Goresan Luka di Hati Fiona

Goresan Luka di Hati Fiona
Milik Siapa?


__ADS_3

Pagi harinya Fiona terbangun lebih dulu. Dia duduk termenung sesaat setelah itu pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Saat dia di kamar mandi terdengar suara ketukan pintu.


Fiona buru-buru keluar untuk membuka pintu. "Apa kau baru saja bangun?" tanya Steven ketika Fiona baru saja membukakan pintu.


"Iyaa," jawab Fiona pelan. Dia membuka pintunya dengan lebar. "Apa kau sudah merasa baikan? Tidak sakit lagi?" tanya Fiona dengan wajah penasaran. Semalaman dia bisa tidak tidur nyenyak karena terus memikirkan keadaan Steven.


"Apa kau mengkhawatirkan aku?" Dalam hati Steven merasa senang ketika melihat Fiona terlihat mencemaskannya.


"Tentu saja, kau terlihat pucat semalam."


Steven mengembangkan senyum tipisnya. "Kalau aku sakit, apa kau mau merawatku di sini?" tanya Steven dengan alis terangkat.


Fiona terlihat berpikir. Dia belum pulang, ibunya pasti mencarinya. "Aku harus pulang dulu, nanti aku kembali lagi ke sini." Setidaknya dia melakukan sesuatu untuk membantu Steven meskipun tidak sebanding dengan bantuannya selama ini.


"Tidak perlu, aku baik-baik saja, mandilah. Aku akan menunggu di bawah."


Fiona mengangguk. "Di lemari ada pakaian wanita, kau bisa memakainya," ucap Steve.


Pakaian wanita? Bagaimana bisa ada pakaian wanita di mansionnya? Apakah Steven sering membawa wanita ke sini?


Seketika Fiona merasa tidak nyaman memikirkan hal itu.


Melihat Fiona hanya diam, Steven berkata, "Kenapa kau malah bengong? Apa yang kau pikirkan?" Steven menatap curiga pada Fiona.


Fiona langsung menggeleng cepat. "Tidak apa-apa."


"Kalau begitu mandilah." Steven meninggalkan kamar Fiona menuju kamarnya. Dia juga harus bersiap untuk pergi ke kantor.


Steven yang sudah rapi lalu melangkah menuruni tangga. Terlihat sudah ada Erici yang sedang duduk di ruang keluarga sambil memainkan ponselnya. Melihat Steven turun, Erick langsung berdiri.


"Selamat pagi, Tuan," sapa Erick sambil membungkuk sesaat.


"Hhhmmm," gumam Steven. Dia berjalan menghampiri Erick, "duduklah." Steven duduk di sofa singgle.


Erick mengangguk. "Iya, Tuan."


"Suruh Doni ke sini," perintah Steven, "sebelum ke kantor aku akan mengantarkan Fiona pulang dulu. Suruh dia membawa mobil Fiona dan mengikuti kita dari belakang."


"Jadi, Nona Fiona belum pulang?"


Pantas saja dia masih melihat mobil Fiona di luar. Dia mengira kalau Steven sudah mengantarkan Fiona pulang menggunakan mobilnya dan meninggalkan mobil Fiona di sini.


Steven melirik Erick dengan enggan sambil mengambil ponselnya di sakunya jasnya. "Kenapa kau terlihat terkejut sekali?"


"Maafkan saya, Tuan," ucap Erick cepat.


Steven menatap Erick datar. "Selidiki latar belakang James dan berikan padaku secepatnya."


"James siapa, Tuan?" tanya Erick dengan dahi berkerut.


"Pria yang dijodohkan dengan Fiona."


Dahi Erick semakin berkerut. "Bukankah Anda bilang tidak ingin menyelidiki kehidupan Nona Fiona lagi?"


"Aku berubah pikiran."


Erick seketika teringat sesuatu. "Apa karena Nona Fiona sedang mengandung anak Anda, makanya Anda berubah pikiran?"


Steven mendesis. "Erick, Ini pertama kalinya kau melakukan kesalahan. Apa kemampuan analisismu sudah melemah?"


Erick terlihat tidak mengerti maksud dari perkataan Steven, detik kemudian ekpresi wajahnya langsung berubah. "Maafkan saya, Tuan, saya kira Nona Fiona sungguh hamil anak Anda."


"Dia akan hamil anakku setelah aku menikahinya," sahut Steve, "kesalahanmu kali ini, aku maafkan, tapi tidak ada lain kali."


Tentu saja Steven memaafkan Erick karena berkat dia, Steven mengetahui kebenaran tentang Fiona dan hubungannya dengan Fiona menjadi baik lagi.


"Terima kasih, Tuan." ucap Erick seraya membungkuk.


"Selidiki lagi mengenai ibu Fiona dan cari kelemahannya."


Erick mengangguk cepat. "Baik, Tuan."


******


Fiona yang baru saja selesai mandi berjalan menuju lemari. Fiona membuka lebari bagian kirinya. Mata terbelalak ketika melihat deretan baju wanita yang berjejer di lemari tersebut. Dia kemudian membuka lemari tengah dan seterusnya.


Kenapa ada banyak barang-barang wanita di sini? Apa Steven terbiasa membawa wanita ke sini? Atau ini milik kekasihnya? Kau harusnya sadar diri, Fio. Steven hanya kasihan padamu. Pria seperti dia, mana mungkin tidak memiliki kekasih.

__ADS_1


Fiona berdiri mematung sambil memperhatikan isi di lemari tersebut. Deretan baju wanita rancangan designer terkenal, tas berharga fantastis, sepatu dan sandal dengan merk ternama tersusun rapi dalam lemari itu.


Sepertinya Steven memang hanya kasihan padaku.


Fiona mengambil salah satu baju dalam lemari tersebut dan memakainya. Meskipun dia merasa tidak nyaman, tetapi dia terpaksa memakainya.


Fiona yang sudah selesai berpakaian, langsung turun ke bawah. Fiona menarik napas sebelum menghampiri Steven dan Erick.


"Selamat pagi Nona Fiona," sapa Erick ketika melihat Fiona berjalan ke arahnya.


"Pagi," jawab Fiona pelan. Seketika dia merasa salah tingkah ketika bertemu dengan Erick. Dia langsung teringat dengan kejadian semalam saat dia membohongi Erick.


"Duduklah," ucap Steven tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel yang ada di tangannya.


"Steve, apa kau akan berangkat kerja?" tanya Fiona ketika melihat Steven sudah mengenakan setelan lengkap.


Steven memasukkan ponselnya di saku jasnya lalu menatap Fiona. "Ya, apa masih ada yang ingin kau bicarakan padaku?"


"Iyaaa," jawab Fiona pelan seraya menunduk.


Erick langsung berdiri. "Kalau begitu saya akan menunggu di luar." Erick seolah tahu kalau mereka ingin berbicara berdua saja.


Steven mengangguk. "Apa yang ingin kau bicarakan padaku?"


Fiona memainkan kuku jarinya lalu mengangkat kepalanya menatap Steven. "Aku ingin bertanya, apa kau masih marah denganku karena kejadian yang dulu?" tanya Fiona dengan hati-hati.


"Yang dulu? Maksudmu saat kau menolakku?"


"Aku tidak pernah menolakmu, aku hanya...."


"Fio, kau tidak perlu menjelaskan apapun lagi padaku. Itu sudah tidak penting lagi buatku."


Yang terpenting menurut Steven saat ini adalah dia sudah tahu kalau Fiona tidak pernah memiliki hubungan serius dengan pria lain, itu sudah cukup baginya.


Sepertinya dia memang tidak peduli padaku, bahkan dia tidak mau mendengar penjelasanku dulu.


Fiona terlihat sedikit kecewa karena Steven tidak mau mendengarkan penjelasannya lagi. "Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu." Fiona lalu berdiri.


Steven ikut berdiri. "Aku akan mengantarmu."


Steven berjalan mendekati Fiona. "Jangan membantahku, Fio." Steven menatap tajam Fiona.


Fiona langsung menciut melihat tatapan Steven. "Tapi, bagaimana dengan mobilku?"


"Doni yang akan membawanya." Steven menarik tangan Fiona keluar dari mansionnya.


Erick dan Doni sedang duduk sambil mengobrol langung berdiri ketika melihat bos mereka keluar.


Steven menghentikan langkah tepat di depan Erick dan Doni setelah itu dia menoleh pada Fiona. "Berikan kunci mobilmu?" Steven menengadahkan tangannya kepada Fiona.


Fiona membuka tasnya, memberikan kunci pada Steven. "Ikuti kami dari belakang." Doni mendekati Steven ketika dia mengulurkan tangan untuk memberikan kunci mobil Fiona.


"Baik, Tuan."


"Ikut aku." Steven menarik tangan Fiona menuju mobilnya. Fiona hanya mengikut ke mana Steven membawanya.


"Silahkan, Tuan." Erick membukakan pintu untuk Steven.


"Masuklah." Steven memegang kepala atas Fiona agar tidak terbentur.


Erick tercengang melihat sikap Steven pada Fiona. Belum pernah dia melihat Steven memperlakukan wanita sepert itu selain Fiona.


Astaga, apa aku tidak salah lihat? Apakah ini berarti Nona Fiona akan menjadi nyonyaku?


"Apa yang kau lakukan? Apa kau berharap aku menunggumu melamun sampai sore di sini?"


Suara Steven membuyarkan pikiran Erick. "Maaf, Tuan." Erick berlari ke sisi mobil lain dan membukakan pintu untuk Steven.


"Jalan," ucap Steven ketika mereka semua sudah berada di dalam mobil.


"Baik, Tuan." Erick melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Fiona menoleh pada Steven. "Steve, aku akan mengembalikan bajumu ini setelah aku membawanya ke laundry."


Steven menatap tidak suka pada Fiona. "Apa aku menyuruhmu untuk mengembalikannya?"


Baru kali ini, Fiona mau mengembalikan baju yang dia berikan padanya dan itu membuatnya berpikir kalau Fiona tidak ingin lagi memakai barang pemberiannya.

__ADS_1


"Ini bukan milikku, tidak seharusnya aku memakainya."


"Kalau begitu buang saja." Steven terlihat seperti sedang marah.


"Kenapa dibuang?" tanya Fiona dengan wajah heran.


Apa menurutnya aku menjijikkan sehingga dia tidak mau mengambil baju yang sudah aku pakai atau dia takut kekasihnya marah karena aku memakai pakaiaannya.


"Aku tidak membutuhkannya," jawab Steven acuh.


"Kalau begitu aku akan mengganti dengan baju yang mirip dengan ini."


Steven langsung menoleh pada Fiona. "Jangan menguji kesabaranku, Fio."


Fiona langsung menunduk. "Aku hanya takut kekasihmu marah kalau tahu aku memakai bajunya."


Steven yang tadinya marah seketika mengerti kenapa Fiona ingin mengembalikan pakaian tersebut. Ternyata Fiona salah paham dan mengira kalau pakaian tersebut dia siapkan untuk kekasihnya. Padahal pakaian dan semua barang yang ada di lemari tersebut, dulu sengaja dia siapkan untuk Fiona.


"Itu bukan untuk kekasihku," terang Steven.


Seharusnya langsung kau katakan saja padanya Tuan, kalau kau sengaja menyiapkan untuknya.


"Aku kiraaa...."


"Jangan berpikir terlalu jauh," potong Steven cepat.


"Maaf."


Seketika obrolan mereka terhenti. Erick berbelok sedikit tajam ketika memasuki komplek perumahan Fiona.


"Rick, berhati-hatilah dalam membawa mobil. Aku tidak mau terjadi apa-apa dengan anakku."


Erick langsung menatap spion. "Anak?" Untuk sesaat Erick dan Fiona tidak mengerti maksud perkataan Steven.


"Bukankah Fiona sudah memberitahumu kalau ada anakku di perutnya," ucap Steven santai.


Fiona langsung menoleh pada Steven dengan wajah terkejut. "Steve," pekik Fiona dengan wajah memerah. Dia langsung menunduk dan menutup kedua wajahnya.


Bukan hanya Fiona, Erick pun terkejut mendengarnya. Pasalnya selama ini, Steven terkenal kaku dan tidak pernah bergurau sedikit pun.


"Saya akan lebih berhati-hati, Tuan."


Apa-apaan mereka? Pasti mereka sengaja ingin mempermalukan aku.


Steven menyungging sudut bibirnya ketika melihat Fiona masih menyembunyikan wajahnya. "Kenapa kau menutup wajahmu?" Steven menjauhkan tangan Fiona dari wajahnya.


Fional langsung menoleh dan memberikan tatapan tajam pada Steven. "Steve, cukup."


Steven tampak acuh. "Sudah sampai, ayo turun."


Fiona langsung menatap ke luar. "Steve, tunggu." Fiona menahan tangan Steven ketika melihatnya akan turun dari mobil.


"Ada ibuku, lebih baik kau tidak usah turun."


Fiona takut ibunya akan marah ketika melihat Steven mengantarnya pulang apalagi dia tidak pulang semalam. Pasti ibunya berpikiran buruk pada mereka berdua.


Steven menatap ke depan dan melihat kalau ibunya Fiona sedang berbicara dengan seorang wanita.


Steven tentu saja mengerti kecemasan Fiona. "Jangan takut, ada aku. Aku akan tetap akan mengantarmu."


"Tapi, Steve...."


"Percaya padaku, aku akan melindungimu."


Sebenarnya Fiona tidak mencemaskan dirinya melainkan Steven. Dia sudah terbiasa dimarahi oleh ibunya, yang dia takutkan adalah kalau ibunya akan meluapkan emosinya pada Steven.


"Rick kau tunggu di sini." Steven turun dari mobil diikuti oleh Fiona. Mau tidak mau Fiona ikut turun bersamanya.


Ibu Fiona langsung mengalihkannya pandangannya ketika melihat Steven dan Fiona berjalan mendekatinya. Terlihat wajah ibunya mengeras dan sorot matanya menampilkan tampak berapi-api.


"Ma," sapa Fiona dengan suara pelan.


"PLAAAKKK." Ibu Fiona langsung menampar pipi Fiona dengan keras.


"Berani sekali kau pulang bersamanya setelah kau tidak pulang semalam." Sarah terlihat sangat marah ketika melihat Fiona datang dengan Steven.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2