Goresan Luka di Hati Fiona

Goresan Luka di Hati Fiona
Penolakan Fiona


__ADS_3

"Selamat pagi Tuan," sapa Erick dan Doni secara bersamaan. Erick dan Doni berdiri di depan Steven yang terlihat sedang duduk sambil menatap fokus pada ponselnya.


Pagi ini, Steven menyuruh Erick untuk memanggil Doni mnghadapnya. "Hhhmmhh." Steven mengangkat kepalanya setelah memasukkan ponsel ke saku jasnya.


"Apa kau tahu kenapa aku memanggil ke sini?" Steven menatap datar pada Doni yang terlihat sedang berdiri tegak.


"Tidak Tuan." Erick memang tidak memberitahukan apapun kepada Doni karena dia sendiri tidak tahu, kenapa Doni dipanggil oleh Steven. Padahal, kemarin malam dia sudah dipecat oleh bosnya.


Steven menyandarkan tubuhnya di sofa ruang tamu. "Kau bisa kembali bekerja."


Erick langsung melirik pada Doni lalu beralih menatap heran pada Steven. Mempekerjakan orang yang sudah melakukan kesalahan adalah di luar kebiasaan Steven.


Doni tampak sedikit terkejut. "Fiona, memohon padaku untuk memperkerjakanmu lagi," terang Steven.


"Kau satu-satunya orang yang sudah melakukan 3 kali kesalahan tapi masih bisa bekerja denganku. Kau harus ingat, ini terakhir kalinya aku memaafkan kesalahanmu. Jika, bukan karena Fiona. Kau tidak akan bisa bekerja denganku lagi. Jadi, kali ini kau harus melakukan pekerjaanmu dengan baik. Jangan pernah melakukan kesalahan lagi."


Doni langsung mengangguk. "Baik Tuan. Terima kasih karena sudah memberikan saya kesempatan untuk bekerja kembali."


"Selain Erick dan Jorsh, kau adalah salah satu orang kepercayaanku. Kau harus ingat, tidak sembarangan orang yang aku tugaskan untuk menjaga Fiona. Itu adalah tugas penting yang harus kau lakukan dengan baik, tidak peduli apapun yang terjadi, kau hanya perlu menjaganya. Jangan lakukan hal lain saat aku tidak ada. Fiona lebih penting dari apapun."


"Baik Tuan, saya mengerti."


"Sekarang katakan padaku, apa yang sudah ibuku perintahkan padamu?" tanya Steven pada Doni. Steven kembali teringat alasan Doni tidak berada di tempay saat Fiona pergi.


"Nyonya meminta saya untuk menyelidiki masalalu Nona Fiona."


"Selain itu?"


Doni terlihat ragu sesaat. "Nyonya meminta saya untuk mengatur pertemuan dengan Nona Fiona."


Steven terdiam sesaat, nampak seperti berpikir. "Kau tidak perlu menyelidiki masalalu Fiona. Erick akan mengatakan apa saja yang perlu kau katakan pada ibuku," perintah Steven.


"Dan, jangan pernah mengatur pertemuan Fiona dengan ibuku. Aku akan menemui ibuku dan mengatakan langsung padanya untuk tidak menemui Fiona."


Doni mengangguk. "Baik Tuan."


"Doni, apapun yang ibuku perintahkan padamu, beritahu aku. Jangan pernah coba-coba menghianatiku, jika tida, kau akan tahu akibatnya."


"Saya tidak akan berani menghianati anda Tuan. Saya akan selalu setia pada Anda seperti selama ini yang saya lakukan."


"Bagus." Steven kemudian beralih menatap Erick. "Rick, apakah apartemen Fiona sudah siap?"

__ADS_1


"Sudah Tuan. Saya sudah memastikannya langsung semalam."


"Baiklah, kalian tunggu aku di luar."


Erick dan Doni mengangguk lalu keluar. Tidak lama kemudian Fiona menghampiri Steven di ruang tamu.


"Fio, kemarilah," panggil Steven saat Fiona yang sudah bersiap akan pergi ke kantor.


Fiona lalu duduk di samping Steven. "Hari ini, kau akan pindah ke apartemenmu. Aku akan meminta Erick untuk membawa barang pribadimu ke sana nanti. Jadi, setelah pulang kerja, kita akan langsung ke apartemenmu."


Mata Fiona langsung berbinar. Dia merasa senang karena sudah memiliki timpat tinggal sendiri. "Terima kasih Steve."


"Kau terlihat senang sekali? Apa kau merasa bahagia karena bisa bebas dariku?" Steven melirik dengan tatapan curiga pada Fiona. Steven terlihat tidak suka melihat Fiona yang senang karena akan pindah.


Fiona langsung mengapit lengan Steven sambil tersenyum. "Jangan salah paham Steve. Aku sebenarnya senang juga tinggal di sini. Hanya saja kau tahu, kita belum menikah. Aku tidak mau ada rumor yang tidak sedap nantinya."


"Dengar Fiona, jangan pernah berpikir untuk mengundang masuk seorang pria ke apartemenmu, apapun alasannya apalagi saat aku tidak ada. Ini berlaku untuk semua teman priamu, terutama untuk Leon. Aku masih kesal karena kau pergi dengannya tanpa ijin dariku, jadi jangan sampai kau membuatku marah lagi."


"Iyaa, aku mengerti. Aku tidak akan pernah memasukkan pria ke apartemenku, termasuk kau juga," gurau Fiona.


"Kau berani melarang calon suamimu untuk masuk?"


"Kau bilang aku tidak boleh memasukkan pria ke dalam apartemenku."


Fiona langsung terkekeh melihat Steven yang tampak mulai marah. "Iyaa, aku tahu. Jangan marah lagi. Aku hanya bercanda."


Fiona tersenyum lalu mencium pipi Steven "Terima kasih untuk apatemennya," Fiona langsung pergi tanpa menunggu reaksi Steven yang nampak sedikit terkejut.


"Ayoo Steve, aku bisa terlambat nanti," ucap Fiona lagi ketika melihat Steven belum juga bergerak


*******


Siang harinya saat Fiona akan makan diluar bersama dengan Cindy, Fiona dibuat terkejut dengan kedatangannya seseorang yang tidak pernah ia duga-duga. "Bisakah kita berbicara sebentar, ada hal yang ingin aku katakan padamu." Ibu Steven menghampiri Fiona ketika dia baru saja keluar dari lift di loby utama.


"Baik Tante."


"Aku tunggu di mobil." Ibu Steven melirik sekilas pada Cindy lalu berjalan keluar gedung.


Cindy menoleh pada Fiona setelah kepergian ibu Steven. "Kau mengenalnya?" tanya Cindy pada Fiona.


"Dia ibu Steven Kak," jawab Fiona cepat.

__ADS_1


"Untuk apa dia menemuimu di kantor?" Cindy menangkap hal yang mencurigaan dari ibu Steven.


"Aku juga tidak tahu, tapi aku harus berbicara dengannya. Maaf Kak, aku tidak bisa menemanimu makan siang."


Cindy memegang bahu Fiona. "Tidak apa-apa, pergilah." Fiona mengangguk lalu menyusul ibu Fiona.


Di sebuah restoran, ibu Steven dan Fiona nampak sedang duduk berhadapan. "Fiona, aku akan langsung pada intinya. Aku tidak akan membuang waktumu." Ibu Steven menatap serius pada Fiona. "Apa kau sungguh mencintai Steven?"


"Iyaa, aku sangat mencintainya," jawab Fiona tanpa ragu.


"Apa kau ingin melihatnya bahagia?" tanya Ibu Steven lagi.


"Tentu saja," jawab Fiona cepat.


"Kalau begitu, aku minta kau segera akhiri hubunganmu dengan Steven dan menjauhlah darinya."


Fiona nampak tercengang. Dia terdiam cukup lama, memandangi wajah ibu Steven dengan penuh tanya. "Maksud Tante?"


"Tinggalkan Steven dan jangan pernah muncul lagi di hadapannya."


"Maafkan saya Tante, tapi saya tidak bisa. Tidak ada alasan bagi saya untuk meninggalkan Steven. Saya tahu kalau saya tidak sebanding dengannya, tapi saya akan berusaha untuk membuktikan pada Anda kalau saya memang pantas untuk mendampinginya," balas Fiona dengan yakin.


"Fiona, ini bukan masalah pantas atau tidaknya kau mendampingi anakku, tapi hubungan kalian memang tidak akan berhasil. Sejujurnya, aku tidak membencimu. Aku juga tidak mempermasalahkan status keluargamu," ungkap Steven.


"Lalu apa masalahnya? Berikan saya alasan yang kuat kenapa saya harus menjauhinya."


Fiona tentu saja tidak bisa begitu saja menuruti permintaan ibu Steven, meskipun dia yang memintanya dengan baik-baik.


"Alasannya karena orang itu adalah kau. Aku melakukan ini untuk kebaikan kalian sendiri, terutama untuk Steven. Pada akhirnya, kau sendiri yang akan membuatnya terluka. Kau pasti tidak tahu seberapa besar dampaknya, jika sampai kau melukainya." Ibu Steven terlihat masih bicara dengan tenang.


"Steven, terlihat keras diluar tapi hatinya sangat lembut jika berhubungan dengan wanita yang dicintainya. Kau bisa membuat hidup anakku berantakan kalau sampai kau menyakitinya. Aku mengenal anakku dengan baik, jadi aku bisa mengatakan ini padamu. Maka dari itu, aku mohon menjauhlah dari hidupnya sebelum terlambat."


Fiona terdiam sesaat mencoba mencerna ucapan ibu Steven. "Saya janji tidak akan pernah menyakitinya. Saya bisa pastikan itu."


"Fiona, pada kenyataannya kau sudah pernah menyakiti anakku. Aku tidak mau kalau sampai kau melukainya lagi. Luka yang kau timbulkan dulu, mungkin belum mengering. Mungkin itu bukan sepenuhnya salahmu, tapi secara tidak langsung kau sudah merenggut kebahagiaannya. Sebelum perasaannya semakin dalam padamu, tolong lepaskan dia. Aku yakin kau bisa dengan mudah mendapatkan pria lain dengan mudah."


"Saya tidak pernah menyakiti Steven sama sekali."


"Itu karena kau tidak ingat. Mungkin lebih tepatnya kau tidak tahu. Aku tidak akan menjelaskannya, kau harus mencari tahu sendiri. Yang aku minta hanya menjauh dari hidup anakku."


"Maafkan saya tapi saya tidak bisa. Saya harap Anda mengerti kalau saya tidak bisa melepaskan Steven. Tidak peduli seberapa lama pun itu, saya akan berusaha untuk mendapatkan restu dari Anda. Keputusan saya tidak akan berubah, kecuali Steven yang ingin mengakhiri hubungan kami. Saya anggap pembicaraan ini tidak pernah terjadi." Fiona berdiri setelah meraih tasnya. "Maaf saya harus pergi."

__ADS_1


"Kalau itu memang maumu. Baiklah. Aku tidak akan melindungimu lagi. Kau sendiri yang akan menyesal nantinya."


Bersambung....


__ADS_2