
Sera memandang remeh Fiona. "Kita lihat saja, apa kau bisa menghentikanku nanti."
"Sera, jangan kau pikir aku tidak tahu kalau kau adalah dalang dari penculikanku waktu itu."
Sera tersenyum sinis. "Fiona, omong kosong apa yang sedang kau bicarakan padaku? Apa kau tidak tahu, menuduh tanpa bukti bisa dituntut secara hukum?"
"Kau mungkin berpikir tidak akan ada yang tahu mengenai kejahatanmu sehingga membuatmu begitu angkuh. Aku memang belum memiliki bukti bahwa kau adalah pelakunya, tapi cepat atau lambat kejahatanmu pasti akan terbongkar.
Tinggal menunggu waktu saja sampai Steven menemukan bukti bahwa kau adalah pelakunya."
"Bagaimana bisa kau begitu yakin aku adalah pelakunya? Apa kau pernah melihatku saat kau diculik? Fiona, aku bahkan tidak tahu mengenai penculikanmu kalau bukan dari mulut ibu Steven."
"Sera, kau pikir aku bodoh dan tidak tahu apa-apa mengenai kebusukanmu? Tentu saja, aku tahu pelakunya karena pria yang menyekapku saat itu, mengatakan kalau dia bukan pelaku penculikanku. Aku tahu kau memperalat dia karena kau tahu kalau dia menyukaiku."
Sera duduk bersandar lalu melipat kedua tangannya di dada. "Jadi, James yang bilang padamu kalau aku yang menculikmu?" Sera masih terlihat tenang.
"Lihaaat, kau bahkan tahu siapa yang sudah menyekapku, padahal aku tidak pernah menyebutkan namanya. Sera, seharusnya kau melakukannya tanpa celah sehingga orang lain tidak akan tahu mengenai kebususkanmu."
Sera tertawa kecil. "Fiona, kau tidak bisa menuduhku hanya karena aku tahu nama pria yang menyekapmu. Kita ini berada di negara hukum. Segala sesuatu harus dibuktikan secara nyata, jika tidak, akan menjadi fitnah dan aku bisa menuntutmu karena sudah menuduhku tanpa bukti."
"Tidak masalah jika tidak mau mengakui ke salahanmu, tapi untuk kedepannya aku akan pastikan kau membayar apa yang telah kau perbuat padaku." Fiona lalu berdiri.
"Aku peringatkan padamu, jauhi Steven. Kau boleh melakukan apapun padaku, tapi jangan pernah mencoba untuk menjebak Steven ataupun memanfaatkannya lagi, jika tidak, aku akan membalasmu berkali-kali lipat. Aku tidak main-main dengan ucapanku."
"Kau mengancamku?"
"Kali ini, aku hanya memperingatkanmu, tapi kau bisa mencobanya jika kau ingin tahu apakah aku hanya menggertakmu atau tidak. Yang jelas, aku tidak membiarkanmu mengganggu Steven lagi."
Fiona lalu berjalan meninggalkan Sera yang nampak menatap Fiona dengan tatapan geram. Dia sangat yakin kalau Sera adalah dalang dari penculikannya karena dia pernah datang sekali ke tempat Fiona disekap. Saat itu, Fiona hanya berpura-pura tidur. Meskipun Sera menutup wajanya, tetapi Fiona sempat mendengar suara Sera. Walaupun terdengar sangat kecil, tapi Fiona sangat yakin kalau itu adalah suara Sera.
Fiona memang tidak berani mengatakan pada Steve karena dia tidak memiliki bukti kuat. Selain James, memang tidak ada yang tahu siapa dalang dari penculikan Fiona.
Ketika Fiona sampai di depan kamar Steven, sudah ada Erick yang berdiri di sana. "Rick, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Fiona dengan heran.
"Maaf Nona, apakah tuan Steven sudah bangun?" tanya Erick dengan sopan.
"Aku tidak tahu, kenapa kau tidak memencet belnya?"
Erick terlihat tersenyum canggung. "Saya takut tuan Steven belum bangun."
Sebenarnya yang Erick takutkan adalah mengganggu kebersamaan Steven dan Fiona. Apalagi dia tahu kalau Fiona tidur di kamar Steven sehingga dia tidak berani memencet bel kamar Steven. Sebenarnya dia sudah mengirim pesan pada Steven, tapi belum juga di respon.
"Tadi dia belum bangun. Apakah ada hal penting yang ingin kau sampaikan pada Steven?"
__ADS_1
"Tuan William mengundang tuan Steven dan Nona Fiona untuk sarapan bersama. Tuan William sudah memesan tempat makan pribadi di salah satu restoran yang ada di bawah."
Fiona membuka pintu dengan kartu setelah itu menahan pintu agar tidak tertutup. "Baiklah, aku akan membangunkan Steven."
"Baik Nona, terima kasih. Kalau begitu saya permisi."
Fiona mengangguk setelah itu dia masuk ke dalam kamar. Steven terlihat belum juga bangun. Fiona lalu menghampiri Steven dan duduk di tepi ranjang. "Steve, bangun. Ini sudah pagi." Fiona menepuk punggung Steven dengan pelan.
"Steve," panggil Fiona lagi sambil mengguncang tubuh Steven agar terbangun.
"Hhhmmm." Hanya itu jawaban dari Steven. Dia nampak belum berniat untuk bangun.
"Steve, William meminta kita untuk sarapan bersama. Bangunlah."
Steven membuka matanya lalu berbalik menghadap Fiona. Ketika melihat penampilan Fiona, dahi Steven langsung berkerut. "Kau dari mana?"
"Tidak dari mana-mana," jawab Fiona sambil tersenyum, "ayo cepat bangun. Aku akan menyiapkan air untukmu."
Saat Fiona hendak berdiri tangannya langsung dicekal oleh Steven. "Fiona, jangan berbohong padaku. Kau dari mana?" Steven terlihat tidak puas dengan jawaban Fiona.
Fiona menghela napas halus kemudian kembali duduk. "Aku hanya berjalan-jalan ke bawah sebentar."
"Dengan siapa? Kenapa tidak menunggu aku bangun?" Steven seolah tidak suka Fiona pergi sendiri tanpa mengajaknya.
Steven bangun dari tidurnya, menyampirkan selimut lalu berjalan menuju kamar mandi. Setelah Steven sudah siap, mereka berdua langsung menuju restoran yang sudah di pesan oleh William.
"Baru kali aku melihat kau bangun kesiangan, apakah ada sesuatu yang terjadi semalam?" William menampilkan senyum menggodanya ketika melihat kedatangan Steven dan Fiona.
Steven nampak cuek, sementara wajah Fiona langsung memerah. Ketika melihat warna merah di leher Steven, William semakin yakin dengan tebakannya. "Steve, kenapa lehermu? Seingatku semalam lehermu baik-baik saja. Apa kau habis begadang untuk membuatkanku keponakan yang lucu?"
Steven nampak masih cuek, Fiona hanya bisa menunduk untuk menyembunyikan wajah malunya. Sebelum mereka keluar dari kamar, Fiona sudah menawarkan pada Steven untuk menutupi bekas di leherya agar tidak dilihat oleh orang lain, tapi ditolak oleh Steven.
"Apa kau perlu tahu apa yang aku lakukan semalam?" Steven terlihat menatap datar pada William.
Angel langsung menyikut perut suaminya. "Will, jangan menggoda mereka."
"Aku hanya bertanya, Honey," ucap William sambil menoleh pada istrinya.
"Angel, suamimu ini, lebih baik kau jaga dengan baik, jangan sampai dia mendatangi club malam terus."
William langsung melotot. "Steve, kau ingin menghancurkan pernikahanku ya!"
"Lebih baik kau urusi saja urusanmu. Jangan mencampuri urusanku, jika tidak ingin kubongkar kelakuannu di depan istrimu."
__ADS_1
"Steve, kau jangan macam-macam!"
Angel langsung menoleh pada William. "Maksudnya apa, Will?"
William langsung tersenyum lebar. "Steven hanya bicara omong kosong, Honey."
Karena takut Steven akan berbicara lebih banyak lagi, dia langsung menyuruh mereka semua untuk segera sarapan. Selesai sarapan, Angel mengajak Fiona untuk berenang. Sementara William mengajak Steven untuk duduk bersantai bersama dengan teman-temannya yang lain di pinggir kolam renang.
"Katakan padaku, apa benar kau sudah berhasil mendapatkan Fiona?" tanya William sambil menatap Steven dengan wajah penasaran.
"Benarkah? Kau sudah melakukannya dengan Fiona?" timpal Erland.
"Melihat bekas di lehernya, aku yakin dia pasti sudah mendapatkan kakak ipar," sahut Wilson.
"Semenjak kapan kalian suka bergosip. Aku ini bukan artis, untuk apa kalian begitu penasaran dengan kehidupan pribadiku."
Steven nampak santai sambil terus menatap ke arah Fiona yanh sedang bercanda dengan Angel di dalam kolam renang.
"Tentu saja kami sangat penasaran. Selama ini, kau selalu memegang teguh untuk tidak menyentuh wanita sebelum menikah. Bahkan ketika kau dijebak saja, kau masih bisa menahan diri," jawab William.
"Memangnya kenapa kalau aku sudah melakukannya? Bukankah kau juga sudah melakukannya dengan Angel sebelum menikah?"
"Sialan kau Steve!" umpat William.
"Aku akan memberikan ucapan selamat pada kakak ipar karena berhasil meruntuhkan pertahananmu." Wilson menatap kagum pada Fiona. "Kakak ipar memang luar biasa. Sepertinya, sebentar lagi akan ada pernikahan besar dan megah yang akan segera diadakan di negeri kita"
"Steve, apa kau sungguh sudah melakukannya dengan Fiona?" tanya Erland untuk memastikan. "Kau tahu bukan, kalau Leon sampai tahu, dia bisa membuat perhitungan denganmu."
William melirik dengan tatapan menyelidik pada Erland. "Siapa Leon?"
"Apakah pria itu menyukai Fiona?" timpal Wilson.
"Dia pria yang dekat dengan Fiona sekaligus mantan kekasihnya, mereka sudah dekat dari kecil, tapi yang aku tahu, mereka sempat akan bertunangan sebelum menjalin hubungan dengan Steven," jelas Erland.
"Kau merebut kekasih orang lain?" tanya William dengan mata membesar, "tega sekali kau, Steve. Aku tidak menyangka kalau seorang Steven merebut kekasih orang lain." William menatap Steven sambil menggelengkan kepalanya.
"Itukah alasannya kau menyentuh Fiona agar dia terikat denganmu karena kau takut Leon merebut Fiona kembali?"
"Ceritanya panjang. Yang pasti aku tidak merebut Fiona dari siapapun. Lagi pula, aku belum menyentuhnya."
Semua mata mereka membesar. "Maksudmu kau belum melakukannya dengan Fiona?" William nampak sangat terkejut.
"Hhhmmm." Steven mengangguk santai. Pandangannya sedari tadi tidak pernah lepas dari Fiona.
__ADS_1
Bersambung....