
Fiona nampak gugup ketika sudah berada di dalam lift menuju ke kamar Steven. Sepanjang dalam perjalanan, dia terlihat salah tingkah. Entah kenapa dia merasa jatungnya berdegup kencang hanya karena Steven terus menggenggam tangannya saat dia sedang menyetir mobil.
Bahkan, saat mereka memasuki loby, Fiona terus saja menunduk saat Steven Steven merangkul pinggangnya. "Ayo." Steven menarik tangan Fiona ketika pintu lift terbuka.
Fiona hanya bisa mengangguk sambil mengikuti langkah Steven menuju kamarnya. "Masuklah." Steven membuka lebar pintu kamarnya setelah itu dia menuntun Fiona untuk masuk ke dalam.
Fiona mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar Steven sambil melangkah dengan pelan. "Duduk di sini." Steven menarik tangan Fiona yang sedang berdiri di dekat meja nakas samping tempat tidur hingga dia terduduk di pangkuannya.
"Steve, jangan seperti ini." Fiona berusaha melepaskan tangan Steven yang melingkar di perutntya.
"Biarkan seperti ini sebentar, aku sangat merindukanmu, Fio." Steven mempererat pelukannya lalu menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Fiona dan menghirup aroma wangi tubuhnya.
Jantung Fiona berdebar kencang, begitu pun juga Steven. Fiona bisa merasakan debaran jantung Steven saaar dada Steven menempel di punggungnya. Fiona berusaha menormalkan deburan jantunganya, setelah itu dia menoleh ke belakang.
"Steve." Tubuh Fiona meremang ketika Steven mulai mengecup area lehernya satu persatu hingga berakhir di pundaknya.
"Apa sayang?"
"Steve, berhenti."
Fiona hanya takut kalau mereka akan terbawa suasana hingga mereka melakukan hal yang lebih. Karena sejujurnya, hasrat Fiona mulai terpancing saat Steven mengecup lehernya dengan lembut.
Bohong kalau Fiona bilang tidak menginginkan yang lebih, karena sejujurnya di dalam hatinya, dia memang merindukan sentuhan dari Steven meskipun hanya sebatas ciuman di bibirnya, begitu pun yang dirasakan oleh Steven.
Apalagi mereka berdua ada 2 orang dewasa yang sudah matang yanng sudah siap lahir dan batin. Pasti mereka memiliki hasrat terpendam yang mereka sengaja tekan sampai tiba waktunya mereka bisa melampiaskan semuanya setelah mereka resmi terikat status pernikahan.
Steven seketika menghentikan kegiatannya. "Apa kau tidak merindukan aku?" Steven berbisik di telinga Fiona hingga kembali membuat tubuhnya meremang. Hembusan napas halus Steven menerpa area leher dan kupingnya sehingga membuat telinganya memerah.
"Bukan seperti itu, tapi aku takut kita tidak bisa menahan diri dan melakukan hal yang lebih dari ini," aku Fiona dengan jujur sambil menunduk.
Wajar saja kalau Fiona khawatir, mereka sudah lama tidak bertemu, rasa rindu mereka mungkin sudah menggunung. Dia hanya takut kalau mereka akan melapiaskan kerinduan yang sudah lama dipendam jika tidak berhenti dari sekarang.
Steven meletakkan wajah di bahu Fiona seraya memiringkan kepalanya. "Apa kau tidak percaya padaku?" tanya Steven dengan lembut.
"Bukan Steve. Aku hanya takut kita terbawa suasana dan meluapkan semuanya."
Steven tersenyum tipis. "Aku tidak akan melakukan hal yang lebih dari ini, Fio. Aku akan tetap memegang prinsipku kalau aku tidak akan menyentuhmu sebelum kita resmi menikah."
Steven melepaskan pelukannya lalu memutar tubuh Fiona dengan posisinya sedikit menyamping hingga berhadapan dengannya. "Aku sangat mencintaimu, Fio." Steven meraih dagu Fiona lalu mendekatkan wajahnya pada Fiona. Ketika bibir mereka akan menempel, bel kamar Steven berbunyi.
Steven terpaksa menghetikan kegiatannya lalu menjauhkan wajahnya dari Fiona. "Tunggu sebentar, aku akan membuka pintu dulu." Steven memidahkan tubuh Fiona ke samping lalu dia berjalan menuju pintu.
Sementara Fiona memegang wajahnya yang mamanas dan memerah dengan kedua tangannya seraya merutuki dirinya sendiri. Dia memang tidak pernah bisa menolak daya pikat Steven jika sudah berdekatan dengannya, apalagi saat Steven menciumnya, dia selalu saja terbuai dan menikmati perlakuan lembut Steven saat bibir mereka menyatu.
__ADS_1
"Masuklah."
Terdengar suara Steven mempersilahakn seseorang masuk. Meskipun saat ini Fiona sedang membelakangi pintu, Fiona bisa menebak kalau yang datang adalah seorang wanita ketika mendengar suara hentakan sepatunya.
"Fio, kemari." Steven memanggil Fiona agar dia berjalan mendekatinya.
Fiona merapikan rambutnya lalu berbalik. Matanya membesar ketika melihat siapa yang datang ke kamar Steven. "Cepatlah, kemari. Aku akan mengenalkanmu pada seseorang." Steven nampak tidak sabar ketika melihat Fiona belum juga bergerak ke arahnya.
Fiona tersenyum kaku pada Steven lalu berjalan ke arahnya setelah sempat melirik sekilas pada wanita yang sudah duduk di sofa. "Kenalkan, ini Sonia," tunjuk Steven pada wanita yang sedang menatap ke arah mereka.
"Dan ini adalah Fiona, wanita yang aku ceritakan padamu yang sudah membuat aku tergila-gila padanya," ucap Steven sambil merangkul pinggang Fiona.
Sonia berdiri lalu mengulurkan tangan pada Fiona. "Sonia, senang bertemu denganmu Fiona," ucap Sonia dengan ramah sambil tersenyum manis padanya.
"Fiona, senang bertemu denganmu juga," jawab Fiona tidak kalah ramah.
"Ayo kita duduk." Steven memegang tangan Fiona lalu menuntunnya untuk duduk di sebelahnya.
"Sonia, aku hanya ingin bilang padamu bahwa aku sudah bersama lagi dengan Fiona. Maaf karena aku harus membatalkan perjodohan kita. Aku akan menikahi Fiona dalam waktu dekat," ucap Steven seraya menggenggam tangan Fiona.
Sonia terdiam sesaat setelah itu dia tersenyum. "Baiklah, tidak apa-apa. Aku turut bahagia mendengar kalian bersatu lagi."
Sonia berusaha tetap tersenyum meskipun hatinya kecewa. Bagaimana pun dari awal dia sudah menyiapkan mental dengan kemungkinan terburuk yang ada.
Meskipun hanya sekilas, tapi Fiona bisa menangkap raut kekecewaan dan sedih dalam sorot mata Sonia. "Iyaa, terima kasih atas doanya Steve."
Sonia beralih menatap Fiona lalu berkata, "Tolong jaga Steven baik-baik. Selama ini dia juga sudah cukup menderita dengan kepergianmu. Aku doakan semoga perjalanan cinta kalian berakhir dengan bahagia."
"Baik, terima kasih."
Sonia menatap Fiona dengan wajah lembutnya. "Fiona, apa kau mau berteman denganku? Sejujurnya, aku tidak begitu memiliki banyak teman. Hidupku sangat monoton. Aku pikir kita akan cocok jika berteman," ucap Sonia sambil tersenyum.
"Baiklah, asalkan kau tidak malu berteman denganku," jawab Fiona pelan.
Steven terlihat hanya mendengarkan seraya memainkan rambut Fiona. "Bagaimana bisa aku malu berteman denganmu. Aku justru sangat beruntung bisa dekat dengan wanita yang bisa membuat seorang Steven hampir gila," gurau Sonia sambil tertawa renyah.
Fiona akui kalau kepribadian Sonia sangat baik, sebenannya dia sedikit-banyak sudah tahu mengenai Sonia melalui artikel yang ada di internet. Imagenya di media juga bagus. Sejujurnya, Fiona tidak percaya diri jika harus berteman dengan Sonia.
Sonia adalah sosok perempuan sempurna yang pernah Fiona temui. Dia sebenarnya heran, bagaimana bisa wanita sesempurna itu tidak disukai oleh Steven. Mereka bahkan terlihat sangat cocok hanya dengan melihat mereka berdiri berdampingan. Jelas saja Fiona merasa semakin terpuruk saat tahu wanita seperti apa yang akan menikah dengan Steven.
"Dari pada kau mengolok-olokku lebih baik kau mencari pasangan hidupmu. Kalau bisa tentukan pilihanmu sendiri, jangan kau terima perjodohan orang tuanmu jika kau tidak menyukai pilihan mereka," saran Steven.
Setelah nanti Steven membatalkan perjodohannya dengan Sonia, pasti orangtuanya akan kembali mencarikan jodoh untuknya.
__ADS_1
Sonia tersenyum tipis. Dia merasa senang karena Steven masih terlihat peduli padanya. "Baiklah, tolong kenalkan aku pada pria baik sepertimu," gurau Sonia.
"Aku bukan pria baik Sonia, aku hanyalah pria beruntung yang bisa mendapatkan wanita yang sangat aku cintai." Wajah Fiona seketika memerah mendengar ucapan Steven.
Sonia tertawa kecil. "Baiklah, apapun itu sebutannya, bantu carikan aku pria yang baik menurutmu."
"Aku memiliki 2 kandidat jika kau mau. Aku akan mengenalkamu pada mereka jika kau sungguh berniat mencari pendamping hidupmu sendiri."
"Baiklah, nanti kalau aku memiliki waktu senggang, aku akan mengabarimu." Sonia melirik jam yang melingar di pergelangan tangan kirinya, "kalau begitu aku pergi dulu. Aku masih ada urusan." Sonia berdiri diikuti oleh Steven dan Fiona.
"Baiklah, hati-hati."
Setelah mengantar Sonia sampai depan pintu kamarnya. Setelah menutup pintu, Steven kembali berjalan masuk mendekati Fiona yang sudah duduk di tempatnya semula.
"Kenapa kau bisa menolak wanita sempurna seperti Sonia? Apa kau yakin tidak akan menyesal karena sudah menyia-nyiakannya? Aku lihat, sepertinya dia menyukaimu."
Steven tersenyum seraya mendekati tubuh Fiona lalu menatap lekat bola matanya. "Yang aku cinta adalah dirimu, untuk apa aku menyesal karena sudah menolaknya," ucap Steven dengan suara serak.
"Aku hanya takut kau menyesal nantinya karena lebih memilih aku dari pada dia. Padahal, aku tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan dirinya."
Steven merapikan rambut Fiona sambil tersenyum. "Apa kau cemburu dengannya?"
Fiona terdiam karena tidak bisa menjawab pertanyaan Steven. Tidak bisa dipungkiri kalau dia memang cemburu dengan Sonia.
"Dengar Fiona, selamanya aku tidak akan berpaling darimu. Aku akan setia denganmu," ucap Steven ketika melihat Fiona hanya diam dan tidak menjawab pertanyaannya.
Fiona menunduk dengan wajah malu. "Iyaa."
"Aku senang kau cemburu dengannya karena itu artinya kau masih mencintaiku, tapi aku hanya ingin kau tahu kalau aku sama sekali tidak memiliki perasaan apapun terhadapnya."
Steven kemudian meraih dagu Fiona lalu menempelkan bibir mereka berdua. Dia melu-mat bibir dengan lembut beberapa saat setelah itu melepaskannya. "Hanya kau yang akan aku jadikan istriku."
Steven kembali memagut bibir Fiona lalu meraih pinggangnya, merapatkan tubuh mereka dengan tangan kanannya dan tangan kirinya menahan tengkuk Fiona tanpa melepaskan tautannya. Sudah lama sekali Steven tidak merasakan manisnya bibir Fiona.
Steven terus men-cecap, melu-mat dan menyapu bersih area bibir Fiona. Ciuman yang awalnya lembut berubah menjadi semakin panas ketika Fiona melingkaran tangannya di pingang Steven sambil membalas pagutannya.
Mereka saling memagut dengan mata terpejam dengan hasrat yang mulai menyala kembali setelah sempat padam sesaat. Fiona bahkan sudah dibuat terbuai dengan permainan bibir Steven hingga dia tidak sadar kalau saat ini Steven sudah membaringkannya di sofa dengan tangan yang mulai bergerak membuka bajunya sendiri. Setelah kancing bajunya terbuka semua, Steven seketika menjauhkan tubuhnya dari Fiona.
"Maaf Fio, sepertinya aku harus mandi."
Steven melangkah ke kamar mandi seraya melepaskan bajunya hingga terlihat tubuh atletisnya. Tubuh yang akan membuat wanita tergila-gila hanya dengan melihatnya tanpa bisa menyentuhnya.
Selain karena alasan dia belum mandi dari pagi, Steven juga merasa tubuhnya mulai memanas ketika Fiona mulai memberikan isapan lembut pada bibirnya. Hal itu sukses membuat gairah Steven langsung bangkit.
__ADS_1
Bersambung....