
Hari yang paling membahagiakan bagi Steven dan Fiona akhirnya tiba. Tepat malam nanti, pesta pernikahan mereka akan digelar di sebuah gedung paling mewah dan mahal yang berada di pusat kota.
Sedari pagi, baik keluarga Fiona maupun Steven sudah disibukkan dengan berbagai persiapan untuk malam nanti. Steven, sang mempelai pria terlihat duduk di ruang keluarga sambil memainkan ponselnya. Matanya sedang fokus pada benda pipih berwarna hitam yang ada di tangannya.
"Kak, apa kau ingin menitip pesan untuk calon istrimu? Aku akan ke sana sekarang." Bryan yang baru saja datang, seketika berdiri di dekat Steven.
Steven meletakkan ponsel di pangkuannya lalu mengangkat kepala, menatap Bryan dengan dahi berkerut. "Untuk apa kau ke sana?"
"Mama menyuruhku mengecek ulang gedung, kamar pengantian kalian dan membawakan ini untuk kakak ipar," jawab Bryan sambil mengangkat 5 tas belanja untuk diperlihatkan kepada Steven.
Sebelum menjawab, Steven menoleh ke belakang. "Mama ke mana?" Steven sengaja mengecilkan suaranya agar ibunya tidak mendengar perkataannya.
"Sedang menerima telpon di kamarnya."
"Kalau begitu aku ikut denganmu." Steven berdiri lalu memasukkan ponsel ke saku celananya.
"Tunggu dulu, bukankah mama sudah melarangmu untuk bertemu dengan kakak ipar sampai kalian resmi menjadi suami istri?"
"Aku hanya ingin bertemu dengan Fiona sebentar. Mama tidak akan tahu kalau kau tidak memberitahunya. Cepatlah, sebelum mama keluar." Steven berjalan lebih dulu meninggalkan Bryan yang masih diam.
Saat mencapai pintu, langkah Steven terhenti ketika mendengar suara ibunya dari belakang. "Steven, kau mau ke mana?"
Steven berbalik dan melihat ibunya sudah berdiri dengan tangan yang menyilang di bawah perut. "Aku hanya ingin mengantarkan Bryan, Ma."
Bryan tekekeh mendengar jawaban bodoh kakaknya. "Jangan coba-coba membohongi mama, Steve. Lebih baik kau istirahat di dalam agar nanti malam kau bisa fit. Jangan sampai kau kelelahan sebelum pesta pernikahan kalian selesai."
"Kalau begitu, aku pergi dulu." Bryan memasukkan barang di kursi belakang lalu duduk di kursi kemudi. Steven hanya bisa menatap kepergian Bryan tanpa bisa berbuat apa-apa.
Tiba di hotel tempat Fiona menginap, Bryan mengecek kamar pengantin terlebih dahulu. Setelah memastikan tidak ada kekurangan dan sudah sesuai dengan permintaan ibunya, Bryan kemudian berjalan menuju kamar yang di tempati oleh Fiona.
Bryan memencet bel beberapa kali sebelum pintu terbuka. "Cari siapa?"
Bryan tertegun sesaat menatap gadis berwajah datar di depannya. "Kau mencari siapa? Kenapa hanya diam?" Wanita di depan Bryan kembali bertanya saat melihat Bryan menatap dirinya sambil tersenyum sendiri.
"Siapa namamu?" Jiwa Playboy Bryan langsung keluar ketika melihat ada wanita cantik di depannya.
"Siapa Kak?" Terdengar seseorang berteriak dari dalam kamar yang diyakini Bryan adalah suara Fiona.
Wanita itu menoleh ke dalam sejenak. "Tidak tahu, sepertinya dia bisu, dari tadi aku sudah bertanya, tapi diam saja." Wanita itu kembali menatap Bryan. "Kalau kau tidak bicara juga aku akan tutup pintunya."
Wanita yang membuka pintu itu adalah Cindy. Dia memang tidak suka berbasa-basi dan terkesan ketus pada orang yang baru dikenalnya, padahal sebenarnya baik.
__ADS_1
Mendengar hal seketika Bryan menahan pintu yang akan tertutup. "Tunggu, aku mencari kakak iparku, Fiona."
Wanita itu mengerutkan kening sesaat setelah itu membuka pintu. "Masuklah, Fiona ada di dalam." Cindy berjalan lebih dulu masuk ke dalam disusul oleh Bryan di belakang.
"Fiona, apa aku mengganggumu?" Bryan berjalan ke arah Fiona yang sedang duduk di depan meja rias.
Fiona menoleh dan langsung tersenyum ketika melihat Bryan yang datang. "Bryan, aku kira siapa." Fiona berdiri lalu menghampirinya. "Ayoo duduk."
Fiona mengajak Bryan untuk duduk di sofa kamarnya. Kamar yang di pesan oleh ibu Steven untuk Fiona adalah kamar Presidential Suite dengan tipe kamar paling tinggi sehingga kamar tersebut memiliki privasi yang terjaga karena kamarnya terpisah dengan ruangan lain.
"Ada apa perlu apa Bryan kau ke sini?" tanya Fiona ketika melihatnya nampak mengedarkan pandangannya seperti sedang mencari seseorang.
"Bryan," panggil Fiona lagi.
Mendengar namanya dipanggil, Bryan seketika beralih menatap Fiona dengan senyum lebarnya. "Yaa, kau bilang apa tadi?"
"Kau mencari siapa?" tanya Fiona sambil mengulum senyumnya.
"Tidak mencari siapa-siapa."
"Kak Cindy sedang berada di dalam kamar, apa kau ingin berkenalan dengannya?" Fiona menduga kalau Bryan sepertinya tertarik dengan Cindy.
"Tidak, aku tidak mencarinya," sanggah Bryan, "mama menyuruhku ke sini untuk memberikan ini padamu." Bryan meletakkan 5 tas belanja dengan merk ternama di atas meja.
"Baiklah, aku akan menelpon mama nanti. Terima kasih Bryan."
"Oyaa... Kakakku juga menitipkan pesan padaku. Katanya, dia sangat merindukanmu."
Wajah Fiona memerah mendengar ucapan Bryan. "Tadinya, dia ingin ikut denganku, tapi dilarang oleh mama," lanjut Bryan lagi.
Wajah Fiona semakin merona. Sudah 5 hari dia tidak bertemu dengan Steven, sama seperti yang dirasakan oleh Steven, Fiona pun sebenarnya merindukannya. Hanya saja, dia malu untuk mengatakan langsung pada Steven.
Malam harinya, aktifitas di kamar Fiona terlihat sangat sibuk. Banyak orang yang berlalu lalang di dalam kamar tersebut. Ada sedang memeriksa detail gaun pengantin yang akan dikenakan Fiona, ada yang menyiapkan aksesoris dan banyak lagi yang lainnya. Di kamar Fiona selain Cindy ada juga Jesy di sana. Mereka sedang melihat Fiona yang sedang dirias.
Seketika bel kamar Fiona berbunyi, Cindy melangkah untuk membuka pintu. "Apakah Fiona sudah selesai dirias?" tanya Reynald ketika pintu sudah terbuka.
"Belum, sebentar lagi selesai. Masuklah Rey." Cindy dan Reynald berjalan bersama masuk ke dalam.
"Kau cantik sekali, Fio." Reynald sudah siapa dengan setelah jas berwarna senada denga celananya berdiri di dekat meja rias sambil menatap Fiona dari pantulan kaca.
Fiona tersenyum mendengar pujian kakak sepupunya. "Kau juga tampan malam ini Kak Rey," puji Fiona, "Jadi, siapa wanita yang beruntung menjadi pasanganmu malam ini?" tanya Fiona ketika melihat Reynald duduk di dekat Cindy.
__ADS_1
Reynald menoleh pada Cindy. "Cindy, apa kau mau menjadi pasanganku malam ini?" gurau Reynald sambil tersenyum.
Cindy melengos. "Aku tidak mau menjadi pelarianmu," tolak Cindy.
Cindy memang mengenal Reynald berkat kerjasama perusahaan mereka yang dulu. dia bahkan pernah menyukai Reynlad diam-diam, tapi saat dia tahu kalau Reynald pernah menyukai Fiona, Cindy akhirnya memilih untuk menghilangkan perasaannya pada Reynald.
Baru-baru ini, Cindy baru tahu kalau Reynald adalah sepupu Fiona. Dia sangat terkejut bahkan tidak menyangka sama sekali kalau mereka berdua ternyata ada hubungan keluarga. "Bagaimana kalau mau dengan Jesy saja, Kak? Dia juga tidak memiliki pasangan malam ini, dia bahkan jomblo," celetuk Fiona tiba-tiba.
Jesy yang sedari tadi hanya diam, seketika menatap kesal pada Fiona. "Fio, kau apa-apaan sih. Aku akan berpasangan dengan Kak Leon nanti malam."
Reynald menggeser pandangannya pada wanita berwajah mungil dan bermata bulat yang terlihat cantik mengenakan gaun berwarna hitam. Awalnya, Reynald tidak terlalu menyadari kehadiran Jesy karena tubuhnya tertutup oleh Fiona jika dilihat dari tempat duduk Reynald. "Leon? Kau mengenal Leon?"
"Dia adalah adik sepupunya Kak, yang sering diceritakan oleh kak Leon," jawab Fiona sebelum Jesy membuka mulut.
Mulut Reynald membentuk huruf O setelah itu berkata, "Ternyata kau yang sering di ceritakan oleh Leon. Jesy, namaku Reynald. Aku adalah kakak Fiona, senang berkenalan denganmu."
Jesy tersenyum canggung. "Iyaa, senang berkenalan denganmu."
"Sudah selesai, waktunya berganti pakaian," ucap wanita yang tadi merias wajah Fiona. "Ayoo Nona Fiona, kita ganti baju di dalam." Perias itu membantu Fiona untuk bangun dari duduknya, setelah itu berjalan menuju kamarnya.
Beberapa menit kemudian, Fiona keluar dari kamar setelah mengenakan gaun pengantin berwarna putih dengan detail kristal Swarovski yang melekat di gaun tersebut. Dia berjalan dengan anggun. "Fiona, kau cantik sekali." Jesy berdecak kagum saat melihat Fiona yang kembali berjalan ke arah meja rias.
"Benar, kau sangat cantik, Fio," timpal Cindy.
"Jangan seperti itu, aku jadi malu." Fiona kembali duduk. Ada dua orang yang membantu memasangkan kalung, anting dan juga mahkota di kepalanya.
"Beruntung sekali Steven mendapatkanmu," celetuk Reynald.
"Steven juga sangat tampan, jadi mereka sama-sama beruntung. Apa kau belum bisa merelakan Fiona?" bisik Cindy.
"Dia adalah adikku, aku sudah membuang jauh-jauh perasaanku, apa kau mau menggantikannya di hatiku?" gurau Reynald sambil menggerakkan alisnya.
Melihat Cindy nampak enggan menjawab, Reynlad kemudian berkata, "Atau jangan-jangan kau pernah menyukai Steven juga?"
Cindy menghela napas. "Sudahlah, lupakan saja."
Tidak lama kemudian, belkamar kembali berbunyi, ternyata ibu Reynald yang datang. "Acara akan di mulai, apakah Fiona sudah siap?"
"Sudah Nyonya," jawab perias tersebut.
"Baiklah, kalau begitu mari kita keluar."
__ADS_1
Bersambung...