
"PLAAAKKK." Ibu Fiona langsung menampar pipi Fiona dengan keras.
"Berani sekali kau pulang bersamanya setelah kau tidak pulang semalam." Sarah terlihat sangat marah ketika melihat Fiona datang dengan Steven.
Fiona yang tidak menyangka akan mendapatkan tamparan tiba-tiba, langsung menatap tidak percaya pada ibunya sambil memegang pipinya yang memerah dan terasa sakit. "Ma," ucap Fiona dengan suara pelan.
Mata Cindy terbelalak sambil menutup mulutnya yang terbuka dengan kedua tangannya. Sementara rahang Steven terlihat mengeras, urat lehernya tampak menegang. Dia sedang berusaha untuk menahan emosi yang seketika langsung terpancing ketika melihat perlakuan kasar ibunya terhadap Fiona.
"Ma, kita bisa bicara baik-baik." Cindy akhirnya kembai tersadar dari keterkejutannya.
"Diam kau Cindy. Jangan ikut campur," hardik ibunya sambil menoleh pada Cindy.
Cindy langsung merapatkan mulutnya ketika melihat api kemarahan dalam pada sorot mata ibunya. "Ma, dengarkan penjelasanku dulu." Fiona mencoba untuk menenangkan ibunya.
"Kau memang anak tidak tahu diri. Bisanya hanya menyusahkanku dan membuat malu keluarga. Apa kau ingin mencoreng nama baik keluarga kita dengan kelakuanmu?" Sarah menatap marah pada Fiona.
"Ma, aku tidak melakukan apapun. Aku hanya...."
"Hanya apa? Hanya bersenang-senang dengan pria yang tidak jelas asal-usulnya ini?" tuding Sarah sambil menatap Steven dengan wajah meremehkan.
"Ma, namanya Steven. Jangan pernah menyebutnya seperti itu lagi. Mama tidak berhak menghinanya seperti itu," ucap Fiona dengan nada tinggi.
"Kauuuuu... Beraninya membe...." Steven menangkap tangan Sarah ketika ingin menampar Fiona lagi.
Steven menatap ibu Fiona dengan tatapan membunuh. "Jangan menguji kesabaranku. Aku diam bukan berarti aku takut pada Anda, itu karena aku menghormati Anda sebagai ibu Fiona tapi kalau Anda terus bertindak kasar pada Fiona. Aku tidak segan membuat Anda menderita." Steven menghempaskan tangan Sarah dengan kuat
Sarah memegang pergelangan tangannya yang terasa sakit akibat cengkram tangan Steven. "Kau berani sekali melawanku dan berkata seperti itu padaku. Dasar tidak punya sopan santun. Apa orang tuamu tidak pernah mengajarkanmu bagaimana sara berbicara pada orang yang lebih tua?" Urat di wajah dan di leher Sarah terlihat jelas karena dia sedang menahan amarahnya pada Steven.
"Kau harus mengharagai orang lain, kalau kau ingin di hormati." Steven menarik Fiona ke belakangnnya lalu menatap tajam pada Sarah.
"Ini terakhir kalinya, aku melihat Anda menampar Fiona. Jangan pernah lagi Anda berani menyentuhnya sedikit pun."
"Bukan urusanmu. Aku adalah ibunya, terserah aku melakukan apapun padanya. Kau tidak berhak ikut campur dengan urusan keluargaku."
Steven maju selangkah mendekati Sarah. "Apa kau pikir aku tidak tahu siapa Fiona sebenarnya?" ujar Steven dengan suara pelan tanpa didengar oleh Cindy dan Fiona.
"Apa maksudmu?" tanya Sarah dengan wajah terkejut. "Kau menyelidiku keluargaku?" tanya Sarah dengan wajah terkejut.
Steven menyeringai. "Kalau kau tidak mau kehilangan segalanya, maka perlakukan Fiona dengan baik." Steven lalu menjauhkan tubuhnya dari Sarah. "Dan, asal kau tahu, Fiona adalah calon istriku. Aku tidak akan membiarkan siapapun berani menyakiti dia."
Cindy, Fiona dan Sarah terlihat mendengar pengakuan dari Steven. "Apa kau bilang? Calon istri?"
Sarah tertawa mengejek. "Kau jangan bermimpi bisa menikahi Fiona. Sampai kapan pun, aku tidak kan pernah membiakran Fiona menikah dengan pria tidak jelas sepertimu. Pria sepertimu tidak pantas menikahi Fiona."
__ADS_1
Fiona yang sudah tidak tahan mendengar Sarah yang terus merendahkan Steven, berjalan memghampir ibunya. "Sudah cukup, Ma. Ini adalah salahku. Jangan melibatkan Steven lagi."
"Masuk ke dalam," perintah Sarah sambil menuju ke arah pintu rumah mereka.
"Tapi Ma...."
"Apa kau ingin mama menyeretmu masuk ke dalam rumah?"
Steven menunduk menatap Fiona. "Masuklah. Besok aku akan menjemputmu."
Fiona terlihat enggan meninggalkan Steven. "Kau tenang saja. Aku bisa mengatasinya," sambung Steven lagi ketika melihat Fiona menatap cemas padanya.
"Baiklah," ucap Fiona sambil berjalan masuk ke dalam rumah. Sementara Cindy sejak tadi tidak hentinya menatap Steven. Menatapnya penuh arti.
"Aku peringatkan padamu, jangan pernah coba temui Fiona lagi. Apa kau tidak tahu, kalau sebentar lagi dia akan menikah dengan salah satu pengusaha sukses negeri ini?" ujar Sarah dengan nada angkuh.
"Aku tidak peduli mau kau jodohkan Fiona dengan pria mana. Yang terpenting Fiona adalah calon istriku. Tidak akan kubiarkan dia menikah dengan pria lain."
"Coba saja kau hentikan kalau bisa," ucap Sarah sombong. "Lebih baik jangan mempermalukan dirimu sendiri. Kau hanya orang biasa dan tidak pantas dengan Fiona," ucap Sarah dengan wajah mencemooh.
"Kita lihat saja, Anda atau aku yang akan mempermalukan diri sendiri nantinya. Akan kubuat kau berlutut memohon padaku dengan wajah angkuhmu itu."
Sarah tertawa sinis. "Bermimpilah terus. Itu tidak akan pernah terjadi." Sarah menatap jijik pada Steven lalu beralih menatao Cindy. "Lebih baik kau ke kantor Cindy. Untuk apa kau di sini berlama-lama."
Cindy langsung mengalihkan padangannya pada ibunya setelah dari tadi menatap Steven tanpa berkedip. "Baik Ma." Cindy melirik Steven sebentar lalu berjalan menuju mobilnya.
"Aku peringatkan sekali lagi, jangan berani menyentuh Fiona sedikit pun. Kalau sampai aku tahu kau melukainya sedikit saja. Aku akan membuat perhitungan denganmu. Akan kubuat kau tidak memiliki apa-apa dan yang tersisa hanyalah penyesalan semata," ucap Steven dengan tegas.
"Dasar tidak tahu diri. Kau pikir kau siapa berani sekali mengancamku. Dasar pria tidak berguna." Sarah pergi meninggalkan Steven setelah menatapnya dengan wajah mengejek.
Steven terus menatap ke arah rumah Fiona sampai pintu tertutup.
*********
Erick mengikuti langkah Steven masuk ke dalam ruangannya. Dia tidak berani sama sekali membuka mulutnya setelah pergi dari rumah Fiona. Suasana hati Steven sedang tidak baik. Erick memilih untuk diam menunggu Steven memberikan perintah padanya.
Steven baru saja dulu di kursinya dan langsung memberikan perintah pada Erick. "Rick, perintahkan Jorsh untuk mengawasi dan menjaga Fiona di rumahnya mulai sekarang. Suruh dia mengikuti ke mana pun Fiona pergi dan laporkan padaku apapun yang berkaitan dengan Fiona."
Erick membungkuk. "Baik, Tuan."
"Lakukan dengan benar jangan sampai ada yang tahu, termasuk Fiona."
"Baik, Tuan, tapi menurut saya, apa tidak sebaiknya kita mengirim orang lain untuk menjaga Nona Fiona," usul Erick.
__ADS_1
Steven melirik heran pada Erick. "Kenapa?"
"Jorsh terlalu mencolok, mungkin lebih baik Doni," usul Erick.
Jorsh adalah kepala pengawal pribadi Steven sekaligus pengawal terbaik Steven yang dia miliki dan sudah lama mengikutinya. Kemampuannya sudah tidak diragukan lagi. Orang yang pertama kali melihat pasti akan tahu, kalau dirinya adalah seorang pengawal pribadi.
Steven memang memiliki banyak pengawal pribadi yang dia tempatkan di mansion orang tuanya.
"Doni sudah pernah melakukan kesalahan dulu. Aku tidak mau kalau sampai dia melakukan kesalahan lagi saat menjaga Fiona."
Kelalain Doni sebenarnya hanya karena dia menuruti perintah Fiona untuk pulang dan tidak menjaga Fiona seperti yang diperintahkan oleh Steven untuk tetap mengawasinya sampai dia pulang ke rumah sehingga membuat Fiona diantar oleh Leon.
"Tapi dibandingkan pengawal lain, hanya Doni yang tahu mengenai Nona Fiona. Setidaknya Nona Fiona tidak akan merasa canggung bila suatu saat, dia tiba-tiba muncul di depan Nona Fiona untuk melindunginya. Jika kita mengirim orang lain apalagi Jorsh saya takut Nona Fiona justru ketakutan dan salah paham terhadap Jorsh," terang Erick.
Steven terlihat berpikir. "Bagaimana dengan Nick?" usul Steven.
"Dia sedang saya tugaskan untuk menjaga Nyonya."
"Baiklah. Minta Doni untuk menemuiku besok. Dia akan aku tugaskan untuk menjaga Fiona mulai lusa," perintah Steven.
" Baik, Tuan."
Steven yang baru saja membuka ponselnya, seketika teringat sesuatu. "Aku lupa meminta nomor ponsel Fiona. Apa kau memiliki nomornya?"
"Sebentar, Tuan." Erick mengeluarkan ponsel dari sakunya lalu mengecek sesuatu. "Saya hanya memiliki nomor ponsel Nona Fiona yang dulu. Saya juga tidak tahu nomornya masih aktif atau tidak." Erick berjalan mendekati Steven dan meletakkan ponselnya di meja bosnya.
Nomor ponsel itu adalah nomor yang diberikan oleh Fiona pada bi Asih agar Steven menghubunginya. Erick sengaja menyimpannya, bilamana sewaktu-waktu bosnya berubah pikiran dan ingin menghubungi Fiona.
Steven memencet nomor ponsel Fiona lalu mencoba untuk menelponnya. "Tidak aktif," ucap Steven ketika baru saja selesai menghubungi Fiona.
Erick mengambil kembali ponselnya lalu memasukkannya di kantong celananya. "Apa perlu saya selidiki nomor ponsel Nona Fiona yang baru?" tawar Erick ketika melihat Steven terdiam sambil menatap ke arah ponselnya.
Steven meletakkan ponselnya di meja lalu membuka berkas yang ada di mejanya. "Tidak perlu. Aku akan bertemu dengannya besok, biar aku menanyakan langsung padanya."
"Maaf, Tuan. Tadi nyonya menghubungi saya dan meminta Anda untuk pulang untuk makan malam bersama," info Erick.
Steven seketika menghentikan kegiatannya dan langsung mengangkat kepalanya, menatap Erick. "Makan malam? Dalam rangka apa?"
Tidak biasanya ibunya memintanya untuk makam malam bersama. Mereka memang jarang makan bersama semenjak hubungan mereka mulai merenggang.
"Saya juga tidak tahu, Tuan. Sepertinya Nona Sera juga diundang."
"Baiklah. Kau boleh pergi. Untuk saat ini, jangan katakan apapun pada ibuku mengenai Fiona."
__ADS_1
" Baik Tuan."
Bersambung...