Goresan Luka di Hati Fiona

Goresan Luka di Hati Fiona
Menghabiskan Waktu Berdua


__ADS_3

Pagi harinya, Steven bangun terlebih dahulu. Dia sedang bersantai di pinggir kolam ronang sambil menikmati matahari pagi dengan mata yang menatap lurus ke layar ponselnya, sementara di dala kamar, Fiona baru saja bangun.


Fiona menatap jam dinding yang menunjukkan 7 pagi sejenak, sebelum berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Selesai mandi Fiona berjalan menuju lemari pakaian. Dia menatap semua pakaian yang tergantung dan terlipat rapi di dalam lemarinya.


Semua pakaian yang ada di situ dibelikan oleh Erick di salah satu butik teman Steven. Fiona akhirnya meraih hotpants berbahan jeans berwarna hitam dan atasan tanpa lengan berwarna putih. Setelah berpakaian dan mencepol tinggi rambutnnya. Fiona menatap dirinya sejenak di depan cermin yang terlihat manis dengan penampilan rumahnya.


Selesai bercermin, Fiona keluar dari kamarnya menuju kamar Steven, tapi dia tidak menemukan keberadaannya. Fiona kemudian mencari ke bawah seraya memanggil nama Steven berkali-kali. Setelah lelah mencari, tapi tidak menemukannya, Fiona akhirnya menelpon Steven.


Beberapa kali dia menelponya, tapi tidak diangkat. Fiona memutuskan ke dapur untuk mengambil air minum dingin. Saat sedang meneguk air minumnya, tanpa sengaja Fiona melihat Steven dari jendela yang langsung mengarah pada kolam renang belakang.


Fiona tersenyum senang. Selesai minum, dia menghampiri Steven dengan langkah cepat. "Steve," panggil Fiona.


Steven yang sedang berenang seketika berhenti dan menoleh ke belakang. "Kau sudah bangun?" tanya Steven sambil tersenyum.


"Iyaaa. Aku mencarimu ke mana-mana. Aku menelponmu berkali-kali, tapi tidak kau angkat."


Fiona menampilkan waiah cemberutnya. Bagaimana dia tidak kesal, Steven tidak mengangkat telponnya dan juga tidak menemukan keberadaannya setelah mencari selama setengah jam.


Steven berenang ke tepi, menghampiri Fiona yang sedang berdiri di pinggir kolam renang. "Maaf Fio, aku tidak mendengar ponselku berbunyi karena aku sedang berenang." Steven menatap penampilan Fiona sejenak dengan sedikit mengernyit, "kau sudah mandi?" tanya Steven.


Fiona mengangguk. "Aku akan membuatkan sarapan untukmu."


"Tidak perlu. Aku sudah menyuruh Erick untuk membawakan sarapan untuk kita."


"Baik, kalau begitu aku buatkan teh saja."


"Hhhhhmmm." Steven kembali berenang setelah melihat Fiona kembali masuk ke dalam.


Beberapa saat kemudian Fiona membawa nampan berisi 2 teh hangat dan roti beserta kue kering yang dia beli kemarin.


"Steve, naiklah. Minum tehmu dulu." Fiona meletakkan nampan di meja samping kursi lalu duduk.


"Nanti saja, aku masih mau berenang."


"Baiklah." Fiona menyesap tehnya sambil memandangi Steven.


"Steve, kau sudah berenang berapa lama?"


Fiona sedang menikmati roti yang dia bawa tadi. Sebenarnya dia juga ingin berenang karena terakhir dia berenang adalah 2 bulan yang lalu, hanya saja dia tidak memiliki baju renang.


"Belum lama, kenapa? Apa kau mau berenang?" tanya Steven sambil menatap Fiona.


"Tidak, kau saja," tolak Fiona, "naiklah dulu, nanti kau bisa berenang lagi."


"Baiklah." Steven berenang menuju tepi yang ada tangganya, mengambil handuk lalu melilitkan handuk di pinggangnya.


Wajah Fiona memerah saat melihat dada bidang Steven yang sedang berjalan ke arahnya. "Kenapa wajahmu memerah?" tanya Steven ketika sudah duduk di samping Fiona.


Fiona berdeham. "Kenapa kau bertelanjang dada? Pakai bathrobesmu kau bisa masuk angin nanti," ucap Fiona sambil mengalihkan padangannya ke samping.


Astaga, kenapa tubuhnya bagus sekali? Sepertinya lebih bagus dari terakhir yang aku lihat.


Steven menunduk, menatap tubuh atasnya lalu mengangkat kepalanya menatap Fiona sambil tersenyum. "Kau masih malu melihat tubuhku? Bukankah kau sudah sering melihatnya dulu?


"Dulu kan aku tidak sengaja melihatnya," ucap Fiona tidak terima.


"Tetap saja kau sudah melihatnya jadi kau tidak perlu malu lagi. Lagi pula, kau juga sudah menyentuhnya. Apalagi yang membuatmu malu?" goda Steven.


Wajah Fiona bertambah merah. "Steve, kenapa kau membahasnya lagi. Waktu itu, aku kan tidak sengaja menyentuh tubuhmu," protes Fiona.


"Aku juga tidak keberatan, meskipun kau sengaja. Lagi pula, setelah kita menikah nanti tubuhku akan menjadi milikmu."


"Steve, berhenti!"

__ADS_1


Fiona menutup kedua telinganya sambil menatap tajam Steven. Dia tidak mau mendengar kata-kata Steven lagi. Ucapan Steven membuatnya meremang.


Steven menyungging sudut bibirnya, menyesap tehnya lalu memasukkan roti bakar ke dalam mulutnya sambil menatap Fiona dengan senyum tipis di wajahnya.


"Jangan menatapku seperti itu, Sayang. Kau terlihat menggemaskan dengan tatapan seperti itu, membuatku semakin mencintaimu," goda Steven.


Bisa-bisanya dia bercanda seperti itu. Aku sedang marah, tapi dia justru menggodaku.


"Lebih baik kau berenang. Jangan menggangguku."


"Baiklah." Steven bangun, melepaskan handuknya lalu melompat kembali ke kolam berenang.


Setelah satu putaran Steven berenang ke tepian. "Fio, kemarilah." Steven menggerakkan tangan, memintanya untuk mendekat.


"Ada apa?" Fiona bangun dari duduknya lalu membungkuk ke arah Steven.


"Ulurkan tanganmu," pintanya.


Fiona mengerutkan kening. "Untuk apa?" Sambil menatap bingung pada Steven.


"Cepatlah."


Ketika Fiona mengulurkan tangannya, Steven langsung menarik Fiona hingga terjebur ke kolam berenang. Steven meraih tubuh Fiona setelah itu, melingkarkan tangannya di pinggang Fiona.


"Steveeee," pekik Fiona sambil mengusap wajahnya yang basah. "Kenapa kau menarikku? Bajuku jadi basah." Fiona menatap kesal pada Steven sambil menatap dengan tajam.


"Aku akan membelikan baju yang lebih banyak nanti. Kalau perlu, aku akan membeli tokonya beserta mallnya," kata Steven sambil tersenyum.


Fiona mendengus. Dia selalu saja semaunya.


"Kalau begitu, lepaskan tanganmu."


"Apa kau bisa berenang?" tanya Steven untuk memastikan.


Jatungku berdetak kencang jika berada sedekat ini dengannya.


"Baiklah." Steven melepaskan tangannya dari pinggang Fiona


Karena sudah terlanjur basah, Fiona akhirnya memutuskan berenang bersama Steven. Mereka terlihat tertawa dan saling bercanda di dalam air.


"Fio, ayo kita naik. Kulitmu sudah memucat." Steven naik duluan lalu mengulurkan tangannya untuk menarik Fiona.


"Baiklah, tapi....." Belum selesai Fiona bicara, dia sudah menarik tangan Steven hingga terjebur kembali ke dalam kolam renang, "kau harus berenang kembali." Fiona dengan cepat naik ke atas sebelum di tangkap Steven.


"Fio, berani mengerjaiku." Steven menatap Fiona yang sedang menertawakannya.


"Kita impas. Kau tadi menarikku juga," ucap Fiona dengan acuh.


Steven tertawa kecil hingga mata menutup membentuk bulan sabit terbalik.


"Kenapa kau tertawa?" Fiona menatap heran pada Steven.


"Tidak apa-apa." Steven berusaha untuk menahan tawanya lalu berkata, "kau terlihat sangat...." Steven sengaja menggantungkan kata-katanya untuk memancing reaksi Fiona.


"Sangat apa?" tanya Fiona dengan wajah angkuh. Fiona berpikir, kalau Steven pasti sedang ingin mengerjainnya.


Steven naik ke atas, melilit handuk di pinggangnya, setelah itu menghampiri Fiona lalu berbisik, "Sangat seksi." Steven menjauhkan tubuhnya lalu tersenyum penuh arti.


Fiona melipat kedua tangannya di dada dengan wajah acuh tak acuh. "Apa maksudmu?" Fiona berusaha untuk tidak terpengaruh oleh ucapan Steven.


"Apa kau belum menyadarinya juga?"


"Menyadari apa?" Fiona menatap acuh pada Steven.

__ADS_1


Aku tahu, dia pasti mau mengerjaiku.


"Menyadari penampilanmu saat ini." Steven menatap sejenak Fiona lalu kembali menahan tawanya.


"Memangnya kenap...." Mata Fiona langsung membelalak ketika dia menunduk dan melihat bajunya.


"Steveeeee!" Fiona menyilangkan kedua tangannya ketika menyadari kalau pakaian putih yang dipakai menerawang karena basah dan memperlihatkan pakaian dalamnya yang berwarna merah.


Fiona menatap tajam pada Steven. "Kenapa kau tidak memberitahuku dari tadi? Kau pasti sengaja, kan?"


"Tentu saja. Mana mungkin, aku melewatkan pemandangan indah ini," gurau Steven dengan senyuman nakalnya.


"Dasar mesum." Fiona langsung memukul bahu Steven berkali-kali hingga bahu Steven memerah.


"Berhenti Sayang, tanganmu bisa sakit nanti." Steven menangkap tangan Fiona lalu berkata, "Pakai bathrobes itu cepat, jika tidak, aku akan...."


"Jangan macam-macam." Fiona segera menjauh dari Steven lalu bergegas memgambil bathrobes.


"Jangan lari-lari, Fio. Kau bisa terpeleset nanti."


Fiona tidak menghiraukan ucapan Steven, dia berlari lalu buru-buru membungkus tubuhnya dengan bathrobes yang dia ambil di atas kursi tadi.


Fiona, kenapa kau ceroboh sekali, itu berarti Steven sudah melihatnya dari tadi. Dasar bodoh. Dia pasti sudah melihat bentuk tubuhku dengan jelas. Mau ditaruh di mana mukaku nanti?


Fiona memejamkan matanya sejenak sambil menepuk jidatnya. "Bagaimana ini?" gumam Fiona lirih.


Steven menghampiri Fiona yang nampak sedang memikirkan sesuatu.


"Kau pasti sudah melihatnya dari tadi, kan?" Fiona melemparkan tatapan menusuk pada Steven.


"Itu bukan salahku. Kau sendiri yang ceroboh," jawab Steven santai.


"Mana aku tahu, aku kan tidak memperhatikannya."


Steven meraih handuk satu lagi yang ada di kursi lalu menutup kepala Fiona dengan handuk tersebut. "Mandilah dengan air hangat agar tidak masuk angin."


"Iyaaaaa."


"Fiona," panggil Steven. "Aku sudah pernah memperingatkanmu untuk tidak memakai bawahan yang sangat pendek, bukan? Kalau sampai kau berani pergi keluar dengan menggunakan rok ataupun celana sependek ini lagi, akan kupatahkan kakimu."


Sebenarnya Steven tidak serius dengan perkataannya. Mana mungkin dia bisa melakukan hal itu pada wanita yang sangat dia cintai. Dia hanya kesal melihat Fiona seperti tidak mengindahkan perkataannya.


Aku akan menyuruh Erick untuk mengunting semua celana pendeknya agar dia tidak bisa memakainya lagi.


Fiona menelan ludahnya mendengar ancaman Steven. "Ini kan di rumah Steve. Tidak ada orang lain di sini selain kau."


"Sebab itulah, aku memperingatkanmu untuk tidak memakainya di luar."


Fiona menunduk sambil menjawab, "Iyaa, aku mengerti," jawab Fiona dengan suara pelan.


Steven menatap serius pada Fiona lal berkata, "Dan ingat! Jangan sekali-kali kau berenang dengan orang lain, selain aku."


Fiona mengangkat wajahnya. "Memangnya kenapa?"


"Aku tidak suka orang lain melihat lekuk tubuhmu." Steven membalik badannya lalu berjalan meninggalkan Fiona.


Dia pikir aku suka mengumbar tubuhku di depan orang lain? Itu juga karena dia menarikku ke dalam air hingga bajuku basah jadi tubuh tercetak jelas.


"Itu salahmu Steve, kenapa tiba-tiba menarikku," teriak Fiona dengan wajah kesal.


Steven berhenti lalu menoleh. "Cepat masuk, sebelum aku menggendongmu masuk ke dalam."


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2