Goresan Luka di Hati Fiona

Goresan Luka di Hati Fiona
Kesempatan Kedua


__ADS_3

Fiona terbangun dengan wajah yang segar, meskipun dia baru saja tidur selama beberapa jam, tapi dia merasa tidurnya sangat nyaman. Fiona meregangkan tubuhnya sebelum turun dari tempat tidur.


Saat dia akan turun dari tempat tidur, seketika matanya membulat dan mulutnya terbuka. Dia baru teringat kalau Steven menginap di rumahnya. Dengan langkah cepat Fiona berjalan ke kamar mandi, membasuh wajah, gosok gigi setelah itu langsung keluar kamarnya.


Dia ingin meminta Steven untuk segera pulang, sebelum Leon datang menjemputnya untuk bekerja. Dia tidak mau Leon salah paham jika sampai dia tahu kalau Steven menginap di rumahnya.


Dia tidak ingin menyakiti hati Leon yang selama ini sudah sangat baik padanya. Apalagi, dia sudah berjanji pada Leon untuk belajar mencintainya. Leon memang tahu kalau Fiona masih mencintai Steven dan belum bisa melupakannya.


Hal itu dia tahu saat dirinya mengutarakan perasaannya pada Fiona. Awalnya, Fiona menolak karena tidak ingin menyakiti Leon, tapi pada akhirnya dia luluh dengan kegigihan Leon yang terus berusaha mendapatkan hatinya.


Fiona memutuskan untuk menerima Leon dan segera bertunangan dengannya. Dia pikir, dengan menerima Leon, mungkin saja dia bisa melupakan Steven, tapi ternyata dia salah.


Perasaannya justru semakin dalam pada Steven.Dia sempat berpikir kalau dirinya akan baik-baik saja selama dirinya tidak bertemu dengan Steven, tapi justru itu membuatnya semakin tersiksa.


Berita mengenai berita perjodohan Steven dengan Sonia membuat luka yang semula susah payah berusaha dia sembuhkan, kembali menganga setelah Fiona melihat berita itu. Dia kembali mengalami depresi.


Fiona melangkah cepat ke arah ruang keluarga, tapi dia dia tidak menemukan keberadaan Steven. Dia mulai panik, ke mana Steven gerangan jika dia tidak ada di ruang keluarga. Fiona mendengar sayup-sayup suara dari arah ruang tamu.


Fiona memutuskan untuk mengeceknya. Dia langsung terkejut ketika melihat sudah ada Leon, Reynald di satu ruangan yang sama dengan Steven. "Kak Rey, Kak Leon, a-aku bisa jelaskan semuanya. Semua tidak seperti yang kalian pikirkan, Steven... Dia hanya...." Fiona telrihat sangat panik hingga dia menjadi gugup.


Ketiga orang yang ada di ruang tamu langsung menoleh pada Fiona yang sedang berdiri di dekat sofa diduduki oleh Steven. "Fio, tenanglah," ucap Leon lembut, "duduklah."


Fiona menatap Steven sejenak lalu beralih menatap ragu pada Leon. Saat ini, dia merasa cemas kalau Leon dan Reynald akan berpikir yang tidak-tidak padanya. Dengan langkah pelan, Fiona berjalan menuju sofa kosong yang ada di samping Reynald, tapi Steven lebih dulu menarik tangan Fiona agar dia duduk di sampingnya.


"Steve, apa yang kau lakukan?"


"Duduk di sini saja." Steven menahan tangan Fiona ketika akan pindah tempat duduk.


"Fio, duduklah di situ, tidak apa-apa," ujar Reynald menengahi.


Fiona ragu sesaat setelah itu, dia memutuskan untuk tetap duduk disamping Steven. "Fio, aku sudah tahu Steven menginap di sini, dia menghubungiku semalam ketika dia menemukanmu setelah kau tiba-tiba menghilang," terang Reynald.


Fiona seketika merasa bersalah karena sudah menghilang tiba-tiba dan tidak mengabari Reynald dan Leon ketika dia sudah kembali ke rumahnya. "Maafkan aku Kak," ucap Fiona sambil menundukkan kepalanya.


"Fio, ada yang ingin aku bicarakan padamu." Leon berdiri lalu mendekati Fiona, "ikut aku sebentar."


Steven melirik pada Leon ketika dia mengulurkan tangannya pada Fiona. "Baiklah." Fiona menerima uluran tangan Leon lalu mengikuti langkahnya dari belakang.


Steven tidak bisa mengalihkan sedikitpun pandangannya dari Fiona ketika mereka sudah masuk ke dalam. "Steve, aku dengar kau akan menikah dengan putri dari Liang Group, apa itu benar?" Pertanyaan Reynald berhasil membuat Steven mengalihkan pandangannya kepada Reynald.


"Itu ulah ibuku, dia yang menginginkan pernikahan tersebut," aku Steven dengan jujur.


Reynald mengetukkan jari tangannya di sandaran tangan Sofa seraya menatap datar pada Steven. "Kalau Fiona mau kembali padamu, bagaimana caranya kau meyakinkan ibumu untuk bisa menerima Fiona kembali? Bukankah selama ibumu tidak menyukai Fiona?"


"Ibuku tidak pernah membenci Fiona, dia memiliki alasan kenapa dari awal dia menentang hubungan kami. Aku pasti bisa membuat ibuku menerima Fiona kembali."

__ADS_1


Faktanya, ibu Steven memang menjodohkan Steven dengan Sonia karena dia tidak ingin kalau Steven menderita terus-menerus akibat tidak bisa melupakan Fiona.


"Meskipun begitu, kau juga harus tetap mendapatkan restu dari ibuku dan ayahku, bagaimana pun orang tuaku menjadi pengganti dari orang tua Fiona," ucap Reynald santai.


"Apa kau masih menyukai Fiona?" Pertanyaan tidak terduga datang dari Steven.


Reynald tersenyum mengejek. "Kenapa? Kau masih cemburu denganku?" tanya Reynald sambil menaikkan alisnya sebelah.


"Tentu saja," aku Steven dengan jujur. Steven terlihat menatap Reynald dengan tegas.


Reynald menyunggingkan salah satu sudut bibirnya. "Apa kau lupa kalau aku ini sepupunya? Bagaimana bisa kau curiga dan cemburu padaku?" tanya Reynald dengan wajah mencemooh.


"Memiliki perasaan lebih terhadap sepupu bukan hal yang salah. Bukankah tidak ada larangan bagi sepupu untuk menikah dengan sepupunya sendiri? Setidaknya aku memiliki alasan kenapa aku harus mewaspadaimu. Karena kau pernah memiliki perasaan cinta pada Fiona," ujar Steven dengan wajah datar.


Reynald mendesis seraya tersenyum mengejek ke arah Steven. "Melihatmu sikapmu saat ini, sepertinya kau sangat mencintai Fiona, tapi aku jadi berpikir, bagaimana bisa kau begitu bodohnya melepaskan Fiona saat kau hampir saja memilikinya," cibir Reynald.


Steven menatap ke bawah sejenak setelah itu beralih menatap Reynald. "Itu memang salahku, aku akui itu, tapi, di masa sekarang aku tidak akan menyakitinya lagi."


Reynald mendengus. "Aku iri sekali denganmu, meskipun kau sudah menyakiti Fiona, dia bahkan tidak bisa mengenyahkan peraaannya padamu. Bahkan wanita sempurna seperti Sonia bertekuk lutut padamu, kau memang luar biasa."


Suasana sudah mulai mencair, tidak lagi tegang seperti tadi. "Kalau kau menyukai Sonia, silahkan saja kau mengejarnya. Aku akan membantumu dengan senang hati jika kau ingin mendekatinya."


Setidaknya aku bisa mengurangi satu sainganku.


Steven menatap tajam pada Reynald. Dia tentu saja tahu kalau orang yang dia maksud adalah dirinya dan Fiona. "Aku hanya bercanda, jangan menatapku seperti itu," ujar Reynald, "tatapanmu itu sangat mengitimidasi orang lain, pantas saja tidak ada yang berani denganmu."


"Reynald, hari ini, aku akan menyelesaikan permasalahanku dengan Fiona jadi tolong berikan kami waktu berdua."


"Baiklah, aku akan meminta Fiona untuk tidak bekerja hari ini." Selain karena permintaan Steven, alasan Reynald memperbolehkan Fiona tidak bekerja adalah karena dia juga ingin Fiona beristirahat hari ini.


"Kalian sudah selesai bicara?" Reynald mengalihkan pandangannya saat melihat Fiona dan Leon kembali ke ruang tamu. Mereka berdua kembali ke tempat duduk yang semula.


"Sudah," jawab Leon singkat.


Steven menatap inten pada Fiona yang terlihat sangat sedih. Wajah dan hidungnya memerah disertai dengan mata yang sembab. Steven menduga kalau Fiona pasti habis menangis.


"Kalau begitu kami pamit dulu." Reynald beralih menatap pada Fiona. "Kau tidak usah bekerja dulu hari ini, beristirahat saja di rumah," ucap Reynald pada Fiona.


Fiona seketika menoleh pada Reynald. "Tapi Kak, aku baik-baik saja."


"Untuk hari ini kau di sini saja, selesaikan masalahmu dengan Steven. Berikan dia kesempatan untuk berbicara denganmu."


Leon berdiri. "Kami pamit dulu, kau baik-baik di sini. Jangan pikirkan apapun lagi dan ingat pesanku yang tadi," ucap Leon.


"Baik Kak, hati-hati di jalan. Aku akan mengantar kalian sampai di depan." Leon dan Reynald meninggalkan rumah Fiona setelah berpamitan kepada mereka berdua.

__ADS_1


Fiona kembali ke ruang tamu. Steven mendekati Fiona yang sudah duduk di hadapannya. "Fio, apa Leon marah karena aku menginap di sini?" Yang ada di pikiran Steven saat melihat Fiona habis menangis adalah Leon pasti marah karena sudah membiarkannya menginap.


Fiona menggeleng lemah. "Tidak. Kak Leon tidak marah."


"Lalu kenapa kau menangis? Apa ada yang sakit?" tanya Steven sambil mengangkat dagu Fiona ketika melihatnya sedang menunduk.


"Aku tidak apa-apa."


Steven menghela napas halus. "Fio, aku ingin meralat ucapanku yang semalam saat aku bilang tidak akan mengganggumu dan akan melepaskanmu." Steven menatap dalam mata Fiona, "Aku tidak sanggup melepasmu, tolong berikan aku kesempatan satu kali lagi. Aku berjanji tidak akan menyakitimu seperti yang dulu," lanjut Steven lagi sambil menggenggam tangan Fiona.


Fiona terdiam. "Aku sudah mengatakan pada Leon dan Reynald kalau aku akan memperjuangkanmu lagi," ungkap Steven, "jadi aku mohon Fio, jangan menjauh dariku. Tolong berikan aku kesempatan untuk membuktikan rasa cintaku padamu."


Fiona masih bungkam, dia kembali menunduk saat melihat tatapan memohon dari Steven. "Aku sudah tahu kalau kau masih mencintaiku. Reynald sudah memberitahuku semuanya jadi kau tidak bisa mengelak lagi. Mari kita mulai dari awal lagi Fio, berikan aku kesempatan sekali ini saja," mohon Steven.


Fiona mengangkat kepalanya dengan mata yang sudah berkaca-kaca. "Tapi bagaimana dengan Sonia? Bukankah kalian akan segera menikah?" tanya Fiona dengan suara bergetar.


"Sonia sudah tahu bagaimana perasaanku terhadapmu dan dia bilang tidak keberatan jika aku membatalkan perjodohan kami jika seandainya kita kembali bersama," terang Steven.


"Kalau untuk masalah Leon, dia juga sudah bilang tidak keberatan kalau kau kembali lagi padaku," lanjut Steven.


"Iyaaa aku tahu. Dia juga sudah mengatakan hal itu padaku." Fiona mengangkat kepalanya menatap mata Steven. "Bagaimana dengan ibumu?"


"Kau tidak perlu khawatir masalah mama, aku akan berbicara dengannya jika kau mau menerimaku kembali. Mama pasti akan mendukung keputusanku."


Fiona terdiam cukup lama, sementara Steven nampak merasa cemas menunggu jawaban dari Fiona. "Aku mohon Fio, kembalilah padaku. Aku sangat membutuhkanmu Fio. Aku sungguh tidak bisa hidup bahagia jika tidak bersamamu," ujar Steven sambil menggenggam erat tangan Fiona.


Fiona berpikir sejenak. "Baiklah, tapi aku mohon jangan sakiti aku lagi," ucap Fiona dengan suara pelan.


Steven langsung menarik Fiona dalam pelukannya setelah mendengar jawaban Fiona. "Terima kasih Fio, terima kasih karena sudah mau menerimaku kembali," ucap Steven dengan wajah bahagia.


Fiona mengangguk dalam pelukan Steven. "Iyaaa."


Steven mengurai pelukannya lalu menatap Fiona. "Aku sangat bahagia Fio, akhirnya perjuanganku tidak sia-sia."


Steven kemudian mengecup singkat bibir Fiona. "Terima kasih, Fio."


"Steveee." Fiona memukul bahu Steven karena ulah Steven yang menciumnya tiba-tiba.


Steven tersenyum sambil mencubit gemas pipi Fiona ketika melihat wajahnya yang memerah. "Mandilah, setelah ini, ikut aku ke suatu tempat."


Fiona mengerutkan keningnya. "Ke mana?"


"Ke hotelku."


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2