
Ayah Sonia beralih menatap putrinya. "Bagaimana Sonia, apa keputusanmu?"
Sonia nampak kebingungan untuk menjawab pertanyaan ayahnya. "Pa, Sonia mau berbicara dulu sebentar dengan Leon."
"Baiklah."
Sonia membawa Leon menuju halaman belakang rumahnya, di dekat kolam ikan milik ayahnya. Dia sengaja mengajak Leon untuk pergi dari ruang makan agar tidak ada yang mendengar ucapan mereka.
Sebelum berbicara, Sonia menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan tidak ada orang di sana selain mereka berdua. "Leon, kenapa kau berbicara seperti itu pada papa?"
Leon menatap Sonia dengan wajah tenang. "Kau bilang tidak ingin menikah dengan pria yang dijodohkan denganmu, bukan? Bukankah itu alasan, kenapa kau mengenalkan aku sebagai kekasihmu."
Sonia mengalihkan pandangannya ke depan saat bola mata mereka bertatapan selama beberapa detik. "Iyaa memang benar, tapi kau tidak perlu menyanggupi permintaan ayahku untuk segera melamarku, aku akan mencari cara agar ayahku mau membatalkan perjodohanku dengan pria itu."
Leon berdiri lalu berjalan beberapa langkah ke depan. "Apa karena aku tidak setampan dan sekaya Steven, makanya kau tidak ingin menikah denganku?" tanya Leon sambil menoleh pada Sonia.
Sonia ikut berdiri menghampiri Leon karena merasa tidak enak padanya. "Bukan begitu, ini tidak ada hubungannya dengan Steven. Aku tidak pernah memandang seseorang dari kekayaan dan ketampanannya, meskipun itu juga penting, tetapi tidak menjadi prioritas utamaku, yang utama adalah bagaimana sikap dan kepribadiannya. Aku justru merasa bersalah karena sudah menyeretmu sejauh ini dan melibatkanmu dalam urusan rumit keluargaku."
Leon membalikkan badannya menghadap Sonia. "Semua sudah terlanjur, kau tidak perlu menyesalinya. Aku akan membantumu jika kau mau."
Sonia menatap wajah Leon sesaat sebelum membuka suaranya kembali. "Leon, kau tidak perlu mengorbankan dirimu hanya untuk membantuku. Bagiku pernikahan adalah hal yang sangat sakral. Keiginanku adalah menikah satu kali seumur hidup, meskipun itu karena perjodohan. Aku tidak ingin ada perpisahan dalam pernikahanku."
Leon menatap lekat mata Sonia. "Aku juga sama sepertimu, Sonia. Bagiku, pernikahan adalah hal yang sangat serius dan bukanlah mainan. Semua terserah padamu, jika kau tidak mau menerimaku, kau bisa langsung menolakku di depan ayahmu."
Sonia berpikir sesaat, bola matanya nampak bergerak dengan pelan. "Bagaimana dengan kekasihmu?"
"Kalau aku memiliki kekasih, aku tidak mungkin mengatakan hal itu kepada ayahmu," jawab Leon cepat.
Sonia menatap ke bawah sebentar sambil berpikir lagi, beberapa detik kemudian dia mendongakkan kepalanya. "Leon, apa kau yakin tidak akan menyesal jika menikah denganku?" tatap Sonia dengan wajah serius.
"Seharusnya pertanyaan itu aku ajukan padamu. Mungkin aku tidak masuk dalam kriteria pria idamanmu, tidak sempurna seperti Steven."
Raut wajah Sonia terlihat kesal. "Kenapa kau terus mengaitkan Steven dalam pembicaraan kita? Ini masalah kita berdua, dia tidak ada hubungannya dengan kita."
"Maafkan aku, aku hanya iri dengannya karena bisa dicintai oleh wanita sepertimu." dan juga Fiona.
Selesai berbicara, mereka kembali masuk ke dalam, tapi kali ini, mereka berbicara di ruang keluarga.
"Bagaimana?" Ayah Sonia langsung bertanya setelah melihat mereka bedua sudah duduk di depannya.
"Aku setuju, Pa." Wajah kedua orang tua Sonia langsung bahagia, sementara Fanny terlihat kecewa.
"Tapi, saya tidak bisa langsung menikahi Sonia dalam waktu dekat. Saya minta waktu satu tahun untuk mempersiapkan semuanya dengan matang," timpal Leon.
Ayah Sonia nampak berpikir sebentar. "Baiklah, tidak masalah, tapi kalian harus bertunangan dulu."
******
__ADS_1
Fiona tengah sibuk di dapur untuk menyiapkan sarapan untuk suaminya. Fiona sengaja ingin memasak makanan kesukaan suaminya hari ini. Ini pertama kalinya, Fiona memasak untuk Steven setelah resmi menjadi istrinya.
Pagi-pagi sekali, dia sudah berbelanja sayuran dengan diantar oleh Doni. Bi Sarti masih diliburkan oleh Steven sampai mereka kembali dari bulan madu sehingga di mansion itu hanya ada Steven dan Fiona saja.
Ketika Fiona sedang mengaduk masakannya, sebuah lengan kokoh melingkar di perutnya. "Kau sedang masak apa sayang?" Bisikan Steven dengan suara seraknya membuat Fiona bergidik.
Fiona menoleh sekilas ke belakang tanpa menghentikan kegiatannya setelah suaminya mendaratkan kecupan di pipi kirinya. "Masak makanan kesukaanmu," jawab Fiona singkat lalu kembali fokus pada masakannya.
"Kenapa kau tidak membangunkan aku?" Steven menghirup dalan aroma sampo di rambut Fiona.
"Kau terlihat sangat lelah, jadi aku tidak tega membangunkanmu." Fiona sedikit menoleh pada Steven yang tidak mengenakan baju sehinga menampilkan tubuh bagian atasnya.
"Tunggulah di meja makan, di sini bau." Fiona mengecilkan api kompornya lalu menambahkan sesuatu ke dalam masakannya.
"Apakah masih lama?" Steven terlihat belum mau beranjak dari dapur meninggalkan istrinya.
"Tidak, 1 masakan lagi."
"Kalau begitu, aku akan membantumu."
"Tidak perlu Steve, aku akan melakukannya dengan cepat. Kalau tidak, kau mandi saja lebih dulu."
Fiona berusaha melepaskan tangan Steven yang melingkar di perutnya, tapi ditahan oleh Steven. Fiona kemudian mematikan kompor lalu menoleh pada Steven. "Steve, lepaskan dulu, aku mau mengambil piring."
"Biar aku ambilkan, di mana letaknya?"
"Di sana." Fiona menunjuk ke kabinet bawah.
Fiona meraih piring lalu menuangkan masakannya ke dalam piring yang diambil Steven. Setelah selesai, dia kembali memotong sayuran lainnya dibantu oleh Steven. Dia tetap bersikukuh ingin membantu istrinya sehingga Fiona akhirnya menyerah dan membiarkan Steven membantunya.
"Ajarkan aku memotongnya," pinta Steven sambil menatap wortel yang ada di depannya.
Fiona menghela napas, acara masak yang seharusnya bisa selesai setengah jam, menjadi lama akibat ulah Steven. "Begini, potong dadu kecil-kecil." Fiona mempraktekkannya dengan gerakan pelan agar suaminya mengerti. Steven terlihat mengamati dengan serius.
"Tunggu dulu." Steven berdiri di belakang Fiona, melingarkan tangannya ke tubuh istrinya lalu memegang tangan Fiona yang sedang memotong wortel. "Lebih baik kau mengajariku dengan cara seperti ini."
"Steve, kalau begini, kita akan mengahabiskan waktu lama." Fiona tahu, itu hanya akal-akalan suaminya saja untuk memeluknya. Dia tahu kalau suaminya sengaja mencari kesempatan untuk menggodanya.
"Tidak apa-apa sayang, aku ingin membuat makanan penuh cinta berdua dengamu, rasanya pasti enak jika kita melakukannya bersama-sama." Ada saja akal bulus Steven untuk mengerjai istrinya.
Fiona akhirnya menuruti saja kemauan suaminya. Sesekali Steven menjahili Fiona, menciumnya dengan gemas sambil memasak. "Steve, masukkan sayurannya," ucap Fiona sambil mengaduk masakannya.
"Iya sayang." Perlahan Steven memasukkan sayuran yang sudah dipotong setelah itu memandang istrinya.
Melihat Fiona berkeringat, Steven meraih tisu lalu menyeka pipi dan dahi istrinya. "Bahkan saat berkeringat pun kau masih terlihat cantik, sayaaang. Aku sangat beruntung memiliki istri sepertimu," puji Steven sambil tersenyum menggoda pada istrinya.
Fiona mengabaikan gombalan suaminya. "Steve, apakah sudah harum?" tanya Fiona tanpa menoleh pada suaminya.
__ADS_1
Steven melangkah mendekati istrinya. "Sudah sayang, tubuhmu memang selalu harum setiap saat," ucap Steven sambil memeluk istrinya dari belakang dan mencium aroma tubuh Fiona di ceruk leher Fiona.
"Steve, bukan itu maksudku, tapi masakannya," ujar Fiona sambil memukul tangan Steven yang ada di perutnya.
Steven terkekeh melihat kekesalan istrinya. "Kau harusnya mengatakan dengan jelas sayang, aku kan tidak mengerti," balas Steven dengan wajah yang dibuat sepolos mungkin.
Fiona menghela napas halus lalu berbalik menghadap suaminya setelah mengecilkan kompornya. "Iyaa, memang aku yang salah. Sekarang, tolong ambilkan aku mangkok di atas sana karena aku tidak bisa mengambilnya," tunjuk Fiona ke kabinet atas.
"Berikan hadiah dulu, aku sangat lelah setelah membantumu memasak."
Fiona berusaha menahan kekesalannya pada Steven. Sudah jelas-jelas dia yang memaksa untuk membantunya tadi. Fiona tahu, kalau itu hanya akal-akalan Steven untuk mengambil keuntungan darinya.
Karena tidak mau berlama-lama, Fiona akhirnya mengalah. "Oke, menunduklah." Steven tersenyum lebar lalu membungkuk di hadapan Fiona.
Dengan terpaksa Fiona mencium pipi Steven kanan dan kiri. "Sudah, cepat ambilkan."
"Ini, ini, dan ini belum sayaaang." Steven menunjuk dahi, hidung, dan bibirnya.
Fiona menarik sudut bibir dengan paksa, berusaha tersenyum pada suaminya. "Baiklah, suamiku tersayang, setelah ini tolong ambilkan yaa? Istrimu ini harus memasak kembali setelah ini."
Steven tahu kalau saat ini, istrinya sedang menahan kekesalannya. "Iya sayaaang, lakukan dengan benar ya." Steven mendekatkan wajahnya kembali pada Fiona.
Dengan gerakan cepat, Fiona mencium dahi, hidung, dan bibir suaminya. "Sudah suamiku."
"Terima kasih sayaang." Steven memutar badannya lalu melangkah membuka kabinet atas, mengambil mangkok yang dimaksud oleh Fional setelah itu memberikan pada istrinya.
Setelah memasukkan semua bumbu dan mencicipinya, Fiona mengecilkan api kompornya.
"Berapa lama lagi matangnya, sayaaang?" tanya Steven ketika melihat Fiona hanya memandang masakan yang ada di depannya.
Fiona menoleh pada Steven dengan cepat. "Lima menit lagi," jawab Fiona, "apa kau sudah lapar?"
"Iyaaa, aku lapar, tapi...."
Steven sengaja tidak melanjutkan ucapannya. Dia menarik tubuh Fiona lebih dekat dengannya.Steven kemudian tersenyum penuh arti pada Fiona. "Karena masih ada waktu 5 menit, jadi jangan sia-siakan waktu yang ada."
Fiona terlihat bingung sesaat setelah mendengar kata-kata Steven. Beberapa detik kemudian tubuhnya sudah diangkat oleh Steven ke atas meja dapur. Steven berdiri tepat di depan Fiona. "Kau seksi sekali sayang," bisik Steven.
Karena Fiona mengenakan celana pendek yang longgar jadi ketika Steven mengangkat tubuhnya ke atas meja, celananya otomatis tertarik ke atas sehingga menampilkan seluruh paha putih mulus Fiona. Apalagi, Fiona hanya mengenakan tanktop pagi itu sehingga memancing gairah Steven.
Detik kemudian dia sudah melu*mat bibir istrinya dengan lembut. Steven melingkarkan tangannya di pinggang istrinya dan memperdalam ciumannya, Fiona pun mengalungkan tangannya di leher Steven. Pagi itu Steven terlihat lebih bergairah dari biasanya. Penampilan seksi istrinya membuatnya bersemangat.
Ketika ciuman mereka mulai memanas dan napas mereka mulai berat tanpa melepaskan pagutannya, Steven mematikan kompornya lalu mengangkat tubuh Fiona dan menggedongnya.
Sebelum melangkah, Steven melepas pagutan mereka sejenak. "Sayang, kita pindah ke kamar." Steven kembali menyatukan bibir mereka lalu membawa istrinya ke atas menggunakan lift.
Semenjak menikah, Steven memang tidak bisa menahan diri lagi. Sedikit saja Fiona memancingnya, maka Steven tidak akan melepaskannya.
__ADS_1
Berbeda sekali sebelum menikah, Steven sangat ahli dalam mengontrol dirinya, meskipun dia sudah diberikan obat, tapi dia masih bisa menahannya. Kalau sekarang, jangan kan menahan diri, bahkan dia sengaja menggoda Fiona terlebih dahulu.
Bersambung....