
"Aku tidak akan memintamu untuk bertanggung jawab meskipun kau menyentuhku. Kalau kau tidak bisa mencintaiku, maka setidaknya berikan aku benihmu." Sera mulai membuka kancing kemeja Steven.
Steven melepaskan tangan Sera dari tubuhnya lalu berbalik menghadap Sera dengan wajah memerah. "Sera, kau jangan gila. Aku tidak mungkin menyentuhmu apalagi memberikan benihku meskipun saat ini aku membutuhkan seseorang untuk menyalurkan hasratku."
Pelukan Sera membuat tubuh Steven bereaksi dengan cepat. "Steve, biarkan aku menjadi penawarmu. Aku tidak akan meminta apapun lagi setelah ini." Sera kembali memeluk tubuh Steven, tapi kali ini dari depan.
Ting...Tong...Terdengar suara bel di kamar Steve.
Steven menoleh ke arah pintu. "Sera, jangan menguji kesabaranku. Yang aku butuhkan bukanlah dirimu, tapi Fiona. Lebih baik kau keluar dari sini sebelum aku menyeretmu keluar dari kamarku." Steven berusaha melepaskan pelukan Sera, tapi tidak bisa.
Sera menggeleng. "Aku tidak mau."
Suara bel terus berbunyi. Steven masih berusaha menahan gejolak hasratnya sekaligus kemarahannya yang sedari tadi dipancing oleh Sera.
"Sera, cepat lepaskan. Aku harus membuka pintu." Sera justru mempererat pelukannya.
Braaaaak.. Pintu terbuka dengan kasar.
Steven dan Sera menoleh seketika ke arah pintu dan melihat Erick dan Fiona sedang berdiri di depan pintu. "Apa yang kau lakukan dengan kekasihku." Fiona terlihat berang ketika melihat Sera memeluk Steven.
"Kenapa kau bisa di sini?" tanya Sera dengan wajah terkejut.
Fiona berjalan cepat lalu memisahkan Sera dari Steven setelah dia berdiri membelakangi Steven. "Seharusnya aku yang bertanya padamu, apa yang kau lakukan di kamar kekasihku?" tanya Fiona dengan tatapan berkilat yang ditujukan pada Sera.
Sera tersenyum sinis. "Aku hanya ingin membantu Steven. Kau adalah pacarnya, ke mana saja kau sedari tadi?"
"Fio, aku...." Belum selesai Steven berbicara. Fiona sudah memotongnya.
"Rick, bawa keluar Nona Sera dari sini. Jangan biarkan dia kembali ke sini lagi," titah Fiona sambil menoleh pada Erick.
Steven tampak tidak berbuat apa-apa. Efek obat tersebut semakin membuatnya tersiksa sehingga dia memilih untuk berjalan ke arah tempat tidur karena dia merasa kepalanya pusing.
"Baik Nona." Erick berjalan menghampiri Sera.
"Mari Nona, silahkah keluar," ujar Erick dengan sopan pada Sera.
"Aku tidak mau," tolak Sera dengan tegas.
Erick maju hendak menyeret Sera keluar, tetapi sudah diberikan ultimatum oleh Sera. "Erick, jangan berani ikut campur urusanku. Kau tidak bisa membawaku keluar dari sini," ujar Sera sebelum Erick menyentuh tangannya.
"Erick, seret Nona Sera keluar sekarang juga." Fiona kembali memberikan perintah pada Erick ketika melihat Sera bersikeras tidak mau keluar dengan cara baik-baik.
Erick memgangguk lalu menarik tangan Sera. "Fiona, berani sekali kau mengusirku dari sini. Lihat saja nanti, aku pasti akan membalasmu!" teriak Sera dengan suara keras.
Fiona tampak memandang acuh Sera yang terus berteriak memakinya hingga suaranya menghilang dibalik pintu yang sudah tertutup. Setelah kepergian Sera, Fiona langsung berbalik menghampiri Steven.
"Fio, aku bisa jelaskan. Semua tidak seperti yang kau lihat. Tadi Sera yang langsung memelukku."
__ADS_1
Fiona duduk di samping Steven dengan jarak dekat. "Aku tahu, kau tidak mungkin menghianatiku. Erick bilang ada yang memberikan obat padamu?"
Steven mengangguk. "Iyaaa, aku memintanya untuk memanggil dokter."
Fiona menyeka keringat Steven yang ada di wajah tampannya. "Erick bilang dokter sedang menangani pasien yang sedang terkena serang jantung. Mereka belum bisa datang kemari saat ini," terang Fiona.
Steven menghela napas dengan kasar. "Baiklah, biar aku yang mengatasinya sendiri. Kembalilah ke kamarmu."
Ketika Steven mengirimkan pesan pada Erick untuk membawa dokter untuk mengurangi efek obantnya, Erick langsung bergegas, tapi tidak bisa membawanya karena ada pasien darurat. Erick akhirnya memutuskan untuk ke kamar Fiona dan membangunkannya.
Erick sempat merasa heran karena Fiona tidak kunjung bangun meskipun dia sudah memanggilnya berapa kali. Erick memutuskan untuk mengguncang tubuh Fiona hingga akhinya Fiona membuka matanya.
Menurut penuturan Fiona, dia jatuh pingsan setelah ada yang memukul tengkuknya dari belakang. Fiona tidak sempat melihat wajahnya karena saat itu dia sedang menghadap ke belakang. Fiona juga tidak tahu, bagaimana dia bisa berada di kamarnya setelah jatuh pingsan.
Fiona tidak tega melihat Steven yang nampak sedang sedang tersiksa menahan hasrat laki-lakinya. "Steve, apa kau yakin bisa mengatasinya sendiri?"
"Iyaa, aku pernah mengalami hal seperti ini dulu. Kau tenang saja, ini bukanlah hal baru bagiku. Sudah banyak yang berusaha menjebakku dengan cara seperti ini."
Meskipun Steven sudah berkali-kali mengalami hal itu, tapi dia merasa kali ini lebih sulit mengendalikan diri. Obat yang dia minum efeknya lebih kuat dibandingan yang dulu.
Steven mulai membuka kemejanya yang sudah basah oleh keringat. "Fio, tolong ambilkan bajuku di lemari."
Fiona langsung bergegas mengambil baju Steven lalu memberikannya. "Aku akan berendam untuk mengurangi efek obatnya, kau kembalilah ke kamarmu." Napas Steven terdengar kasar dan wajahnya sangat merah.
"Tidak, aku akan menemanimu di sini malam ini," tolak Fiona cepat.
Steven yang baru saja akan berdiri seketika menatap pasrah pada kekasihnya. "Fio, aku bukannya tidak ingin ditemani olehmu di sini. Hanya saja waktunya tidak tepat. Aku takut tidak bisa menahan diriku dan pada akhirnya aku menyentuhmu nanti."
"Aku akan berendam. Meskipun cara ini tidak selalu efektif dan akan membuatku tersiksa, tapi itu lebih baik dari pada aku menyalurkannya pada seseorang."
Fiona menatap sedih pada Steven. "Maafkan aku Steve, aku ingin sekali membantumu tapi...." Fiona menunduk karena merasa bersalah tidak bisa membantu Steven.
Steven berdiri lalu membungkuk mencium pucuk kepala Fiona. "Ini bukan salahmu. Ini adalah salahku karena tidak berhati-hati. Jangan menyalahkan dirimu."
Steven berusaha menguasai dirinya yang mulai hilang akal ketika mencium aroma tubuh Fiona dari dekat. Steven memutuskan berjalan ke arah kamar mandi.
"Steve, apa kau sungguh tidak butuh bantuanku?" tanya Fiona lagi sebelum Steven masuk ke dalam kamar mandi. Dia bisa merasakan napas panas Steven ketika dia mencium pucuk kepalanya.
"Aku bisa mengatasinya sendiri." Steven melangkah masuk lalu menutup pintu kamar mandi.
Satu jam sudah berlalu, tetapi Steven tak kunjung keluar dari kamar mandi. Fiona memutuskan untuk menyusul Steven ke kamar mandi.
Fiona terkejut saat melihat Steven masih berendam dengan wajah tidak berdaya. "Steve, keluarlah. Kau bisa sakit jika terus berendam di dalam air dalam waktu yang lama."
"Kenapa kau ke sini? Keluarlah. Aku harus tetap berendam untuk mengurangi efek obat ini."
Fiona merasa tidak tega melihat kondisi Steven yang memprihatinkan. Wajahnya sudah memerah seperti kepiting rebus, suaranya juga sudah serak dan parau, tatapannya sendu dan kulitnya sudah mengeriput karena terlalu lama berendam di dalam air.
__ADS_1
"Keluarlah, kita akan mencari cara lain untuk mengatasi efek obatnya." Fiona mendekati jacuzzi lalu menarik tangan Steven agar dia berdiri.
Steven terlihat tidak menolak lagi. "Baiklah, tunggu di luar, aku akan melepaskan pakaianku." Steven memang berendam dengan pakaian yang masih lengkap.
"Baiklah." Fiona berjalan kelaur lalu menutup pintu.
Beberapa saat kemudian Steven keluar dengan mengunakan handuk yang melilit pinggangnya. Steven menuju lemari lalu memgambil celana kemudian kembali ke kamar mandi untuk memakainya.
"Fio, lebih baik kau kembali ke kamarmu. Sepertinya efek obat ini tidak berkurang sedikit pun." Steven berjalan ke arah tempat tidur dengan bertelanjang dada. Dia masih merasa tubuhnya panas sehingga memutuskan untuk tidak memakai baju.
"Tapi bagaimana denganmu?" tanya Fiona ketika melihat Steven sudah duduk di depannya.
"Aku akan menahannya."
"Bagaimana kalau kau tidak bisa?" Fiona hanya takut Steven akan menyentuh wanita lain setelah kepergiannya.
Steven terdiam sejenak. "Steve, kalau memang satu-satunya cara mengatasi masalah ini hanya dengan menyalurkannya, maka aku bersedia membantumu."
Keputusan yang baru saja Fiona ambil sangatlah sulit baginya. Dia sebenarnya tidak ingin melakukannya sebelum menikah, tetapi dia terpaksa karena tidak mau kalau sampai nanti Sera mengambil kesempatan ini untuk menjerat Steven dan memisahkan mereka berdua.
Fiona yakin Sera pasti akan melakukan berbagai cara untuk mendapatkan Steven apalagi kesempatan tersebut sudah di depan matanya. Bukan tidak mungkin kalau Sera akan kembali ke kamar Steven jika dirinya kembali ke kamarnya sendiri.
Mata Steven membesar, dia tidak menyangka kalau Fiona akhirnya mau membantunya. "Fio, jangan memaksakan dirimu. Aku sungguh bisa mengatasinya."
"Steve, kita tidak punya pilihan lain lagi. Aku tidak bisa melihatmu tersiksa."
Steven memang sedari tadi mati-matian menahan hasratnya agar tidak menyentuhmu Fiona. Untung saja akal sehatnya masih bisa berpikir jernih sehingga dia masih bisa menahan dirinya.
"Apa kau yakin dengan keputusanmu?"
Fiona mengangguk. "Aku yakin." Fiona mendekatkan wajahnya pada Steven lalu mengecup singkat bibir Steven.
Sentuhan lembut pada bibirnya membuat Steven tidak bisa menahan diri lagi. Steven lalu meraih kepala Fiona dan melu*mat bibirnya dengan rakus. Fiona meremas tangan Steven ketika Steven sudah menguasai bibirnya dan menyapu bersih rongga mulutnya.
Steven menyudahi pagutannya lalu menatap Fiona. "Maafkan aku Fio, seharusnya aku tetap menjagamu bukan malah memanfaatkanmu di saat seperti ini." Steven nampak merasa bersalah.
"Steve, aku tahu kau adalah pria yang baik. Kita tidak punya pilihan lain lagi. Lebih baik kau menyentuhku dari pada wanita lain."
Steven memandang wajah Fiona sukup lama. "Fio, aku tanya sekali lagi, apa kau yakin tidak menyesali keputusanmu saat ini? Kau masih bisa berubah pikiran sebelum aku memulainya," tanya Steven Steven ketika sudah membaringkan Fiona ke tempat tidur.
"Aku sudah memikirkannya Steve."
"Aku tidak akan bisa berhenti jika sudah memulainya, jadi pikirkan sekali lagi Fio." Steven menatap serius pada Fiona yang sudah berada di bawahnya.
"Iyaa, aku tahu. Aku hanya minta jangan pernah tinggalkan aku setelah ini."
"Itu tidak akan terjadi. Aku akan langsung menikahmu setelah kita pulang dari sini."
__ADS_1
Melihat anggukan dari Fiona, Steven kembali menyatukan bibir mereka berdua dan mulai menjelajahi leher Fiona.
Bersambung...