
Fiona langsung memotong ucapan Erick. "Apa dia sedang bersama dengan wanita lain di dalam?"
"Tidak Nona."
"Kau jangan berbohong padaku, Rick. Aku melihat dengan jelas kalau kalian tadi bersama dengan seorang wanita. Aku yakin dia tidak mau menemuiku pasti karena ada wanita itu di dalam bersama dengan Steven."
"Anda salah Nona, tidak ada siapapun di dalam kecuali tuan Steven."
"Kalau begitu biarkan aku masuk. Aku hanya ingin menunggunya. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengannya."
"Nona bisa memberitahukan padaku, nanti akan aku sampaikan pada tuan Steven."
"Aku harus bertemu langsung dengannya."
Erick menghela napas. "Tapi, tuan Steven tidak bisa menemui Anda saat ini."
"Kalau begitu aku akan menunggu di sini. Aku tidak akan pulang sebelum Steven mau menemuiku," ucap Fiona dengan tegas. Mansion ini adalah satu-satunya tempat yang Fiona tahu, kalau dia pulang mungkin saja dia tidak akan pernah bertemu dengan Steven lagi.
Erick menghela napas ketika melihat Fiona bersikeras menemui bosnya. "Tolong jangan mempersulit saya Nona, lebih baik anda pulang. Lagi pula, ini sudah malam. Saya janji akan menyampaikan pesan Anda pada tuan Steven untuk menemui Anda besok."
Tolong bekerja sama lah Nona. Tuan Steven bisa memecatku kalau aku membiarkanmu masuk tanpa ijinnya.
"Aku tidak mau," tolak Fiona dengan tegas. "Steven pasti tidak akan menemuiku besok."
Erick tidak menyangka kalau Fiona yang dia kenal dulu lemah lembut berubah menjadi gadis keras kepala. "Percuma Anda menunggu di sini malam ini, tuan Steven tetap tidak akan menemui Anda Nona."
"Benarkah dia tidak mau menemuiku meskipun aku menunggunya semalaman di sini?" tanya Fiona dengan wajah penasaran.
"Iyaa Nona, jadi lebih baik Anda pulang," jawab Erick mantap.
Fiona menatap ke bawah sejenak lalu mendongakkan kepala menatap Erick dengan berani. "Kalau begitu bilang padanya. Aku ke sini ingin meminta pertanggung jawabannya. Aku sedang hamil anaknya."
Erick tercengang sesaat lalu menatap Fiona dengan dahi berkerut, dia seolah tidak percaya dengan ucapan Fiona. "Nona, bagaimana anda bisa hamil anak tuan Steven, kalau anda saja sudah 2 tahun lebih tidak bertemu dengan tuan Steven."
"Apa kau tidak tahu kalau Steven pernah menemuiku 6 bulan lalu saat dia kembali ke sini?"
Erick kembali tercengang. Tidak ada yang tahu mengenai kepulangan Steven 6 bulan lalu, jadi Erick tentu saja terkejut karena Fiona tahu mengenai hal itu. Perlahan dia terlihat mulai percaya dengan ucapan Fiona.
Melihat Erick tampak mulai bimbang, Fiona meneruskan sandiwaranya. "Apa kau akan tetap membiarkan aku menunggu di sini sampai pagi dan tidak mau membiarkan aku masuk? Apa kau akan bertanggung jawab jika terjadi apa-apa dengan anak Steven yang ada di perutku?"
Fiona terpaksa berbohong agar Erick membiarkannya masuk. Hanya dengan cara itu, dia bisa bertemu dengan Steven. Kalau dia tidak berhasil bertemu dengan Steven malam ini, kemungkinan mereka tidak akan pernah bertemu lagi apalagi Steven salah paham mengenai hubungannya dengan Leon.
"Jadi, Nona sudah bertemu dengan tuan Steven sebelumnya?" tanya Erick.
"Tentu saja, kalau tidak, bagaimana aku tahu kalau dia sudah kembali semenjak 6 bulan yang lalu."
Erick terlihat berpikir sejenak. "Baiklah, Nona boleh masuk." Meskipun Erick tidak sepenuhnya percaya dengan ucapan Fiona, tapi dia juga tidak mau mengambil resiko seandainya perkataan Fiona benar. Steven pasti akan marah besar jika hal itu terjadi.
"Terima kasih." Dalam hati Fiona merasa lega karena Erick percaya dengan ucapannya.
__ADS_1
Fiona melangkah masuk mengikuti Erick dari belakang. "Tuan, bangun Tuan." Erick terlihat membungkuk sambil memanggil bosnya. "Ada Nona Fiona di sini, Tuan." Erick terlihat berusaha untuk membangunkan bosnya lagi.
"Steven kenapa?" tanya Fiona dengan wajah cemas.
Erick berdiri tegak lalu menatap Fiona. "Tuan Steven mabuk."
Mata Fiona membelalak lalu melihat ke meja. "Dia menghabiskan minuman itu sendirian?" tanya Fiona dengan wajah terkejut.
"Benar, Nona."
"Biarkan aku yang membangunkan Steven." Fiona melangkah maju lalu menunduk. "Steve, bangun," ucap Fiona sambil mengguncang lengan Steven dengan lembut.
Perlahan Steven membuka matanya. "Kenapa kau bisa ada di sini?" Steven langsung bangun dari tidurnya dan langsung duduk ketika melihat Fiona ada di depannya.
Nona Fiona baru membangunkan anda sekali, dan anda langsung bangun Tuan, sementara aku sudah berkali-kali, anda bahkan tidak bergerak sedikit pun. Sepertinya Nona Fiona memiliki pengaruh besar terhadap anda.
Fiona melangkah mundur. "Aku ingin berbicara denganmu."
Steven memijat pelipis dan keninganya karena merasa pusing setelah itu dia melirik Erick dengan tajam. "Kau yang mengijinkannya masuk?"
Erick menelan ludahnya. "Iya, Tuan."
"Sepertinya kau sudah bosan bekerja denganku," ucap Steven penuh penekananan. "Maaf tuan, itu karena...." Erick mendekatkan diri pada Steven dan berbisik sesuatu.
Steven melirik pada Erick. "Benarkah dia mengatakan hal itu?"
"Benar, Tuan," jawab Erick seraya mengangguk.
Steven menghentikan langkahnya lalu menoleh pada Erick. "Pulanglah," perintah Steven.
"Bagaimana dengan Nona Fiona?"
"Aku yang akan mengantarnya."
Erick mengangguk lalu pergi. Steven membawa Fiona ke ruangan lantai 2 yang menghadap ke pemandangan taman belakang.
Steven menghentikan langkahnya tepat di dinding kaca yang terbuka lalu berbalik menghadap Fiona. "Erick bilang kau sedang mengandung anakku, benarkah itu?" tanya Steven seraya menunduk menatap Fiona.
Fiona meremas kedua tangannya. "Maafkan aku, Steve, aku tahu aku salah. Kau boleh marah padaku tapi ijinkan aku berbicara denganmu terlebih dahulu," ucap Fiona dengan suara pelan sambil menunduk. Dia tidak berani menatap wajah Steven karena takut Steven akan marah padanya.
Steven menyunggingkan senyuman di wajahnya lalu meraih dagu Fiona dan mengangkatnya. "Bagaimana bisa aku marah dengan ibu dari anakku," ucap Steven sambil mendekatkan wajahnya dengan Fiona.
Fiona langsung gugup. "Erick tidak mengijinkan aku masuk, aku terpaksa melakukannya, Steve. Aku...."
Fiona mengalihkan pandangannya ketika merasa hembusan napas Steven menerpa wajahnya. Bau alkohol yang menyengat, menyeruak keluar dari mulut Steven yang berarti dia menghabiskan banyak minuman keras malam itu.
"Aku tidak menyangka kau bisa membodohi Erick. Selama ini belum pernah ada yang bisa membodohinya. Sepertinya aku terlalu meremehkanmu."
Steven melepaskan tanganya dari dagu Fiona, menjauhkan tubuhnya lalu melipat kedua tanganya di dada. "Sekarang katakan padaku, bagaimana aku harus bertanggung jawab terhadapmu?"
__ADS_1
Fiona mengangkat kepalanya. "Steve, maafkan aku," ucap Fiona dengan wajah bersalah.
Steven memejamkan matanya lalu menunduk. Seketika dia merasa pusing. Setelah merasa sedikit lebih baik, dia mengangkat kepalanya menatap Fiona. "Apa kekasihmu tahu kalau kau ada di sini?"
Fiona melangkah mendekati Steven. "Dia bukan kekasihku, Steve. Kau salah paham," jelas Fiona dengan raut wajah cemas.
"Kalau bukan kekasihmu, apa dia calon suamimu?" tanya Steven dengan wajah dingin.
"Steve, kami tidak memiliki hubungan apapun, kami hanya berteman. Kami...."
"Kau bahkan tidak menyangkal ketika dia mengatakan kalau kau kekasihnya, Fiona. Apa kau pikir kau bisa membodohiku?"
"Aku akan menjelaskan semuanya, asalkan kau mau mendengarkan penjelasanku. Aku akan meluruskan kesalahpahaman kita yang sekarang dan dulu," ucap Fiona dengan cepat.
"Baiklah, aku akan mendengarkan penjelasanmu tapi...." Steven menghentikan ucapannya. "Tidak sekarang," lanjut Steven.
"Kau kenapa Steve?" tanya Fiona dengan wajah cemas ketika melihat wajah pucat Steven.
"Aku tidak apa-apa, aku hanya merasa pusing."
Fiona memegang lengan Steven. "Kalau begitu beristirahatlah di kamar, aku akan membantumu."
Steven menggeleng. "Tidak usah, aku bisa berjalan sendiri."
Steven melangkah pelan masuk ke dalam kamarnya diikuti oleh Fiona di belakangnnya.
Fiona mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut kamar itu. Kamar itu terlihat masih sama, tidak ada yang berubah sedikit pun.
"Menginaplah malam ini, aku tidak bisa mengantarmu. Kau bisa tidur di kamar yang dulu kau tempati. Kita bicara lagi besok," ucap Steven ketika dia sudah duduk di tepi tempat tidurnya.
Fiona mendekati Steven yang terlihat sedang memijat kepalanya. "Apa kau baik-baik saja?" tanya Fiona dengan wajah cemas.
"Apa kau sedang mengkhawatirkan aku?" tanya Steven sambil menoleh pada Fiona yang sedang berdiri di dekatnya.
"Tentu saja, wajahmu pucat. Aku akan...."
"Tetaplah di sini," pinta Steven dengan suara pelan.
Fiona terdiam sesaat. "Baiklah."
Steven bangun dari duduknya lalu berdiri tepat di depan Fiona. "Fio, apa kau masih ingat saat pertama kali aku membawamu ke sini?" tanya Steven dengan wajah serius.
Fiona mengalihkan pandangannya ketika Steven menatap intens dirinya. "Iyaa."
"Jadi, kau juga masih ingat kenangan kita saat di sini?"
Fiona menatap Steven sejenak lalu beralih menatap ke samping. "Tentu saja, aku tidak akan pernah melupakannya." Fiona terlihat gugup dan salah tingkah.
Steven maju selangkah dan mendekatkan wajahnya pada Fiona. "Kalau begitu jangan pernah lupakan ini juga." Steven meraih dagu Fiona lalu menempelkan bibir mereka berdua.
__ADS_1
Bersambung....