Goresan Luka di Hati Fiona

Goresan Luka di Hati Fiona
Recana Kepulangan Steven


__ADS_3

Selesai mandi Steven keluar hanya dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Dia terlihat tidak canggung sama sekali, meskipun ada Fiona di dalam kamar tersebut. Dengan langkah santai, Steven berjalan ke arah lemari, mengambil kaos dan celananya lalu berbalik masuk ke kamar mandi.


Steven tidak menyadari kalau Fiona sedang berusaha mengatur dadanya yang berdebar kencang ketika melihat otot perut miliknya. Sebenarnya dia sudah sering melihat tubuh Steven, bahkan dia pernah beberapa kali menyentuhnya secara tidak sadar ketika mereka tidur di kamar yang sama saat mereka tinggal bersama dulu, tapi tetap saja, Fiona masih saja merasa malu setiap melihatnya.


"Fio... Fio." Steven memanggil Fiona yang terlihat sedang melamun ketika dia baru saja keluar dari kamar mandi. "Fiona, apa yang sedang kau pikirkan?" Steven akhirnya menghampiri Fiona yang sedang duduk membelakanginya.


"Haaa...? Aku... aku tidak memikirkan apapun," jawab Fiona cepat ketika Steven sudah duduk di sebelahnya.


Steven menatap Fiona dengan seksama lalu berkata, "Jangan berbohong padaku. Apa kau sedang memiikirkan Leon?" Kecurigaan Steven kini berpusat pada Leon setelah tahu mengenai status hubungan dia dan Fiona.


"Tidak. Aku justru sedang memikirkanmu," aku Fiona.


Steven memicingkan matanya sesaat karena merasa tidak percaya dengan ucapan Fiona.


"Aku sungguh sedang memikirikanmu, Steve. Aku tidak berbohong," lanjut Fiona ketika melihat wajah curiga dari Steven.


Steven terdiam sejenak, setelah itu merubah wajahnya menjadi serius. "Fio, ada yang ingin aku sampaikan padamu."


"Apa?"


"Aku akan pulang besok siang."


Fiona langsung terdiam, menatap ke samping tanpa mengatakan apa-apa. Ada perasaan tidak rela ketika dia mendengar kalau Steven akan pulang secepat itu. Baru saja dia merasa bahagia, tapi kini dia harus berpisah lagi.


"Apa kau ingin ikut denganku?" lanjut Steven lagi ketika melihat Fiona masih diam dengan raut wajah muram.


"Maaf Steve, aku tidak bisa. Aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku di sini."


Steven tersenyum lalu berkata, "Baiklah, tidak apa-apa. Aku akan pulang sendiri."


Fiona mengangkat kepalanya lalu menatap wajah Steven. "Kenapa kau cepat sekali pulang?"


"Sejujurnya, ibuku sudah meminta aku pulang 3 hari yang lalu, tapi aku undur karena aku masih ingin memperjuangkanmu. Semalam, setelah kau memintaku untuk menjauh darimu, aku sudah memutuskan untuk pulang hari ini, tapi kembali aku batalkan karena kejadian tidak terduga semalam," ungkap Steven, "aku tidak bisa berlama-lama di sini. Aku memiliki tanggung jawab besar di sana. Perusahaanku yang di sana membutuhkan aku."


"Apa kau akan pulang dengan Sonia?" tanya Fiona.


"Tidak. Dia masih ada pekerjaan di sini jadi aku akan pulang bersama Erick."


"Erick ada di sini?" Selama bertemu dengan Steven beberapa kali, Fiona belum sekalipun melihat Erick. Biasanya Erick akan terus menempel padanya seperti perangko.


"Iyaaa. Aku memintanya untuk menjaga Sonia selama di sini dan membantu Bryan di perusahaan karena aku sibuk untuk mengejar cintaku jadi tidak bisa memikirkan hal lain selain dirimu."


Wajah Fiona bersemu merah mendengar perkataan Steven. "Tidak bisakah kau pulang beberapa hari lagi?"


"Apa kau masih merindukan aku?" goda Steven sambil menatap Fiona dengan senyum genitnya.


"Iyaaa," jawab Fiona.

__ADS_1


Steven sedikit terkejut mendengar pengakuan dari Fiona. Ini pertama kali Fiona tanpa malu mengatakan isi hatinya.


"Kalau begitu menginaplah di sini malam ini," usul Steven, "aku tidak bisa membatalkan kembali kepulanganku karena aku sudah terlalu lama di sini," jelas Steven dengan lembut.


Raut wajah Fiona berubah menjadi sedih. "Kak Rey tidak akan mengijinkan aku untuk menginap di sini. Dia sangat protektif terhadapku."


"Jangan-jangan dia masih menyukaimu?" tebak Steven sambil melayangkan tatapan menyelidik pada Fiona.


Fiona memukul bahu Steven sambil tersenyum. "Steve, jangan bicara sembarang, dia ada kakakku sekarang. Itu adalah sikap melindungi seorang kakak pada adiknya."


Mengingat dia akan meninggalkan Fiona dengan 2 orang yang mencintainya, membuat Steven jadi was-was. "Fio, bisakah kau jaga hatimu sampai aku kembali ke sini lagi?"


Melihat kekhawatiran Steven, Fiona meraih tangan Steven lalu menggenggamnya. "Selama setahun ini, aku bahkan tidak bisa menghilangkanmu dari pikiranku, mana mungkin aku bisa beralih dengan mudah pada laki-laki lain disaat kita sudah memutuskan untuk memulai dari awal."


"Tapi, nyatanya kau bertunangan dengan Leon. Aku bahkan ingin langsung menghancurkannya saat aku tahu kau sudah bertunangan dengannya," ungkap Steven.


"Tadinya, aku berpikir kalau kita memang tidak ditakdirkan untuk bersama sehingga aku memilih untuk memberikan kesempatan pada kak Leon yang sudah begitu baik padaku selama ini."


*****


Malam harinya, setelah selesai makan malam di restoran tempatnya menginap, Steven mengajak Fiona kembali ke kamarnya. "Fio, aku sudah meminta ijin pada Reynald agar kau bisa menginap malam ini jadi kau tidak perlu pulang," ucap Steven saat mereka baru saja masuk ke dalam kamarnya.


"Kak Rey mengijinkan aku menginap di sini?" tanya Fiona setelah duduk di sofa.


Steven mengangguk. "Kau adalah calon istriku, suka tidak suka, dia harus mengijinkanmu untuk menginap semalam di sini," ucap Steven sambil berjalan ke arah tempat tidur.


"Fio, kemarilah." Steven menepuk ranjang yang kosong di sebelahnya.


"Naik ke atas, aku ingin mengobrol sambil berbaring," ucap Steven sambil merebahkan tubuhnya.


Tanpa banyak tanya, Fiona langsung berbaring di ranjang berhadapan dengan Steven. "Kapan kau memotong rambutmu?"


Fiona baru saja sadar ada yang beda dari penampilan Steven. Ketika bertemu pertama kali dengannya, fokus Fiona bukan pada penampilan Steven melainkan pada fakta bagaimana mereka bisa bertemu lagi setelah sekian lama berpisah.


"Sebelum ke sini, aku memotong rambutku terlebih dahulu," jelas Steven, "kenapa? Apa potongan ini tidak cocok untukku?" tanya Steven sambil memadang Fiona yang sedang berbaring menghadapnya.


Fiona menggeleng pelan sambil mengangkat tangannya untuk memegang rambut Steven. "Tidak. Kau terlihat lebih tampan dan gagah dengan potongan rambut seperti ini." Fiona akui bahwa penampilan Steven saat ini lebih berwibawa dari pada sebelumnya.


"Benarkah?" Steven tersenyum senang mendengar pujian dari Fiona. Entah kenapa, jika Fiona yang memujinya membuatnya bahagia.


"Hhmmmm," gumam Fiona sambil menganggukan kepalanya, "jangan terlalu tampan, nanti semakin banyak yang menyukaimu," gurau Fiona.


Steven tersenyum sambil memegang tangan Fiona yang berada di wajahnya. "Fio, bolehkah aku tidur sambil memelukmu? Aku janji hanya memelukmu saja, tidak lebih," pinta Steven, "aku pasti akan sangat merindukanmu jika sudah pulang nanti."


Fiona berpikir sejenak lalu mengangguk. Steven kemudian menyingkirkan guling yang sebelumnya berada di tengah lalu menggeser tubuhnya ke tengah.


"Tidurlah. Aku akan mengantarmu pagi-pagi sekali. Aku juga harus bertemu dengan Reynald untuk membicarakan hal penting," ucap Steven setelah dia membawa Fiona ke dalam pelukannya. Fiona mengangguk lalu memejamkan matanya.

__ADS_1


Pagi harinya, seperti janji Steven semalam, dia mengantarkan Fiona pulang pagi-pagi sekali. Ketika mereka baru saja sampai, Reynald dan Leon juga baru saja tiba.


"Jadi, kalian sudah memutuskan untuk kembali bersama lagi?" Reynald menatap Fiona dan Steven yang sedang duduk di depannya secara bergantian.


"Iyaaa," jawab Steven mantap.


Meskipun pelan, tapi Reynald bisa mendengar helaan napas halus dari hidung Leon yang sedang duduk di sampingnya.


"Aku juga sudah mengatakan pada ibuku mengenai hal ini serta rencanaku untuk menikahi Fiona dengan cepat," ungkap Steven.


"Lalu bagaimana tanggapan ibumu? Apa dia setuju dengan rencana pernikahan kalian?" tanya Reynald dengan cepat.


"Iyaa, dia sudah setuju, tapi ibuku bilang ingin membicarakan langsung denganku jadi aku berencana untuk pulang siang nanti untuk membicarakan lebih lanjut dengannya."


Reynald mengangguk, Leon terdiam, sementara Fiona terlihat tersenyum tipis. Dia tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya saat tahu kalau ibu Steven menyetujui rencana pernikahan mereka.


Steven beralih menatap Leon. "Jadi, aku harap segera putuskan pertunangan kalian dan lepaskan dia. Aku mau kau sedikit menjaga jarak dengan Fiona karena aku tidak bisa melihat Fiona terlalu dekat dengan pria lain, apalagi denganmu."


Dengan wajah mencibir, Reynald berkata, "Steve, apa kau tidak salah? Saat ini, yang menjadi selingkuhan itu kau. Kau adalah orang ketiga dalam hubungan mereka berdua. Leon adalah tunangan resmi Fiona, sementara kau hanya mantan kekasihnya. Bagaimana bisa kau dengan mudahnya menyuruhnya Leon menjaga jarak dengan Fiona?" Reynald tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya.


"Terserah kau menganggap aku seperti apa, yang pasti aku yang akan menjadi suami Fiona nanti," ucap Steven dengan santai.


Setelah terdiam sedari tadi, Leon akhir angkat bicara. "Aku harus memastikan lebih dulu, apakah benar ibumu bisa menerima Fiona sebagai calon istrimu atau tidak. Setelah aku yakin, baru setelah itu aku putuskan hubunganku dengannya. Aku tidak mau bertindak gegabah."


Reynald kembali dibuat tertawa dengan hubungan rumit mereka bertiga. "Waaah, ternyata adikku sangat luar biasa. Dia bisa membuat seorang Steven menjadi selingkuhan tanpa keberatan sama sekali dengan statusnya saat ini. Aku tidak menyangka kalau seorang Steven bahkan rela menunggu sampai adikku putus hubungan dengan tunangannya." Reynald bertepuk tangan seraya menggelengkan kepalanya.


Fiona seketika merasa tidak enak pada Steven setelah mendengar ucapan kakak sepupunya itu, sementara Steven menatap Reynald tanpa minat.


"Hentikan omong kosongmu sebelum aku menyumpal mulutmu," ancam Steven.


"Kau ini serius sekali, aku hanya terkejut." Reynald menatap sejenak ke arah atas lalu berkata, "bagaimana kalau sampai media tahu bahwa penerus dari HK Group yang terkenal melegenda bertekuk lutut pada wanita yang sudah memiliki tunangan? Pasti hal itu akan menjadi berita terpanas sepanjang sejarah percintaan di kalangan konglomerat."


Steven berdecih. "Untung saja kau kakak sepupunya Fiona, jika tidak, sudah kubuat kau tidak bisa bicara lagi."


Fiona memegang lengan Fiona. "Steve, maafkan Kak Rey, dia tidak bermaksud menyinggungmu."


Steven menoleh pada Fiona sambil tersenyum. "Iyaa. Aku akan menahan diri karena dia adalah kakakmu," ucap Steven lembut sambil mengusap lembut pipi Fiona.


"Heey, kalian ini malah menunjukkan keromantisan kalian berdua pada kami. Kalian sengaja ingin membuat kami iri ya?" ujar Reynald dengan wajah kesal.


Saat Steven akan menimpali ucapan Reynald, ponselnya tiba-tiba berbunyi. "Tunggu sebentar, aku akan mengangkat telpon dulu," ucap Steven sambil menoleh pada Fiona.


Setelah kepergian Steven, mereka bertiga kembali berbincang hingga Steven kembali.


"Fio, aku tidak jadi pulang," ucap Steven setelah dia kembali duduk di samping Fiona.


"Kenapa?" tanya Fiona dengan dahi berkerut.

__ADS_1


"Ibuku sedang dalam perjalanan ke sini."


Bersambung.....


__ADS_2