Goresan Luka di Hati Fiona

Goresan Luka di Hati Fiona
Kesalahan Fiona


__ADS_3

Erick mengeryit. "Rick, kalau ada seseorang yang sudah dengan jelas memberikan dinding pembatas yang tidak boleh kau tembus atau lewati apa yang akan kau lakukan? tanya Steven sambil menoleh pada asistennya.


"Maksud anda?" Erick terlihat masih bingung.


"Lupakan saja," ucap Steven.


Erick terlihat berpikir sejenak. "Kalau yang anda maksud adalah seorang wanita, maka saya akan melewati batas tersebut jika saya mencintai wanita itu," ucap Erick mantap.


Steven terlihat termenung untuk sesaat. "Meskipun dia tidak menginginkanmu?"


Erick terdiam dan tampak berpikir. "Aku tidak berencana untuk pulang lagi ke sana. Aku akan menetap di sini." Steven melanjutkan perkataanya karena melihat Erick hanya diam.


"Jadi, bagaimana dengan nona Fiona? Dia pasti akan terus menunggu Anda pulang. Apa Anda tidak kasihan padanya. Dia pasti kecewa karena tidak bisa bertemu dengan Anda. Mungkin saja dia...."


Steven berbalik lalu berjalan menuju meja kerjanya. "Dia hanya merasa berhutang budi padaku, tidak lebih."


Steven memejamkan matanya sejenak lalu berkata, "Suruh bi Asih untuk menghubungi Fiona dan mengatakan padanya bahwa dia sudah tidak memiliki hutang budi apapun padaku, jadi dia tidak perlu lagi datang ke mansionku." Steven melirik pada Erick, "dan, segera jual mansion itu."


Erick terlihat termenung sesaat lalu menjawab, "Baik Tuan."


*******


Pagi-pagi sekali Fiona sudah berada di mansion Steven. Semalam dia mendapatkan telpon dari Bi Asih. "Permisi Bi," ucap Fiona ketika melihat wajah bi Asih ketika baru saja membuka pintu.


"Apakah benar Steven tidak akan kembali ke sini lagi?"


Fiona tidak bisa berbasa-basi lagi pada bi Asih. Pikirannya kalut setelah mendapatkan kabar kalau Steven akan untuk menjual mansion itu dan tidak ada rencana untuk kembali lagi.


"Saya juga tidak tahu pastinya Nona Fiona. Tuan Erick memberitahukan pada saya kalau mansion ini akan dijual," terang Bi Asih.


"Bi, bisakah Fiona minta nomor ponsel Erick?"


"Maaf Nona, saya tidak berani memberikannya." Meskipun tidak tega, Bi Asih tetap tidak berani memberikan nomor ponsel Erick. Dia tidak mau ikut campur masalah majikannya.


Fiona termenung sesaat. Dia mengerti kalau Bi Asih hanya menjalankan perintah, jadi dia juga tidak mau mendesak bi Asih yang pada akhirnya akan menyulitkannya nanti. "Apakah Bibi tahu, ke mana tujuan Steven pergi?


Bi Asih menggeleng. "Tuan Steven dan tuan Erick tidak pernah memberitahu saya, Nona."


Fiona tertunduk lesu. "Kalau begitu, tolong sampaikan pada Steven atau Erick kalau aku akan tetap menunggu Steven pulang. Tidak peduli berapa lamanya, saya akan tetap datang ke sini meskipun mansion ini dijual."

__ADS_1


Hanya cara itu yang bisa dia gunakan saat ini, berharap suatu saat Steven berubah pikiran dan akan pulang. Dia berpikir mungkin Steven masih parah padanya, maka dari itu, dia belum mau menemuinya.


"Nona Fiona, jangan menyulitkan diri sendiri. Tuan Steven bilang kalau Nona sudah tidak memiliki hutang budi padanya. Nona tidak perlu sampai seperti ini." Bi Asih hanya merasa kasihan pada Fiona karena menunggu sesuatu yang tidak pasti.


"Ini bukan hanya sekedar hutang budi Bi, tetapi lebih dari itu."


Ini mengenai perasaannya. Bagaimana pun Steven sudah mencuri hatinya dan membawa pergi bersamanya. Fiona akui, ini adalah kesalahannya karena sudah melukai Steven dengan perkataannya.


Bi Asih hanya bisa menghela napas. Dia tidak mengerti permasalah apa sebenarnya yang terjadi pada mereka berdua. 


Fiona pulang dengan perasaan kecewa dan sedih. Pikirannya terus berputar pada masa-masa bersama Steven. Membayangkan kalau dirinya tidak akan pernah bertemu dengan Steven lagi membuat Fiona sedih.


Ketika membawa mobil, Fiona terlihat melamun hingga dia tidak melihat ada mobil di depannya.


Fiona yang terkejut langsung mengerem mendadak. "Braaak!!"


Mata Fiona membelalak ketika melihat mobilnya menabrak mobil di depannya. Dahi Fiona langsung membentur stir mobil karena kuatnya dia menginjak rem.


Untung saja jalanan sedang sepi sehingga tidak menimbulkan kemacetan di belakang mobil Fiona ketika terjadinya tabrakan. Terlihat beberapa mobil mengambil jalur lain.


Fiona tidak menyadari ada mobil dari arah sebelah kiri yang ingin berbelok sehingga dia tetap melaju dan akhirnya dia menabrak mobil di pertigaan jalan.


"Nona, tolong pinggirkan mobilmu di sana," tunjuk pengemudi yang ditabrak oleh Fiona ketika dia sudah menurunkan kaca mobilnya.


Fiona mengangguk. "Baik." Fiona mengikuti mobil yang dia tabrak dari belakang. Fiona merutuki kebodohannya karena berkendara sambil melamun.


Mobil di depannya berhenti di tepi jalan tidak jauh dari lokasi tabrakan. Melihat pengemudi itu keluar, Fiona juga ikut keluar menghampiri pengemudi tersebut. Fiona memperkirakan pria itu berumur sekitar 40-an.


Fiona melihat tipe mobil yang dia tabrak adalah tipe mobil mahal. Tentu saja Fiona tahu merk mobil tersebut karena tidak banyak yang memiliki mobil seperti itu. Diperkirakan mobil tersebut serharga 5 Miliar lebih.


"Nona, apa kau sedang melamun saat membawa mobil? Apa kau tidak bisa mengemudi dengan benar?" tegur pria tersebut setelah Fiona berdiri di di depannya.


"Maafkan saya. Ini memang murni kesalahan saya." Fiona menampilkan wajah bersalah. "Saya akan mengganti biaya perbaikannya."


Melihat wajah penyesalan dan niat baik Fiona, seketika pengemudi tersebut melunak. "Itu memang sudah menjadi kewajiban anda, Nona. Hanya saja,kau sudah menghambat urusan tuan saya."


"Maaf, saya sungguh-sungguh minta maaf."


Ketika sedang berbicara dengan pengemudi tersebut, seseorang dari kursi belakang keluar dari mobil dan menghampiri mereka berdua.

__ADS_1


"Kenapa lama sekali?"


Fiona dan pengemudi tersebut langsung menoleh, pria tampan dengan setelan jas lengkap, berumur sekitar 35-an dengan tinggi sekitar 180 CM lebih sedang berdiri menatap heran pada pengemudi tersebut.


"Maaf Tuan, sebentar lagi akan selesai," jawab pengemudi itu cepat.


Fiona langsung menatap pria tersebut karena merasa bersalah. "Maafkan saya Tuan, ini adalah salah saya. Saya akan mengganti kerugian Anda," ucap Fiona dengan wajah bersalah.


Pria tampan tersebut beralih ke Fiona dan menatapnya Fiona sesaat. "Tidak perlu, ini hanya masalah kecil," ucap pria tersebut dengan ramah. "Apa kau terluka? Apa perlu aku antarkan ke rumah sakit?"


"Haaaah?" Pertanyaan pria tersebut diluar dugaan Fiona. Dia pikir orang tersebut akan marah karena dia sudah menabrak mobil mewahnya. Dia justru malah mengkhawatirkan keadaannya bukan mobilnya.


Fiona menggeleng cepat. "Tidak perlu, saya baik-baik saja," jawab Fiona sambil tersenyum tipis.


Senyum Fiona membuat pria di depannya terdiam sesaat. "Apa kau yakin?" Pria itu terlihat menatap dahi Fiona yang memerah. "Sepertinya kau terluka, lebih baik kita ke rumah sakit," usul pria itu.


Fiona memegang dahinya yang sedikit nyeri. "Tidak perlu, saya baik-baik saja. Dikompres sebentar akan sembuh," tolak Fiona dengan sopan, "tunggu sebentar." Fiona berlari ke arah mobilnya dan mengambil sesuatu setelah itu kembali lagi.


"Ini adalah kartu nama saya, tuan bisa menghubungi saya mengenai perbaikan mobil Anda." Fiona menyodorkan kartu namanya kepada pria tersebut.


"Tidak perlu," tolak pria itu sambil mendorong tangan Fiona yang memegang kartu namanya. "Selama kau baik-baik saja, itu sudah cukup bagiku. Mobil hanya benda mati, tidak sulit untuk mencari gantinya, berbeda denganmu."


Fiona tertegun sesaat lalu berkata, "Tapi tetap saja, Tuan. Ini adalah kesalahan saya. Setidaknya saya harus mengganti rugi meskipun tidak sepenuhnya." Fiona terlihat belum juga menyerah.


"Ini bukan masalah besar, Nona. Sungguh tidak perlu." Pria tersebut masih dengan pendiriannya


"Saya akan merasa terbebani jika saya tidak mengganti rugi. Begini saja, Anda simpan kartu nama saya. Anda bisa menghubungi saya setelah mobil anda selesai diperbaiki." Fiona meraih tangan pria itu lalu meletakkan kartu nama di tangannya.


Pria itu tersenyum lalu menatap kartu yang ada di tangannya. "Fiona." Pria itu membaca kartu nama tersebut lalu beralih menatap Fiona. "Baiklah, Nona Fiona. Aku akan menghubungimu nanti."


Fiona mengangguk cepat. "Iyaa Tuan."


"Namaku Reynald. Panggil saja Reynald" ucap pria tersebut sebelum berjalan ke arah mobilnya.


"Baik Tuan Reynald, sekali lagi saya minta maaf atas kecerobohan saya."


"Aku rasa ini bukan sesuatu yang buruk." Pria itu tersenyum lalu masuk ke dalam mobilnya.


Apa maksudnya bukan sesuatu yang buruk? Aku sudah merusak mobil mahalnya dan dia bilang bukan sesuatu yang buruk? Apa dia memang kelebihan uang sehingga dia dengan santai berkata seperti itu?

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2