Goresan Luka di Hati Fiona

Goresan Luka di Hati Fiona
Cemburu


__ADS_3

Sera tersenyum sinis. "Fiona, menurutmu siapa dirimu? Apa aku harus menuruti setiap apa yang kau katakan? Kau menyuruhku pergi, maka aku harus pergi. Jika, kau menyuruhku mati, maka aku harus mati juga? Fiona, sepertinya kau terlalu meremehkan aku." Sera memadang Fiona dengan tatapan remeh.


"Fiona, kau baru mengenalnya, sementara aku sudah lama berada di sisinya. Apa kau mau bertaruh denganku? Siapa yang akan Steven pilih saat melihat kita berdua berada dalam bahaya dan hanya satu yang bisa di selamatkan? Menurutmu, siapa yang akan dia pilih, kau atau aku?" Sera tersenyum. Senyuman yang menurut Fiona sangat aneh.


"Jadi, kau bermaksud untuk merebut Steven dariku?"


Sera tertawa kecil sambil menutup mulutnya dengan tangan. "Fiona, kau terlalu menganggap tinggi dirimu. Menjadi kekasih Steven, bukan berarti dia akan menjadi milikmu seutuhnya. Kau harus tahu di mana tempatmu Fiona. Steven mungkin menyukaimu saat ini, tapi apa menurutmu itu akan bertahan lama? "


"Aku akan membuat Steven semakin mencintaiku sehingga tidak pernah terlintas dibenaknya untuk berpisah denganku," ucap Fiona dengan percaya diri.


"Fiona... Fiona." Sera terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya. "Apa kau yakin bisa melakukannya?"


"Kau bisa melihatnya sendiri nanti."


Sera berdiri dan berjalan menuju dinding kaca. "Dengan cara apa kau akan membuatnya terikat denganmu? Dengan memberikan tubuhmu?" ejek Sera, "asal kau tahu Fiona, itu tidak akan berlaku pada Steven. Kau tahu kenapa?" Sera membalik badannya dan menatap Fiona, "karena diluar sana tidak terhitung wanita yang berusaha untuk melakukan hal itu, tapi tidak ada yang berhasil. Tidak ada satupun yang bisa memikat Steven. Meskipun kau berhasil melakukannya, kau pikir Steven tidak akan meninggalkanmu?" tanya Sera dengan alis terangkat.


Fiona ikut berdiri dan menghampiri Sera "Aku tidak perlu melakukan hal serendah itu hanya untuk mengikat Steven di sisiku. Kalau pun aku mau, sudah sejak lama aku melakukannya."


Sera mencibir. "Aku sudah sering mendengar perkataan seperti yang kau katakan barusan dari wanita-wanita yang pernah mendekati Steven, tapi pada akhirnya itu hanya menjadi bualan semata, tidak sesuai dengan kenyataan yang ada."


"Aku tidak memintamu untuk percaya denganku. Percaya atau tidak itu adalah hakmu," ucap Fiona.


"Satu hal yang harus kau tahu, bahwa aku tidak akan pernah melepaskan Steven kecuali dia sendiri yang memintaku untuk pergi. Jika dia saja mempertahankanku di sisinya disaat ibunya tidak menyukaiku, bagaimana mungkin aku melepaskan Steven hanya karena kau menginginkannya. Mungkin aku terlihat bodoh di matamu, tapi kau harus tahu, aku akan tetap mempertahakan Steven apapun yang terjadi. Kalau kau berniat untuk merebutnya, silahkan saja, tapi aku tidak akan tinggal diam kalau kau berusaha untuk merusak hubungan kami," lanjut Fiona lagi.


"Kita lihat saja nanti, pada akhinya, siapa yang akan menjadi pemenangnya." Sera membalik tubuhnya menghadap Fiona. "Sebenarnya, kau adalah gadis yang menarik menurutku. Sangat cocok dijadikan teman, tapi sayang sekali kita harus menjadi lawan. Apa boleh buat, aku tidak akan segan lagi padamu mulai sekarang."


Jangan pernah menyalahkan aku Fiona karena aku hanya mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku.


Belum sempat Fiona membalas ucapan Sera, pintu ruangan Steven terlihat terbuka. Sera dan Fiona seketika menoleh ke belakang. "Steven sudah datang, kita bisa berbicang lagi lain kali," ucap Sera sambil tersenyum pada Fiona.


Steven berjalan masuk ke ruangannya menghampiri Fiona dan Sera. "Sera, kapan kau datang?" Saat pintu terbuka, Steven sedikit terkejut melihat Sera ada di ruangannya.


"Belum lama. Aku tidak tahu kalau ada Fiona di sini."


"Aku memintanya untuk menungguku," balas Steven. "Apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Steven sambil menatap bergantian pada Fiona dan Sera.


Sera tersenyum manis pada Steven. "Tidak ada, hanya obrolan ringan sesama wanita," jawan Sera dengan lembut, "benarkan, Fiona?" ujar Sera seraya menoleh pada Fiona


Fiona langsung mengangguk sambil tersenyum pada Steven. "Iyaa benar."


"Steve, aku harus pergi, aku masih ada urusan." Sera membuka tasnya lalu mengambil sesuatu dari dalam tasnya.


"Aku ke sini hanya untuk memberikan ini padamu." Sera memberikan undangan pada Steven, "itu adalah undangan pernikahan William dan Angel. Acaranya diadakan di kapal pesiar. Kita akan berlayar selama 2 hari 2 malam dan akan berlabuh di negara tetangga," info Sera.


Steven menatap undangan itu sejenak lalu beralih menatap Sera. "Baiklah."


"Apa kau akan datang?"


Sera sangat berharap kalau Steven bisa datang untuk menemaninya. Setidaknya dia memiliki waktu bersama dengan Steven selama 3 hari tanpa ganguan dari Fiona. Itulah yang ada dibayangan Sera.

__ADS_1


Steven tampak berpikir sejenak. "Aku tidak tahu, aku belum bisa memastikannya."


Sera mengangguk. "Aku harap kau datang. Bagaimana pun dia adalah teman baik kita."


"Yaaa, aku akan mengabarimu nanti."


Sera langsung tersenyum. "Baiklah, aku pergi dulu."


Steven mengangguk lalu mengantarkan Sera sampai pintu ruangannya. "Maaf karena aku tidak bisa mengantarmu," ucap Steven sambil membuka pintu.


Sera tersenyum manis sambil mengangguk. Fiona hanya menatap Steven dan Sera dari tempatnya berdiri tanpa ikut mengantar Sera.


Setelah kepergian Sera, Steven menghampiri Fiona yang terlihat masih berdiri di depan dinding kaca sambil menatap keluar. "Apa kau akan datang ke acara pernikahan itu?" tanya Fiona tanpa menoleh pada Steven.


"Apa kau mengijinkan aku untuk menghadiri acara tersebut?" tanya Steven sambil menoleh pada Fiona yang tepat berada di sampingnya.


Fiona melirik sekilas pada Steven lalu berkata, "Itu terserah padamu," ucap Fiona sambil berjalan meninggalkan Steven.


Steven menyunggingkan sudut bibirnya lalu menyusul Fiona yang sudah duduk di sofa. "Apa kau tidak keberatan kalau aku pergi dengan Sera?" tanya Steven sambil duduk di samping Fiona.


Fiona melirik sejenak pada Steven dengan wajah acuh tak acuh. "Tidak." Fiona mengambil ponselnya lalu memainkannya.


"Aku tidak akan pergi jika kau tidak mengijinkanku," ucap Steven lagi.


"Pergi saja kalau itu memang maumu," ucap Fiona dengan ketus. Fiona terlihat masih fokus menatap layar ponselnya tanpa menghiraukan tatapan dari Steven


"Baiklah, aku akan datang bersama Sera," ucap Steven sambil menyandarkan punggungnya ke sofa.


"Hmmmhhh." Fiona hanya bergumam tanda setuju.


"Kau mau makan apa?" tanya Steven.


"Terserah."


"Bagaimana kalau kita makan di restoran dekat apartemenmu saja?" usul Steven.


"Hhhmmmhh." Fiona terlihat malas untuk berbicara.


"Apa kau cemburu dengan Sera?"


"Hhhmmmm," jawab Fiona cepat. Detik kemudian Fiona tersadar dan langsung menoleh pada Steven. "Kau mengerjaiku?" tanya Fiona sambil menatap tajam pada Steven.


Steven terkekeh. "Aku suka jika kau sedang cemburu begini, terlihat menggemaskan sekali," ucap Steven sambil mencubit pipi Fiona.


"Steve, jangan menggangguku," seru Fiona. Melihat sikap baik Steven pada Sera tadi membuat Fiona menjadi kesal.


"Baiklah, lebih baik kita pulang sekarang." Steven berdiri lalu menggenggam tangan Fiona keluar dari ruangannya.


Setelah makan, Steven mengantar Fiona ke apartemennya. "Mandilah, aku akan menunggu di sini," ucap Steven ketika dia baru saja duduk di ruang santai.

__ADS_1


Fiona menoleh pada Steven ketika dia akan melangkah masuk ke kamarnya. "Kau tidak langsung pulang?" Fiona mengira kalau Steven hanya akan mengantarnya saja.


"Kau tidak suka aku di sini?" Pertanyaan Fiona membuat Steven berpikir kalau Fiona terganggu dengan kehadirannya.


"Bukankah ibumu menyuruhmu pulang?"


"Kau mendengarnya?"


Steven menebak kalau Fiona mendengar percakapan antara dirinya dan ibunya di telpon tadi. Saat dalam perjalanan pulang setelah makan, Steven sempat menerima telpon dar ibunya yang meminta dirinya untuk segera pulang ke rumah karena ada Sera di sana.


"Pergilah, Sera pasti sudah menunggumu." Fiona langsung masuk ke dalam kamar setelah selesai berbicara.


Steven mengerutkan keningnya sambil menatap punggung Fiona kemudian beralih menatap ke bawah sambil memijat pangkal hidungnya. Tidak biasanya Fiona bersikap seperti itu padanya. Meskipun cemburu, biasanya Fiona masih bisa mengontrol emosinya.


Sebenarnya suasana hatinya sedang tidak baik. Malam kemarin, saat dia pulang di mansion orang tuanya, ibunya kembali menekannya untuk menjauhi Fiona. Steven bahkan berdebat hebat dengan ibunya.


Kali ini, dia sengaja tidak ingin pulang ke mansion orang tuanya karena dia tahu kalau ibunya pasti akan kembali memaksanya untuk menikahi Sera dan memintanya untuk mengakhiri hubungannya dengan Fiona.


Setelah selesai mandi, Fiona tidak mendengar suara apapun dari luar. Fiona membuka pintu kamarnya lalu menatap ke arah ruangan santai, tapi tidak menemukan keberadaan Steven di sana. Dia menduga kalau Steven sudah pulang.


Fiona akhirnya memilih untuk merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Diq melirik jam yang menunjukkan pukul 8 malam, setelah itu, meraih ponselnya dan memeriksa pesan yang masuk. Tidak ada satu pesan pun dari Steven. Biasanya, jika dia dalam perjalanan pulang, dia selalu mengabari Fiona.


Seketika Fiona merasa bersalah karena sudah bersikap tidak acuh tak acuh pada Steven. Dia berjalan keluar kamarnya bermaksud untuk ke dapur mengambil air minum, tapi saat sedang berjalan, matanya tidak sengaja menangkap sosok yang sedang berbaring di sofa.


Fiona mengerutkan kening dan memfokuskan pandangannya. Steven, pria itu ternyata belum pulang. Fiona kemudian melangkah mendekati Steven dan melihatnya sedang tertidur di sofa.


"Steve, kenapa kau tidur di sini?" Fiona mengguncang lengan Steven dengan pelan untuk membangunkannya.


Steven membuka matanya lalu bangun dari tidurnya kemudian duduk tegak. "Aku sedang menunggumu, tapi ternyata aku tertidur di sini."


Fiona ikut duduk tepat di samping Steven. "Aku kira kau sudah pulang."


"Aku tidak bisa pulang kalau kau masih marah denganku."


"Steve, maafkan aku, tidak seharusnya aku bersikap seperti tadi padamu. Aku hanya tidak suka melihatmu terlalu dekat dengan Sera."


Sebenarnya bukan hanya itu, Fiona cemburu saat mengingat kalau Steven akan menemani Sera untuk menghadiri pesta pernikahan teman mereka. Bukan masalah pestanya, tapi tempat diadakan pesta tersebut. Membayangkan Steven akan menghabiskan waktu berdua dengan Sera di kapal pesiar membuat Fiona resah dan seketika pikiran negatif langsung berlarian di benaknya.


"Iyaa, aku mengerti. Aku tidak marah denganmu." Steven akhirnya lega karena Fiona tidak lagi marah padanya, "kalau begitu aku pulang dulu," pamit Steven.


"Kau akan pulang ke rumah orang tuamu?"


Steven menggeleng. "Tidak."


"Kenapa?" tanya Fiona.


"Sera masih di sana, ibuku pasti berusaha untuk mendekatkan kami."


"Kalau begitu jangan pulang ke sana, tidur saja di mansionmu," usul Fiona.

__ADS_1


"Tidak, aku tidak suka tinggal di sana sendiri, aku akan tidur di hotel dekat sini malam ini."


Bersambung...


__ADS_2