
"Kak, kenapa tidak memberitahuku dulu kalau kau ingin ke sini?"
Fiona berjalan menghampiri Leon yang sedang berdiri di depan mobilnya. Fiona yang baru saja selesai mandi dan terkejut ketika mendapatkan telpon dari Leon yang mengatakan kalau dirinya sudah berada di depan mansion Steven.
Leon menatap Fiona. "Kenapa? Apakah Steven melarangmu untuk bertemu denganku?"
Fiona berjalan mendekati Leon. "Bukan, bukan seperti itu. Aku hanya takut, aku tidak ada saat kau ke sini." Sebenarnya Fiona memang khawatir kalau Steven akan marah melihat Leon mendatanginya.
Leon langsung menarik tangan Fiona. "Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat."
"Kak, tunggu, aku harus ijin dulu dengan Steven." Fiona berusaha menghentikan langkah Leon untuk menariknya.
Leon menghentikan langkah lalu membalik setengah badannya pada Fiona. "Ijin? Untuk apa kau ijin dengannya?" Tatap Leon dengan wajah heran.
"Begini Kak, sebenarnya aku sudah menjalin hubungan dengan Steven."
Leon melepaskan tangan Fiona lalu membalik seluruh tubuhnya menghadap Fiona. "Menjalin hubungan dengannya?" Leon terlihat tidak percaya dengan apa yang dia dengar. "Jadi, kau sudah menjadi kekasihnya?"
"Iyaa," jawab Fiona tegas.
Leon tidak bergerak, tubuhnya membeku sesaat. "Fiona, aku bukannya ingin ikut campur masalahmu, tapi apa kau sudah mengenal Steven dengan baik?"
Leon hanya tidak ingin kalau Fiona salah memilih pasangan. Fiona adalah gadis yang lugu, meskipun dulu dia termasuk wanita yang popular di sekolah dan di kampus, tapi, dia tidak pernah menjalin hubungan dengan pria manpun. Leon khawatir kalau Fiona hanya akan dipermainkan.
"Steven adalah pria yang baik, selama ini, dia sudah sering menolongku," jelas Fiona.
"Fio, apa kau tahu kalau setiap pria pasti akan berbuat luar biasa baik, jika ada maunya. Tidak semua kebaikan yang ditunjukkan oleh pria itu tulus. Kau bahkan tidak tahu mana yang tulus dan yang tidak denganmu. Buktinya kau sering kali dimanfaatkan oleh teman sekitarmu."
Semasa sekolah karena kepintaran dan kebaikan Fiona, sering kali dia dimanfaatkan oleh temannya untuk mendapatkan nilai bagus, tapi di belakangnya mereka mencibir Fiona yang sangat mudah dimanfaatkan, begitupun saat kuliah.
"Tapi, Steven berbeda Kak."
"Fio, kau itu tidak pernah dekat dengan pria selain, aku dan Fian, jadi bagaimana bisa kau tahu kalau Steven itu berbeda dengan yang lainnya?"
"Aku percaya dengan pilihanku, aku tidak akan salah dalam menilai orang."
Leon menggelengkan kepalanya lalu menghela napas. "Baiklah, itu terserah padamu. Sekarang ikut aku, ada yang ingin aku tunjukkan padamu."
"Tapi Kak, aku harus..."
"Aku yang akan bertanggung jawab jika Steven marah padamu. Dia belum menjadi suamimu Fio, dia tidak bisa melarangmu untuk bertemu denganku."
Fiona berpikir sejenak. "Baiklah." Tidak ada gunanya dia berdebat dengan Leon saat ini. Lebih baik dia ikut dengan Leon dan akan memberitahukan pada Steven nanti.
__ADS_1
Mobil Leon meninggalkan mansion Steven setelah mereka berdua masuk ke dalam mobil. "Kita mau ke mana?" tanya Fiona saat dalam perjalanan.
"Apa kau sudah makan malam?" Leon menoleh pada Fiona sesaat sebelum kembali fokus menatap ke depan. "Belum."
"Baiklah, kita makan malam dulu." Leon memarkirkan mobilnya di sebuah restoran yang tidak jauh dari lokasinya berkendara.
Fiona dan Leon memasuki restoran tersebut lalu duduk di salah satu tempat duduk yang kosong. "Kau mau pesan apa?" Leon menatap buku menu sambil bertanya pada Fiona. Tidak ada jawaban, Leon kemudian mengangkat kepalanya menatap heran pada Fiona. "Fio," panggil Leon lagi.
Fiona tersadar dan menatap Leon. "Apa saja," jawab Fiona. Dia kembali menatap lurus ke depan. Leon mengerutkan kening lalu kemudian membalik tubuhnya ke belakang mengukuti arah pandangan Fiona.
"Bukankah itu Steven?" Leon kembali membalik tubuhnya menatap Fiona yang masih terdiam.
Fiona menunduk lalu menatap ke sembarang arah. "Melihat reaksimu, aku yakin dia tidak mengatakan padamu kalau dia sedang bertemu dengan wanita lain di sini," tebak Dion.
"Mereka hanya berteman, Kak."
Apa yang mereka lakukan di sini? Kenapa Steven tidak mengatakan padaku kalau dia akan bertemu dengan Sera.
"Fiona, sudah aku bilang jangan mudah percaya dengan pria yang belum kau kenal dengan baik. Aku semakin meragukannya. Pantas saja ibumu tidak menyukai Steven."
"Kak, Sera dan Steven memang dekat karena mereka sudah berteman lama. Sama halnya dengan kau dan aku." Fiona masih berusaha untuk tetap berpikir positif.
"Baiklah, terserah padamu saja."
"Kak, bisakah kita makan di tempat lain?"
"Tidak, aku tidak ingin Steven melihat kita di sini. Aku takut dia akan salah paham."
"Fiona, kau masih mengkhawatirkan dirinya akan salah paham padamu ketika dia sendiri bertemu dengan wanita lain tanpa sepengetahuanmu?"
Leon masih tidak mengerti dengan pemikiran Fiona yang masih sempat memikirkan perasaan Steven.
"Aku tidak ingin berdebat denganmu, Kak."
"Baiklah, kita pergi dari sini." Leon berdiri lalu melangkah bersama dengan Fiona keluar dari restoran tersebut.
Selama dalam perjalanan, Fiona hanya diam sambil menatap keluar. "Fio," panggil Leon.
Fiona menoleh pada Leon. "Maafkan aku," ucap Leon tiba-tiba.
"Untuk?" tanya Fiona.
"Ucapanku tadi," ucap Leon sambil menoleh sesaat pada Fiona. "Aku tidak bermaksud untuk ikut campur masalahmu. Aku hanya tidak ingin kau terluka nantinya."
__ADS_1
Fiona berusaha untuk tersenyum. "Iyaa, aku mengerti." Bagaimanapun Fiona sangat mengenal sifat Leon yang sebenarnya. Tidak ada niat jahat saat sekali ketika dia mengatakan mengenai Steven tadi.
"Sebenarnya, apa yang ingin Kak Leon katakan padaku sehingga mengajakku keluar?" tanya Fiona.
"Aku sudah menemukan tempat tinggal untukmu." Niat awal Leon menemui Fiona adalah untuk mengajaknya melihat tempat tinggal yang baru untuknya. Beberapa hari ini, dia berada diluar kota sehingga baru sempat menemui Fiona malam ini.
"Tidak perlu, Kak. Aku sudah mendapatkan tempat tinggal yang baru," tolak Fiona cepat.
"Di mana?"
"Di apartemen Steven," jawab Fiona dengan jujur.
Leon langsung menepikan mobilnya di pinggir jalan lalu menatap Fiona. "Fiona, kalian belum menikah, bagaimana bisa kau tinggal di apartemennya?" tanya Leon dengan nada sedikit tinggi.
"Kami tidak tinggal bersama, apartemen itu sudah tidak dia gunakan lagi," terang Fiona.
"Ini atas kemauanmu atau paksaan dari Steven?"
"Dia tidak memaksaku, tapi aku sendiri yang memilih untuk tinggal di sana."
Leon menatap Fiona dengan tatapan rumit. "Fiona, aku tidak masalah kau menjalin hubungan dengannya, tapi dengan kau tinggal di apartemennya itu sama artinya dia ingin mengikatmu agar kau selalu berada dalam kendalinya."
"Kak Leon, aku berencana untuk menikah dengannya."
Mata Leon membesar. "Fiona, apa kau sadar apa yang kau katakan saat ini?"
Fiona mengangguk dengan yakin. "Tentu saja."
Leon menghela napas kasar. "Apa kau ingin menikah dengannya hanya karena surat wasiat dari ayahmu?"
"Tidak."
"Jadi, kau sungguh mencintainya?"
"Iyaa," jawab Fiona dengan tegas.
Leon menatap Fiona dengan serius. "Pikirkan lagi keputusanmu, jangan terburu-buru mengambil keputusan. Kau harus memastikan dulu apakah Steven sungguh mencintaimu atau tidak. Kau bahkan tidak tahu bagaimana masa lalu Steven, bukan?"
"Aku tidak perlu tahu masa lalunya, yang terpenting bagiku adalah saat ini." Menurut Fiona, setiap orang pasti memiliki masa lalu tersendiri.
"Fiona, kau tidak akan bisa bersama dengan Steven."
"Kenapa?" tanya Fiona dengan wajah heran.
__ADS_1
"Untuk alasannya kau cari tahu sendiri," ucap Leon sambil menjalankan kembali mobilnya. "Masa lalu yang kau bilang tidak penting, akan menjadi ganjalan terbesar dalam hubungan kalian nantinya," lanjut Leon lagi tanpa menoleh pada Fiona.
Bersambung...