Goresan Luka di Hati Fiona

Goresan Luka di Hati Fiona
Kepindahan Fiona


__ADS_3

Fiona terus memikirkan ucapan ibu Steven yang dibicarakan siang tadi. Sebenarnya Fona tidak begitu mengerti kenapa ibu Steven mengatakan kalau dirinya pernah membuat Steven terluka. Melihat reaksi dari ibu Steven sepertinya dia tidak akan membiarkan dia tetap berhubungan dengan Steven.


"Fio." Cindy menghampiri meja Fiona ketika jam kantor sudah usai.


"Fiona," panggil Cindy lagi ketika Fiona belum juga meresponnya.


Lamunan Fiona seketika buyar. "Iyaa Kak."


"Apa yang kau pikirkan?" Cindy menatap heran pada Fiona karena sehabis bertemu dengan ibu Steven, ia terlihat sering termenung dan tidak fokus dalam bekerja.


"Apa terjadi sesuatu saat kau berbicara dengan ibu Steven." Cindy mendunga pasti ada hubungannya dengan pertemuan Fiona dengan ibu Steven.


"Tidak apa-apa Kak. Hanya masalah kecil." Fiona menatap pada Cindy. "Apa Kakak akan pulang sekarang?"


"Iyaaa," jawab Cindy sambil mengangguk. "Fiona, mama memintamu pulang. Ada yang ingin dibicarakan padamu."


Fiona yang sedang membereskan barangnya seketika mengangkat kepalanya menatap Cindy. "Aku akan berbicara dengan Steven dulu Kak."


Cindy mengangguk. "Baiklah, kabari saja kapan kau bisa pulang."


"Iyaaa Kak." Fiona mengambil tasnya lalu berdiri. "Ayoo kita pulang," ajak Fiona. Mereka berdua lalu berjalan menuju loby, di sana sudah ada Erick yang menunggu di depan mobil, sementara Steven berada di dalam mobil.


Fiona menoleh pada Cindy. "Kak, aku pulang dulu."


"Iyaaa, hati-hati." Cindy terus menatap kepergian Fiona hingga mobilnya tidak terlihat.


Di dalam mobil, Steven terlihat sedang sibuk dengan ponselnya, sementara Fiona hanya memandang keluar tanpa mengatakan apapun. Sesampainya di apartemen Steven. Steven meminta Erick untuk pulang dan menjemputnya lagi nanti.


"Masuklah." Setelah membuka pintu, Steven menuntun Fiona untuk melihat isi apartemen yang sudah dibersihkan dan dilengkapi dengan segala macam barang.


"Bagaimana?" tanya Steven setelah mereka melihat kamar tidur Fiona. "Bagus, sesuai dengan keinginanku."


"Baguslah kalau kau suka. Semua barangmu sudah dipindahkan juga." Steven menuntun Fiona menuju ruangan santai. "Ini kartu asesnya." Steven menyerahkan kartu pda Fiona untuk masuk ke apartement tersebut. "Pinnya sama dengan kartu yang kuberikan padamu."


Fiona menerima kartu tersebut lalu memeluk Steve tanpa berkata apapun. Steven nampak terkejut, kedua tangannya menggantung di udara. "Apa kau merasa berat kita tidak tinggal bersama lagi?" gurau Steven sambil menyambut pelukan Fiona.


"Kau boleh tetap tinggal bersamaku di mansion, jika kau tidak mau tinggal di sini sendiri," ujar Steven lagi ketika melihat Fiona hanya diam dan justru mempererat pelukannya.


Fiona masih diam. "Fio, kau kenapa?" Steven berusaha melepaskan pelukan Fiona tapi tidak bisa. "Katakan padaku, apa terjadi sesuatu?" Steven menunduk menatap kepala Fiona yang berada di dadanya.


Fiona melonggarkan pelukannya lalu mendongakkan kepalanya menatap Steven. "Steve, apa aku pernah menyakitimu sebelumnya?" tanya Fiona.


"Tentu saja, kau selalu saja berdekatan dengan pria lain, kau menyakiti hatiku kalau begitu," gurau Steven.


Fiona memukul dada Steven dengan pelan. "Aku serius Steve," ucap Fiona dengan wajah kesal.


Steven tersenyum. "Tidak pernah sayaang, tapi kalau kau pergi meninggalkanku begitu saja, itu akan menyakitiku," ucap Steven dengan wajah serius.


Fiona langsung tersenyum. "Aku tidak akan meninggalkanmu. Mulai sekarang aku akan bersikap baik padamu, aku tidak akan pernah menyakitimu."


Steven menatap Fiona dengan tatapan heran. Ada sesuatu yang membuatnya merasa aneh. "Aku akan menemui ibuku nanti dan mengatakan mengenai pernikahan kita. Aku akan berusaha untuk meyakinkannya."


"Bagaimana kalau kita menemui ibumu bersama?" usul Fiona.

__ADS_1


Steven melepaskan tangannya dari pinggang Fiona lalu membelai wajahnya. "Baiklah, kita akan menemuinya bersama di akhir minggu ini."


Fiona berpikir sejenak. "Kalau begitu kita harus mencari sesuatu untuk ibumu. Aku akan berusaha membuatmu ibumu menyukaiku," ucap Fiona sambil tersenyum. "Beritahu aku apa yang paling ibumu sukai?"


Steven merasa tersentuh sekaligus sedih melihat Fiona harus ikut berjuangan meluluhkan hati ibunya. "Tidak perlu membawa apapun untuk ibuku."


Fiona menggeleng. "Setidaknya kita membawa buah tangan untuknya atau aku akan membuatkan sesautu untuk ibumu."


Steven tersenyum. "Baiklah terserah padamu saja."


Steven merapikan ramput Fiona. "Aku harap kau tidak berkecil hati jika nanti mama tidak menyambut kedatanganmu. Mama belum mengenalmu dengan baik, jadi dia mungkin tidak bisa langsung menerimamu. Mungkin saja mama akan mengerluarkan kata-kata yang menyakitkan padamu. Aku minta jangan kau masukkan hati."


Steven hanya tidak ingin kalau Fiona nanti terkejut saat bertemu dengan ibunya. Terkahir kali, ibunya memang masih bersikap baik, tapi melihat ibunya yang tidak menyetujui hubungannya dengan Fiona, membuat Steven berpikir kalau ibunya pasti tidak akan memperlakukan Fiona dengan baik dan akan mengatakan hal-hal yang tidak menyenangkan saat bertemu dengan Fiona.


Fiona berusaha untuk tersenyum. "Kau tenang saja, jangan khawatir. Aku sudah terbiasa mendapatkan perlakuan seperti itu dari mama. Ditambah ibumu, itu tidak akan menjadi masalah bagiku. Aku akan tetap ada di sisimu sampai ibumu merestui kita," ucap Fiona dengan yakin.


Steven langsung membawa Fiona ke dalam pelukannya. "Maafkan aku Fio. Karena aku, kau harus berususah payah hanya untuk mendapatkan restu ibuku. Aku minta jangan pernah lelah denganku dan dengan sikap ibuku. Jangan sampai kau meninggalkan aku hanya karena ibuku tidak merestui kita."


Akan ada masanya seseorang akan menyerah karena tidak mendapatkan hasil apapun setelah melakukan berbagai cara. Itulah yang Steven takutkan kalau suatu saat nanti Fiona memutuskan untuk menyerah dan memilih untuk pergi meninggalkannya.


Fiona mengangguk dalam pelukan Steven. "Iyaa, aku tidak akan meninggalkanmu."


Steven melepaskan pelukannya lalu menuntun Fiona untuk duduk. "Steve, ibuku ingin bertemu denganku," ucap Fiona.


Steven yang baru saja selesai menggulung lengan bajunya langsung mengalihkan pandangannya pada Fiona. "Untuk apa?" tanya Steven dengan dahi mengerut.


"Ada yang ingin dibicarakan padaku," terang Fiona.


"Apa kau ingin menemuinya?"


"Baiklah, tapi aku harus ikut denganmu."


Steven tidak bisa membiarkan Fiona pergi begitu saja menemui Sarah setelah apa yang pernah dia lakukan pada Fiona. Steven takut kalau Sarah melakukan sesuatu pada Fiona nantinya.


Fiona meraih tangan Steven. "Lebih baik jangan, sepertinya ada hal penting yang ingin ibuku bicarakan hanya berdua saja denganku."


"Kalau begitu biarkan Doni ikut denganmu. Dia bisa menjagamu di sana."


"Tapi Steve...."


"Kalau kau tidak ingin aku ikut dan tidak mau ditemani oleh Doni, maka, lebih baik kau tidak pergi. Aku tidak mengijinkanmu pergi sendiri, Fiona," ucap Steven dengan tegas.


"Baiklah, biarkan Doni ikut denganku."


"Kau bahkan lebih memilih ditemani Doni dari pada aku," ucap Steven dengan wajah masam sambil mengalihkan pandangannya ke samping.


"Aku tidak mau merepotkanmu, Steve. Apalagi kau sudah lelah seharian bekerja." Sebenarnya alasan Fiona tidak ingin ditemani Steven adalah karena dia tidak ingin memperkeruh suasana.


Steven melirik dengan enggan. "Jangan terlalu dekat dengan Doni, aku tidak suka."


Fiona mengulum senyumannya. "Iyaaa, aku mengerti."


Steven lalu duduk dengan tegak setelah memeriksa isi ponselnya. Dia baru saja mendapatkan pesan dari seseorang. "Fio, aku harus pulang. Malam ini, aku akan menginap di mansion orang tuaku. Seperti biasa, Doni akan mengantarmu besok pagi ke kantor." Steven berdiri dan diikuti oleh Fiona.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan mengantarmu sampai bawah."


Steven mengangguk lalu berjalan bersama dengan Fiona ke bawah. Sesampainya di bawah sudah ada Erick yang menunggu di loby. "Aku pulang dulu." Steven membelai wajah Fiona sejenak. "Pulang kerja aku akan menjemputmu."


"Iyaa, hati-hati."


Steven mengangguk. "Fio, aku harus pulang."


"Iyaa pulanglah," jawab Fiona enteng.


Steven menghela napas. "Fiona, jangan berani mengerjaiku."


Fiona tersenyum manis. "Aku tidak mengerjaimu," jawab Fiona dengan wajah tanpa beban.


"Bagaimana aku bisa pulang kalau kau tidak mau melepaskan tanganku." Ketika keluar dari lift, Fiona memang mengapit lengan Steven dan belum melepaskannya sampai saat ini.


"Maaf aku lupa." Fiona menampilkan wajah terkejut sambil memandangan ke arah tangannya yang masih mengapit lengan Steven. Padahal Fiona sengaja melakukan untuk mengerjai Steven. "Kalau begitu pulanglah." Fiona terlihat tidak juga melepaskan tangan Steven.


Merasa Fiona sedang mempermainkannya, Steven mengedarkan pandangannya ke sekitar loby kemudian menunduk dan mendekatkan mulutnya ke telinga Fiona.


"Fiona, jangan mempermainkan aku, jika kau masih tidak melepaskan tanganku, maka, aku akan menarikmu lagi masuk ke dalam dan tidak tidak akan pulang malam ini. Apa sebenarnya itu yang kau mau?"


Fiona langsung melepaskan tangan Steven. "Pulanglah, jangan ke mana-mana lagi," ucap Fiona cepat. Dia takut kalau Steven akan melakukan apa yang dia katakan tadi.


Steven menyunggingkan sudut bibirnya sebelah. "Kau sudah berani mengerjaiku ya?" Steven menyentil dahi Fiona.


"Sakiiit Steve." Fiona menunduk sambil mengusap dahinya, dia berpura-pura merasa kesakitan.


"Aku tahu kau hanya berpura-pura." Steven maju tepat di depan Fiona lalu meraih wajah Fiona dengan kedua tangannya dan melihat Fiona sedang tersenyum.


"Ini memang sakit," ucap Fiona sambil menunjuk dahinya.


"Baiklah, aku akan menyembuhkannya." Steven menunduk dan mengecup kening Fiona.


Fiona langsung mendorong tubuh Steven dan melihat ke sekitar. "Steve, kenapa kau menciumku di sini? Apa kau tidak merasa malu dilihat orang lain."


Fiona berusaha menyembunyikan wajahnya karena di loby memang sedang ada beberapa orang yang terlihat menatap ke arah mereka.


"Aku tidak peduli," ucap Steven acuh.


"Cepatlah pulang." Fiona mendiring punggung Steven sampai di depan mobilnya yang terparkir di depan loby.


Steven hanya tersenyum melihat tingkah Fiona. "Baiklah, aku pulang dulu. Jangan merindukan aku," ucap Steven ketika dia sudah berada di depan mobilnya.


"Aku pasti merindukanmu," canda Fiona.


"Kalau begitu aku aku tidak akan pulang," balas Steven sambil tersenyum.


"Sudah pergi sana! Sudah malam."


"Baiklah, aku pulang dulu," ucap Steven sambil mengusap lembut rambut Fiona.


"Iyaa, hati-hati di jalan."

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2