Goresan Luka di Hati Fiona

Goresan Luka di Hati Fiona
Mengabadikan Moment


__ADS_3

Steven dan Fiona sedang berjalan ke arah pintu keluar bandara, sementara di belakang mereka berdua, sudah ada Erik dan Doni yang sedang menyeret koper milik Steven dan Fiona serta milik mereka.


Pagi itu, mereka baru saja tiba di bandara negara yang terkenal dengan menara yang menjulang tinggi. Negara itu akan menjadi tempat berbulan madu yang mereka kunjungi pertama kali. Tadinya, mereka akan pergi ke negara dengan pemandangan pantai paling indah di dunia, tetapi tidak jadi karena berbagai pertimbangan.


Akhirnya Steven memutuskan untuk mengajak istrinya ke negara yang terkenal keindahan dan keromantisannya. Di negara tersebut terdapat kota yang sering disebut dengan kota cinta. Rencana mereka hanya bermalam 3 saja di sana setelah itu mereka akan menjelajai negara tetangga lainnya.


Fiona terlihat sangat lelah setelah menempuh perjalanan udara selama 17 jam lamanya. Setibanya di depan pintu keluar bandara, sudah ada mobil hotel yang akan menjemput mereka.


Sebenarnya, Steven memiliki kerabat di negara tersebut, bahkan mereka sudah menawarkan untuk menginap di rumah mereka, tetapi ditolak oleh Steven karena dia tidak ingin membuat istrinya tidak nyaman.


Steven akhirnya memilih lokasi hotel yang tepat berada di dekat lokasi menara yang paling terkenal di dunia itu. Setibnya di hotel, Steven menyuruh Erick untuk memesan 3 kamar, 2 kamar untuk Erick dan Doni dan satu lagi untuk Steven dan Fiona.


Harga kamar yang akan ditempati oleh Steven mencapai 412 juta per malam. View yang langsung tertuju pada menara itu membuatnya harus merogoh kocek yang dalam. Meskipun harga hotel itu sangat mahal, tapi tidak berpengaruh sedikit pun untuk Steven yang memiliki kekayaan yang fantastis.


Setelah menerima kunci, Erik dan Doni mengantarkan barang milik bos mereka terlebih dahulu, setelah itu baru mereka pergi kamar masing-masing. Begitu juga Fiona, dia langsung masuk ke kamar setelah Steven membuka pintu kamarnya dan langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur karena merasa sangat lelah.


"Apa kau lelah sayang?" Steven menghampiri istrinya lalu duduk di sampingnya dengan tangan terulur ke arah wajah istrinya.


"Iyaaa, lelah sekali," jawab Fiona sambil melirik sekilas pada Steven yang sedang mengusap lembut wajahnya.


Melihat Fiona mulai memejamkan matanya, Steven ikut merebahkan tubuhnya di samping Fiona. "Baiklah, kita istirahat saja dulu, nanti malam kita baru berkeliling." Steven meraih tubuh Fiona lalu memeluknya dari depan.


Malam harinya, Fiona berdiri di balkon kamarnya sambik memandangi menara yang terlihat jelas dari kamarnya. "Kau sedang apa sayang?" Steven yang baru saja mandi, menghampiri istrinya yang sedang menatap lurus ke depan.


Fiona menoleh pada Steven yang sudah memeluknya dari belakang. "Lihatlah Steve, pemandangannya indah sekali. Aku ingin ke sana," tunjuk Fiona dengan antusias dan wajah bersemangat.


Steven meletakkan dagunya di atas kepala istrinya lalu ikut menatap menara yang berada jauh di depan mereka. "Besok saja sayaaang, kau bilang tadi masih lelah."


"Tidak mau, aku ingin malam ini. Besok juga kita akan mengunjungi tempat lain." Fiona kemudian memutar tubuhnya menghadap Steven. "Suamiku, temani aku kesana ya?" rayu Fiona suara manja sambil mengalungkan tangannya ke leher suaminya.


Steven pura-pura menampilkan wajah tanpa minat. "Steve," rengek Fiona.


Steven tersenyum sambil menunduk menatap istrinya. "Kau akan memberikan aku apa, jika aku mau menemanimu ke sana?"

__ADS_1


Fiona menghela napas pelan, menarik tengkuk Steven lalu melu*mar bibir suaminya dengan lembut, tentu saja hal itu langsung disambut dengan senang hati oleh Steven. Tangannya mulai merapatkan tubuh mereka berdua, membawa tubuh Fiona untuk masuk ke dalam kamar tanpa melepas pagutan mereka.


Lama-kelamaan ciuman mereka semakin menuntut, Steven melepaskan pagutan mereka dengan segera lalu mengusap bibir istrinya sambil menatapnya. "Kita lanjutkan lagi nanti malam."


Wajah Fiona memerah. "Sekarang ganti bajumu, ganti dengan pakaian hangat, udara di luar dingin." Steven berjalan menuju balkon dan menutup pintu, sementara Fiona berjalan ke arah koper miliknya yang sudah terbuka. Karena di negara itu sedang masa peralihan dari musin gugur ke musim dingin sehingga temperatur suhu di negara itu rendah.


Setelah memakai baju hangat, Steven mengajak Fiona untuk jalan-jalan ke sekitar menara yang terkenal keindahannya saat malam hari. Tentu saja mereka diikuti oleh kedua pengawal setia mereka dari kejauhan.


Fiona nampak sangat bahagia bisa melihat langsung menara yang sangat terkenal di dunia tersebut. Selama ini, dia ingin sekali pergi ke negara tersebut, tetapi tidak pernah diijinkan oleh ibunya, padahal ibunya sendiri sudah ke sana bersama dengan Cindy tanpa mengajaknya. Fiona memang tidak pernah diijinkan untuk berlibur keluar negeri kecuali negeri yang dekat seperti negeri tetangga.


"Steve, ayo berfoto di sini." Fiona menarik tangan Steven untuk berdiri di sampingnya dengan latar belakang menara indah itu.


"Kau saja sayang, biar aku yang memotretmu." Steven memang tidak terlalu suka dirinya di foto jika bukan untuk urusan bisnis dan hal yang berhubungan dengan urusan pekerjaannya.


"Sebentar saja, biar kita memiliki kenangan di sini, ayoolah Steve," bujuk Fiona dengan wajah memohon.


"Aku tidak suka di foto sayang, apalagi di tempat ramai seperti ini," tolak Steven lembut.


Wajah Fiona langsung berubah menjadi masam. "Jadi kau tidak mau berfoto denganku?"


"Yaa sudah kalau kau tidak mau, aku akan berfoto dengan pria lain saja." Dengan wajah kesal, Fiona berbalik meninggalkan Steven.


Mendengar perkataan Fiona, seketika Steven merasa emosi, dia melangkah cepat menyusul Fiona. "Fiona tunggu!"


Steven meraih tangan Fiona untuk menghentikan langkahnya. "Kau sungguh ingin berfoto dengan pria lain?" tanya Steven dengan wajah mengeras, dari kejauhan Doni dan Erick nampak memandang ke arah Steven dan Fiona yang sedang berdebat.


"Fionaaa, jawab aku!" Suara Steven mulai meninggi saat melihat Fiona hanya diam dan justru mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Aku mau pulang," jawab Fiona tanpa menatap suaminya.


Steven menghela napas untuk menekan emosinya. "Maafkan aku," ucap Steven sambil memeluk Fiona. Seketika dia merasa bersalah pada istrinya sudah berucap dnegan nada tinggi. "Ayoo kita berfoto. Kita buat banyak kenangan di sini." Mau tidak mau dia harus mengalah pada istrinya saat melihat wajah kecewa istrinya.


Fiona melepaskan pelukan Steven dan langsung tersenyum lebar. "Benarkah kau mau foto di sini?" tanya Fiona dengan mata berbinar.

__ADS_1


"Kau mengerjaiku yaaa?" Steven memencet hidung Fiona hingga memerah. Ternyata Fiona hanya berpura-pura sedih dan marah untuk mengerjainya.


"Siapa suruh kau tidak mau berfoto dengannku," balas Fiona dengan wajah acuh tak acuh.


Steven meraih wajah istrinya, mencium bibirnya secara tiba-tiba lalu menggigit bibirnya dengan lembut setelah itu melepasnya. "Steveee, kenapa kau menciumku di sini?" Fiona mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya memastikan tidak ada yang melihat ke arah mereka.


Steven terkekeh melihat wajah memerah Fiona. "Itu hanya hukuman kecil bagimu karena sudah berani mengerjaiku, sesampainya di hotel, kau harus bersiap menerima hukuman yang sesungguhnya."


Fiona merinding saat melihat senyum misterius suaminya. Tentu saja dia mengerti maksud dari perkataan Steven. "Maaf suamiku, aku hanya bercanda. Jangan marah yaa? Bagaimana kalau kita makan malam romantis malam ini?" bujuk Fiona.


Bagaimana pun caranya, dia harus menenangkan hati Steven sebelum kembali ke hotel, jika tidak, bisa dipastikan kalau dirinya tidak akan tidur sampai pagi.


"Tidak usah sayaang, kau bilang ingin berfoto di sini. Kalau begitu ayo kita buat kenangan yang tidak terlupakan."


Steven menarik tangan istrinya ke tempat Fiona mengajaknya berfoto tadi setelah itu meminta Erick untuk memfoto mereka berdua.


"Erick, foto yang bagus, jika tidak, aku akan mengurangi bonusmu bulan ini," ancam Steven setelah memberikan ponselnya pada Erick.


"Baik, Tuan." Dalam hatinya, Erick sedang mengutuk bosnya yang sering seenaknya saja.


"Sayaang, pose yang benar. Kau bilang ingin membuat kenangan indah di sini," ucap Steven sambil berhadapan dengan Fiona.


Seketika Fiona merasa tidak percaya diri. "Tapi aku malu," jawab Fiona.


"Jangan pedulikan yang lain, lihat dan ikut arahanku." Sekarang justru Steven yang nampak sangat bersemangat. Dia sangat pandai berpose di depan kamera. Hasil fotonya pun bagus-bagus seperti model profesional.


Selesai berfoto, Fiona melihat hasil jepretan Erick. Foto pertama, terlihat Steven dan Fiona berdiri saling berhadapan dan saling pandang sambil tersenyum bahagia. Hasilnya bagus. Foto kedua, terlihat Steven menunduk sambil mencium bibir Fiona. Hasilnya juga bagus.


Foto ketiga, Steven memeluk Fiona dari belakang sambil menunduk sementara Fiona sedikit mendongak ke atas menatap Steven sambil tersenyum bahagia. Fiona terus melihat hasil foto yang diabadikan oleh Erick dan semua hasilnya bagus.


"Aku akan menambahkan bonus untukmu," ucap Steven ketika melihat istrinya sangat senang dengan hasil fotonya.


"Terima kasih, Tuan."

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2