Goresan Luka di Hati Fiona

Goresan Luka di Hati Fiona
Menunggu Kepastian


__ADS_3

Hari ini, Fiona sedang menunggu keputusan dari Steven tentang kelanjutan hubungan mereka. Saat ini, Fiona sedang berada di rumahnya, lebih tepatnya rumah Sarah. Setelah kepulangannya dari mansion orang tua Steven, Fiona langsung ke rumah Sarah setelah menghubungi Cindy dan mengatakan akan pulang.


Dia sengaja tidak pulang ke apartemen Steven karena ingin menenangkan pikirannya. Bahkan dia sudah bersiap untuk pindah, jika seandainya Steven memutuskan untuk membatalkan pernikahan mereka. Ketika sedang merenung, pintu kamarnya di ketuk dari luar. Dengan langkah pelan, Fiona berjalan ke arah pintu lalu membukanya.


"Fio, ada Leon di bawah," ucap Cindy setelah Fiona membuka pintu kamarnya.


"Iyaa Kak, aku akan turun sebentar lagi."


"Yaa." Tanpa banyak tanya lagi, Cindy meninggalkan kamar Fiona menuju ke bawah.


Kemarin malam, setelah sampai di rumahnya, Cindy langsung menanyakan pada Fiona apa yang sudah terjadi padanya sehingga membuatnya tiba-tiba pulang bahkan tanpa diantar oleh Steven. Dengan perasaan sedih, Fiona akhirnya menceritakan semuanya pada Cindy. Setelah mendengar apa yang terjadi pada Fiona, Cindy seketika merasa iba padanya.


Setelah memakai pakaian yang sopan, Fiona turun ke bawah menemui Leon yang sedang duduk di ruang tamu sendirian. "Kak, bagaimana kau bisa ada di sini, bukankah kau sedang berada di luar kota?"


"Cindy memberitahuku kalau kau ada di sini," jawab Leon. Ketika mendengar dari Cindy kalau Fiona tiba-tiba pulang ke rumahnya. Leon memutuskan langsung kembali ke kotanya.


Dahinya mengernyit saat melihat wajah Fiona nampak pucat setelah dia duduk di sofa single tepat di sampingnya. "Fiona, apa kau sedang sakit?" tanya Leon.


Fiona tersenyum paksa. "Tidak. Aku hanya kurang tidur saja, Kak." Fiona memang tidak bisa tidur sama sekali semenjak pulang dari mansion orang tua Steven.


Ketika sampai di rumah, Fiona mengirimkan pesan pada Steven, tapi tidak di balas. Keesokan harinya, Fiona menghubungi Steven beberapa kali untuk menanyakan mengenai keputusan Steven tentang kelanjutan hubungan mereka, tapi tidak pernah diangkat oleh Steven. Bahkan, pesannya tidak ada satu pun yang di balas hingga malam hari.


Seharian ini, Fiona hanya berdiam diri di dalam kamar dan tidak pergi bekerja. Fiona seolah tidak memiliki semangat hidup ketika memikirkan kemungkinan terburuk yang akan dia terima hari ini. Besok adalah hari di mana acara lamaran mereka akan dilaksanakan, tapi Steven belum juga memberitahukan mengenai keputusannya.


"Fio, ada yang ingin aku bicarakan padamu. Ikut aku keluar sebentar," ucap Leon setelah terdiam beberapa saat.


"Aku sedang tidak ingin pergi ke mana-mana, Kak. Aku...."


"Fio, aku tahu apa yang sedang terjadi denganmu. Berdiam diri di sini hanya akan membuatmu bertambah stress."

__ADS_1


Fiona menimang sesaat, setelah itu dia berkata, "Baiklah. Aku ijin dengan mama dan kak Cindy dulu."


Fiona berjalan masuk setelah melihat anggukan Leon. Selesai berpamitan, Leon mengajak Fiona ke tempat yang biasa mereka kunjungi di saat mereka sedang ingin menenangkan diri. Tempat itu adalah tempat favorite mereka jika sedang jenuh atau butuh ketenangan.


Leon memandang Fiona yang sedang menatap lurus ke depan ke arah sungai dengan pemandangan kota yang indah di malam hari. "Cindy sudah menceritakan padaku semuanya." Leon memecah keheningan setelah melihat Fiona hanya diam tanpa berkata apapun.


Fiona yang sedang duduk di sebelah Leon, seketika menatap ke bawah dengan senyuman miris. Dia sedang menertawakan kebodohannya yang sempat berharap kalau dia akan bahagia jika dia memilih bersama dengan Steven.


"Kakak memang tidak bisa di percaya," ucap Fiona lirih.


"Dia khawatir denganmu, itulah sebabnya dia menghubungiku."


Kedekatan mereka sejak dulu, membuat Fiona merasa nyaman saat dia bersama Leon. Dahulu, hanya Leon satu-satu orang tempatnya bercerita, menumpahkan segala keluh kesahnya.


"Aku tahu." Fiona kembali menatap ke depan setelah melirik sekilas pada Leon.


Seketika Fiona menoleh pada Leon dengan wajah terkejut. "Awalnya, aku mengira kalau orang tua Steven adalah orang tua dari gadis itu, tapi setelah mendengar percakapan mereka, aku jadi tahu kalau mereka adalah orang tua dari kekasih gadis itu, yang tidak lain orang tua dari Steven," lanjut Leon lagi.


Ketika mendengar mengenai kecelakaan Fiona dari ayah Fiona, Leon langsung menuju rumah sakit. Di sana, dia melihat ayah Fiona sedang duduk dengan wajah cemas sementara di sebrang mereka ada orang tua Steven dan ayah dari Gwen.


Leon terus berada di rumah sakit hingga operasi selesai. Dia bahkan melihat tuan Halim berbicara dengan orang tua Steven dan ayah Gwen tapi saat itu, Leon tidak bisa mendengar apapun karena jarak mereka yang jauh.


"Lalu, kenapa kau tidak bilang padaku dari awal saat kau tahu mengenai hubunganku dengan Steven?"


Leon menghembuskan napas halus, menatap ke bawah wajah bersalah. "Karena saat itu, aku melihatmu sangat bahagia ketika bersamanya. Aku bisa melihat kalau kau sangat mencintainya. Aku tidak ingin kau terluka jika kau tahu kebenarannya."


Tadinya, Leon berencana memberitahu Fiona tapi tidak tega menghancurkan kebahagian Fiona. Selama mereka saling mengenal, baru kali itu Leon melihat Fiona sangat bahagia. Wajahnya nampak berseri-seri, terlihat lebih hidup dan bercahaya. Meskipun banyak pria yang menyukai Fiona, tapi belum pernah ada yang mampu membuat Fiona jatuh hati selain Steven.


"Tadinya, aku pikir, aku bisa hidup bahagia jika memilihnya, tapi sepertinya itu hanya anganku saja. Sikapnya seketika berubah menjadi dingin padaku setelah mengetahui kebenarannya, tapi setidaknya, aku tahu kalau dia masih mencintai wanita itu. Ternyata dugaanku memang benar kalau dia ingin melindungiku karena hanya kasihan padaku." Fiona menunduk menahan suaranya yang mulai bergetar.

__ADS_1


"Besok seharusnya menjadi hari bahagia bagiku, tapi sepertinya lamaran kami akan batal. Dia bahkan tidak memberikan kepastian apapun padaku hingga saat ini, padahal aku sudah mengatakan kalau hari ini adalah penentuan mengenai hubungan kami," sambung Fiona lagi.


Leon mengusap punggung Fiona ketika melihat wanita di sampingnya menitikkan air mata. Leon tidak lagi bersuara, dia hanya membiarkan Fiona mengeluarkan air matanya yang sedari tadi berusaha dia tahan.


"Lalu, apa yang akan kau lakukan jika dia tidak juga memberikanmu kepastian malam ini?" tanya Leon ketika melihat Fiona sudah nampak tenang setelah menghapus air matanya.


"Aku akan membatalkan lamaran besok dan menemuinya untuk mengakhiri hubungan kami," ujar Fiona sambil menatap ke depan.


"Fiona, jika dia tidak menginginkanmu, masih ada aku yang akan selalu ada untukmu. Kau pasti tahu kalau aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Datanglah padaku kapan pun kau membutuhkan tempat bersandar."


Fiona menoleh pada Leon sambil tersenyum. "Terima kasih, Kak."


Leon mengantarkan Fiona pulang setelah mengajaknya makan malam terlebih dahulu. Leon tahu kalau Fiona tidak akan bisa makan jika dia sedang menghadapi masalah yang berat.


"Dari mana saja kau, apa kau tidak lihat ini sudah pukul berapa?" Sarah menghentikan langkah Fiona ketika dia akan melewatinya.


"Maaa, jangan mulai lagi," sela Cindy sebelum ibunya kembali ingin membuka mulutnya.


"Fio, masuklah ke kamarmu," perintah Cindy sambil menatap Fiona yang terlihat masih muram.


Fiona mengangguk lalu melangkah menaiki tangga menuju kamarnya. Dia melirik jam di layar ponselnya yang menunjukkan pukul 11 malam. Ketika dia akan meletakkan ponselnya di atas nakas, sebuah pesan masuk dari ibu Steven.


[Fiona, lamaran kalian akan tetap dilaksanakan besok. Steven sudah menyetujuinya jadi persiapkan dirimu untuk acara besok. Jangan memikirkan apapun. Semuanya akan baik-baik saja. Jangan khawatir.]


Fiona membaca berulang kali pesan yang dikirim oleh ibu Steven. Setelah membalas pesan ibu Steven, Fiona memutuskan untuk tidur. Dia akhirnya bisa bernapas lega. Setidaknya dia sudah mendapatkan kepastian, meskipun bukan dari Steven.


Karena Fiona belum juga mendapatkan kabar apapun dari Steven, dia bertekad untuk menyelesaikan permasalahan mereka setelah acara lamaran mereka selesai agar hubungan mereka kembali membaik.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2