
Keesokan harinya, Steven menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat karena sore harinya dia berencana untuk menjemput Fiona ke rumahnya. Sebenarnya semenjak mengantar Fiona pulang ke rumahnya. Steven mengkhawatirkan keadaaanya. Dia takut kalau ibunya akan berlaku kasar lagi pada Fiona.
"Tok..Tok." Terdengar suara ketukan pintu ruangan Steven.
"Masuk," ucap Steven tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas yang ada di depannya.
"Steve, apa kau sibuk?" Sera berjalan masuk menghampiri Steven yang sedang bekerja.
Mendengar suara Sera, Steven langsung mengangkat kepalanya menatap Sera. "Sebentar lagi pekerjaanku selesai."
"Baiklah, aku tidak akan mengganggumu. Bekerjalah." Sera meletakkan tasnya di sofa lalu duduk.
"Kenapa kau ke mari?" tanya Steven sebelum dia meneruskan pekerjaannya.
"Aku ada pemotretan tidak jauh dari sini, jadi sekalian mampir," jawab Sera sambil tersenyum manis.
"Kau mau minum apa?" tanya Steven.
"Teh chamomile hangat saja," jawab Sera lembut.
Steven mengangguk lalu menghubungi seseorang melalui saluran telpon. Setelah selesai menelpon, Steven melanjutkan pekerjaan.
Tidak lama kemudian pintu di ketuk dan masuklah seorang wanita cantik sambil membawa secangkir teh untuk Sera. "Tehnya Nona Sera," ucap wanita itu.
Sera mengangguk sambil tersenyum. "Terima kasih."
"Niken, apa masih ada berkas yang harus aku tanda tangani?" tanya Steven.
"Tidak ada, Tn. Steven."
"Baiklah. Kau boleh keluar."
Niken mengangguk lalu berjalan keluar. "Steve, apa kau sibuk malam ini?" tanya Sera seraya mengangkat cangkir teh lalu menyesap.
Steven menyudahi pekerjaannya, berjalan ke arah Sera lalu duduk di sampingnya. "Kenapa?" tanya Steven seraya menatap Sera.
"Kalau kau tidak sibuk, aku ingin mengajakmu makan malam," ujar Sera sambil tersenyum.
"Maaf Sera. Aku sudah memiliki janji."
"Dengan siapa?"
"Fiona, namanya Fiona. Dia wanita yang aku cintai," jelas Steven.
Steven tahu, kalau Sera sedang mengorek informasi memgenai Fiona. Dia pasti penasaran dengan wanita yang dia cintai. Itulah sebabnya dia langsung mengatakan pada Sera agar dia tidak berharap lagi padanya.
Karena ibunya sudah terang-terangan ingin menjadikan Sera sebagai calon istrinya, maka Steven tidak ada pilihan, selain mengatakan mengenai Fiona.
Terlihat jelas kalau Sera sangat kecewa. "Bisakah kau mengenalkan dia padaku? Aku penasaran wanita seperti apa yang bisa membuatmu jatuh cinta."
Steven memandang Sera cukup lama, mencoba mencari tahu maksud Sera ingin bertemu dengan Fiona. "Sera, seharusnya kau tahu kalau aku tidak pernah mencintaimu. Aku harap kau bisa menerimanya. Kau wanita yang baik, banyak pria yang menyukaimu dan bisa membahagiakanmu. Jangan menungguku lagi."
Sera tersenyum getir. "Steve, seharusnya kau juga tahu, kalau dari dulu hanya kau yang aku cintai. Aku tidak akan memaksamu mencintaiku tapi ijinkan aku tetap berada di sisimu."
Steven menghembuskan napas halusnya seraya menatap Sera dengan wajah pasrah. "Kau jangan khawatir, tidak akan ada yang berubah diantara kita meskipun aku memiliki kekasih nanti. Aku akan tetap memperlakukanmu dengan baik."
Sera menunduk menahan air mata. "Katakan padaku, apa yang tidak aku miliki sehingga kau lebih memiliihnya dari pada aku?"
Steven memegang bahu Sera. "Tidak ada yang kurang darimu. Kau wanita yang sempurna menurutku, hanya saja aku tidak memiliki perasaan apapun padamu. Kebahagianmu bukan bersamaku. Aku harap kau mengerti, Sera. Aku tidak mau menyakitimu lebih dalam lagi."
__ADS_1
Sera menghapus air mtanya yang sudah menetes. "Tapi, kau sudah terlanjur menyakitiku."
Steven menarik tangannya dari bahu Sera lalu kembali menghembuskan napasnya. "Maafkan aku, Sera," ucap Steven dengan wajah menyesal.
Aku tidak akan menyerah begitu saja Steve. Aku akan tetap memperjuangkanmu. Sudah terlalu lama aku menunggumu. Aku akan berusaha keras agar kau bisa melihatku.
Sera memaksakan senyum di bibirnya. "Sudahlah. Aku tidak ingin memaksamu. Aku hanya ingin mengenal gadis yang kau cintai, Steve. Aku akan menunggu saat kau mengenalkannya padaku," ucap Sera. "Aku pulang dulu." Sera lalu berdiri.
"Aku akan mengantarmu," ucap Steven sambil berdiri.
Sera mengangguk lalu melangkah bersama dengan Steven.
*******
"Rick, antarkan aku ke rumah Fiona," perintah Steven setelah mengantar Sera. Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Steven berpikir kemungkinan sudah pulang dari kantor. Sebab itulah, dia langsung meluncur ke rumah Fiona.
"Baik, Tuan." Erick melajukan mobilnya dengan pelan.
Steven mengambil ponsel dari sakunya lalu memeriksa isi ponselnya. "Tuan, tadi nyonya menanyakan, apakah Anda akan pulang malam ini," ucap Erick sambil melirik Steven dari kaca Spion sebentar.
"Apa ibuku menanyakan mengenai Fiona padamu?" Steven mengajukan pertanyaan lain pada Erick alih-alih merespon perkataan asistennya.
"Iyaa, Tuan," jawab Erick seraya mengangguk.
Seperti dugaan Steven dari awal, kalau ibunya pasti akan mencari tahu mengenai Fiona. Itulah sebabnya Steven belum mau menceritakan pada ibunya mengenai Fiona karena takut ibunya akan ikut campur masalahnya dengan Fiona.
"Lalu, apa yang kau katakan pada ibuku?"
"Saya mengatakan tidak tahu mengenai nona Fiona," aku Erick.
"Aku yakin, ibuku tidak akan percaya begitu saja. Jika ibuku bertanya lagi. Bilang saja, yang sebenarnya."
Steven berencana untuk tidak menyembunyikan lagi tentang Fiona. Itu justru akan membuat ibunya semakin penasaran terhadap Fiona. Dia takut ibunya justru akan menemui Fiona diam-diam dan membuat Fiona menjauhinya.
"Ya. Tidak ada gunanya lagi menyembunyikan dari ibuku."
"Baik, Tuan."
Setibanya di rumah Fiona, Steven langsung turun bersama Erick. Gerbang rumah Fiona tertutup rapat dan hanya ada security yang berjaga di depan. Erick menghampiri security tersebut dan menyampaikan maksud dari kedatangan mereka berdua.
"Maaf, tuan. Nyonya tidak mengijinkan Anda untuk menemui nona Fiona."
Steven yang mendengar hal itu langsung menghampiri security tersebut. "Kalau begitu, berikan nomor ponsel Fiona," pinta Steven.
"Maaf, Tuan. Saya tidak memiliki nomor ponsel nona Fiona."
"Apakah nyonya Sarah ada di dalam?" tanya Steven sambil menatap ke arah rumah Fiona.
"Ada, Tuan."
"Apakah Fiona sudah pulang bekerja?" tanya Steven lagi.
"Nona Fiona tidak keluar dari kemarin, Tuan."
Steven langsung mengeryit. "Tidak keluar?"
"Steven." Seorang wanita keluar dari rumah Fiona dan memaggil nama Steven. Wanita itu adalah Cindy.
Steven mengernyit ketika melihat Cindy menyapanya dengan akrab.
__ADS_1
"Aku Cindy, kakaknya Fiona," jelas Fiona sambil berjalan ke arah pintu gerbang. Sebenarnya Steven juga tahu kalau dia adalah kakaknya Fiona, hanya saja Steven terlalu malas untuk meladeninya.
"Aku ingin bertemu dengan Fiona." Steven terlihat tidak mau berbasa-basi dengan Cindy.
"Mama mengurungnya di kamar. Kau tidak akan bisa menemuinya," ungkap Cindy.
"Dikurung?" Steven terlihat mengepalkan tangan menahan amarahnya. "Apa ibumu gila? Aku bisa memenjarakan ibumu kalau dia bersikap kasar dan semena-mena terhadap Fiona. Akan kupastikan dia tidak akan keluar dengan mudah dari penjara."
Cindy langsung panik. Bagaimana pun itu adalah ibunya. Dia tidak ingin kalau ibumya terjerat kasus hukum. "Fiona baik-baik saja. Mama hanya mengurungnya saja. Aku sudah memastikan sendiri. Lebih baik kau pulang dulu. Mama bisa bertambah marah jika kau masih di sini."
"Berikan nomor ponsel Fiona?"
Cindy menatap heran pada Steven. "Kau tidak memiliki nomor ponsel Fiona?"
Steven tidak menjawab. "Nona, Cindy. Tolong cepat berikan nomor ponsel nona Fiona. Kami tidak akan mengganggu lagi setelah itu," sela Erick ketika melihat Steven terlihat enggan berbicara pada Cindy.
Cindy melirik pada Erick lalu membuka ponselnya. "Ini nomornya." Cindy memperlihatkan deretan angka yang ada di layar ponselnya pada Steven.
Dengan gerakan cepat Steven memencet nomor ponsel Fiona lalu menelponnya.
"Halo, Fiona," ucap Steven ketika panggilannya sudah tersambung dengan Fiona.
"Steve, benarkah ini kau?" Terdengar kalau Fiona tidak percaya kalau yang sedang menelponnya adalah Steven.
"Iyaa." Steven melangkah menjauh dari gerbang. "Apa kau baik-baik saja?"
"Iyaaa, aku baik-baik saja," jawab Fiona, "Steve, maaf aku tidak bisa bertemu denganmu hari ini."
Steven menunduk. "Aku ada di depan rumahmu."
"Benarkah?" Terdengar suara Fiona tampak terkejut.
"Hhmmmm," gumam Steven, "Apa ibumu menyakitimu?"
"Tidak, aku baik-baik saja," jawab Fiona. "Aku melihatmu Steve. Berbaliklah, lihat ke atas."
Seketika Steven langsung berbalik dan melihat Fiona sedang menatapnya dari jendela kamar lantai dua. Fiona melambaioan tangan pada Steven sambil tersenyum senang.
Nyeri. Dada Steven terasa nyeri melihat tubuh ringkih Fiona dengan wajah sedikit pucat yang tampak masih bisa tersenyum padanya. "Apa kau sudah makan?" tanya Steven sambil menatap ke arah Fiona.
Fiona mengangguk. "Sudah."
"Apa ibumu memberikanmu makanan yang sehat?"
"Iyaaa." Fiona terlihat mengangguk.
"Apa kau bisa tidurmu nyenyak?"
"Iyaaa."
"Apa ibumu bersikap kasar lagi padamu?" Steven menatap Fiona dengan tatapan sedih.
"Tidak," jawab Fiona dengan suara begetar.
"Aku akan akan segera mengeluarkanmu dari rumah itu. Bersabarlah."
"Aku....." Merindukanmu Steve.. Air mata Fiona menetes tanpa dia sadari. Fiona tidak sanggup melanjutkan perkataannya dan hanya berakhir mengucapkan dalam hati.
Steven hanya diam sambil terus memandangi Fiona. Begitupun sebaliknya, Fiona juga hanya diam sambil memandangi Steven dari kejauhan. Mereka terus saling menatap tanpa menutup telponnya, seolah mereka sedang berbicara dalam hati.
__ADS_1
Sepertinya aku tidak bisa diam lagi. Ibumu sudah keterlaluan. Aku tidak akan menahan diriku lagi. Akan kubuat ibumu membayar atas apa yang sudah dia lakukan padamu.
Bersambung....