
Fiona memegang pipinya lalu menatap berani pada ibunya. "Tapi, sayangnya papa memberikannya padaku, Ma. Itu berarti itu adalah milikku. Jika, mama menginginkan semua warisanku, akan kuberikan dengan suka rela tapi dengan syarat. Jangan pernah menghalangi hubunganku dengan Steven dan jangan pernah ikut campur dengan urusan kami lagi," ucap Fiona dengan tegas.
"Kaaau....!!" Sarah kembali mengangkat tangannya yang bergetar karena terlalu marah setelah mendengar ucapan Fiona yang berani menentangnya.
Fiona kemudian maju. "Kenapa berhenti, Ma? Mama mau menampar aku lagi, kan?" ujar Fiona dengan suara bergetar. "Tidak cukupkah selama ini mama memperlakukan aku dengan semena-semena?"
Sarah menurunkan tangannya dan menatap marah pada Fiona. "Jangan membuat mama marah Fiona. Kau sudah berani menentang mama rupanya. Harta itu bukan milikmu. Kau tidak berhak sama sekali dengan harta warisan yang ditinggalkan oleh papamu. Seharusnya itu milik Cindy. Kau sudah merampas semua miliknya."
"Mendiang papa yang memberikan padaku, bukan aku yang memintanya, jadi aku tidak merampas apapun milik kakak," ucap Fiona dengan berani.
"Kau kira kau berhak atas harta warisan itu?" Sarah tersenyum sinis. "Kau bahkan tidak berhak untuk tinggal di sini bersama kami apalagi memanggilku mama."
"Aku adalah anak Mama, tentu saja aku berhak," jawab Fiona dengan berani. "Masalah harta warisan juga bukan kesalahanku. Aku tidak pernah menuntut apapun dari papa. Dia yang memberikan suka rela padaku," ujar Fiona lantang sambil menatap ibunya.
"Jadi, kalau mama menginginkan harta warisanku, mama harus menyetujui persyaratanku. Aku berikan harta itu, tapi mama tidak boleh ikut campur lagi dengan urusanku dengan Steven. Kalau tidak, aku tidak akan memberikan sepersen pun pada mama."
Entah keberanian itu dia dapat dari mana sehingga dia dengan berani mengatakan semua yang dia pendam selama ini.
Sarah terlihat menatap tidak suka pada Fiona. "Dasar anak tidak tahu diri. Seharusnya kau berterima kasih pada mama karena mama sudah merawat dan membesarkanmu. Inikah balasannya atas apa yang sudah mama lakukan untukmu?"
"Itu adalah kewajibanmu, Ma. Aku tidak pernah minta dilahirkan olehmu. Kau yang membawaku ke dunia ini, jadi kau harus bertanggung jawab penuh padaku, bukan justru mengabaikanku," jawab Fiona dengan tegas.
"Kewajibanku kau bilang?" Sarah terlihat tidak terima dengan ucapan Fiona. "Kau salah Fiona, mama tidak memiliki kewajiban apapun terhadapmu, itu adalah kewajiban papamu, bukan mama."
"Bukankah itu juga menjadi kewajibanmu sebagai ibuku karena papa sudah tidak ada?"
Sarah menampilkan wajah jijiknya. "Kau terlalu percaya diri Fiona, asal kau tahu, kau bukanlah anakku, jadi bagaimana bisa aku memiliki kewajiban terhadapmu. Kau hanya anak dari seorang pelakor. Kita tidak memiliki hubungan darah apapun."
Bola mata Fiona membulat sempurna. "Apa maksud mama? Aku anak siapa? Bukankah kau ibuku? Bagaimana bisa, aku bukan anakmu, Ma?" cecar Fiona dengan wajah terkejut.
"Kau adalah anak yang lahir dari hasil perselingkuhan antara ibumu dengan suamiku. Aku terpaksa membesarkanmu karena ibumu meninggal tidak lama setelah melahirkanmu.
__ADS_1
Ayahmu membujukku dan memohon padaku untuk mengangkatmu menjadi anak kami dan memasukkanmu ke dalam kartu keluarga karena kau tidak memiliki siapa-siapa lagi dengan perjanjian, ayahmu akan memberikan semua hartanya padaku dan Cindy setelah Cindy dewasa," ungkap Sarah.
Saat itu, Ayah Fiona tiba-tiba membawa pulang seorang bayi mungil dan mengatakan kalau itu adalah anak dari mantan kekasihnya. Sarah yang mendengar hal itu sangat marah dan kecewa. Dia mengira hubungan suaminya dengan mantan kekasihnya sudah berakhir, tapi justru mereka memiliki anak di belakangnnya. Saat itu, mereka hampir saja bercerai karena hal itu.
"Tidak cukup dengan dikhianati oleh ayahmu, tapi aku juga harus merawat dan membesarkan anak dari selingkuhan suamiku. Apa kau tahu bagaimana perasaan mama waktu itu? Cindy masih kecil dan baru berumur 2 tahun tapi mama harus mendapati penghiantan besar papamu dan menerimamu dalan keluargaku."
Fiona berdiri dengan tubuh kaku. Air matanya sudah mengalir deras tanpa bisa dia bendung lagi. "Inikah alasannya, kenapa dari dulu mama tidak pernah menyayangiku? Karena aku bukanlah anak mama?"
"Tentu saja, wanita mana yang mau merawat anak dari wanita yang menjadi selingkuhan suaminya. Apa kau mengerti sekarang kenapa aku bilang kau tidak berhak dengan harta warisan itu? Karena dari awal memang seharusnya itu milikku dan Cindy. Kau hanya anak haram Fiona."
"Tapi, kenapa mama tidak pernah bilang selama ini? Kenapa menyembunyikan dariku?" tanya Fiona dengan suara bergetar.
"Karena ayahmu memintaku berjanji untuk tidak mengungkit hal ini. Kalau sampai aku mengatakan yang sebenarnya, ayahmu mengancam tidak akan memberikan apapun pada mama, tapi lihat sekarang, papamu kembali mengkhianti mama. Dia tidak menepati janjinya pada mama untuk memberikan semua hartanya pada Cindy dan mama. Bukankah wajar kalau mama mengambil apa yang seharusnya menjadi milik mama dan Cindy?"
Fiona menghapus air mata yang sedari tadi mengalir di pipinya yang mulai memerah. "Tapi, itu bukan salahku, Ma. Tidak seharusnya mama membenciku. Itu kesalahan orang tuaku. Kalau bisa memilih, aku juga tidak mau dilahirkan dengan cara seperti itu," ucap Fiona dengan wajah sedih dan air mata yang berlinang.
"Kau tidak akan mengerti bagaimana perasaan mama setiap melihat wajahmu. Mama selalu teringat tentang penghianatan papamu dan ibumu," ungkap Sarah.
"Mama tidak bisa melimpahkan kesalahan orang tuanku kepadaku, Ma."
"Meski begitu, aku juga anak papa, Ma. Aku berhak tinggal di sini."
"Tapi, kau tidak berhak untuk menerima harta warisan suamiku, jadi kalau tidak mau mama mendepakmu keluar dari rumah ini tanpa membawa apapun, sebaiknya kau tanda tangani surat perjanjian yang sudah mama buat," ucap Sara dengan angkuh.
"Surat perjanjian apa, Ma?" tanya Fiona dengan suara pelan.
"Surat perjanjian peralihan harta warisan. Kau tidak bisa bernegoisasi dengan mama karena harta itu bukan milikmu."
Fiona terdiam, kenyataan yang baru saja terungkap membuatnya sangat terpukul. "Dan, untuk masalah Steven. Kalau mama memberitahunya mengenai indentitasmu yang sebenarnya, menurutmu apa dia masih mau bersamamu?" tanya Sarah dengan senyum mengejek.
"Kalaupun dia mau menerimamu, bagaimana dengan orang tuanya? Apa kau pikir mereka mau memiliki menantu yang memiliki latar belakang sepertimu? Bagaimana juga tanggapan orang-orang yang mengenal kalau sampai mama beberkan masalah ini?"
__ADS_1
Fiona masih terdiam. Dia tidak bisa membalas ucapan Sarah karena hal itu mungkin saja terjadi. "Ma, tolong jangan beritahumu, Steven Ma. Aku mohon. Aku tidak peduli dengan yang lain, asalkan jangan beritahu Steven." Fiona berlutut di kaki ibunya sambil memegang kakinya.
Sarah memandang Fiona dengan jijik. "Kalau begitu, turuti semua perkataan mama. Putuskan hubunganmu dengannya dan jangan pernah bertemu dengannya lagi. Mulai sekarang, jangan pernah membantah mama kalau kau tidak mau mama usir dari sini dan tidak mau masalalumu mama ungkap, bagaimana? Apa kau mau melakukannya?" tanya Sarah sambil menunduk, menatap Fiona.
Fiona berpikir sejenak. "Iyaaaa, Ma. Aku akan melakukannya tapi aku tidak mau menikah dengan James."
"Baiklah, kau bisa menikah dengan Leon nanti. Setelah menikah kau harus pergi dari negara ini bersama Leon. Mama sendiri yang akan mengatakan pada Leon nanti."
"Iyaa, Ma."
"Bangunlah." Fiona bangun dan mengusap air matanya.
"Kau tunggu di sini. Mama akan mengambil surat perjanjiannya dulu."
"Iyaaa, Ma." Sarah berjalan keluar dengan wajah angkuhnya.
Beberapa saat kemudian, Sarah kembali membawa kertas putih dan menyodorkan pada Fiona. "Tanda tangani surat perjanjian ini."
Fiona terdiam sesat. "Tunggu apalagi? Cepat tanda tangani," ujar Sarah dengan suara yang meninggi.
"Iyaaa, Ma." Fiona meraih surat penjanjian itu lalu menandatanginya.
"Ini, Ma." Fiona menyerahkan kembali surat perjanjian itu pada Sarah.
"Bagus." Sarah tampak tersenyum lebar setelah melihat surat perjanjian yang sudah ditanda tangani oleh Fiona.
"Kalau begitu mama ke bawah dulu untuk menemui Steven. Jangan berani-berani kau turun ke bawah untuk menemuinya."
"Iyaaa, Ma."
Sarah keluar dari ruangan itu lalu mengunci pintu kamar itu lagi.
__ADS_1
Maafkan aku, Steve. Terima kasih karena selama ini, kau sudah baik padaku.
Bersambung....