
"Memangnya ada apa, Ma? Kenapa Mama bertanya seperti itu?"
"Tidak apa-apa." Wajah Ibu Steven berubah menjadi acuh.
"Bibi Mey," panggil Ibu Steven.
Bibi Mey melangkah cepat menuju ruang makan. "Iyaa, Nyonya."
"Siapkan makan malamnya," perintah Ibu Steven.
"Baik, Nyonya." Bibi Mey berjalan menuju dapur, sementara Steven menatap ibunya dengan tatapan menyelidik.
Beberapa saat kemudian, bibi Mey masuk dengan membawa troli makanan bersama dengan lima pelayan lainnya lalu menyusun makanan di meja makan.
Setelah makanan semua tersaji, mereka mulai dengan acara makan malamnya. Fiona nampak masih canggung, dia makan dengan sangat hati-hati. Tanpa dia sadari kalau ibu Steven masih mencuri pandang ke arahnya.
"Fiona, sudah berapa lama kau mengenal Steven?" Yesinta menatap Fiona setelah mereka selesai makam malam.
"Sudah 2.5 tahun, Tante," jawab Fiona sopan.
"Bagaimana kalian bisa saling mengenal?"
"Steven pernah menolong saya ketika ayah saya meninggal," jawab Fiona jujur.
"Jadi, ayahmu sudah meninggal?"
"Iyaaa," jawab Fiona sambil mengangguk.
"Lalu bagaimana dengan ibumu?"
"Ibuku juga sudah meninggal." Fiona mencoba menjawabnya dengan tegar. Kenyataan bahwa saat ini, dia tidak memiliki siapapun kembali membuatnya sedih.
"Jadi, kau sudah tidak memiliki orang tua?"
"Iyaaa benar," jawab Fiona sambil mengangguk.
"Lalu, kau hidup dengan siapa selama ini?"
"Dengan ibu angkat dan kakakku."
"Ibu angkat?" tanya Ibu Steven dengan wajah heran.
"Ketika lahir saya langsung diadopsi oleh sebuah keluarga karena ibu saya meninggal setelah melahirkan saya. Sementara ayah saya sudah meninggal lebih dulu sebelum saya lahir," ungkap Fiona dengan wajah sedih.
Ibu Steven beralih menatap anaknya. "Apa kau tahu mengenai hal ini?"
"Iyaa, Ma. Aku tahu."
Ibu Steven berdiri sambil menatap anaknya. "Steven, mama mau bicara sebentar. Ikut mama." Yesinta langsung berjalan meninggalkan ruang makan tanpa menunggu jawaban dari anaknya.
Steven berdiri lalu membungkuk sambil memegang pundak Fiona. "Kau tunggu di sini dulu, jangan ke mana-mana. Aku segera kembali."
"Iyaa," ucap Fiona sambil mengangguk.
Steven berjalan menyusul ibunya ke ruang baca. Ketika Steven masuk, ibunya langsung berbalik dan mendekati anaknya. "Kau sudah tahu hal itu tapi masih menjalin hubungan dengan Fiona?"
"Ma, itu tidak penting bagiku. Tidak ada yang salah dengannya."
"Mama tidak setuju dengan hubungan kalian. Lebih baik kau akhiri hubunganmu dengannya."
"Apa alasan mama tidak setuju dengan Fiona? Apa karena masalalunya?"
__ADS_1
"Dia tidak pantas untukmu."
"Tidak pantas dari segi apa, Ma?" tanya Steven sambil menahan amarahnya.
"Apa dia tahu siapa kau? Kau tidak bisa mencari pendamping hidupmu sembarangan Steve. Kau itu pewaris HK Group," ucap Ibu Dave dengan nada sedikit tinggi.
Steven memicingkan matanya. "Apa Mama yakin hanya itu alasannya, bukan karena ada alasan lain?"
"Mama melakukannya demi kebaikanmu. Dari pada dengan Fiona, lebih baik kau bersama dengan Sera."
Steven menatap ke bawah lalu mengangkat kepalanya menatap ke sembarangan arah setelah itu baru menatap ibunya. "Ma, aku tidak mencintai Sera. Fiona mampu menggetarkan hatiku, bahkan saat pertama kali aku melihatnya. Dan, itu tidak pernah aku rasakan saat bersama Sera," terang Steven.
"Tidak bisakah mama mendukungku?" tanya Steven penuh harap.
"Mama bisa membuatnya menjauhimu kalau mama mau, Steve. Jadi, jangan coba kau menentang mama."
"Itu berarti mama ingin melihat hidupku berantakan."
Ibu Steven membalikkan tubuhnya, memunggungi anaknya lalu menolehkan kepalanya sedikit ke belakang. "Apa kau sudah melupakan Gwen?"
"Ma, itu hanya masalalu. Aku tidak mau mengingatnya lagi."
"Baiklah, kalau begitu kita sudahi saja pembicaraan ini. Lebih baik kau antarkan Fiona pulang. Ini sudah malam."
Steven menghela napas. "Ma, aku mohon. Jangan ikut campur urusanku dengan Fiona. Biarkan aku menentukan pilihanku sendiri."
Ibu Steven hanya diam dan tidak menggubris ucapan anaknya. "Aku pergi dulu."
Steven melangkah keluar dari ruang baca menuju ruang makan.
"Ayo kita pulang," ajak Steven sambil menarik tangan Fiona.
Fiona menahan tangan Steven. "Tapi, aku belum berpamitan dengan ibumu," ucap Fiona sambil menatap Steven yang sedang berdiri di sampingnya.
"Baiklah." Steven langsung menarik Fiona keluar. Sepanjang perjalanan tidak ada yang bicara sama sekali. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
Sesampainya di mansion, Steve menyuruh Doni dan Erick meletakkan barang-barang Fiona di ruang keluarga.
"Fio, naeklah ke kamarmu. Aku ingin bicara dengan Erick dulu."
Fiona mengangguk. Eetelah mengucapkan terima kasih pada Doni dan Erick, Fiona naek ke atas.
Steven beralih menatap Doni. "Kau bisa pulang. Besok kembali lagi ke sini," perintah Steven.
"Baik, Tuan."
"Rick, ikut aku ke ruang kerjaku."
"Baik, Tuan." Erick mengikuti Steven menuju ruang kerjanya. Wajah Steven terlihat sangat serius. Erick menduga pasti terjadi sesuatu saat makan malam bersama dengan ibunya.
"Apa kau mengenal pria yang bersama dengan Fiona tadi?" tanya Steven ketika dia baru saja duduk di meja kerjanya sambil menatao Erick yang sudah berdiri di depannya.
Fiona tidak tahu kalau Steven dan Erick melihatnya saat sedang berbicara dengan Reynald. Steven dan Erick memang sempat menyusul Fiona ke toilet karena merasa khawatir dengan Fiona yang tidak juga kembali.
Melihat Fiona terlihat sangat akrab dengan Reynald membuat dada Steven menjadi panas. Dengan perasaan marah, Steven segera meninggalkan tempat itu agar Fiona tidak tahu kalau dirinya sempat menyusulnya.
"Iyaa, Tuan. Dia adalah Tuan Reynald, pemilik dari perusahaan Retzh Group."
"Apa dia pria yang dulu kau laporkan sedang mendekati Fiona?"
Ketika masih berada di luar negeri, Erick memang sempat mengawasi Fiona dan melaporkan pada Steven, sebelum Steven menyuruh Erick untuk tidak lagi mengawasi Fiona. "Benar, Tuan."
__ADS_1
"Apa mereka pernah menjalin hubungan?"
"Tidak pernah, Tuan," jawab Erick cepat. "Apa perlu saya selidiki mengenai tuan Reynald?"
"Tidak perlu. Biarkan saja." Steven terlihat termenung sesaat. "Kau boleh pulang."
"Baik, Tuan." Erick melangkah keluar dari ruang tersebut, sementara Steven menunduk lalu mengusap kasar wajahnya
Steven berjalan menuju jendela kaca ruangan kerjanya. Terlihat hujan deras mulai turun disertai kilat dan petir yang menggelegar. Steven terdiam sambil memandang ke arah luar sambil berpikir.
Beberapa saat kemudian, Steven berjalan keluar ruang kerja menuju kamarnya untuk membersihkan tubuhnya. Selesai mandi, Steven duduk di atas tempat tidur sambil memegang ponselnya. Tidak lama, terdengar suara ketukan pintu.
Steven langsung turun dari tempat tidur dan berjalan ke arah pintu.
"Steve, aku ingin berbicara denganmu sebentar," ucap Fiona ketika Steven sudah membuka pintunya.
"Masuklah."
"Bisakah kita bicara di luar saja?" tanya Fiona dengan suara pelan.
Steven yang baru saja berniat untuk melangkah, seketika langsung berbalik lagi menatap Fiona dengan tatapan heran.
"Kenapa? Bukankah kau sudah biasa masuk ke kamarku? Apa sekarang kau takut padaku?"
"Tidak, bukan itu maksudku. Aku hanya...."
Mata Fiona membelalak ketika Steven menarik tangannya lalu merapatkan tubuhnya ke dinding setelah Steven menutup pintu kamarnya.
"Steve," ucap Fiona dengan suara pelan sambil menunduk.
Steven mengurung Fiona dengan kedua tangannya yang bertumpu pada tempok mendekatkan wajahnya pada Fiona. "Apa kau sekarang berniat untuk menghindariku karena kau sudah memiliki tempat bersandar yang baru?"
Alis Fiona menyatu, dia lalu mengangkat wajahnya menatap Steven dengan wajah yang terlihat bingung. "Apa maksudmu?"
"Setelah Leon lalu Reynald. Fiona, jangan coba uji kesabaranku. Aku bukanlah orang yang sabar, Fio."
"Aku tidak mengerti maksudmu, Steve." Fiona mengalihkan pandangannya ke samping saat merasa wajah mereka sangat dekat. Seketika dia merasa gugup.
"Reynald, apa kau menyukainya?" tanya Steven the point.
"Bagaimana kau bisa tahu soal Reynald?" Bukannya menjawab, Fiona justru mengajukan pertanyaan pada Steven.
"Jawab pertanyaanku," ucap Steven dengan suara berat.
"Kami hanya berteman Steve. Aku tidak menyukainya," jawab Fiona sambil menunduk.
"Jangan coba-coba dekat dengan pria lain." Steven ikut menunduk menatap Fiona yang masih tertunduk.
"Memang kenapa?" Fiona memberanikan diri untuk bertanya pada Steven meskipun suaranya terdengar kecil.
"Aku tidak suka kau dekat dengan pria lain," ucap Steven dengan suara berat.
"Kenapa?"
"Apa kau sungguh ingin tahu jawabannya?"
"Iyaaa," jawab Fiona dengan suara pelan.
Steven menyunggingkan senyumnya. "Karena...." Steven meraih dagu Fiona, menatapnya lalu mendekatkan wajah mereka.
Fiona langsung gugup ketika melihat wajah mereka yang hampir tidak ada jarak lagi. Fiona menahan napasnya dan refleks memejamkan mata sambil meremas kuat pinggiran bajunya.
__ADS_1
Bersambung...