenang kalau begitu. Aku harus tetap bertanggung jawab." Terlihat jelas kalau Fiona merasa tidak enak pada Reynald.
"Kalau begitu untuk makan siang ini, kau bisa mentraktirku, anggap saja sebagai ganti rugi kerusakan mobilku."
"Tapi nilainya tidak sepadan dengan biaya perbaikan mobilmu, bukan?" Setidaknya Fiona bisa memperkirakan kisaran biaya perbaikan mobil Reynlad sangatlah mahal.
"Kalau begitu kau bisa mentraktirku makan malam selama seminggu, bagaimana?" usul Reynald dengan wajah santai.
Fiona terlihat berpikir. "Tapi aku rasa itu masih belum cukup," ucap Fiona menatap Reynald.
"Kalau begitu lupakan saja, aku tidak akan menerima pergantian apapun," ucap Reynald acuh tak acuh.
"Baiklah, aku setuju," ucap Fiona cepat. Dia terpaksa menyetujuinya karena tidak ingin berhutang pada Reynald.
Reynald tersenyum. "Baiklah. Mulai besok kau harus menemaniku makam malam. Aku akan mengabarimu tempatnya," ucap Reynald penuh semangat.
"Baiklah."
Mereka terlihat berbicang selama satu jam setelah itu pulang dengan kendaraan masing-masing. Awalnya Reynald yang berniat mengantarkan Fiona pulang tapi ditolak oleh Fiona karena dia juga membawa mobil sendiri.
*******
Seminggu sudah berlalu dan selama seminggu juga Fiona menemani Reynald untuk makan malam seperti kesepakatan mereka waktu itu. Semakin hari, mereka semakin akrab karena seringnya mereka bertemu. Mereka mulai bertukar kabar layaknya teman dekat dan terlihat tidak canggung lagi apalagi sikap Reynald yang sangat terbuka dengan Fiona.
"Fio, apa kau belum juga bisa bertemu dengan tuan Baldwin?" tanya Cindy ketika melihat adiknya memasuki ruangannya untuk menyerahkan berkas yang dia minta.
"Belum, Kak. Sekertarisnya bilang kalau Tuan Baldwin selalu sibuk," jawab Fiona.
Sudah beberapa hari Fiona mencoba untuk menghubungi sekertaris Tuan Baldwin untuk bertemu tetapi selalu saja gagal karena padatnya jadwal tuan Baldwin. "Aku rasa, dia tidak mau bekerja sama dengan kita," ucap Cindy dengan wajah pasrah.
"Aku akan pergi ke perusahaannya Kak untuk menemuinya langsung."
Cindy yang semula putus asa seketika langsung bersemangat. "Baiklah. Pergilah."
Fiona mengangguk lalu berjalan keluar dari ruangan kakaknya.
Fiona langsung melajukan mobilnya menuju perusahaan Retzh Group. Ketika sudah sampai di gedung perusahaan Retzh Group. Fiona menghela napas dan langsung berjalan menuju resepsionist dan menyampaikan maksud kedatangannya.
Receptionis itu terlihat menghubungi seseorang, setelah menunggu beberapa saat, reseptionis tersebut menyebutkan kalau Fiona tidak bisa menemui tuan Baldwin jika belum memiliki janji, apalagi saat ini tuan Baldwin sedang tidak ada di tempat. Fiona terlihat kecewa. Usahanya untuk datang ke sana sia-sia.
"Kira-kita kapan tuan Baldwin kembali?" tanya Fiona dengan wajah penasaran.
"Saya juga tidak tahu, Nona."
Fiona menghela napas. "Baiklah. Terima kasih." Fiona berjalan menuju pintu keluar dengan wajah lesu sambil menunduk.
"Fio, sedang apa kau di sini?"
Fiona yang merasa familiar dengan suara tersebut langsung mengangkat kepalanya. "Rey," ucap Fiona dengan wajah terkejut ketika melihat Reynald sedang berjalan menghampirinya.
Bersambung...
Visual Reynald
__ADS_1
Visual Cindy