Goresan Luka di Hati Fiona

Goresan Luka di Hati Fiona
Menutupi Kebenaran


__ADS_3

Fiona yang baru saja pulang bekerja, mengerutkan kening ketika melihat Sera sudah berada di depan kantornya. "Aku ingin bicara padamu." Sera menghampiri Fiona ketika melihatnya baru saja keluar dari loby.


"Apa lagi yang ingin kau bicarakan?" Fiona terlihat tidak berminat sama sekali untuk berbicara dengan Sera.


"Cara licik apa yang kau gunakan sehingga tante Yesinta menyetujui pernikahan kalian?"


Sera memang sudah mendengar tentang berita pernikahan Steven dari Erland. Beberapa kali dia pergi ke mansion orang tua Steven untuk menemui ibunya, tapi gagal karena selalu dihentikan oleh pengawal Steven yang berjaga di depan gerbang.


Tidak sampai di situ, Sera juga mendatangi kantor Steven untuk bertanya langsung dengan Steven mengenai berita pernikahannya, tetapi Sera tidak bisa bertemu dengan Steven karena Steven sedang berada di anak perusahaannya.


Fiona menatap jengah pada Sera. "Aku tidak punya waktu untuk meladeni omong kosongmu. Lebih baik kau menyerah, kau sudah kalah. Steven tidak akan pernah menjadi milikmu, Sera. Sadarlah."


Sera mengepalkan tangan dan menggertakkan giginya. "Sepertinya kau belum tahu siapa aku. Aku tidak akan membiarkanmu menikah dengannya. Tunggu saja, aku akan menghancurkan pernikahan kalian." Sera meninggalkan Fiona setelah memperingatkannya.


*******


Dua hari sudah berlalu, malam ini rencananya ibu Steven akan bertemu dengan keluarga Fiona. Rencana awalnya, Yesinta akan berkunjung ke kediaman Sarah, tetapi ada perubahan tiba-tiba atas permintaan Steven.


Dia tidak bisa menemani mereka karena masih ada urusan di luar kota sehingga Steven meminta ibunya untuk bertemu Sarah dan Cindy di luar, di salah satu restoran dengan ruangan private yang sudah di pesan oleh Steven.


Fiona menghela napas sejenak sebelum membuka pintu ruangan yang sudah dipesan. Saat dia membukanya, terlihat sudah ada Cindy dan ibunya yang sedang duduk. Ketika melihat Fiona dan Yesinta datang, mereka berdua seketika berdiri untuk menyambut kedatangan Fiona dan Yesinta.


Sarah nampak melebarkan senyumnya sambil menyapa Yesinta dengan ramah. Sebelum berbicara, mereka semua terlebih dahulu menikmati makan malam yang sudah tersedia di atas meja bundar dengan beragam jenis makanan.


"7 hari lagi, Lamaran akan dilaksanan di Raffles hotel. Kau tidak perlu melakukan apapun. Biarkan dari pihak keluargaku yang mempersiapkan semuanya."


Rencana awal lama acara lamaran akan i adakan 3 hari lagi, tapi seketika diundur oleh ibu Steven.


Aura yang ditampilkan oleh Yesinta saat berbicara sangat anggun dan berkelas membuat Sarah tidak memiliki kepercayaan diri di depan Yesinta. Selain itu, Sarah juga tidak berani menyinggung Yesinta setelah dia tahu latar belakang kekuarga Steven yang sebenarnya.


"Baik, terima kasih karena sudah mau menerima anakku sebagai calon menantu di keluarga Pradigta."


"Seharusnya kau berterima kasih pada Fiona, bagaimana pun berkat dirinya, derajat keluargamu bisa naik. Meskipun dia bukan anak kandungmu, tapi aku akan tetap memandang kalian sebagai keluarganya, tapi aku peringatkan padamu. Jangan lagi kau memperlakukan Fiona seperti dulu. Apalagi jika dia sudah masuk ke dalam keluarga kami, kau tidak bisa lagi seenaknya pada Fiona."

__ADS_1


"Apa maksud Anda?" Sarah tidak menyangka kalau Yesinta bisa tahu kalau Fiona bukanlah anak kandungnya.


"Aku tahu semuanya." Perkataan Yesinta seolah menyiratkan kalau dia mengetahui apa yang terjadi dalam keluarganya yang tidak diketahui oleh orang lain.


Yesinta melirik pada Fiona. "Fiona ajak Kakakmu untuk keluar sebentar, ada yang ingin aku bicarakan dengan Ibumu."


Setelah Fiona dan Cindy keluar, Yesinta menyunggingkan sudut bibirnya sebelah kiri. "Sarah, apa kau lupa denganku?" Pertanyaan Yesinta seolah menyiratkan kalau mereka pernah bertemu sebelumnya.


Sarah meneliti wajah Yesinta dengan seksama. "Apa kau wanita yang 7 tahun lalu?" Pantas saja Sarah merasa tidak asing saat melihat Yesinta untuk pertama kalinya.


"Benar, saat itu, aku, suamiku dan Darius yang bertemu dengan Halim, suamimu di rumah sakit."


Wajah Sarah seketika berubah. "Bukankah waktu itu suamiku sudah pernah menyuruh Halim untuk membawanya keluar negeri? Bagaimana bisa dia masih di sini?" tanya Yesinta.


Sarah seketika tergagap dan tidak berani menatap wajah Yesinta. "It-Itu... Itu suamiku. Sebenarnya kami memang sudah pernah membawanya keluar negeri tapi suamiku membawanya pulang kembali."


"Apa kau sengaja membiarkannya tinggal di sini agar dia bisa bertemu dengan Steven?"


"Memangnya, apa hubungan gadis itu dengan Steven? Kenapa Fiona tidak boleh bertemu dengan Steven."


Mata Sarah membelalak. "Jadi....."


"Karena mereka terlanjur sudah bertemu, aku tidak bisa lagi memisahkan mereka. Jangan pernah ungkit masalah itu lagi baik dengan Fiona maupun Steven. Aku akan membuat hidupmu sengsara kalau sampai kau membocorkan masalah ini, terutama pada anakku. Biarkan saja dia tidak tahu apapun. Aku ingin anakku hidup bahagia karena aku lihat dia sangat mencintai Fiona saat ini."


******


Keesokan harinya, Steven menemui Fiona di apartemennya setelah pulang bekerja. "Sayang, bagaimana permbicaraan antara mama dan ibumu? Apakah ibumu membuat masalah?" Steven memainkan rambut Fiona yang sedang duduk di sampingnya.


Fiona meletakkan ponselnya di meja, menoleh pada Steven sambil tersenyum. "Tidak, pembicaraannya lancar."


Steven menatap Fiona dengan wajah serius. "Fio, ada yang ingin aku sampaikan padamu."


"Apa?"

__ADS_1


"Ada sedikit masalah di perusahaanku yang ada luar negeri. Aku akan kesana beberapa hari untuk menyelesaikannya."


Fiona merubah duduknya menghadap Steven dengan wajah muram. "Tapi, bagaimana dengan lamarannya?"


"Aku akan kembali sebelum acara lamaran kita. Aku harus meninjau langsung ke sana," terang Steven.


"Baiklah."


Esok harinya, Fiona mengantar Steven ke bandara. Rencananya Steven akan mengendari jet pribarinya untuk keluar negeri bersama dengan Erick. "Steve, cepat kembali, jangan sampai kau melupakan hari lamaran kita," ucap Fiona dengan wajah sedih.


Steven memeluk tubuh Fiona dengan erat. "Iyaa, aku akan segera kembali, tunggu aku."


Fiona mengangguk. "Jangan pernah bertemu dengan pria lain selama aku pergi apalagi berselingkuh di belakangku," lanjut Steven lagi.


"Iyaaa, Steve, aku tidak mengkin melakukan itu."


"Fiona, aku pasti akan sangat merindukanmu nanti. Selama aku pergi, kau tidak boleh mengabaikan satu pun pesanku dan tidak boleh membalas pesanku lebih dari satu menit. Jika, kau melakukan itu, aku akan langsung menelponmu."


"Iyaaa." Fiona tidak sanggup berkata apa-apa lagi. Dia seolah tidak rela untuk berpisah dengan Steven meskipun hanya sebentar.


"Aku pergi dulu, jaga dirimu baik-baik. Aku akan segera kembali," ucap Steven setelah mengurai pelukannya.


Fiona terus menatap kepergian Steven dengan tatapan sedih. Muncul perasaan tidak nyaman ketika melihat senyuman terakhir Steven sebelum menghilang dari pandangannya.


******


Hari-hari dilewati Fiona dengan tenang, Sera sudah tidak pernah muncul lagi di hadapannya dan semakin hari hubungannya dengan ibu Steven semakin baik. Setiap hari Fiona selalu bertemu dengan ibu Steven untuk membicarakan mengenai lamaran dan persiapan pernikahannya.


Sesuai janji Steven, seharusnya dia akan kembali hari ini, tapi sedari kemarin, Steven sangat sulit dihubungi, beberapa kali telponnya diabaikan oleh Steven. Pesannya pun belum dibalas sampai sekarang. Fiona merasa khawatir sekaligus cemas dengan keadaan Steven.


Dia ingin menjemput Steven di bandara, tapi dia tidak tahu jadwal kepulangan Steven pukul berapa. Fiona akhirnya memutuskan untuk menemui ibu Steven karena hari ini, mereka memang akan membicarakan mengenai pertunangannya yang akan dilakukan 2 hari lagi.


Ketika sampai di mansion orang tua Steven, dia terkejut ketika mengetahui kalau Steven sudah pulang dan sedang berbicara dengan ibunya di ruangan kerja. Awalnya dia heran, kenapa Steven tidak mengabarinya mengenai kepulangannya, tapi akhirnya dia tahu alasan dibalik Steven mengabaikannya.

__ADS_1


Saat dia berniat untuk menemui Steven dan ibunya di ruang kerja, hal mengejutkan tidak sengaja dia dengar dari pembicaraan Steven dan ibunya. Tangan dan tubuhnya bergetar ketika mendengar semua yang pembicaraan mereka berdua.


Bersambung....


__ADS_2