
"Kita, mau ke mana?" Fiona menoleh pada Steven yang terlihat sedang fokus pada layar ponselnya
Seketika mengalihkan pandangannya kepada Fiona. "Ke mansionku," jawab Steven sambil menoleh pada Fiona.
"Steve, mama...."
"Dia bukan ibumu," potong Steven cepat.
"Iyaa, aku tahu, tapi bagaimana pun dia sudah merawat dan membesarkan aku. Setidaknya, dia masih berbaik hati merawatku yang bukan anaknya. Aku akan tetap menganggapnya seperti ibuku, meskipun dia tidak pernah menyayangiku," ucap Fiona dengan suara pelan.
Selama ini, dia memang sering berpikir, mungkin dia bukan anak kandung dari ibunya, melihat bagaimana perlakukan berbeda ibunya terhadap dia dan Cindy. Ibunya sangat menyayangi Cindy, berbeda dengannya. Ibunya tidak pernah menujukkan kasih sayangnya, meskipun hanya sedikit saja. Fiona pernah bertanya langsung pada ayahnya kemungkinan kalau dia bukan anak dari mereka, tapi ayahnya langsung menyangkalnya. Fiona tidak berani bertanya pada ibunya karena takut ibunya marah.
"Itu karena paksaan dari Tuan Halim, jika tidak, mana mungkin dia mau merawatmu dan membesarkanmu."
Fiona menunduk dengan wajah sedih. "Steve," panggil Fiona.
Steven menatap Fiona yang terlihat ingin menyampaikan sesuatu tapi dia ragu. "Ada apa?"
"Dari mana kau tahu kalau mama bukan ibu kandungku?Apa dia yang menceritakan padamu?"
"Tidak. Aku menyuruh Erick untuk menyelidikimu saat pertama kali kita bertemu," jawab Steven.
Mata Fiona membesar. "Kenapa kau bisa meminta Erick untuk menyelidiku?" tanya Fiona dengan wajah heran.
"Aku hanya ingin tahu. Sangat aneh bagiku melihat seorang ibu memperlakukan anaknya dengan kasar disaat kalian sedang berduka. Apalagi dia tidak hentinya menyalahkanmu atas kematian ayahmu."
"Jadi, kau sudah lama tahu kalau aku bukan anak kandung mama?"
"Hhhmmm," gumam Steven sambil mengangguk.
"Kenapa kau tidak pernah mengatakan padaku?"
"Aku tidak ingin ikut campur masalah keluargamu, tapi makin lama ibumu semakin keterlaluan, jadi aku tidak bisa diam lagi. Aku tidak bisa melihatmu disakiti olehnya," jelas Steven sambil menatap dalam mata Fiona.
"Sudah sampai, Tuan," ucap Erick sambil menoleh ke belakang.
Obrolan Steven dan Fiona seketika berhenti. "Turunlah." Steven membuka pintu mobil lalu turun, begitu pun Fiona.
Semua pengawalnya juga baru saja tiba, mobil mereka berbaris di belakang mobil Steven lalu mereka berkumpul tidak jauh dari Erick.
Steven menoleh pada Erick lau berkata, "Tempatkan 5 pengawal di sini, yang lainnya pulang ke mansion orang tuaku."
"Baik, Tuan"
"Dan, suruh mereka tutup mulut. Jangan sampai ibuku tahu mengenai hal ini," perintah Steven pada Erick.
"Baik, Tuan," ucap Erick sambil mengangguk.
"Apakah Tuan tidak akan pergi ke kantor hari ini?" tanya Erick sebelum Steven masuk ke dalam mansionnya.
__ADS_1
"Aku akan ke kantor setelah berbicara dengan Fiona. Kau bisa menunggu di ruang tamu atau ruang kerjaku."
"Baik, Tuan."
Steven lalu melangkah masuk bersama Fiona. Dia mengantar Fiona menuju kamar tamu yang biasa dipakai olehnya. "Masuklah," ucap Steven setelah membuka pintunya.
Fiona mengangguk, mengikuti langkah Steven dari belakang.
Steven duduk di sofa single yang ada di kamar itu sementara Fiona duduk di tepi tempat tidur. "Sekarang, apa yang ingin kau ketahui? Aku akan menjawab semua pertanyaanmu," ucap Steven sambil menatap Fiona.
"Mama bilang, aku lahir akibat perselingkuhan ibu kandungku dengan papa, apa benar hal itu?" Sebenarnya Fiona merasa sedikit malu membahas hal itu. Baginya itu adalah aib keluarganya, tapi dia ingin memastikan kebenarannya.
"Tidak," jawab Steven singkat.
"Tapi, bagaimana bisa hal itu terjadi? Apa papa memiliki 2 istri saat itu?" Fiona masih belum mengerti sama sekali dengan masa lalu orang tuanya.
Steven menatap Fiona cukup lama. Dia sedang berpikir bagaimana menyampaikan padanya agar dia tidak terlalu terkejut jika mengetahui sebenarnya bahwa dia sudah yatim piatu setelah dia lahir. "Duduklah di sini." Steven menepuk sofa panjang di sampingnya.
Fiona langsung bangun dan duduk di samping Steven. "Kau harus ingat, sebelum aku mengatakan yang sebenarnya, jangan menyalahkan papamu. Dia melakukan hal ini demi dirimu."
Fiona mengangguk dengan cepat.
"Sebenarnya Tuan Halim bukan ayah kandungmu. Ibumu menikah dengan pria lain sehingga lahirlah kau. Ibumu meninggal setelah melahirkanmu dan ayahmu sudah meninggal terlebih dahulu sebelum kau lahir. Sebelum ibumu meninggal, dia meminta Tuan Halim untuk membesarkanmu...." Steven lalu menceritakan semuanya. Mulai dari Tuan Halim menjalin hubungan dengan ibu kandung Fiona sampai akhirnya Fiona dijadikan anak oleh keluarga Tuan Halim.
Fiona nampak sangat terkejut mendengar semua kebenarannya. Beberapa kali Fiona tampak mengajukan pertanyaan pada Steven. Matanya mulai berkaca-kaca ketika Steven sudah selesai menceritakan semuanya. Setelah mengetahui semuanya, perasaan Fiona jadi campur aduk saat ini. "Jadi, selama ini mama tidak tahu hal itu?" tanya Fiona.
Steven mengangguk. "Dia tidak akan mau merawatmu jika tahu kau tidak memiliki hubungan darah apapun dengan Tuan Halim, maka dari itu, Tuan Halim tidak mengatakan yang sebenarnya."
Menurut Fiona, kehidupan Tuan Halim sangat menyedihkan. Dijebak dan dihianati oleh orang yang sama. Belum lagi, dia harus merawat bayi wanita yang dia cintai setelah kepergiannya
Dia tidak pernah berpikir kalau Tuan Halim bukanlah ayah kandungannya. Kasih sayang yang dia dapat dari Tuan Halim sangat melimpah sehingga Fiona tidak pernah curiga sedikit pun.
"Nyonya Sarah bahkan tidak pernah menyesali perbuatannya. Dia adalah wanita yang nekat dan menghalalkan segala cara agar tujuannya tercapai. Dia bisa saja menyingkirkanmu jika kau menghalangi jalannya. Itulah sebabnya aku melarangmu untuk pulang ke sana lagi. Lebih baik, kau hidup mandiri. Jangan kembali lagi ke sana."
Fiona mengahapus air matanya yang sudah menetes mendengar itu. "Ke mana lagi aku harus pergi, Steve? Aku sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi," ucap Fiona dengan wajah sedih.
"Masih ada aku. Aku akan menggantikan ayahmu untuk menjagamu."
Fiona menggeleng sambil menunduk. "Tidak, sebaiknya kau jangan dekat-dekat denganku. Mungkin benar yang dikatakan mama kalau aku ini anak pembawa sial. Buktinya, ayahku meninggal sebelum aku dilahirkan, ibu kandungku meninggal karena melahirkanku, dan papa meninggal saat ingin cepat bertemu denganku. Aku tidak mau terjadi apa-apa juga denganmu karena kau berhubungan denganku."
Steven memiringkan duduknya menghadap Fiona lalu berkata dengan lirih. "Dengar Fiona, di dunia ini tidak ada namanya anak pembawa sial. Semua itu sudah menjadi takdir. Bukan kau yang membuat mereka meninggal."
Fiona kembali terisak. "Kenapa semua orang yang kusayangi meninggalkan aku? Apa sebenarnya salahku?"
Steven berdiri lalu duduk tepat di sebelah Fiona. "Menangislah, jangan ditahan. Aku akan selalu di sisimu dan tidak akan pernah meninggalkanmu," ucap Steven sambil memeluk Fiona.
Fiona tidak menjawab, dia hanya menangis dalam diam, yang terdengar hanyalah suara isakan. Air matanya terus jatuh di pipinya. Puas menangis, Fiona melepaskan pelukan Steven.
"Beristirahatlah. Mulai sekarang kau bisa menempati kamar ini," ujar Steven.
__ADS_1
Fiina menggeleng kuat. "Steve, aku tidak bisa tinggal di sini," ucap Fiona dengan suara pelan.
"Aku tidak mengijinkan untuk pulang ke rumah itu lagi," ucap Steven degan tegas.
"Tapi, aku tidak mungkin tinggal di sini selamanya. Aku rasa tidak pantas kalau aku tinggal di sini."
"Aku akan mencarikanmu tempat tinggal baru, untuk sementara kau tinggal di sini dulu. Lagi pula, aku tidak tinggal di sini, jadi kau bisa dengan leluasa di sini tanpa merasa tergganggu olehku."
"Tapi, Steve, aku sudah menandatangi surat perjanjian dengan mama."
"Surat perjanjian apa?" tanya Steven penasaran.
"Kalau aku akan menikah dengan Leon juga berkas peralihan harta warisanku."
Steven langsung terkejut. Bola matanya sedikit membesar setelah mengetahui itu. "Jadi, kau sungguh ingin menikah dengannya?" tanya Steven dengan nada tinggi.
"Mama memaksaku, Steve," ucap Fiona sambil menunduk.
"Jangan menikah dengannya. Aku yang akan menghadapi ibumu kalau dia berani memaksamu lagi. Masalah harta warisanmu. Aku akan mengambil berkas itu kembali. Akan kupastikan kau mendapatkan semua hakmu."
"Sebenarnya tidak masalah harta itu dimiliki oleh mama. Bagaimana pun dia sudah merawatku selama ini. Anggap saja, itu sebagai balasan karena sudah mau menerimaku dan membesarkanku."
"Aku akan tetap merebutnya. Kau yang berhak mendapatkanya karena itu milik ibumu. Jika nanti, kau ingin memberikannya lagi dengan suka rela, itu terserah padamu, tapi bukan cara seperti ini. Dia harus tahu, tidak semua yang dia inginkan bisa dia miliki."
Sebenarnya perkara uang sangatlah mudah bagi Steven. Dia bisa memberikan lebih banyak untuk Fiona jika dia mau. Hanya saja harta itu milik ibu Fiona jadi dia harus mengembalikan kepada pemilik aslinya.
"Steve, kau sudah terlalu banyak menolongku, aku tidak tahu lagi bagaimana caranya membalas kebaikanmu," ucap Fiona dengan suara pelan seraya menunduk. Fiona merasa malu karena selalu bergantung padanya.
"Sebenarnya ada satu hal yang aku inginkan darimu."
Fiona langsung mengangkat kepalanya menatap Steven dengan wajah penasaran. "Apa?"
Menikahlah denganku, batin Steven. "Nanti, kalau watunya sudah tepat. Aku akan mengatakan keinginanku itu," ucap Steven dengan wajah serius.
"Kenapa harus nanti? Kenapa tidak sekarang?" cecar Fiona.
"Karena aku harus memastikan sesuatu dulu. Aku takut kau tidak bisa memenuhi keinginanku."
"Katakan saja dulu, aku akan berusaha memenuhinya jika memang aku bisa," desak Fiona.
"Aku tidak ingin kau melakukannya karena terpaksa. Aku ingin kau melakukannya karena kau juga menginginkanya."
Alis Fiona saling bertautan. "Kapan kau akan mengatakan keinginanmu?"
"Nanti kita bicara lagi. Aku harus ke kantor." Steven lalu berdiri. "Pulang bekerja, aku akan menjemputmu. Aku akan menelponmu nanti."
"Memangnya kita mau ke mana?"
"Temani aku makan malam di mansion orang tuaku."
__ADS_1
Bersambung...