
Suasana malam hari di ballroom Raffles hotel nampak sudah ramai. Semua tamu undangan sudah hadir. Dari pihak keluarga perempuan juga sudah sedari tadi menunggu, tapi dari pihak pria belum juga ada tanda-tanda akan datang.
Pihak perempuan sudah terlihat mulai tidak sabar menunggu kedatangan pihak pria. Sarah, Cindy dan Fiona juga terlihat khawatir dan cemas menunggu kedatangan Steven dan keluarganya setelah mereka menunggu selama hampir 2 jam lamanya.
Seharusnya acara lamaran dilaksanakan pukul 7 malam, tapi hingga pukul 9 malam pihak pria belum juga muncul. Beberapa dari tamu undangan sudah mulai tidak tenang dan berbisik-bisik. Fiona berkali-kali mencoba menghubungi nomor ponsel Steven, tapi tidak aktif. Firasat tidak enak mulai melanda perasaannya.
"Fio, bagaimana, apakah Steven sudah bisa dihubungi?" Cindy menghampiri Fiona yang sedang duduk di ruang tunggu yang ada di ballroom.
Fiona membalik tubuhnya menghadap Cindy seraya menggeleng lemah. "Belum, Kak." Fiona menunduk dengan raut wajah sedih. saat ditatap iba oleh Cindy.
Sarah yang baru saja masuk ke ruang tunggu, seketika berkata, "Fiona, coba kau hubungi ibu Steven." Dia juga mulai cemas karena sudah terlalu lama menunggu. Beberapa tamu mulai mempertanyakan kapan acara akan dimulai.
"Iyaa Ma." Fiona mengambil ponselnya lalu menghubungi ibu Steven. Beberapa kali dia mencoba untuk menelpon tapi tidak diangkat.
Tidak lama kemudian Ibu Steven beserta beberapa kerabatnya terlihat memasuki ruang ballrom dan menuju ruangan di mana Fiona berada. "Fiona, Steven menghilang." Ucapan ibu Steven sukses membuat Fiona beserta keluarganya terkejut.
"Menghilang, bagaimana bisa?" tanya Fiona dengan wajah pucat.
"Saat tante memeriksa kamarnya, ternyata dia sudah tidak ada. Kami sempat mencarinya ke mana-mana, tapi tidak ada. Nomor ponselnya juga sudah tidak aktif."
"Apa maksudnya ini?" Sarah langsung menghampiri ibu Steven, "apa kalian ingin mempermalukan keluarga kami? Kalau memang Steven tidak ingin menginginkan Fiona lagi, seharusnya dia bilang dari kemarin agar kami bisa membatalkan acara ini."
Sarah terlihat mulai terpancing emosinya. Bagaimana pun jika sampai acara lamaran batal, dia akan mendapatkan cibiran dan gunjingan dari para kerabat dan kenalannya.
Cindy menghampiri ibunya untuk menenangkannya. "Ma, tenanglah."
"Maafkan atas tindakan anakku, aku sudah menyuruh orang untuk mencarinya. Kita tunggu sebentar lagi. Aku akan bertanggung jawab atas tindakan bodoh anakku jika seandainya acara ini batal." Ibu Steven terlihat berusaha menekan kemarahannya atas tindakan Steven yang tiba-tiba menghilang.
"Fiona, apakah Steven tidak menghubungimu?" tanya Ibu Steven sambil menoleh pada Fiona.
"Tidak," jawab Fiona dengan suara lemah.
Ibu Steven menyuruh perwakilan keluarganya untuk menenangkan para tamu. Mereka sepakat untuk menunggu setengah jam lagi. Setengan jam kemudian, beberapa tamu udangan satu persatu terlihat mulai pulang hingga tersisa keluarga dan kerabat dari kedua belah pihak.
"Rick, apa kau sungguh tidak tahu di mana keberadaan Steven?" tanya Ibu Steven dengan tatapan menyelidik. Ini adalah pertama kalinya Steven pergi tanpa diikuti oleh Erick sehingga membuat ibunya curiga.
"Tidak Nyonya, tuan Steven tidak menghubungi saya seharian ini."
"Bantu aku cari dia, suruh Jorsh mengerahkan semua anak buahnya untuk mencari Steven."
"Baik, Nyonya." Erick pergi diikuti oleh ibu Steven.
Waktu terus berjalan hingga waktu menunjukkan pukul 11 malam. Semua tamu dan kerabat sudah pulang, hanya tersisa beberapa orang. Acara lamaran pun sudah dibatalkan karena Steven tak kunjung datang dan tidak ada kabar sama sekali darinya.
__ADS_1
Fiona masih duduk mematung di tempatnya. Sedari tadi dia hanya diam dengan tatapan kosong. Cindy dan ibunya sudah beberapa kali membujuknya untuk pulang, tapi Fiona menolak. Dia ingin tetap di sana menunggu kedatangan Steven.
"Fio, berdirilah, lebih baik kita pulang sekarang."
Leon akhirnya menghampiri Fiona untuk membujuknya karena tidak tahan melihat Fiona memaksakan dirinya untuk tetap bertahan di sana.
"Kak, aku mau tetap di sini, aku akan menunggu sampai dia datang." Akhirnya Fiona membuka mulutnya setelah sekian lama bungkam.
"Fio, sadarlah! dia tidak akan datang. Dia sudah mencampakkanmu," ucap Leon dengan suara tinggi.
"Sudahlah Leon, biarkan saja dia. Percuma kau membujuknya, dia tidak akan mendengarkanmu," ucap Ibu Fiona dengan wajah kesal. Dia merasa sangat marah karena merasa dipermalukan oleh Steven.
"Ma, jangan memperkeruh suasana. Lebih baik kita tunggu di luar." Cindy menarik tangan ibunya keluar dari ruang tunggu hingga menyisakan Leon dan Fiona di dalam.
Tiba-tiba terdengar derap langkah cepat menghampiri Fiona. "Fio, ikut aku."
Fiona mengangkat kepalanya ketika tangannya dipegang oleh seseoang. "Kenapa kau baru datang? Kau kemana saja?" tanya Fiona ketika melihat Steven sudah berada di depannya.
"Ada yang ingin aku bicarakan." Steven membantu Fiona berdiri lalu menarik tangan Fiona menuju pintu.
"Kau tidak bisa membawanya pergi setelah kau mempermalukannya." Leon menghadang Steven di pintu agar tidak bisa membawa Fiona.
Tatapan Steven berkilat. "Jangan ikut campur urusanku."
"Apa kau dengar itu? Menyingkir dari hadapanku." Steven langsung menarik tangan Fiona melewati Leon.
Dalam perjalanan Fiona hanya diam mengikuti ke mana Steven membawanya. Ini pertama kalinya, Steven membawa mobil sendiri. Biasanya Erick akan mengantarnya kemana pun dia pergi. Tidak ada obrolan sama sekali diantara mereka hingga mobil berhenti tepat di depan mansion Steven.
"Kenapa kau baru datang disaat acara lamaran sudah dibatalkan? Apa kau sengaja ingin mempermalukanku?" Fiona akhirnya membuka suara untuk memecah keheningan di antara mereka berdua setelah mereka terdiam cukup lama.
Steven masih bungkam seraya menatap ke depan sambil meletakkan tangan kanannya di stir mobil. "Bukankah kau mengajakku ke sini untuk membicarakan mengenai hubungan kita?" lanjut Fiona lagi. Dia kembali membuka suaranya ketika melihat Steven masih diam.
"Fiona, apa kau melihat saat terakhir sebelum Gwen menghembuskan napasnya?"
Seketika Fiona merasa dadanya terhantam batu besar ketika mendengar ucapan Steven. Ternyata sedari tadi yang dipikirannya hanyalah Gwen. Dia pikir Steven sedang memikirkan mengenai kelanjutan hubungan mereka.
"Tidak. Saat itu aku sedang krit...."
"Bagaimana bisa kau terlibat kecelakaan dengannya?" Steven memotong ucapan Fiona sebelum dia menyelesaikannya, "apakah mobilmu melaju sangat kencang sehingga membuat Gwen terluka parah dan tidak bisa diselamatkan?"
Ternyata kau masih saja menuduhku yang sudah menyebabkan Gwen meninggal.
"Ini memang salahku, maafkan aku Steve."
__ADS_1
Tidak ada gunanya Fiona menjelaskan kejadian yang sebenarnya yang selama ini dia sembunyikan. Kenyataan bahwa mobil Gwenlah yang melaju dengan kencang dan menghantam mobilnya sebelum mobil Gwen terbalik.
"Fio, jangan meminta maaf padaku, permintan maafmu tidak akan mengembalikan keadaan seperti semula." Steven berucap dengan dingin tanpa menoleh pada Fiona.
"Lalu apa yang harus aku lakukan agar aku bisa menebus kesalahanku? Apa aku harus mendekam di penjara sesuai dengan keinginanmu?"
Steven terdiam seraya mengalihkan pandangannya ke samping.
"Baiklah, kalau itu memang yang kau mau. Aku akan segera ke kantor polisi untuk mengakui kesalahanku," ucap Fiona dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca. Ketika Fiona ingin membuka pintu, tiba-tiba Steven menghentikannya.
"Jangan bertindak bodoh! Aku tidak pernah memintamu untuk melakukan itu," ucap Steven sambil menahan tangan Fiona.
"Lalu apa yang kau inginkan?" tanya Fiona sambil menoleh pada Steven.
Steven kembali diam. "Sekarang aku tanya, apa kau masih mau melanjutkan rencana pernikahan kita?" tanya Fiona.
"Maafkan aku, Fio," ucap Steven dengan suara pelan sambil menunduk.
Permintaan maaf Steven sudah menjawab pertanyaan dari Fiona mengenai kelangsungan hubungan mereka. Fiona membuka layar ponselnya lalu menghubungi seseorang.
Selesai menelpon seseorang, Fiona berkata, "Baiklah, aku mengerti." Fiona berusaha keras menahan air matanya. "Steve, sekali lagi aku minta maaf atas meninggalnya Gwen. Seandainya bisa memilih, aku akan menukar nyawaku dengan nyawanya," ucap Fiona dengan suara bergetar. Dia meremas erat gaunnya agar dia bisa terlihat tegar di depan Steven.
Steven langsung menatap netra Fiona dengan tatapan rumit. "Fio, bukan itu maksudku, aku tidak...."
"Steve, aku juga tidak pernah ingin mencelakai wanita yang kau cintai, ini bukanlah kemauanku." Fiona mengabaikan rasa perih yang mulai menyebar ke seluruh dadanya, "kita akhiri saja hubungan kita sampai di sini. Terima kasih untuk semua yang sudah pernah kau lakukan untukku dan aku minta maaf karena sudah memisahkanmu dengan Gwen."
Steven menatap Fiona dengan tatapan yang sulit diartikan tanpa berkata apapun. "Sudah larut malam, aku harus pulang," lanjut Fiona lagi.
"Biar aku antar, besok kita bicara lagi," ucap Steven sebelum Fiona membuka pintu.
"Tidak perlu. Aku sudah meminta kak Leon untuk menjemputku. Sebentar lagi dia akan sampai," tolak Fiona cepat.
Ketika Steven ingin membuka mulutnya, sebuah mobil berhenti tepat di depan mobil Steven. "Itu dia." Fiona mengarahkan pandangannya ke arah mobil hitam di depannya, "Steve, aku harap kau bisa hidup bahagia setelah ini, sekali lagi aku minta maaf."
"Aku akan menemuimu besok."
Fiona hanya membalas ucapan Steven dengan senyuman tipis, setelah itu, membuka pintu mobil lalu berjalan menuju Leon yang baru saja keluar dari mobilnya.
Sebelum masuk ke dalam mobil Leon, Fiona menoleh ke arah Steven sambil tersenyum. "Selamat tinggal, Steve," ucap Fiona dengan suara pelan.
Steven hanya memandang kepergian Fiona dari dalam mobilnya. Setelah mobil Leon menghilang dari pandangannya, Steven memejamkan matanya sejenak sebelum meninggalkan mansionnya.
Bersambung...
__ADS_1