Goresan Luka di Hati Fiona

Goresan Luka di Hati Fiona
Meminta Cucu


__ADS_3

Setelah resmi menjadi suami istri, Steven mulai bersikap posesif pada istrinya. Setiap ada pria yang ingin berjabat tangan dengan Fiona, Steven langsung mengingatkan pada istrinya untuk tidak berlama-lama. Steven juga terlihat selalu melingkarkan tangannya di pinggang Fiona jika sedang tidak ada tamu yang ingin berpamitan pulang.


Sepanjang berjalannya acara, wajah Steven terlihat lebih bahagia dan dia lebih banyak tersenyum meskipun hanya senyum tipis, tapi itu sudah membuat hati para wanita meleleh melihatnya. Pesta pernikahan yang diselenggarakan malam itu sangat megah dan mewah Pernikahan tersebut ditaksir menghabiskan dana yang fantastis. Semua orang penting dan berpengaruh hadir dalam pesta tersebut.


"Selamat atas pernikahan kalian," ucap Leon sambil menjabat tangan Steven. "Semoga kalian bisa hidup bahagia selamanya."


"Terima kasih," jawab Steven.


Leon berjalan dua langkah, beralih pada Fiona. "Fio, ini adalah awal dari perjalanan hidupmu yang sesungguhnya. Aku harap kau bisa menghadapi semua rintangan yang datang menghampiri kehidupan rumah tanggamu kelak. Menjadi istri Steven tidaklah mudah, karena suamimu bukanlah orang biasa. Kau harus menjadi wanita yang kuat dan tangguh untuk bisa tetap mendampinginnya dan mempertahankan posisimu saat ini. Apapun masalahnya nanti, tetaplah saling percaya dan terbuka satu sama lain," nasehat Dion, "Teruslah hidup bahagia, karena hanya dengan cara itu, aku bisa hidup dengan tenang tanpa mengkhawatirkanmu."


Steven hanya diam mendengarkan Leon berbicara. "Iyaaa Kak, terima kasih banyak. Aku harap kau juga cepat menemukan wanita yang bisa mencintaimu dengan tulus."


Leon mengangguk. "Iyaaa."


Selesai Leon, tidak lama berselang Sonia menuju pelaminan dan mengucapkan selamat pada mereka. Mereka berbincang sebentar setelah itu Sonia kembali ke tempat duduknya.


Pernikahan Steven dan Fiona berlangsung selama 3 jam lamanya, mulai dari pukul 7 malam hingga pukul 10 malam. Selesai acara, Fiona dibantu oleh Steven dan ibunya berjalan menuju hotel yang berada tepat di sebelah gedung tempat pernikahan mereka digelar. Di hotel tersebut keluarga dari pihak mempelai wanita dan pria juga menginap. Tiba di depan kamar, Steven menuntun Fiona dengan hati-hati.


"Pakaian ganti kalian sudah mama taruh di lemari," ucap Ibu Steven setelah berada di dalam kamar.


Fiona menoleh pada Ibu Steven yang berjalan ke arahnya. "Iyaa, Ma."


"Fio, kau sudah menjadi istri Steven sekarang jadi kau tidak boleh malu lagi dengannya. Ingat, buatkan cucu untuk mama malam ini yaa," bisik Ibu Steven pada Fiona.


Melihat wajah Fiona memerah seperti keptiting rebus, Steven memicingkan matanya lalu berkarta, "Apa yang kalian bicarakan?"


Ibu Steven langsung berdiri tegak. "Tidak ada, hanya obrolan sesama wanita. Kalau begitu mama pergi." Ibu Steven melangkah keluar dengan langkah cepat.


Steven nampak belum puas dengan jawaban ibunya. Dia kemudian bertanya pada Fiona "Apa yang mama bicarakan padamu tadi?" tanya Steven dengan tatapan menyelidik.


Fiona berpura-pura sibuk membersihkan wajahnya. "Bukan apa-apa. Mandilah Steve, setelah itu aku juga mau mandi."


Steven berjalan mendekati Fiona lalu berdiri di belakangnya. "Fio, bantu aku melepaskan pakaianku."

__ADS_1


Fiona sedikit terkejut mendengar permintaan Steven, dia baru teringat kalau itu adalah salah satu tugasn sebagai seorang istri untuk melayani suaminya.


"Baiklah."


Fiona berbalik dan berdiri dihadapan Steven. Ini pertama kalinya dia membuka pakaian orang lain apalagi seorang pria. Meskipun Steven sudah resmi menjadi suaminnya, tapi tetap saja Fiona merasa canggung dan malu.


Steven terlihat menunduk menatap Fiona sambil tersenyum tipis saat melihat Fiona mulai membuka kancing bajunya satu persatu. Setelah semua kancing terbuka semua, Fiona membantu Steven melepaskan kemejanya. Jantungnya berdebar kencang melihat tubuh suaminya yang begitu sempurna.


"Kenapa? Apa kau menyukai tubuhku?" goda Steven.


Fiona langsung mengalihkan pandangan ke samping. "Steve, jangan menggodaku!"


Steven menunduk lalu berbisik, "Sekarang tubuhku sudah menjadi milikmu, lakukan apapun yang kau mau." Steven menatap Fiona dari dekat sambil menyunggingkan sudut bibirnya.


Wajah Fiona bertambah merah. "Mandilah, cepat, hari sudah semakin malam."


"Baiklah, aku mandi dulu." Steven melangkah menuju kamar mandi. Sebelum menutup pintu, Steven memandang istrinya dengan nakal, "Fio, bagaimana kalau kita mandi bersama?"


Steven terkekeh melihat raut kesal istrinya. "Aku hanya bercanda sayang, tapi kau harus mempersiapkan dirimu untuk malam panjang yang akan kita lalu setelah ini." Steven tersenyum nakal sebelum menutup pintunya.


Fiona menelan salivanya setelah mendengar perkataan Steven. Setelah tediam beberapa saat, dia akhirnya memutuskan untuk mempercepat kegiatannya untuk membersihkan wajahnya sebelum Steven keluar dari kamar mandi.


Selesai membersihkan makeupnya, Fiona melepas gaun pengantin yang melekat ditubuhnya, meskipun kesulitan untuk membukanya, tapi akhirnya Fiona berhasil melepaskan gaun pengantinnya sendiri.


Setelah gaun pengantinnya terlepas, dia berjalan ke arah lemari untuk mengambil jubah mandi. Dia kemudian meletakkan gaun yang tadi dia pakai di lemari yang masih kosong. Tidak lama kemudian Steven keluar hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya.


"Sayang mana bajuku?" Steven menghampiri yang masih berdiri di depan lemari.


"Sebentar." Fiona mengambil pakaian ganti untuk Steven lalu memberikanya pada Steven. "Aku mandi mandu dulu."


"Iyaaa Sayang, jangan lama-lama."


Setengah jam kemudian Fiona keluar dari kamar mandi. Dia terus berjalan ke lemari tanpa memperdulikan tatapan Steven yang tertuju ke arahnya. Fiona terlihat sedang mencari-cari sesuatu. Lama dia berdiri di depan lemari, tetapi dia tidak menemukan apa yang dia cari. Dia kemudian memeriksa tas belanja yanga da di lemari.

__ADS_1


Matanya membulat ketika melihat isinya. Itu adalah lengerie yang dibeli oleh ibu Steven beberapa hari yang lalu. Dia memutuskan untuk memeriksa tas belanja yang lain, namun nihil. Dia tidak menemukan satu pun baju ganti miliknya.


"Sayang, kenapa kau hanya berdiri di situ? Kemarilah cepat." Steven merasa heran melihat Fiona nampak berdiri cukup lama di depan lemari.


Fiona menoleh ke arah Steven. "Sebentar Steve, aku sedang mencari baju gantiku."


"Jangan banyak alasan Sayang, kau sudah berdiri di situ selama sepuluh menit. Cepatlah, kemari sebelum aku kesana dan menggendongmu. Lebih baik cepat ganti bajumu, sebelum kau menyesal," ancam Steven.


Fiona terpaksa meraih satu paper bag dengan brand terkenal yang tercetak di tas belanja tersebut lalu kembali masuk ke dalam kamar mandi.


"Fio, kau sedang apa di dalam? Cepat keluar!" Steven nampak heran kenapa Fiona belum juga keluar setelah berada di dalam kamar mandi selama 15 menit padahal dia bilang hanya berganti pakaian.


"Sebentar Steve," teriak Fiona dari dalam.


"Fiona, sebenarnya apa yang kau lakukan di dalam?"


"Aku sedang berganti pakian Steve."


"Cepat keluar! Kau sudah terlalu lama berada di dalam kamar mandi."


Perlahan pintu terbuka, Fiona melangkahkan kakinya perlahan keluar dari kamar mandi sambil menunduk. Saat Steven melihat pemadangan di depannya, dia lansung terdiam sambil menatap penuh arti pada Fiona.


Saat ini, Fiona sedang mengenakan lingerie berwarna hitam yang sangat seksi. Lekuk tubuh Fiona tercetak jelas, bahkan kain tipis tersebut tidak mampu menutupi kedua area sensitif Fiona.


"Fio, apa kau sedang menggodaku?" tanya Steven setelah terdiam beberapa saat. Steven menelan salivanya dengan susah payah. Hanya melihatnya dari jarak jauh saja sudah mempu membangkitkan gairahnya.


"Hanya ada baju ini di lemari, Steve. Aku tidak memiliki pakaian ganti satu pun kecuali ini. Aku rasa mama sengaja hanya meninggalkan ini agar aku memakainya," terang Fiona sambil berusaha menutupi daerah sensitifnya.


Sebenarnya tadi dia berencana untuk meminjam baju Steven, tapi ternyata baju Steven hanya ada satu dan itu sudah dikenakan olehnya.


Steven tersenyum penuh arti lalu berkata, "Aku rasa mama ingin kita segera memberikannya cucu." Steven berdiri lalu menghampiri Fiona yang masih tertunduk dengan wajah malu.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2