
Sebelum ke kantor, Steven menyempatkan diri ke apartemen Fiona. ada sesuatu yang ingin disampaikan olehnya yang berhubungan dengan persiapan pernikahannya.
Sebenarnya Steven bisa saja menyampaikan melalui telpon, tetapi dia sengaja ingin bertemu langsung dengan calon istrinya karena sudah 2 hari ini di tidak bertemu dengan Fiona.
Mereka memang belum bertemu lagi semenjak mereka berkunjung ke rumah ibu Steven 3 hari yang lalu. Steven disibukkan dengan pekerjaan kantornya yang menumpuk akibat dia tidak bekerja selama 3 hari karena menghadiri pesta pernikahan William.
Ibunya juga meminta Steven untuk menyelesaikan semua pekerjaannya sebelum mereka menikah. Apalagi, salah satu anak perusahaan mereka sedang mengalami masalah.
Steven harus bolak-balik ke dari anak perusahaan ke induk perusahaaan setiap harinya sehingga dia tidak memiliki waktu untuk menemui Fiona. Sementara Fiona, 2 hari ini hanya di apartemen. Meskioun begitu, dia merasa senang karena kemarin Cindy berkunjung ke apartemennya untuk melihat keadaannya.
"Tunggu aku di sini, aku akan menemui Fiona sebentar," perintah Steven sebelum turun dari mobil.
"Baik Tuan."
Steven melangkahkan kaki menuju unit apartemen Fiona. "Apa kau sudah siap?" Steven menghampiri Fiona yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Iyaaa, apa kau sudah sarapan?" tanya Fiona sambil merapihkan penampilannya.
"Belum." Steven duduk di sofa dengan wajah yang nampak lesu. Beberapa hari ini, dia memang tidak tidur dengan benar.
"Tunggu di sini, kita sarapan bersama." Fiona berjalan menuju dapur lalu kembali dengan membawa 2 buah mangkuk dan meletakkannya di atas meja
"Kau memasak?" tanya Steven ketika melihat ada bubur ayam di dalam mangkuk yang dibawa oleh Fiona.
"Iyaaa, makanlah."
Steven tidak berbicara lagi, meraih mangkuk di depannya lalu menghabiskannya tanpa sisa.
"Fio, mama memintaku untuk membawamu ke rumah hari ini untuk memilih cincin," ungkap Steven setelah mereka menyelesaikan sarapan mereka. Ibu Steven sudah menyuruh pemilik dari toko perhiasaan terkenal untuk datang membawa cincin dengan edisi terbatas.
"Bukankah, kau sedang banyak pekerjaan?"
"Iyaaa, masih banyak masalah yang harus aku selesaikan."
"Kalau kau masih banyak pekerjaan, biarkan aku sendiri saja yang ke rumah ibumu."
Hubungan Fiona dan ibumu Steven memang sudah mulai membaik. beberapa kali ibunya menghubungi Fiona untuk meminta pendapatnya mengenai persiapan lamaran yang akan diadakan 4 hari lagi.
"Tidak apa-apa. Aku akan menemanimu. Kau pasti tidak nyaman jika harus berduaan dengan mama."
Steven hanya takut kalau Fiona merasa tertekan pergi dengan ibunya. Bagaimana pun hubungan mereka tidak begitu dekat.
"Baiklah, tapi untuk lamaran, ibumu bilang dia sudah mempersiapkan semuanya." Fiona memandang ragu ke arah Steven.
"Ada apa?" tanya Steven ketika melihat Fiona memandangnya seperti ingin menyampaikan sesuatu.
"Ibumu ingin bertemu dengan ibuku dulu sebelum lamaran dilaksanakan. Bagaimana kalau ibuku mengatakan mengenai keluarg...." Yang ditakutkan oleh Fiona adalah bagaimana kalau Sarah mengatakan mengenai latar belakang keluarganya yang sebenarnya.
Fiona takut kalau ibu Steven akan berubah pikiran lagi setelah tahu kalau Fiona hanyalah anak yatim piatu.
__ADS_1
Steven menggenggam tangan kiri Fiona. "Kau tidak perlu takut. Ibuku tidak akan mempermasalahkan hal itu. Lagi pula, ibumu tidak akan berani mengatakan hal apapun mengenai keluargamu."
Mana mungkin Sarah melewatkan kesempatan ketika Fiona akan dijadikan menantu oleh keluarga paling kaya sekaligus paling dihormati di seluruh negeri. Derajatnya akan naik, seandainya Fiona menjadi istri dari Steven. Jika, dia berulah lagi, dia pasti tidak akan mendapatkan keuntungan apapun nantinya.
Sore harinya, Steven langsung menjemput Fiona di kantornya. "Kak, aku pulang dulu." Fiona sedang berdiri di depan bersama dengan kakaknya ketika melihat Steven turun dari mobil.
"Bilang pada ibumu, kalau kami akan datang berkunjung sebelum hari lamaran tiba. Jangan membuat masalah kalau masih ingin dianggap keluarga oleh Fiona." Lebih baik Steven memperingatkan dari awal dari pada dia membuat kekacauan saat ibunya berkunjung ke rumah Sarah.
"Iyaaa, nanti akan aku sampaikan pada mama."
"Sebelum hari lamaran, bolehkah aku menginap di apartemen Fiona. Aku ingin menghabiskan waktu berdua dengannya sebelum dia menikah."
Bagaimana pun, nanti dia tidak akan leluasa lagi untuk bertemu dengan Fiona jika dia sudah menjadi menantu di keluarga Pradigta.
"Yaaa, tapi aku tidak mengijinkanmu untuk membawanya keluar. Aku tidak mau kejadian waktu itu terulang kembali."
Dalam perjalanan, Steven terlihat memejamkan mata sambil menyandarkan kepalanya di bahu Fiona. Dia merasa sangat lelah karena pekerjaan kantor yang masih menumpuk meskipun dia sudah lembur selama beberapa hari.
"Tuan, kita sudah sampai." Fiona membangunkan Steven yang sempat tertidur di dalam mobil.
"Steve, lebih baik kau mandi dulu." Melihat wajah lesu Steven membuat Fiona merasa kasihan.
"Iyaaa, aku akan menemanimu sebentar setelah itu aku akan mandi." Steven mengajak Fiona langsung ke ruangan keluarga.
"Ma," sapa Steven.
Ibu Steven mengangkat kepalanya ketika mendengar suara anaknya. "Kalian duduklah." Ibu Steven terlihat sedang mengobrol dengan seseorang wanita berambut sebahu dengan wajah mungil dan terlihat cantik.
"Ini adalan calon menantuku. Namanya Fiona."
Ibu Steven memperkenalkan Fiona pada wanita pemilik toko perhiasan yang sudah menjadi langganannya. Ibu Steven selalu memesan perhiasan pada di toko wanita itu karena memiliki kualitas paling baik dibandingkan yang lainnya.
"Selamat malam Nona Fiona, namaku Weny," sapa wanita itu ramah.
"Selamat malam Nona Weny."
"Wen, tunjukkan koleksi cincin terbaikmu untuk acalon menantu dan anakku," pinta Ibu Steven.
"Baik Nyonya." Weny mengeluarkan beberapa kota berwarna merah dengan merk terkenal, meletakkan di atas meja, membukanya lalu menjelaskan secara rinci pada Fiona dan Ibu Steven. Sementara Steven tampak fokus pada ponselnya.
"Bagaimana Fio, kau suka yang mana? tanya Ibu Steven setelah Weny selesai menjelaskannya.
Fiona nampak bingung memilih yang mana. Ada sepuluh kotak yang ada di depannya dan semuanya terlihat bagus, selain itu mendengar harganya membuatnya sakit perut.
Dibesarkan dikelaurga berada, membuat Fiona mengetahui kualitas cincin yang ada di depannya tapi baru kali ini, dia tahu harga dari cincin yang memiliki stok terbatas yang biasanya hanya dimiliki oleh orang yang kelebihan uang seperti keluarga Steven.
Fiona menoleh pada Steven untuk meminta pendapatnya. "Sepertinya yang nomor 3 dari sisi kiri itu bagus," tunjuk Steven pada cincin berlian berwarna biru.
"Ini adalah cincin berlian yang saya dapatkan saat saya menghadiri lelang terbesar di negara H. Sebenarnya ini tidak saya jual karena cincin ini hanya ada 1 di dunia, tapi Nyonya Yesinta bilang ingin melihatnya jadi saya membawanya kemari," ungkap Weny.
__ADS_1
"Apa kau akan memberikan padaku jika calon menantuku menginginkannya?" tanya ibu Steven.
Weny berpikir sejenak. "Baiklah, akan saya berikan." Karena Yesinta hanya memiliki satu anak dan itu akan menjadi pernikahan satu-satu dalam keluarga Pradigta, maka dia ingin memberikan yang terbaik untuk pelanggan yang memiliki kartu anggota VIP.
"Baiklah, terima kasih Wen. Cincin itu akan aku hadiahkan untuk calon menantuku sebagai kado pernikahannya.".
"Fio, selain cincin itu, pilihlah yang lain untuk kalian gunakan saat bertukar cincin di acara pernikahan kalian nanti."
Steven menatap ibunya dengan tatapan terkejut. Dia tidak menyangka kalau ibunya akan memberikan hadiah berhaga pada Fiona. Fiona jiga tidak kalah terkejut, sebenarnya dia ingin menolak, tapi dia tidak berani karena takut ibu Steven akan tersinggung nantinya.
Setelah memilih cincin satu lagi, ibu Steven langsung menyelesaikan pembayarannya. Tadinya, Steven yang akan membayarnya tapi ditolak oleh ibunya. Untuk cincin The Graff Blue Diamond Ring dengan berat 26.6 karat di hargai 620 Miliar. Cincin itulah yang akan diberikan oleh ibu Steven untuk Fiona, sementara untuk cincin pernikahan Fiona dan Steven, dihargai 322 Miliar.
"Sayang, aku ke atas dulu. Kau tunggu di sini bersama Mama."
"Iyaaa."
Ibu Steven menoleh pada Fiona. "Sudah malam, menginaplah di sini. Kau bisa tidur di kamar adik Steven atau di kamar tamu."
Berbicara soal adik, hampir saja Fiona melupakan kalau Steven memikiki adik angkat. Fiona belum pernah bertemu ataupun melihat wajah adik angkat Steven. Sudah lama dia ingin menanyakan pada Steven, tapi dia selalu lupa. Yang dia tahu, adik Steven adalah pria.
"Baik Tante."
Selesai mandi, Steven langsung turun ke bawah. "Steve, Fiona akan menginap di sini. Antarkan dia ke kamar Bryan atau ke kamar tamu," titah ibu Steven.
Steven melirik Fiona sejenak lalu beralih menatap ibunya. "Biarkan Fiona tidur di kamarku Ma. Aku akan tidur di kamar Bryan."
"Baiklah, tapi ingat! Jangan macam-macam Steve. Kau tidak boleh...."
"Iyaaa, aku tahu Ma." Steven sudah bisa menebak apa yang akan ibunya katakan.
"Masuklah." Steven membuka pintu kamarnya, mempersilahkan Fiona masuk.
Fiona melangkah dengan pelan sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar. Ini pertama kalinya dia melihat kamar pribadi pria yang dia cintai.
Steven menutup pintunya lalu menghampiri Fiona yang masih tampak memperhatikan kamarnya. "Jadi, begini bentuk kamarmu."
"Iyaaa, kau adalah wanita pertama yang berhasil masuk ke sini," ucap Steven sambil memeluk Fiona dari belakang.
"Benarkah?" Fiona menoleh sedikit ke belakang.
"Tentu saja," jawab Steven cepat, "Aku sudah tidak sabar menunggu hari pernikahan kita tiba sayang," bisik Steven.
"Steve, lepaskan! Apa kau tidak ingat pesan ibumu. Bagaimana kalau ibumu tiba-tiba masuk?"
"Tidak akan sayang. Mama tidak pernah masuk ke kamarku tanpa ijin." Steven mempererat pelukannya. "Biarkan aku memelukmu sebentar, sudah 2 hari aku tidak melihatmu, aku sangat merindukanmu, Fio."
"Kita hanya tidak bertemu selama 2 hari Steve, bagaimana kalau kita tidak bertemu setahun?"
"Mungkin aku bisa gila jika tidak bertemu denganmu selama setahun, maka dari itu jangan pernah tinggalkan aku, Fio."
__ADS_1
Bersambung.....