Goresan Luka di Hati Fiona

Goresan Luka di Hati Fiona
Meminta Restu


__ADS_3

"Steve, ke mana kau akan mengajakku?" Fiona sudah tidak bisa menahan lagi rasa penasarannya setelah hampir 2 jam mereka melakukan perjalanan, tapi Steven belum juga mengatakan mereka akan pergi ke mana.


Steven terlihat sedang menatap pada layar ponselnya. "Ke suatu tempat," jawab Steven tanpa menoleh.


Fiona merasa kesal karena Steven kembali menjawab pertanyaan dengan kata yang sama. Fiona menggeser duduknya menghadap Steven. "Iyaa, aku tahu. Maksudku adalah apa nama tempatnya. Pasti tujuan kita memiliki nama, bukan?"


"Kita akan ke kota C."


Fiona langsung mengerutkan keningnya. "Untuk apa ke kota C?" tanya Fiona dengan wajah heran.


Steven mengalihkan pandangannya kepada Fiona sejenak. "Meminta restu." Steven kembali menatap layar ponselnya.


Fiona langsung memukul paha Steven dengan kuat. "Steveee, aku serius." Fiona terlihat sangat kesal karena Steven seperti sedang mempermainkannya. Rumah orang tua Steven bukanlah ke arah yang mereka lewati.


Steven meletakkan ponsel di panggkuannya lalu menoleh pada Fiona. "Aku juga serius sayaaang." Steven membelai pipi Fiona sambil tersenyum.


Fiona memalingkan wajahnya karena kesal. "Jangan cemberut, sebentar lagi kita akan sampai."


Fiona memutuskan untuk diam sampai pada akhirnya mobil berhenti. "Sudah sampai Tuan," ucap Erick.


"Ayo, kita turun." Steven menggenggam tangan Fiona sambil membantunya turun dari mobil.


Setelha turun, Fiona mengedarkan pandangannya ke sekitar lalu menoleh pada Steven. "Steve, kenapa kita ke sini?" Bagaimana Fiona tidak heran, Steven mengajaknya ke tempat pemakaman.


"Ikut aku, nanti akan aku beritahu." Steven menarik tangan Fiona berjalan selama lebih dari 10 menit lalu berdiri tepat di depan sebuah makam.


"Ini.....?" Mata Fiona terbelalak melihat nama yang tertulis di makam yang ada di depannya.


"Ini adalah makam ibumu," jelas Steven, "dan, yang di sebelahnya adalah makam ayahmu," jelas Steven sambil mengarahkan pandangannya ke makam yang berada tepat di depannya.


Fiona langsung menoleh pada Steven dengan mata yang berkaca-kaca. "Steve, terima kasih banyak karena sudah susah payah mencari makam orang tuaku," ucap Fiona sambik memeluk Steven dengan air mata yang sudah menetes di pipinya.


Dia tidak menyangka kalau hari ini, Steven memberikan kejutan yang tidak terduga dengan mengajaknya ke tempat peristirahatan orang tuanya.


"Mereka adalah orang tuamu, sudah sepantasnya aku membantumu menenemukan makam mereka."


Steven melepaskan pelukannya. "Jangan bersedih lagi, nanti orang tuamu mengira aku yang membuatmu menangis." Steven menghapus air mata di pipi Fiona. Sementara, Erick hanya menatap mereka berdua dari kejauhan.


Fiona tersenyum sambil mengangguk lalu menatap makam orang tuanya. "Maa... Paaa, aku datang," sapa Fiona dengan suara bergetar.


"Maaf karena baru sempat mengunjungi kalian." Air mata Fiona kembali menetes dan Steven langsung mengusap lembut punggung Fiona.


Dengan cepat Fiona menyeka air matanya lalu menoleh ke samping. "Ini Steven, dia kekasihku, orang yang selalu melindungiku."


"Tuan Jeremy, Nyonya Cecilia. Aku Steven." Steven terlihat memperkenalkan diri dengan sopan layaknya sedang berada di depan kedua orang tua Fiona.


"Kedatanganku ke sini bersama Fiona ingin meminta restu pada kalian. Aku ingin menikahi Fiona dalam waktu dekat."


Air mata Fiona terlihat kembali menggenang di pelupuk matanya karena merasa terharu. Steven bahkan masih berpikir untuk meminta restu pada orang tuanya meskipun mereka sudah meninggal.


"Aku sadar kalau aku bukan pria yang sempurna dan masih memiliki banyak kekurangan, tapi aku berjanji akan membuat Fiona bahagia dan tidak akan menyia-nyiakannya. Aku akan menjaga dan melindunginya dengan baik agar tidak ada yang berani menyakitinya lagi."


Steven menggenggam tangan Fiona. "Aku harap kalian merestui hubungan kami. Terima kasih karena sudah membawanya ke dunia ini sehingga aku bisa bertemu dengannya."


Setelah Steven selesai berbicara, sekarang giliran Fiona yang menyampaikan kata-kata yang ditujukan kepada orang tuanya. Banyak sekali yang Fiona katakan di depan makam orang tuanya, salah satunya mengenai Steven.


Steven yang mendengar Fiona menyebutnya seketika merasa malu. Mereka berada di sana selama setengah jam. Setelah selesai berbicara mereka berdua berpamitan.

__ADS_1


"Maaa, Paaa, Fiona pulang dulu." Fiona berdiri dibantu oleh Steven. "Lain kali, Fiona berkunjung lagi ke sini."


"Tuan, nyonya, kami pamit. Kalian tenang saja. Mulai sekarang, aku yang akan menggantikan kalian untuk menjaga Fiona. Aku harap kalian tenang di sana."


Steven dan Fiona akhirnya berjalan menuju mobil bersama dengan Erick juga. "Fio, malam ini kita akan menginap di kota ini. Kita akan kembali besok," jelas Steven ketika mereka sudah dalam perjalanan dari makam.


Fiona mengangguk setuju. "Iyaaa."


Setibanya di tempat tujuan, Fiona dibuat terheran-heran saat mobil memasuki gerbang sebuah rumah dan berhenti tepat di depan rumah besar yang nampak tidak berpenghuni. "Ayoo, turun. Malam ini, kita akan menginap di sini."


Fiona mengikuti Steven dan Erick turun dari mobil. "Menginap di sini?"


Fiona memperhatikan dengan seksama rumah tersebut. Fiona mengira kalau mereka akan menginap di hotel, tapi Steven justru membawanya ke rumah yang dia saja tidak tahu rumah siapa itu.


"Iyaaa," jawab Steven singkat.


"Selamat malam Tuan Steven." Seorang pria berumur sekitar 60 tahun yang membuka gerbang tadi menghampiri Steven lalu membuka pintu rumah.


"Malam," jawab Steven singkat. "Pak Nurdin, ini Fiona, calon istriku," ucap Steven sambil merangkul pinggang Fiona.


"Selamat datang Nona Fiona," sapa Pak Nurdin ramah.


"Terima kasih pak Nurdin," jawab Fiona sopan.


"Mari masuk." Pak Nurdin membuka pintu lebar-lebar.


Steven, Fiona dan Erick mengikuti langkah pak Nurdin masuk ke dalam.


Fiona terlihat menampakkan wajah penuh tanya. "Nanti akan aku ceritakan," ucap Steven ketika Fiona menarik ujung baju Steven seperti meminta penjelasan.


"Tidak perlu, kami akan berkililing besok untuk melihat-lihat. Cukup tunjukkan kamar kami beserta asistenku."


"Baik Tuan, mari saya antar ke kamar utama."


Steven mengangguk lalu menarik tangan Fiona. "Ayo."


Fiona hanya diam sambil mengikuti langkah Steven dan pak Nurdin, sementara Erick mengikuti dari belakang.


Pak Nurdin berhenti tepat di kamar utama. "Ini kamarnya Tuan. Silahkan masuk, kamarnya sudah dibersihkan."


"Terima kasih."


"Tolong tunjukkan kamar untuk asistenku."


"Baik Tuan," jawab pak Nurdin. "Saya akan meminta istri saya untuk memasak makan malam."


Steven mengangguk. "Kalau begitu saya permisi," pamir Pak Nurdin.


Steven dan Fiona kemudian masuk ke kamar utama setelah Pak Nurdin pergi bersama Erick.


"Duduklah." Steven duduk di tepi tempat tidur sambil menarik tangan Fiona agar duduk di sampingnya.


"Rumah ini milikmu juga?" tanya Fiona.


"Bukan, ini dulunya rumah milik calon mertuaku," jelas Steven.


"Owh, jadi ini rumah mantan kekasihmu? Apa maksudmu mengajakku menginap di sini? Agar kau bisa mengenang masalalumu dengan mantanmu sekaligus untuk pamer denganku?" Wajah Fiona langsung berubah masam. Fiona terlihat salah paham dengan ucapan Steven.

__ADS_1


Steven tersenyum sambil memencet hidung Fiona. "Sakit Steve." Fiona menggosok hidungnya yang memerah.


"Kau cemburu dengan dirimu sendiri?"


"Maksudmu?"


"Kau salah paham. Aku tidak pernah mengatakan kalau ini rumah mantan kekasihku. Aku mengatakan kalau ini rumah calon mertuaku. Kau adalah kekasihku dan itu berati calon mertuaku adalah orang tuanmu," terang Steven secara gamblang.


Fiona langsung tercengang. "Ini rumah orang tuamu. Setelah mereka menikah, mereka tinggal di sini," lanjut Steven lagi.


"Bagaimana bisa kau menemukan rumah orang tuaku?" tanya Fiona dengan wajah terkejut.


"Sudah aku bilang, aku akan mencari tahu apapun yang berhubungan dengan keluargamu."


Fiona langsung menghambur kepelukan Steven. "Terima kasih Steve. Aku tidak tahu lagi bagaimana membalas kebaikanmu."


"Menikahlah denganku, hanya itu yang aku mau."


Fiona langsung mengangguk. "Iyaaa, aku mau." Fiona melepaskan pelukannya lalu kembali duduk.


"Rumah ini sebenarnya sudah dijual oleh tuan Halim atas permintaan ibumu, tapi aku membelinya kembali dari pemilik setelah ibumu dan sudah membalik nama rumah ini atas namamu," ungkap Steven.


"Tapi, beberapa bagian sudah di renovasi dan dirubah oleh pemilik sebelumnya. Hanya tersisa beberapa ruangan yang masih sama saat ibumu masih tinggal di sini. Termasuk kamar ini, masih sama dengan yang dulu, hanya cat dinding yang sudah diganti. Dulunya, kamar ini adalah kamar ibu dan ayahmu," terang Steven.


Setelah membeli kembali rumah orang tua Fiona, dia meminta Pak Nurdin untuk membersihkan rumah tersebut. Pak Nurdin dan istrinya juga bertugas menjaga rumah tersebut.


"Tapi, maaf Fio. Aku tidak bisa menyelematkan barang-barang peninggalan ibumu karena pemilik sebelumnya sudah membuang semuanya," ungkap Steven. Dia nampak merasa bersalah.


Fiona memegang tangan Steven. "Kau tidak perlu minta maaf Steve, ini bukan salahmu," ucap Fiona sambil tersenyum manis. "Aku justru sangat berterima kasih padamu. Kau sudah menemukan makam ayahku dan membeli rumah ini untukku."


Fiona mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut kamar tersebut. "Tapi, ngomong-ngomong. Apakah kita berdua akan tidur di kamar ini?"


Fiona baru menyadari kalau pak Nurdin mengarahkan mereka ke kamar utama tidak menunjukkan kamar lain lagi selain untuk Erick.


"Iyaaa, kamar lain tidak bisa di tempati karena kosong dan tidak ada perbotan sama sekali," terang Steven. "Kenapa?" tanya Steven dengan alis terangkat.


Wajah Fiona menampilkan wajah penuh keraguan. "Tapi, aku takut...."


"Fio, aku tidak akan menyentuhmu, kau bisa pegang janjiku," sela Steven. Dia seolah tahu kalau Fiona apa yang ada dipikiran Fiona.


"Bukan seperti itu maksudku Steve. Aku bukan takut denganmu, tapi aku justru takut dengan diriku sendiri," jelas Fiona cepat.


"Takut kenapa?"


"Apa kau sudah lupa, dulu aku pernah secara tidak sadar memeluk dan menyentuh tubuhmu. Aku takut, kali ini aku akan melakukan hal yang lebih dari itu. Bagaimana kalau aku yang justru menerkanmu tengah malam?"


Fiona kembali teringat saat dia terbangun dengan posisi dia memeluk erat tubuh Steven dan baju Steven yang sudah terbuka. Steven bilang kalau mereka pernah melakukannya tapi Fiona belum percaya sepenuhnya dengan perkataan Steven.


"Kalau itu terjadi, maka kita harus segera menikah," ucap Steven enteng.


Steven terlihat berpikir sesaat sambil menatap ke atas. "Sepertinya itu ide bagus juga. Ibuku pasti akan langsung setuju jika ada anakku di perutmu. Bagaimana menurutmu?"


"Steveeee!! Jangan mengada-ada!" Fiona memukul Steven bertubi-tubi.


"Aku hanya bercanda sayaaaang."


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2