Goresan Luka di Hati Fiona

Goresan Luka di Hati Fiona
Mencarinya...


__ADS_3

Jantung Fiona berdebar kencang saat memandang pintu depan mansion Steven. Tahun lalu dia juga pernah kemari untuk bertemu dengan Steven. 


Nyatanya Steven belum juga kembali. Dia masih berada di luar negeri. Hari ini tepat sudah 2 tahun kepergian Steven, Fiona datang kembali dan berharap Steven sudah pulang.


Fiona menarik napas dalam sebelum mengulurkan tangannya untuk menekan bell. Pintu terbuka. "Selamat pagi, Bi?" Sapa Fiona ramah.


Bu Asih langsung tersenyum ketika melihat kedatangan Fiona. "Pagi Nona Fiona."


"Maaf mengganggu, Bi." Fiona merasa tidak enak karena sudah mengganggu pekerjaan Bi Asih.


Bi Asih tersenyum, membuka pintu lebar lalu mengarahkan tangannya ke dalam. "Silahkan masuk Nona Fiona."


Fiona mengangguk sambil tersenyum. "Terima kasih, Bi."


Fiona melangkahkan kakinya dengan pelan seraya mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Sepertinya tidak ada yang berubah sedikit pun dari terkahir kali Fiona datang.


"Silahkan duduk Nona Fiona."


Fiona terlihat canggung. "Iyaa, Bi."


"Tunggu sebentar, Bibi buatkan minuman dulu," ucap Bi Asih sopan.


Fiona langsung menghentikan langkah bi Asih. "Tidak usah, Bi. Fiona tidak lama," ucap Fiona dengan cepat. "Fiona ke sini hanya untuk menanyakan tentang keberadaan Steven," ungkapnya.


Bi Asih kembali membalikkan badan dan menatap Fiona. "Tuan Steven belum kembali dari luar negeri, Non," ungkap Bi Asih. "Apa nomor telpon yang Bibi berikan tidak bisa dihubungi?"


Setahun lalu, Saat Fiona datang untuk mencari Steven. Bi Asih memberikan nomor ponsel Steven setelah Fiona memohon karena dia belum bisa bertemu juga dengan Steven.


"Dulu bisa Bi, tapi sekarang sudah tidak aktif," ungkap Fiona dengan wajah sedih.


Setelah mendapatkan nomor telpon Steven, Fiona langsung mencoba menelponnya, tapi tidak pernah diangkat. Pesannya pun tidak pernah di balas.


Beberapa hari kemudian nomor ponsel Steven sudah tidak bisa dihubungi. Entah apa yang terjadi, Steven seolah menghindarinya.


"Maaf Nona Fiona, Bi Aish juga tidak memiliki nomor ponsel tuan Steven lagi."


Selama setahun belakangan, Bi Asih juga sudah tidak pernah berhubungan dengan Steven. Hanya asistennya yang beberapa kali menelpon Bi Asih. Erick menelpon Bi Asih hanya sekedar untuk menanyakan tentang keadaan mansion bosnya.


Wajah Fiona terlihat kecewa dan sedih. "Bukankah Steven akan pulang setahun lalu, tapi kenapa sampai sekarang Steven belum pulang juga, Bi?"


"Bibi juga tidak tahu, Nona. Tuan Steven sudah tidak pernah menghubungi Bibi lagi."


Bi Asih terlihat kasihan pada Fiona yang terlihat sedih karena tidak bisa bertemu dengan Steven.


"Kalau Steven menelpon Bibi, bisakah Bibi sampaikan pesanku padanya?" tanya Fiona penuh harap.


"Bisa Nona."


Fiona langsung tersenyum senang. "Tolong sampaikan kalau aku mencarinya dan meminta untuk menghubungi ke nomor ponsel Fiona yang lama," pinta Fiona sopan.


"Baik Nona. Nanti bibi sampaikan"


"Terima kasih, Bi."


Semenjak kepergian Steven 2 tahun lalu, Fiona merasa ada yang hilang dari dirinya. Dia seolah tidak bersemangat untuk menjalani hari-harinya.


Sebelum bertemu dengan Steven, dia tidak pernah merasakan kesepian meskipun dia selalu bertengkar dengan ibunya dan tidak mendapatkan kasih sayang yang semestinya dari ibunya.


*******

__ADS_1


Fiona melangkah lesu memasuki gedung kantornya. Setelah dari mansion Steven, Fiona lalu melajukan mobilnya menuju kantornya.


"Selamat pagi Nona Fiona," sapa beberapa pegawai wanita yang terlihat berpasasan dengan Fiona ketika dia baru saja ingin melangkah masuk ke dalam lift.


"Selamat pagi," jawab Fiona ramah.


Di kantor itu, semua orang mengenal Fiona karena Fiona memang sudah lama ikut bergabung dengan perisahaan ayahnya, bahkan ketika Fiona masih kuliah.


Meskipun sekarang Fiona turun jabatan dari Wakil Direktur menjadi Sekertaris Direktur Utama menggatikan jabatan yang semula diperuntukan untuk Cindy.


Semua pegawai di sana tetap menghormati Fiona seperti dulu saat masih menjabat Wakil Direktur. Sikap humble dan peduli Fiona membuat semua pegawai menyukainya.


Fiona selalu berbaur dengan semua pegawai tanpa memandang jabatan yang dimiliki oleh pegawai perusahaannya. Berbeda dengan Cindy yang terlihat menjaga jarak dan jarang sekali tersenyum berbasa-basi kepada pegawainya.


Awalnya Fiona diminta untuk mengisi kembali posisi Wakil Direktur utama tapi Fiona menolak karena teringat pesan ibunya untuk menjadi sekertaris kakaknya.


Ibunya ingin Fiona fokus membantu dan mengajari Cindy sehingga jabatan Wakil Direktur diisi oleh orang kepercayaan ayah Fiona semasa dia masih hidup yaitu Ruslan pria paruh baya berumur 50-an.


"Kau dari mana, Fio? Kenapa baru datang?"


Cindy yang baru saja keluar dari ruangannya langsung bertanya pada Fiona setelah dia melihat kedatangan adiknya melalui jendela kaca ruangannya yang tidak tertutup oleh tirai.


Fiona mendongakkan kepalanya menatap kakaknya yang sedang berdiri di depan mejanya. "Aku ada urusan sebentar, Kak," jawab Fiona.


"Urusan apa?" tanya Cindy dengan tatapan menyelidik.


"Aku pergi ke mansion...."


"Kau pergi mencarinya lagi?"


Sebelum Fiona menyelesaikan ucapanya, Cindy sudah terlebih dahulu memotong ucapan adiknya. Fiona terlihat mengangguk lalu menunduk.


Cindy menggelengkan kepala seolah tidak percaya dengan tingkah adiknya. Dia menebak kalau adiknya sangat mencintai pria yang dia tahu adalah mantan kekasih adiknya. Padahal, nyatanya Fiona dan Steven tidak pernah memiliki hubungan apapun.


Cindy pernah mendengar dari ibunya kalau selama Fiona tidak pulang ke rumah setelah kematian ayah mereka, Fiona tinggal bersama Steven. Hanya saja Cindy tidak pernah menanyakan langsung pada Fiona tentang hal itu.


Meskipun waktu itu ada Steven di rumah sakit saat membela Fiona, tetapi Cindy tidak memperhatikan dengan seksama wajah Steven.


Dia terlalu sedih dengan kematian ayahnya sehingga dia tidak mengingat jelas, bahkan dia sudah melupakan wajah Steven apalagi Fiona langsung diseret keluar oleh ibunya jadi dia hanya melihat sekilas wajah Steven, itupun dari jauh.


Cindy pernah menanyakan perihal pacar Fiona, yaitu Steven. Tidak ada maksud lain, hanya saja Cindy sangat penasaran dengan pria yang berhasil meluluhkan hati adiknya.


Fiona hanya mengatakan kalau Steven pergi dan dia tidak tahu di mana keberadaannya. Cindy tentu saja tidak mau ikut campur masalah adiknya dan memilih untuk diam.


"Aku harus menyelesaikan kesalahpahamanku dengannya, Kak," ucap Fiona pelan. Fiona terlihat tertunduk lesu.


"Kau masih mencintainya dan tidak bisa melupakannya?" Cindy menunduk menatap penasaran pada adiknya.


"Aku...." Fiona terlihat ragu menjawab pertanyaan kakaknya.


"Jadi, kau sungguh-sungguh masih mencintainya?" tanya Cindy dengan wajah tidak percaya.


Fiona hanya bisa menunduk dan tidak bisa menjawab pertanyaan kakaknya.


Melihat adiknya hanya diam, Cindy menghela napas. Dia menduga kalau dugaanya memang benar adanya. "Dasar bodoh."


Cindy sungguh tidak mengerti dengan pikiran adiknya. Padahal banyak yang mengejar Fiona, mereka juga berasal dari kalangan atas dan wajah mereka juga tampan tapi tidak ada satupun yang disukai oleh Fiona.


"Dengarkan aku Fio, kalau dia pergi tanpa berpamitan denganmu dan tidak memberikanmu kabar sama sekali, apalagi sudah 2 tahun lamanya, itu artinya, dia sudah tidak mencintaimu dan sudah tidak mengingginkanmu lagi. Dia sudah membuangmu Fio. Dia hanya memanfatkan keluguanmu dan setelah bosan, dia pergi meninggalkanmu, kau harus sadar itu."

__ADS_1


Terkadang Cindy berpikir kalau adiknya terlalu naif dan sangat mudah dibodohi.


Fiona mengangkat kepalanya. "Kak, dia tidak seperti itu. Dia pria yang baik, Kak. Lagi pula aku dan dia... Kami hanya...."


"Hanya apa?" Cindy terlihat tidak sabar menghadapi sikap adiknya.


"Lebih baik kau lupakan dia dan mulailah menjalin hubungan dengan James."


James adalah orang yang akan dijodohkan dengan Fiona. Ibunya tidak ingin kalau Fiona berhubungan lagi dengan Steven karena dia sangat membencinya. Menurutnya Steven adalah pria yang tidak baik dan tidak jelas asal usulnya.


Selama 2 tahun ini, hubungan Fiona dan ibunya belum juga mengalami kemajuan. Meskipun ibunya sudah jarang marah padanya karena Fiona selalu menuruti keinginan ibunya dan tidak pernah membantah sedikit pun ucapan ibunya, tetapi sikap ibunya tidak juga hangat padanya. Justru terkesan acuh dan cuek.


Fiona hanya bisa diam dan berharap suatu hari ibunya akan berubah. Meskipun begitu dia tetap merasa sedih karena usahanya untuk membuat ibunya menyukai dan menyayanginya terjadi tidak membuahkan hasil.


Semua sudah dia lakukan namun ibunya tetap tidak bisa bersikap sama seperti kepada Cindy. Terkadang Cindy suka meminta ibunya untuk bersikap baik pada Fiona, tetapi ibunya tidak bergeming. Dia hanya menganggap angin lalu ucapan anak kesayangannya.


"Tapi aku tidak mencintainya, Kak." Fiona langsung menolak. Dia terlihat sangat tidak suka dengan James.


"Itu untuk kebahagiaanmu sendiri. Jangan terus menerus terjebak dengan masalalu, Fio. Pikirkan juga masa depanmu."


Setelah mengatakan hal itu, Cindy berjalan ke ruangannya kembali tanpa menunggu respon dari Fiona.


Sebenarnya, hubungannya dengan Cindy juga tidak sedekat kakak-adik yang lain. Mereka tidak terlalu dekat juga dan tidak acuh dan cuek juga.


Biasanya, mereka akan bertegur sapa jika bertemu dan mengobrol jika sedang berada di ruangan yang sama.


Cindy lebih banyak menghabiskan waktu dengan teman-temannya, sementara Fiona selain berdiam di rumahnya. Dia biasa menghabiskan waktu dengan Jeslyn dan terkadang dengan Leon jika Leon dan Fiona memiliki waktu yang pas untuk bertemu.


Leon sedang disibukkan dengan bisnisnya sehingga dia hanya memiliki waktu sedikit untuk sekedar meluangkan waktu untuk bertemu dengan Fiona dan Jesi.


******


Di belahan bumi yang lain...


Erick berjalan mendekati Steven yang terlihat sedang memandang ke arah luar dinding kaca transparan. Dia sedang menatap pemandangan kota di malam hari.


"Tuan, Nona Fiona datang kembali ke mansion untuk mencari anda," ucap Erick hati-hati.


Steven menoleh sejenak ke arah Erick yang sedang berjalan ke arahnya lalu menatap ke arah luar kembali. "Kapan?"


Kali ini, Steven tidak menoleh pada Erick. Dia berdiri dengan tangan kiri yang dia masukkan ke dalam saku celananya dan bicaranya dengan nada datar.


Erick berdiri 2 langkah sebelah kiri Steven. "Kemarin Tuan, nona Fiona berpesan pada Bi Asih agar anda menghubunginya," ungkap Erick.


Setelah kepulangan Fiona dari mansion Steven, Bi Asih langsung menghubungi Erick untuk memberitahukan perihal kedatangan Fiona.


Melihat Steven masih diam, Erick berkata lagi, "Kalau Tuan ingin menghubunginya, saya bisa meminta nomor ponsel yang ditinggalkan oleh nona Fiona pada bi Asih."


Steven terlihat tidak langsung merespon ucapan asistennya. Lama terdiam, Steven menunduk lalu menoleh kemudian menatap pada Erick. "Tidak perlu, biarkan saja." Hanya kata itu yang keluar dari mulut Steven.


Erick terlihat bingung sesaat. Dia tidak bisa memahami maksud dari perkataan Steven saat ini. "Maksud Tuan?" tanya Erick dengan dahi berkerut.


"Bilang pada bi Asih untuk menyampaikan pada Fiona, kalau dia tidak perlu datang lagi mencariku."


Steven terlihat masih sangat tenang ketika mengatakan kalimat terakhirnya, seolah Fiona tidak berarti apa-apa untuknya.


"Apa Tuan berniat mendorongnya menjauh dari Anda? Apa Anda sudah tidak peduli lagi dengan nona Fiona?" cecar Erick dengan tatapan ingin tahu.


Steven menunduk ke bawah menatap jalanan ibu kota pada malam hari. "Peduli atau tidak sudah tidak penting lagi."

__ADS_1


Erick mengernyit. "Rick, kalau ada seseorang yang sudah dengan jelas memberikan dinding pembatas yang tidak boleh kau tembus atau lewati apa yang akan kau lakukan? tanya Steven sambil menoleh pada asistennya.


Bersambung...


__ADS_2