Goresan Luka di Hati Fiona

Goresan Luka di Hati Fiona
Pengorbanan Leon


__ADS_3

Erick melajukan mobil ke arah apartemen Bryan setelah mereka bertiga menjemput Yesinta di bandara. Sebenarnya, Steven tidak menyangka kalau ibunya akan datang tiba-tiba ke negara S.


"Silahkan masuk, Ma." Bryan membuka pintu dengan lembar seraya memberikan jalan untuk Yesinta agar bisa masuk terlebih dahulu.


"Apa kau sering membawa masuk wanita ke apartemenmu?" tanya Yesinta seraya berjalan ke arah sofa yang berada di ruang tengah.


Bryan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal ketika mendengar pertanyaan Yesinta. "Tidak Ma. Hanya beberapa kali saja. Itu juga kami hanya mengobrol." Bryan, Steven, dan Erick mengekor di belakang Yesinta hingga tiba di ruang tengah.


Yesinta menoleh pada Bryan kemudian pada Steven. "Kalian berdua sama saja." Yesinta kemudian duduk dengan anggun di salah satu sofa singel berwarna hitam.


Steven duduk di sofa panjang bersama dengan Bryan. "Ma, dalam hidupku, aku hanya membawa satu wanita ke dalam mansionku, yaitu Fiona," jelas Steven.


Bryan bungkam tidak berani membela diri karena dibandingkan dengan Steven, Bryan memang memiliki lebih banyak teman wanita. Dia juga cenderung sering bergonta-ganti pacar dan beberapa dari mereka pernah dia bawa ke apartemennya.


Bryan semakin tidak berkutik saat Yesinta menatap ke arahnya. "Bryan, jangan suka bermain-main dengan wanita. Jangan membuat malu keluarga. Lebih baik kau cepat menikah, jangan sampai kau menghamili salah satu dari kekasihmu itu."


"Iyaa Ma, aku tahu. Aku tidak akan pernah membuat malu keluarga. Lebih baik kakak duluan yang menikah. Aku belum menemukan wanita yang benar-benar aku cintai."


Meskipun Bryan hanyalah anak angkat, tapi Yesinta memperlakukannya dengan baik. Dia juga tidak pernah membeda-bedakan antara Steven dan Bryan.


Steven mengulum senyumannya saat mendengar ibunya menasehati adik angkatnya itu. "Tidak masalah kalau kau tidak mau menikah dulu, tapi ingat jangan menanam benihmu di mana-mana. Jangan seperti kakakmu yang sudah menanam benih duluan sebelum menikahinya, untung saja tidak jadi."


Bryan seketika menoleh pada Steven. "Waaah Kak, ternyata kau bergerak cepat juga, aku tidak menyangka kau diam-diam sudah...."


Steven membekap mulut Bryan dengan tangannya. "Tutup mulutmu. Itu tidak seperti yang kau pikirkan. Itu hanyalah kecelakaan yang tidak disengaja," jelas Steven sebelum Bryan melontarkan ejekan padanya.


Yang dimaksud oleh Yesinta adalah kejadian saat Steven diberi obat oleh Sera yang membuat ibunya salah paham. Ibunya memang belum mengetahui kebenaran yang sesungguhnya sampai sekarang karena Steven juga tidak pernah menjelaskan pada ibunya.


"Kecelakaan yang kau manfaatkan, bukan?" tanya ibu Steven dengan tatapan menyelidik. "Mama tahu kau sengaja menyentuhnya agar mama menyetujui hubungan kalian," lanjut Yesinta lagi.


Bryan menyingkirkan tangan Steven dari mulutnya. "Waaah, ternyata kau cerdik juga Kak. Pantas saja calon kakak ipar sampai depresi terpisah denganmu," cibir Bryan.


Steven melayangkan tatapan tajam pada Bryan. "Aku tidak melakukan apapun padanya." Steven beralih pada ibunya. "Dia masih tersegel Ma," terang Steven. Mau tidak mau dia harus menjelaskan pada ibunya agar ibunya tidak salah paham lagi dengan Fiona.


"Benarkah? Lalu, kenapa kau tidak menyangkalnya waktu itu?"


"Pasti Kakak berbohong Ma," sela Bryan.


"Aku memang belum menyentuhnya, Ma. Alasan kenapa aku tidak menyangkalnya, ya seperti dugaan Mama, agar Mama mau merestui hubungan kami," ungkap Steven.


Yesinta meleparkan bantal sofa pada Steven tanpa bisa dihindari olehnya dan langsung disambut tawa oleh Bryan. "Dasar bodoh! Mama pikir kau sungguh sudah merusak anak orang demi kepentinganmu," ujar Yesinta dengan wajah kesal.


Bryan terkekeh melihat kekesalan Yesinta. "Yang harus Mama khawatirkan itu Bryan, Ma. Aku masih memegang prinsip budaya timur kita, tidak seperti dia yang menjalani hidup orang barat," lirik Steven pada Byan dengan senyum mengejek.


Mendengar hal itu, Bryan langsung mendengus. "Bryan, berhati-hatilah, mama tahu kalau di sini, hal itu sudah lumrah dan tidak tabu lagi, tapi mama harap kau bisa menjaga dirimu. Kau tahu sendiri, banyak sekali wanita yang ingin masuk ke keluarga kita dengan cara instan."


Kali ini, Steven yang terkekeh mendengar ibunya mengomeli Bryan. "Yaa Ma, aku mengerti."

__ADS_1


"Bagus." Yesinta beralih menatap Steven, "jadi, Fiona sudah mau kembali padamu?" tanya Yesinta.


Steven mengubah ekspresi wajahnya menjadi serius. "Iyaa, Ma. Fiona sudah memaafkan aku dan mau kembali lagi padaku."


Yesinta melipat kedua tangannya di bawah dada. "Lalu, bagaimana dengan tunangannya, bukankah dia sudah bertunangan dengan Leon?"


Mata Steven membesar. "Mama tahu dari mana kalau Fiona sudah bertunangan dengan Leon?" tanya Steven dengan wajah terkejut.


Dia sengaja tidak menceritakan hal itu pada ibunya agar ibunya menyetujui hubungan mereka. Tapi, bagaimana bisa ibunya tahu jika dia saja tidak memberitahunya.


"Tentu saja Mama tahu semuanya. Kau pikir mama tidak punya alasan mengirimmu ke sini? Kau bisa bertemu dengan Fiona bukanlah sebuah ketidaksengajaan. Mama sengaja mengirim ke sini agar kau bertemu dengannya. Kebetulan sekali, perusaahaan tempat Fiona akan menjalin kerjasama dengan perusahaan kita jadi aku langsung mengirimmu ke sini," ungkap Yesinta.


Steven terdiam sesaat karena terlampau terkejut. "Jadi, dari awal mama sudah tahu keberadaan Fiona di sini?"


Ibu Steven mengangguk seraya berkata, "Iyaaa, mama sudah tahu. Awalnya mama tidak ingin memberitahumu karena mama tahu dia sudah memiliki tunangan, tapi mama tidak tahan melihatmu menderita terus setelah kepergiannya. Maka dari itu, mama mengirimmu ke sini."


Yesinta merasa iba pada anaknya saat melihatnya kehilangan arah setelah kepergian Fiona. Dia sungguh tidak tega melihat anaknya menghacurkan dirinya sendiri apalagi saat itu, anaknya memohon bantuannya untuk menemukan Fiona, sehingga dia memutuskan untuk membantu anaknya agar bisa bertemu dengan Fiona.


Steven seketika menoleh pada Bryan. "Jangan-jangan kau sudah tahu hal ini?" tebak Steven.


Bryan tersenyum lebar hingga deretan giginya terlihat. "Maafkan Aku, Mama menyuruhku untuk tidak memberitahumu," jawab Bryan.


"Itu sudah tidak penting lagi, Steve. Yang terpenting saat ini, kau sudah bertemu degannya, bukan?" sela Yesinta sebelum Steven membuka mulut untu menyalahkan Bryan.


"Lalu, apa bagaimana keputusan Mama?" tanya Steven tidak sabar.


"Fiona tidak mencintainya, Ma. Leon bilang akan membatalkan pertunangan mereka, asalkan Mama bisa menerima Fiona. Dia akan menyerahkannya padaku, jika mama merestui hubungan kami."


Yesinta berpikir sejenak lalu berkata, "Baiklah, kita temui keluarga Fiona besok untuk melamarnya. Ajak Leon juga agar dia bicara dengan keluarga Fiona mengenai pembatalan pertunangannya dengan Fiona."


"Jadi, mama menyetujui rencana pernikahan kami?" tanya Steven dengan wajah terkejut sekaligus senang.


Yesinta mengangkat salah satu alisnya. "Kenapa? Kau tidak mau menikah dengannya?"


Bryan tersenyum menggelengkan kepanya melihat kebodohan Steven. "Aku mau, Ma," jawab Steven cepat, "kenapa tidak hari ini saja kita melamarnya?"


"Kau pikir melamar seseorang tidak butuh persiapan? Apa kau ingin ke sana dengan tangan kosong? Jangan mempermalukan keluarga kita, Steve."


Bryan terkekeh mendengar omelan Yesinta. "Kak, kau itu harus sabar, kenapa terburu-buru sekali, apa kau sudah tidak tahan ingin...."


"Diam kau, jangan ikut campur." Steven menjejalkan wajah Bryan dengan bantal sofa.


Erick yang sedari tadi berada di ruang yang sama dengan mereka hanya bisa menggeleng melihat tingkah bos dan adiknya.


"Ma, kalau kita melamarnya besok, lalu kapan kami akan menikah?" tanya Steven tidak sabar.


"Kak, melamar saja belum, kau sudah membicarakan pernikahan. Apa kau yakin keluarga Fiona akan menerimamu?" ujar Bryan.

__ADS_1


Steven melayangkan tatapan tajam pada Bryan. "Kita akan membicarakan besok dengan keluarga Fiona," jawab Yesinta.


Steven merasa senang dan tidak menyangka akan begitu mudah mendapatkan restu dari ibunya. Awalnya, dia berpikir kalau ibunya akan memberikan syarat tertentu agar bisa menikahi Fiona.


Malam harinya, Steven pergi ke rumah Fiona untuk membicarakan mengenai pembicaraannya dengan ibunya. Kebetulan, di sana ada Leon juga sehingga Steven berniat untuk sekalian memberitahu Leon.


"Steve, ada apa?" tanya Fiona ketika melihat kedatangan Steven yang tanpa memberitahunya.


"Aku ingin berbicara denganmu."


"Masuklah. Ada kak Leon juga di dalam."


"Lain kali, beritahu aku kalau Leon ke sini,"


"Maaf Steve." Fiona menyusul Steven yang sudah duduk di ruang tamu bersama dengan Leon.


Steven melangkahkan kakinya masuk ke dalam. Dia sedikit kesal saat tahu kalau ada mobil Leon di depan saat dia baru saja tiba di depan rumah Fiona. Untung saja suasana hatinya sedang baik, jika tidak dia pasti akan marah.


"Apa aku mengganggu kalian?" tanya Steven setelah Fiona duduk disebelahnya.


"Iyaa. Kau mengganggu kami," jawab Leon acuh.


"Steve, apa yang ingin kau bicarakan padaku?" Sebelum suasana memanas, Fiona berinisiatif untuk mengalihkan pembicaraan.


Steven menoleh pada Fiona. "Mama sudah menyetujui rencana pernikahan kita. Besok kami akan datang menemui keluargamu untuk melamarmu," ungkap Steven.


Leon langsung bereaksi. "Apa kau yakin, ibumu tulus menerima Fiona?" Leon hanya takut kalau Steven yang memaksa ibunya untuk menerima Fiona.


"Tentu saja, aku sangat yakin," jawab Steven mantap, "jadi, aku minta kau besok juga datang untuk membatalkan pertunangan kalian sebelum aku melamarnya."


Leon terdiam sesaat dengan wajahnya tertunduk. "Baiklah, aku akan membatalkan pertunanganku besok," ucap Leon seraya mengangkat kepalanya, menatap ke arah Steven.


Entah mengapa saat melihat wajah Leon, Fiona merasa sedih sekaligus merasa bersalah. Bagaimana pun dia sudah menyakiti hati Leon untuk kesekian kalinya. "Kak, maafkan aku." Tiba-tiba mata Fiona memanas dan sudah berkaca-kaca.


Leon berusaha tersenyum. "Aku tidak apa-apa. Melepasmu demi pria yang kau cintai adalah hal terkahir yang bisa aku lakukan untuk membuatmu bahagia."


Mendengar hal itu, seketika air mata Fiona langsung luruh. "Seharusnya aku tidak menerimamu dari awal agar kau tidak merasakan sakit yang lebih dalam lagi," kata Fiona lirih.


Leon berpindah duduk di samping Fiona, sementara Steven hanya diam melihat Leon yang berusaha menenangkan Fiona. "Fio, ini adalah pilihanku sendiri. Dari awal, aku tahu kalau kau tidak pernah mencintaiku, tapi aku sendiri yang memilih untuk memperjuangan cintaku padamu," ucap Leon sambil memegang bahu Fiona.


"Jangan merasa bersalah. Aku tidak menyalahkanmu. Ini murni pilihanku. Aku rela mengalah demi kebahagiaanmu. Jangan pikirkan bagaimana perasaanku. Aku akan baik-baik saja selama kau hidup bahagia. Aku tulus mendoakan kebahagian kalian, maka dari itu berbahagialah."


Fiona semakin terisak. Rasa bersalahnya semakin besar ketika mendengar perkataan Leon. "Fiona, aku akan melepasmu sekarang. Jika nanti Steven menyakitimu, bilang padaku. Aku akan memberikan pelajaran padanya. Jika nanti dia tidak menginginkamu lagi, datang padaku. Aku akan menerimamu dengan tangan terbuka."


"Aku tidak akan pernah menyakitinya. Dan, perlu kau tahu kalau aku tidak akan pernah melepaskannya. Aku akan hidup bersama dengan Fiona selamanya," sela Steven.


"Kalau begitu, buktikan mulai sekarang," ucap Leon seraya menatap Steven.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2