Goresan Luka di Hati Fiona

Goresan Luka di Hati Fiona
Menjemput Fiona


__ADS_3

Waktu terus berjalan, tidak terasa sudah seminggu berlalu semenjak hari lamaran Fiona dan Steven diadakan. Sudah seminggu juga Steven tidak bertemu dengan Fiona. Yaa, setelah lamaran selesai, keesokannya Steven berpamitan dengan Fiona untuk pulang ke negara karena dia tida bisa meninggalkan perusahaannya terlalu lama.


Mereka terpaksa terpisah sementara karena Fiona juga tidak bisa ikut dengan Steven karena harus bekerja. Rencananya hari ini, Fiona akan datang ke negara F yaitu negara Steven dan negara tempat Fiona di besarkan.


Selama semingu itu, Fiona menyelesaikan semua pekerjaannya di perusahaan milik keluarganya sebelum dia memutuskan untuk pindah ke negera F dan bekerja kembali di perusahaan Reynald yang ada di negara tersebut.


Semua dokumen yang dibutuhkan untuk pendaftaran pernikahan juga sudah selesai diurus dan sudah dikirim oleh Fiona 3 hari yang lalu untuk mendaftarkan pernikaan mereka negara F.


Hari ini, Fiona akan pulang bersama Reynald dan juga Bryan. Bryan memang tidak pulang bersama dengan Steven dan ibunya waktu itu karena harus mengurus perusahaan terlebih dahulu sebelum dia menyusul ibu dan kakaknya.


Sementara, Leon sudah pulang ke negara F, dua hari setelah Steven pulang dan orang tua Reynald akan datang 3 hari sebelum pesta pernikahan akan digelar.


Sedari pagi, Steven sudah nampak tidak sabar menunggu kedatangan calon istrinya yang akan tiba siang nanti. Pagi itu, dia sudah disibukkan dengan banyaknya dokumen yang harus dia perikasa.


Steven sengaja mengerjakan semua pekerjaannya dari pagi agar dia tidak perlu kembali lagi ke kantor setelah menjemput Fiona. Saat Steven sedang sibuk dengan dokumen yang ada di deannya, seseorang masuk ke ruangannya setelah mengetuk pintu ruangannya terlebih dahulu.


"Steve." Steven mengangkat kepalanya saat mendengar ibunya memanggil namanya.


"Iyaa, Ma." Steven meletakkan pulpen yang ada di tangannya lalu duduk bersandar di kursi saat ibunya berdiri di depan meja kerjanya.


"Jam berapa Fiona tiba?"


"Jam 2 Ma, kenapa?"


"Dia akan tinggal di mana sampai hari pernikahan kalian tiba? Apakah dia akan tinggal dengan Sarah?"


"Tidak Ma. Aku tidak akan membiarkan Fiona tinggal di rumah yang kecil, apalagi bersama dengan Sarah."


"Rumah kecil, apa maksudmu?"


"Sarah jatuh miskin, dia tidak memiliki apa-apa lagi. Dia menggunakan semua uangnya dan menggadaikan rumah peninggalan mendiang suaminya ke bank untuk berinvestasi pada bisnis temannya yang ternyata bisnis itu bisnis bodong jadi sekarang dia tidak memiliki apapun lagi. Rumah sudah disita oleh bank dan sekarang dia dan anaknya harus tinggal di rumah sederhana di pinggiran kota," ungkap Steven.


Saat mengetahui dia ditipu, Sarah hampir saja gila karena semua aset sudah dijual dan semua hartanya sudah habis untuk berinvestasi pada bisnis temannya.


Iming-iming akan mendapatkan keuntungan 10 kali lipat dari jumlah yang dia investasikan, membuat Sarah tergiur dan akhirnya masuk ke dalam jebakan temannya.


Cindy bahkan sangat marah pada ibunya saat mengetahui kebodohan yang dilakukan ibunya hingga membuat mereka tidak memiliki apa-apa lagi.


Untung saja Steven masih berbaik hati padanya dan masih mengijinkan untuk bekerja di perusahaan milik tuan Halim yang sudah di akuisisi oleh Steven. Meskipun jabatannya di turunkan menjadi asisten Manager, tapi setidaknya dia masih memiliki pekerjaan untuk menghidupi ibu dan dirinya.


Semenjak menjadi miskin, Sarah menjadi pribadi yang lebih baik, dia sudah menyesali kesombongannya dulu saat dia masih berada di atas yang suka merendahkan orang lain yang tidak sederajat dengannya.


Bahkan sekarang dialah yang sering di rendahkan oleh orang lain bahkan teman-temannya yang dulu sering menjilatnya, kini menjauhinya dan tidak sudi untuk mengenalnya. Ketika dia membutuhkan uang tidak ada satu pun temannya yang mau membantu dan meminjamkan uang padanya.


Fiona tidak tahu sama sekali kondisi Sarah dan Cindy saat ini, karena dia memang sudah memutuskan komunikasi dengan mereka semenjak dia pergi meninggalkan negera F.

__ADS_1


Sebelum dia meninggalkan negara F, dia mentrasfer 1 Miliar ke rekening ibunya sebagai ucapan terima kasih karena selama ini sudah merawat dan membesarkannya, meskipun pada kenyataannya Sarah tidak melakukan tugas seorang ibu selama Fiona tinggal di sana.


Ibu Steve tertawa mengejek. "Itu balasan untuk kesombongan dan sikap arogannya selama ini. Dia pantas mendapatkannya apalagi dia sudah memperlakukan Fiona dengan seenaknya," cibir Ibu Steven.


"Yaa, biarkan saja dia merasakan akibat dari perbuatannya," ucap Steven sambil mengangguk.


Sebenarnya Steven dari dulu ingin membalas perbuatan Sarah, hanya saja Fiona memohon padanya untuk memaafkan ibunya. Itulah sebanya Steven tidak melakukan apapun terhadap Sarah. Fiona sengaja meminta hal itu, sebab dia merasa berhutang budi karena bagaimana pun suami dari Sarah juga sudah baik padanya.


"Lalu, di mana Fiona akan tinggal nanti?" Ibu Steven kembali membahas topik sebelumnya.


"Aku akan menyuruhnya tinggal di mansionku."


"Tidak, mama tidak setuju. Kau pasti akan tidur di sana kalau Fiona tinggal di mansionmu," tolak Ibu Steven, "lagi pula, bukankah kau pernah bilang mansion itu hanya boleh di tempati saat kau sudah menikah. Kau bahkan tidak mengijinkan mama untuk ke sana."


Yesinta memang tidak tahu kalau Steven pernah membawa Fiona ke mansionnya, bahkan sampai tinggal bersamannya dulu. Kalau ibunya tahu, pasti ibunya akan marah.


"Iyaa, Ma. Tapi, Fiona adalah caon istriku dan akan menjadi istriku nantinya, jadi tidak masalah kalau dia tinggal sementara di mansionku. Aku janji tidak akan tinggal di sana sampai kami resmi menikah."


"Tidak, biarkan Fiona tinggal bersama dengan mama untuk sementara," usul Yesinta.


Steven langsung tersenyum membayangkan kalau dia akan tinggal bersama dengan Fiona di mansion orang tuanya. "Baiklah, aku setuju."


"Tapi, kau tidak boleh tinggal di mansion mama, kau tinggal saja di apartemenmu." Kebahagian Steven seketika sirna mendengar penuturan ibunya. "Ma, aku ini anakmu, bagaimana bisa kau dengan tega mengusirku?"


Steve memegang dagunya sambil berpikir. "Lebih baik Fiona tinggal di apartemenku," jawab Steven.


Jika Fiona tinggal di mansion ibunya, dia tidak akan bebas untuk bertemu dengan Fiona karena pasti akan diawasi oleh ibunya, berbeda jika Fiona tinggal di apartemennya. Dia bisa kapan pun datang jika dia merindukannya. Sebenarnya itu bukan apartemen Steven lagi karena sudah dialihkan atas nama Fiona tanpa sepetahuan ibunya.


"Baiklah. Besok bawa Fiona ke rumah. Kita harus membahas mengenai pernikahan kalian." Selesai berbincang, Ibu Steven pamit untuk pulang.


Siangnya, Steven langsung menyuruh Erick untuk menjemput Fiona, saat tiba di bandara, Steven langsung menunggu di pintu kedatangan. "Rick jam berapa sekarang?" Steven nampak terus menatap ke arah pintu.


"Jam dua lewat dua puluh,Tuan." Erick menurunkan tangan setelah melihat arloji di tangannya.


Ketika Steven akan membuka mulutnya kembali, terlihat Fiona sedang berjalan bersama dengan Bryan dan Reynald.


"Steve," teriak Fiona ketika melihat Steven sedang berdiri menunggunya tidak jauh dari pintu keluar.


Steven tersenyum, Fona langsung berlari menghampur ke pelukan Steven, sementara Bryan dan Reynald hanya bisa mendengus sambil berjalan mendekati mereka berdua.


Steven melepaskan pelukan Fiona lalu melingkarkan tangannya di pinggang Fiona sambil menatapnya. "Apa kau merindukan aku?"


"Iyaa. Aku sangat merindukanmu." Fiona tersenyum sambil mengaggukkan kepalanya.


"Lepas... lepas... Jangan mempertontonkan kemesraan kalian pada kami," ujar Reynlad sambil melepaskan tangan Steven yang melingkar di pinggang adik sepupunya dengan wajah kesal.

__ADS_1


"Benar, membuat kami kesal saja," sungut Bryan, "kau itu seharusnya menyambut aku, Kak."


"Mengganggu saja." Steven meraih tangan Fiona. "Ayyooo Fio, jangan pedulikan mereka." Steven menarik Fiona menjauh dari mereka.


"Heey, Steven Anthonio Pradigta!" teriak Reynald, "bawa koper Fiona!"


Steven menoleh tanpa menghentikan langkah kakinya. "Rick, bawa koper Fiona, kau ikut denganku dan biarkan mereka ikut dengan mobil Doni." Steven memang sengaja mengajak Doni untuk menjemput Reynald dan Bryan.


"Baik, Tuan."


Sesampainya di apartemen, Fiona dan Steven berpisah dengan Reynlad dan Bryan. Steven mengajak Fiona ke apartemennya, Reynald juga langsung ke apartemennya sendiri yang berada satu tower dengan Fiona dan Doni membawa Bryan ke mansion orang tua Steven.


Erick mengikuti Steven dan Fiona dari belakang sambil membawa koper Fiona setelah keluar dari lift. "Masuklah." Fiona melangkah masuk, sementara Steven mengambil alir koper Fiona setelah itu menyuruh Erik untuk kembali ke kantor.


"Istirahatlah, kau pasti lelah," ucap Steven ketika dia baru saja duduk di sofa yang ada di ruang santai.


"Aku tidak lelah. Aku sudah tidur sangat lama saat di pesawat," jelas Fiona.


Steven menggeser sedikit duduknya agar berhadapan dengan Fiona yang sedang duduk di sampingnya sambil tersenyum. "Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Fiona ketika melihat Steven sedari tadi menatapnya.


Steven mendekatkan wajah mereka lalu berkata, "Katakan padaku, bagaimana kau bisa bertambah cantik hanya dalam waktu seminggu aku tidak melihatmu," ujar Steven sambil menatap lekat mata Fiona.


Fiona mendorong dada Steven ketika wajah mereka semakin dekat, di tambah wajahnya yang mulai memanas. "Jangan dekat-dekat Steve, aku tidak bisa bernapas." Fiona memang selalu menahan napas saat Steven mulai mendekatkan wajah mereka.


Steven terkekeh melihat Fiona yang salah tingkah. "Wajahmu memerah sayang, apa kau sedang malu?" goda Steven.


"Tidak. Aku hanya merasa udara di sini sangat panas. Sepertinya AC-nya tidak dingin." Karena gugup, Fiona lalu berdiri.


"Kau mau ke mana, Sayaang?" Steven menahan tangan Fiona ketika akan melangkah.


"Aku haus ingin minum," bohong Fiona. Padahal dia sengaja menghindari Steven.


"Tadi kau bilang panas, sekarang haus. Jangan mencari-cari alasan, Fio. Aku tahu kau sedang berbohong untuk menghindariku." Steven menarik Fiona hingga dia kembali tertuduk di atas meja tepat di depan Steven.


"Ak-aku tidak menghindarimu. Aku memang haus." Fiona menatap berani ke arah Steven.


"Kau boleh pergi, tapi setelah ini."


Steven memajukan tubuhnya lalu melu-mat bibir Fiona. Tidak bertemu dengan selama seminggu membuat Steven harus menahan kerinduan pada Fiona, padahal setiap hari mereka selalu melakukan panggilan vidio.


Steven terus memagut, sesekali membelit lidah Fiona lalu menyesap bibirnya dengan pelan. Ketika napas mereka sama-sama memburu, Steven segera mengakhiri tautan mereka.


"Fio, aku sudah tidak sabar untuk menjadikanmu istriku," ucap Steven sambil mengusap lembut bibir Fiona.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2