
Setibanya Steven di rumahnya, dia langsung mencari ibunya di seluruh mansion. Dia baru saja pulang dari luar negeri. Penampilannya tidak seperti biasanya.
Wajah kusut, mata cekung dan rambut tidak tersisir dengan rapi. Siapa saja yang melihatnya pasti akan bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi sehingga membuat penampilannya berantakan.
"Ma, aku ingin bicara denganmu." Steven membuka kamar ibunya tanpa mengetuk terlebih dahulu.
Ibu Steven yang sedang duduk di sofa kamarnya, seketika mengalihkan pandangannya pada Steven dengan alis yang saling bertautan. "Ada apa denganmu?"
"Ma, kita bicara di ruang kerjaku." Steven tidak merespon pertanyaan ibunya melainkan langsung lergi setelah selesai berbicara.
Melihat wajah Steven yang mengeras, ibunya menduga sesuatu yang besar pasti sudah terjadi. "Ada apa?" Ibu Steven bertanya pada Steven setelah dia masuk ke dalam ruang kerja Steven tanpa menutup rapat pintunya.
Steven yang sedang berdiri membelakangi ibunya, seketika menoleh pada ibunya. "Kenapa Mama berbohong padaku mengenai Gwen? Kenapa Mama tega sekali membohongiku?"
"Apa maksudmu? Mama tidak mengerti." Jantung ibu Steven berdebar kencang ketika Steven mengungkit kembali nama Gwen.
Steven sedikit membungkuk seraya menumpukan tangannya di atas meja lalu menatap ibunya dengan garang. "Gwen, tidak menghianatiku. Dia tidak pernah meninggalkan aku demi laki-laki lain. Kenapa mama membohingiku? Seseorang sudah membunuhnya, benar, kan?"
Steven dan Gwen memang pernah menjalin hubungan saat SMA sampai mereka lulus kuliah. Mereka kuliah di kampus yang sama saat di luar negeri. Setelah lulus kuliah Gwen pulang ke negaranya, sementara Steven masih tinggal di luar negeri untuk melanjutkan kuliahnya.
Mereka berpisah karena tidak sanggup menjalani LDR, sikap saling curiga membuat hubungan mereka tidak bisa diteruskan, apalagi sikap cemburu Steven yang sangat berlebihan membuat mereka sering bertengkar.
Setelah pascaarjananya selesai, Steven mengabil alih perusahaan ayahnya yang berada di luar negeri. Beberapa tahun kemudian, Steven melamar Gwen dan mengatakan kalau dia akan menikahi Gwen setahun lagi setelah dia menyelesaikan semua urusannya di luar negeri dan pulang ke negaranya.
Mereka kembali menjalin hubungan tapi kali ini ditahap yang lebih serius. Awalnya semua berjalan mulus, hingga suatu hari Gwen tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Steven berusaha mencari tahu mengenai keberadaan Gwen dari teman-temannya, tapi tidak mendapatkan infomasi apapun.
Keluarga Gwen pun menghilang dan tidak bisa dihubungi sama sekali. Dia ingin pulang ke negaranya tapi tidak bisa karena perusahaan ayahnya sedang membutuhkannya sehingga Steven terpaksa menunggu sampai dia bisa kembali ke negaranya.
Sebulan setelah Gwen menghilang, Steven akhirnya bisa pulang. Saat dia bertanya pada orang tuanya, mereka mengatakan hal yang mengejutkan kalau Gwen sudah menikah dengan pria lain dan tinggal di laur negeri.
Kenyataan pahit itu sukses membuat Steven terpukul. Apalagi alasan Gwen meninggalkannya karena tidak mencintai Steven lagi. Alasan itu sebenarnya tidak bisa Steven terima karena terkesan dibuat-buat.
Steven tidak serta-merta percaya dengan ibunya, dia mencari keberadaan Gwen dengan mengerahkan seluruh pengawal ayahnya tapi tidak membuahkan hasil. Dia juga meminta ayahnya untuk mencarinya tapi nihil.
Hingga akhirnya dia menyerah setelah pencariannya beberapa tahun yang tidak membuahkan hasil. Rasa dendam dan benci tertanam kuat dihatinya akibat penghiantan Gwen. Sikapnya semakin dingin dan tak tersentuh hingga akhirnya dia bertemu dengan Fiona. Gadis yang mampu menggetarkan hatinya saat pandangan pertama.
Ibu Steven menelan savilanya dengan wajah yang memucat. "Siapa yang mengatakan hal itu padamu?" tanya Ibu Steven dengan suara bergetar.
__ADS_1
"Aku tidak sengaja bertemu dengan Lily di luar negeri. Dia yang mengatakan padaku kalau kakaknya sudah meninggal. Hari disaat aku tidak bisa berkomunikasi dengannya, itu adalah saat Gwen mengalami kecelakaan," ungkap Steven.
Lidah ibu Steven seketika kelu. Akhirnya, yang dia takutkan selama ini terjadi juga. Kali ini, dia tidak akan bisa menyembunyikan kebenarannya lagi dari anaknya. "Yaa, memang benar kalau Gwen sudah meninggal," aku Ibu Steven.
"Kenapa Mama menutupi kebenarnya? Kenapa Ma??" Steven meninggikan suaranya dengan mata yang berapi-api. Dia merasa marah karena merasa sudah dibohongi oleh ibunya sendiri.
"Steve, semua itu mama lakukan untuk melindungimu agar kau tidak terluka."
Ibunya tidak ingin melihat Steven terpuruk jika mengetahui kenyataan sebenarnya. Apalagi, ada orang lain yang akan menjadi sasarannya kemarahanya jika Steven mengetahui kebenaran mengenai kecelakaan yang merenggut nyawa Gwen.
Dia takutkan kalau anaknya hilang kendali nanti dan membalas dendam pada orang yang sudah mencelakai Gwen tanpa tahu kebenarannya.
Steven tertawa, tawa yang sangat aneh. "Justru itu membuat aku semakin terluka Ma. Apa Mama tahu, aku selalu mengutuk dan menyumpahinya agar dia tidak bisa hidup bahagia karena sudah menghianatiku, tapi ternyata aku mengutuk orang yang salah, Ma." Nada Steven terdengar putus asa, kecewa dan marah.
"Maafkan mama Steve. Mama tahu kalau ini sudah terlambat tapi percayalah, mama melakukannya demi kebaikanmu," ucap Ibu Steven dengan wajah menyesal. "Gwen sudah pergi, sudah saatnya kau merelakannya. Bukankah kau sendiri yang bilang kalau kau sudah tidak mau membahas masalah dia lagi."
Sorot mata Steven menajam dan wajahnya mengeras. "Itu dulu, sebelum aku tahu kebenarannya."
Alis ibu Steven menyatu. "Apa maksudmu?"
Tubuh Ibu Steven bergetar hebat mendengar penuturan anaknya. "Steve, pelakunya sudah ditangkap dan dia sudah menerima hukumannya. Bahkan saat ini, dia masih berada di dalam penjara. Untuk apa lagi kau membalas dendam padanya?"
Steven menyeringai. "Aku dengar, selain supir itu, ada seorang wanita lagi yang berada di dalam mobil tersebut. Dia terbebas dari hukuman karena tidak terbukti bersalah. Aku ingin wanita itu menerima hukumannya juga. Sekarang katakan padaku, indentitas wanita itu sebelum kesabaranku habis Ma."
Itulah yang ditakutkan oleh ibunya jika dia memberitahu Steven mengenai kecelakaan Gwen.
"Steve, wanita itu tidak bersalah. Dia tidak tahu apa-apa. Pengadilan juga sudah memutuskan kalau dia tidak bersalah, ini murni kelalain supir itu."
Steven beridiri tegak lalu menghampiri ibunya. "Kenapa mama sangat melindungi wanita itu? Aku jadi semakin penasaran, siapa wanita itu sebenarnya."
Ibu Steven meraih tangan anaknya ketika melihat Steven tatapan dendam di mata anaknya. "Steve, dengarkan mama, lupakanlah masalah Gwen," bujuk Ibu Steven dengan suara lembut.
"Sebentar lagi kau akan menikah dengan Fiona. Pikirkan bagaimana perasaannya jika dia tahu kalau kau masih peduli pada Gwen. Dia pasti akan sangat kecewa padamu dan mengira kalau kau masih mencintainya,"
"Ma, ini tidak ada hubungannya dengan Fiona. Masalah ini tidak akan memperngaruhi hubungan kami. Pernikahan kami akan tetap berlangsung tetapi setelah aku menemukan wanita itu," ucap Steven dengan suara berat dan penuh penekanan.
"Jika, mama tidak ingin memberitahuku mengenai wanita itu, maka, aku sendiri yang akan mencarinya sampai ketemu," sambung Steven lagi.
__ADS_1
Ketika Steven akan pergi, ibunya langsung mencegahnya pergi. "Steve, tunggu!"
Steven menghentikan langkahnya. "Apa kau sungguh tidak mau melepaskan wanita itu?"
Steven mengatur napasnya yang memburu. "Tidak, aku tidak berniat melepaskannya. Dia sudah membuatku terpisah dengan Gwen, mana mungkin aku membiarkannya begitu saja, Ma," ucap Steven tanpa menoleh pada ibunya.
"Kau sendiri yang akan terluka Steve, jika kau tetap memaksa untuk mencari wanita itu."
"Aku tidak peduli, Ma. Aku akan tetap mencari wanita, meskipun tanpa bantuan Mama."
"Baiklah, kalau itu memang sudah menjadi tekadmu. Mama akan memberitahumu indentitas wanita itu, tapi setelah kau jawab pertanyaan mama."
Lebih baik dia yang memberitahunya dari pada dia tahu dari orang lain. Itulah yang ada di benak ibu Steven ketika melihat sikap kekeh anaknya.
Steven berbalik menghadap ibunya. "Apa?"
"Apa yang akan kau lakukan pada wanita itu jika kau sudah menemukannya?"
"Aku hanya ingin dia membusuk di penjara," jawab Steven dengan tegas.
"Meskipun dia tidak bersalah?"
"Aku tidak menerima pembelaan apapun Ma," jawab Steven cepat.
"Seharusnya kau mendengarkan dulu cerita dari Mama. Mama rasa kau belum paham posisi wanita itu pada saat itu. Dia tidak bersalah."
"Aku tidak tahu kenapa mama sangat melindunginya, tapi aku tidak berniat melepaskannya Ma."
Ibu Steven menutup matanya sejenak lalu mengatur napasnya. Tidak ada gunanya mencegah Steven saat ini. Penjelasan apapun tidak akan bisa dia terima. "Baiklah, mama akan memberitahu siapa wanita itu. Mama harap kau bisa merubah keputusanmu saat mengetahui siapa wanita itu."
"Sudah aku bilang Ma, aku tidak berniat melepaskan wanita itu. Sekarang katakan padaku, siapa nama wanita itu dan dari keluarga mana dia berasal," ujar Steven tidak sabar.
Ibu Steven menarik napas dalam setelah itu menghembuskannya lewat mulut. "Wanita itu adalah Fiona Adiguna Wangsa."
Ketika mendengar nama Fiona disebutkan oleh ibunya, Steven merasa seperti tersambar petir di siang bolong. Jantungnya berdebar sangat kencang, wajahnya seketika memucat seperti mayat, tubuhnya kaku seolah aliran darahnya berhenti mengalir di dalam tubuhnya.
Bersambung....
__ADS_1