
Fiona menoleh pada Steven yang baru saja masuk ke dalam kamar hotel mereka. Sudah genap 3 hari mereka berdua menginap di hotel tersebut. Hari ini, rencananya mereka akan pulang.
"Apa kau sudah selesai, Sayang?" Steven menghampiri istrinya yang sedang duduk di depan meja rias saat melihat istrinya nampak sudah cantik dengan dress selutut berwarna putih dan riasan tipis di wajahnya.
Fiona menarik sudut bibirnya ke atas sambil menoleh pada Steven. "Sudah." Fiona memutar tubuhnya agar berhadapan dengan Steven yang sedang berdiri di belakangnya kemudian mendongak. "Kita akan pulang ke mana?"
Steven membungkuk seketika kemudian mendaratkan kecupan ringan di bibir istrinya. "Tentu saja ke mansion kita, Sayaang."
Steven mensejajarkan wajah mereka bedua, menatap wajah Fiona dari dekat. "Kita sudah menikah. Mansion itu memang aku bangun khusus untuk istriku. Dari awal, sepertinya mansion itu memang tercipta untukmu, terbukti hanya kau satu-satunya wanita yang pernah ke sana. Bahkan kau sudah menempati kamar kita lebih dulu sebelum kita menikah."
Mata Fiona sedikit membesar dan bulu matanya terangkat dengan cepat. "Benarkah aku satu-satunya wanita yang pernah ke mansionmu?" Fiona terlihat antusias dan tidak sabar menunggu jawaban dari Steven.
Steven berdiri tegak lalu mengangguk. "Hhhmmm."
"Lalu bagaimana dengan semua mantan kekasihmu? Tidak mungkin kalau kau tidak pernah membawa mereka ke sana?" Fiona melirik ke samping nampak acuh tak acuh padahal dia sangat penasaran dengan jawaban Steven.
"Mantan kekasihku hanya Gwen." Ucapan Steven terhenti sejenak, raut wajah Steven sedikit berubah ketika membicarakannya, "dan dia belum pernah aku bawa ke sana."
Fiona bisa merasakan ada sedikit perubahan pada nada suara Steven. Dia kemudian mendongakkan kepalanya menatap Steven yang sedang tersenyum padanya.
"Aku sudah tidak memiliki perasaan apapun terhadapnya, Fio. Kini, dia hanya jadi masa laluku," lanjut Steven lagi.
Sebelum Fiona salah paham padanya. Lebih baik dia menegaskan sekali lagi. Steven hanya takut masalah Gwen bisa membuat menimbulkan kecurigaan yang tidak perlu.
Fiona berdiri lalu memeluk suaminya dan menempelkan wajah kirinya di dada Steven. "Steve, semalam aku bermimpi buruk. Kau meninggalkan aku dengan perempuan lain, kau terus berjalan menjauh tanpa menoleh sedikit pun padaku. Aku bisa melihat wanita di sampingmu menoleh ke belakang dan tersenyum mengejek padaku. Aku takut." Tubuh Fiona sedikit bergetar. Hanya membayangkannya saja sudah membuatnya takut.
Steven meletakkan dagunya di atas kepala Fiona lalu membelai rambutnya dengan lembut. "Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, aku berjanji. Itu hanya mimpi, Sayaang. Jangan dipikirkan."
Fiona mengeratkan pelukannya sambil mengangguk. Berada di pelukan Steven membuatnya tenang. Selesai berkemas, mereka langsung menuju mansion Steven di antar oleh Erick.
"Letakkan semua barang di kamarku," perintah Steven pada Erick setelah mereka memasuki mansionnya.
"Baik, Tuan."
Steven mengajak Fiona untuk duduk di ruang santai yang berada di sudut kiri mansion yang pemandangannya langsung tertuju pada taman kecil yang berada di samping mansion tersebut.
"Steve, ke mana bi Sarti?" tanya Fiona ketika mereka sudah duduk di sofa berwarna hitam.
"Aku liburkan Sayaang. Aku sengaja ingin berduaan denganmu saja di mansion ini." Steven mendekati Fiona lalu mendaratkan kepalanya di paha istrinya.
Senyum tipis terbit di wajah Fiona ketika melihat Steven memejamkan mata di pangkuannya. "Apa kau mengantuk?" Fiona menunduk sambil menyisir rambut Steven dengan tangannya.
"Hhhmmm," gumam Steven, "kau membuatku tidak tidur semalaman," lanjut Steven lagi tanpa membuka matanya.
Fiona mengerucutkan bibirnya, tanda tidak terima dengan ucapan suaminya, padahal dirinya lah yang sudah memintanya untuk berhenti, tetapi tak diindahkan oleh Steven.
"Kalau begitu, lebih baik pindah ke kamar. Jangan tidur di sini," usul Fiona.
"Di sini saja, aku hanya ingin berbaring sebentar," tolak Steven.
Fiona akhirnya tidak memaksa suaminya lagi. "Steve, mama bilang akan ke sini besok."
__ADS_1
"Ada keperluan apa?"
"Tidak ada. Mama hanya ingin berkunjung saja sebelum kita berangkat untuk berbulan madu lusa," terang Fiona sambil membelai rambut suaminya yang masih terpejam sedari tadi.
Steven tidak menanggapi ucapan Fiona. Sepertinya dia mulai mengantuk. "Steve, bolehkah mama Sarah dan kak Cindy ke sini juga?" tanya Fiona hati-hati.
Steven membuka matanya. "Kau tidak perlu minta ijin padaku untuk masalah ini. Mereka kau anggap keluarga, jadi aku juga akan memperlakukan mereka seperti keluarga selama mereka bersikap baik padamu. Lagi pula, ini sudah menjadi rumahmu juga, jadi kau bebas melakukan apapun selama tidak menentang aturan yang sudah aku buat."
Fiona menunduk lalu mencium pipi Steven. "Terima kasih, Suamiku."
Tidak boleh berhubungan dengan pria lain, tidak boleh bertemu dengan pria lain, yang intinya tidak boleh ada pria lain yang boleh masuk ke dalam kehidupan mereka selain yang sudah ditentukan oleh Steven.
Dia harus meminta ijin pada Steven jika ingin pergi bertemu dengan pria lain, jika dia tidak bisa menemaninya. Itulah aturan yang di tetapkan oleh Steven untuk dipatuhi oleh Fiona. Selain itu, Fiona bebas mau melakukan apapun.
*******
Leon menaik napas dalam setelah itu menghembuskan napasnya dengan pelan sebelum melangkah menuju pintu utama rumah Sonia. Leon terlihat merapikan kemeja dan rambutnya setelah itu melangkah.
Entah kenapa, dia merasa gugup untuk bertemu dengan orang tua Sonia. Padahal, dia hanya pura-pura menjadi kekasih Sonia tetapi dia merasa seperti sedang datang untuk melamar Sonia.
Sebelum memencet bel, Sonia sudah terlebih dahulu membuka pintunya. Setelah sampai di depan rumah Sonia, Leon memang mengirimkan pesan padanya kalau dia sudah sampai. Itulah sebabnya Sonia yang membuka pintunya.
Untuk sesaat, Sonia tertegun saat melihat penampilan Leon yang mengenakan kemeja hitam slim fit dengan celana panjang senada dengan kemejanya membut penampilan Leon nampak manly dan sangat tampan.
"Apakah ada yang salah dengan penampilanku?"
Pertanyaan Leon membuyarkan lamunan Sonia. "Tidaaak, tidak ada yang salah dengan penampilanmu," jawab Sonia sambil menggeleng dengan wajah malu.
"Masuklah, papa dan mama sudah menunggu."
Leon duduk berdampingan dengan Sonia dan bersebarangan dengan ibu Leon dan sepupu Sonia, sementara ayah Leon duduk di kursi kepala meja makan yang ditujukan untuk kepala keluarga.
"Siapa Kakak tampan ini?"
Sepupu Sonia mamadang Leon yang baru saja duduk di hadapannya dengan tatapan memuja sambil menopang dagunya menggunakan telapak tangannya. Dia nampak terpesona dengan ketampanan Leon.
"Jangan ganggu dia, Fanny. Leon adalah kekasih Kakakmu," tegur Ibu Sonia.
Hubungan ibu Sonia dengan Fanny memang bagaikan ibu dan anak, semenjak kecil Fanny sangat dekat dengan ibu Sonia dikarenakan ibu Sonia dan ibunya adalah kakak beradik.
Fanny mendengus. Dia mengalihkan pandangannya pada Sonia. "Aku kira temanmu, Kak. Baru saja aku ingin mendekatinya. Dia adalah tipe idealku," aku Fanny dengan jujur tanpa ada rasa malu sedikit pun.
Leon terlihat hanya diam saja dan nampak tidak terpengaruh sedikit pun dengan perkataan Fanny.
"Cari saja yang lain, dia adalah milikku." Sonia tanpa sadar mengatakan hal itu dan sukses membuat Leon melirik sekilas padanya.
"Sudah-sudah, lebih baik kita makan malam lebih dulu, baru setelah itu kita mengobrol," sela ibu Sonia.
Mereka semua makan dalam diam, selesai makan, mereka lanjutkan untuk berbincang. "Apa kau tahu, kau adalah pria pertama yang Sonia kenalkan pada kami sebagai kekasihnya," ujar Ayah Sonia sambil memadang ke arah Leon.
"Selama ini dia hanya tahu bekerja, bekerja dan bekerja. Aku sampai khawatir dengannya karena usianya sudah matang, tapi dia belum sekalipun mengenalkan kekasihnya pada kami. Tadinya kami pikir dia sedikit kesulitan karena besarnya tanggung jawab yang dia pikul sebagai penerus Liang Group. Itulah sebabnya kami menjodohkannya dengan Steven yang berasal dari keluarga Pradigta."
__ADS_1
Leon sedikit tercengang mendengar penuturan ayah Sonia. "Jujur, kami sangat terkejut saat dia memperkenalkanmu pada kami sebagai kekasihnya," lanjut ayah Sonia lagi.
"Pa, jangan membuatku malu," sela Sonia sebelum ayahnya berkata lebih banyak lagi.
"Kau ini, masih saja bisa malu. Papa sangat penasaran dengan hubungan kalian, jadi sudah berapa lama kalian menjalin hubungan?" Ayah Sonia memandang ke arah Leon terlebih dahulu lalu beralih menatap anaknnya.
"Enam bulan."
"Satu tahun."
"........" Hening seketika. Semua mata tertuju pada mereka dengan dahi mengerut dan tatapan heran.
Jawaban mereka berdua tidak sama. Leon dan Sonia seketika saling memandang. "Maksudnya, kami sudah dekat selama satu tahun dan baru menjalin hubungan 6 bulan setelahnya," jelas Sonia cepat dengan senyuman paksa.
"Jadi, kau sudah menjalin hubungan dengannya ketika kami menjodohkanmu dengan Steven?"
Sonia memejamkan matanya sejenak, dia terjebak dengan jawabannya sendiri. "Iyaa."
"Lalu kenapa kau tidak bilang pada kami dan menerima perjodohan tersebut?" tanya Ayah Sonia lagi. Ibu Sonia dan Fanny hanya diam sambik mendengarkan.
"Sonia tidak mau mengecewakan kalian, sebab itulah Sonia menerima perjodohan tersebut."
Ayah Sonia menghela napas, dia kemudian beralih menatap pada Leon. "Leon apa pekerjaanmu?"
Sonia seketika menoleh pada ayahnya dengan wajah cemas, takut ayahnya akan membandingkan kekayaan keluarganya dengan Leon. "Saya mengelola bisnis peninggalan orang tua saya. Hanya bisnis kecil, tidak bisa dibandingkan dengan keluarga Anda," ucap Leon merendah.
"Bisnis apa?"
"Saya memiliki resort dan tempat wisata di kota B dan D serta mall di kota ini," jawab Leon.
Ayah Sonia manggut-manggut. "Sekarang aku tanya, apa kau serius dengan putriku?"
Sonia sedikit panik mendengar pertanyaan ayahnya. Dia takut Leon salah jawab. Sonia terlihat meremas kedua tangannya di bawah meja yang mulai berkeringat. Sepertinya kebohongannya sebentar lagi akan terbongkar ketika Leon menjawab dengan jujur.
"Iyaaa," jawab Leon mantap sambil menggenggam tangan Sonaia di bawah meja. Dia tahu kalau Sonia sedang panik.
"Baiklah kalau begitu. Jika kau memang serius dengan putriku, segera lamar dia. Aku menunggu kedatangan keluargamu untuk melamar putriku."
Leon dan Sonia terlihat sangat terkejut. Mereka tidak menyangka akan mendengar hal seperti itu dari mulut ayah Sonia. "Pa, apa ini tidak terlalu cepat?"
Masalahnya, niat awal Sonia hanya ingin berpura-pura memiliki kekasih agar dia terhindar dari perjodohan orang tuanya untuk sementara waktu, tetapi dia tidak menyangka kalau akan berakhir seperti ini.
"Sonia, kau akan menungu berapa lama lagi? Umurmu sudah mencukupi. Apa kau ingin menunggu sampai kami tidak ada?" ujar Ayah Sonia dengan intonasi yang mulai meninggi.
"Bukan begitu, Pa, tapi ini terlalu mendadak. Lagi pula, masalah ini harus dipikirkan dengan matang terlebih dahulu."
"Leon, aku berikan kau waktu untuk berpikir selama seminggu, jika kau tidak bisa memberikan kepastian untuk putriku, maka terpaksa aku akan menikahkan dia dengan orang lain," ucap Ayah Sonia dengan tegas.
Bulu mata Leon terangkat cepat dan tatapannya tegas. "Tidak perlu menunggu seminggu, semua keputusan ada di tangan Sonia. Jika dia mau menikah dengan saya, maka saya siap untuk segera melamarnya," ucap Leon dengan tegas dan percaya diri.
Sonia menoleh pada Leon dengan wajah linglung dan bingung. Dia tidak mengerti kenapa Leon justru menyanggupi permintaan ayahnya, padahal mereka hanya berpura-pura menjadi kekasih.
__ADS_1
Ayah Sonia beralih menatap putrinya. "Bagaimana Sonia, apa keputusanmu?"
Bersambung....