Goresan Luka di Hati Fiona

Goresan Luka di Hati Fiona
Kesepakatan


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore, Fiona segera bergegas untuk turun ke bawah. Doni sudah menghubunginya kalau dia menunggu parkiran depan gedung kantornya.


Setelah melakukan rapat, Steven berbincang dengan Fiona sebentar lalu kembali ke kantornya. Dan, tentu saja setelah sempat memperlihatkan kemesraannya pada Reynald.


Steven sengaja melakukan itu untuk memperlihatkan pada Reynald kalau Fiona ada miliknya dan tidak ada lagi celah bagi orang lain untuk mendekatinya.


Ketika Fiona sampe di depan loby seseorang menghampirinya. "Fiona."


Fiona sedikit terkejut melihat pria yang ada di depannya. Dia kemudian menengok kanan dan kiri seperti sedang mencari seseorang.


"James, kenapa kau ada di sini?" tanya Fiona dengan alis yang saling bertautan.


"Ikut aku." James menarik tangan Fiona.


"James lepaskan, kita mau ke mana." Fiona berusaha melepas cengkaraman tangan James.


"Pulang ke rumahmu, ibumu menyuruhku untuk membawamu pulang."


"Aku tidak mau ikut denganmu, aku akan ke sana sendiri." Fiona berusaha melepaskan cekraman tangan James.


"Kau harus ikut aku pulang." James terus menyeret Fiona menuju mobilnya


"Aku bilang tidak mau, apa kau tuli?" ujar Fiona dengan nada tinggi, "kalau kau tidak mau lepaskan, aku akan berteriak," ancam Fiona.


Seketika James menghentikan langkahnya lalu melepaskan tangan Fiona. "Ibumu bilang kau kabur dari rumah bersama dengan seorang pria? Apakah itu benar?"


"Itu bukan urusanmu," ucap Fiona dengan wajah tak acuh.


"Tentu saja itu urusanku, kau membatalkan perjodohan kita secara sepihak. Aku tidak terima dengan keputusanmu."


Sebelumnya, ibu Fiona sudah berjanji akan menikahkan mereka dalam waktu dekat tapi tiba-tiba, James mendapatkan kabar kalau Fiona tidak ingin menikah dengannya sehingga membuat James meradang.


"Perjodohan itu adalah kemauan ibuku dan ibumu. Dari awal aku tidak pernah menyetujuinya. Aku harap kau bisa menerima keputusanku."


"Bukankah kau tahu kalau dari dulu aku sudah menyukaimu?"


James, pria tinggi bertubuh kurus dan berambut cepak memang sudah lama menyukai Fiona, tapi Fiona tidak menyukainya sama sekali. Padahal, wajah James juga termasuk tampan.


"Aku tahu, tapi aku tetap tidak bisa menikah denganmu James."


"Kenapa? Kau menolak menikah denganku hanya karena pria yang bernama Steven itu?"


"Iyaaa, lebih baik kau cari wanita lain saja," jawab Fiona dengan tegas.


"Apa karena dia orang terkaya di negeri ini sehingga kau lebih memilihnya dari pada aku?" tuduh James.


"James, aku tulus mencintainya bukan karena kekayaannya. Aku justru baru tahu mengenai identitasnya," ungkap Fiona.


James mencibir sesat. "Kalau begitu, berikan aku kesempatan untuk membuktikan cintaku padamu."


"James, aku tidak bisa mencintaimu. Maaf, aku harus pergi. Aku sudah ada janji."

__ADS_1


Fiona langsung berjalan meninggalkan James sambil mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Doni.


James terus menatap kepergian Fiona tanpa berniat untuk mengejarnya.


Aku tidak akan menyerah. Kau tidak bisa menolakku begitu saja Fiona, aku akan melakukan segala cara untuk mendapatkanmu. Kau harus menjadi milikku, batin James.


********


Fiona terlihat sedang memandang rumah yang sedari kecil dia tinggali setelah dia turun dari mobil. Dia sudah meminta Doni untuk menjemputnya lagi ketika dia akan pulang nantinya. Sebelum masuk ke rumahnya, Fiona mengirimkan pesan pada Steven.


"Ma," sapa Fiona ketika melihat Sarah yang membuka pintu.


"Masuklah." Sarah kembali masuk tanpa berbasa-basi pada Fiona. Wajahnya terlihat datar dan tidak menunjukkan sedikit pun emosi.


Fiona mengangguk lalu mengikuti langkah ibunya masuk ke ruangan tengah. "Duduklah," ucap Ibu Fiona sambil mengarahkan tangannya ke sofa yang ada di sebrangnya.


Setelah duduk, Sarah langsung membuka mulutnya. "Apa kau tinggal bersama dengan Steven selama ini?" tanya Sarah dengan wajah datar.


"Iyaa Ma, tapi aku baru saja pindah ke apartemen Steven."


"Kenapa kau tidak pernah mengatakan pada mama mengenai indentitas Steven? Apa kau sengaja menyembunyikan hal itu agar mama terkena masalah?" tuduh Sarah.


"Ma, aku sudah pernah mengatakan kalau Steven bukanlah orang biasa, tapi mama tidak pernah mau mendengarkanku."


Sarah terlihat menampilkan wajah masamnya. "Beberapa hari yang lalu, dia mendatangi mama," ungkap Sarah dengan wajah tak acuh.


Fiona mengerutkan keningnya. "Kenapa Steven mendatangi Mama?"


Fiona nampak sedikit terkejut. Steven tidak pernah mengatakan hal itu padanya. "Apa benar kalian akan menikah dalam waktu dekat?" tanya Sarah.


"Iyaaa Ma," aku Fiona dengan jujur.


"Apa ibunya menyetujui hubungan kalian?"


Dalam benak Sarah, meskipun Steven mencintai Fiona, belum tentu ibunya menyetujui hubungan mereka. Meskipun keluarganya bukan dari kalangan bawah, tetapi mereka juga tidak sebanding dengan keluarga Steven.


Fiona terdiam sesaat. "Melihat dari reaksimu, sepertinya dugaan mama benar, kalau ibunya tidak merestuimu," ucap Sarah dengan senyum mengejek.


"Fiona akan berusaha untuk membuktikan pada ibu Steven kalau Fiona layak menikah dengan anaknya."


"Mama memiliki penawaran untukmu." Sarah menjeda ucapannya sejenak. "Mama akan mengembalikan apa yang menjadi hakmu tapi kau harus menikah dengan James."


"Tapi Ma, Fiona tidak mencintai James," protes Fiona.


"Jadi, kau akan tetap menikahi Steven meskipun mama tidak menyetujuinya? Apa kau lupa isi dalam surat wasiat itu? Kau harus mendapatkan restu dari mama jika ingin menikah dengan seseorang."


"Iyaa, aku tahu Ma, tapi aku sangat mencintai Steven, tolong restui kami, Ma," mohon Fiona.


Sarah terdiam sejenak. "Baiklah, kalau kau ingin menikah dengan Steven, mama akan merestuinya tapi dengan syarat. Berikan semua harta warisanmu beserta perusahaan yang sudah diambil oleh Steven."


Fiona berusaha untuk tetap tenang menghadapi "Aku bisa memberikan harta warisanku pada Mama, tapi untuk perusahaan, aku tidak bisa, Ma. Perusahaan itu sudah menjadi milik Steven. Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi."

__ADS_1


"Steven akan memberikan apapun yang kau minta. Bukankah dia sangat mencintaimu? Itu hanya perusahaan kecil, tidak berarti apa-apa baginya. Aku rasa Steven juga tidak keberatan dengan hal itu," ucap Ibu Cindy dengan enteng.


Fiona menghela napas. "Ma, apa tidak ada cara lain agar mama merestui hubungan kami?"


"Tidak ada," balas Sarah dengan tegas. "Bukankah seharusnya sudah saatnya kau membalas kebaikan kepada keluarga yang selama ini merawatmu?"


Fiona tidak bisa berkata-kata untuk sesaat. "Bagaimana kalau Fiona menolak semua pilihan yang Mama berikan padaku?"


"Mama akan membuat ibu Steven tidak akan pernah menerimamu sebagai menantunya dan mama juga akan membeberkan fakta ke semua media bahwa calon menantu dari keluarga Pradigta sebenarnya hanyalah anak yatim piatu dan berasal dari keluarga yang dibuang oleh keluarganya. Meskipun ibumu berasal dari keluarga kaya tapi dia hanyalah anak yang tidak dianggap dan anak yang dibuang."


Ibu Steven tersenyum sinis. "Kau pikir, dengan status mereka yang tinggi, mereka mau menerimamu dan mencoreng nama baik keluarga mereka?"


Fiona mulai termakan oleh ucapan Sarah. "Berikan Fiona waktu untuk berpikir, Ma."


"Baiklah, tapi untuk saat ini, kau harus menyelesaikan urusanmu dengan James. Kau sudah mempermalukan mama dengan menolak begitu saja perjodohan kalian, jadi kau sendiri yang harus menemui James dan orang tuanya untuk menolak secara langsung."


"Baiklah, kapan Fiona harus menemui mereka?"


"Malam ini, temui mereka di restoran yang berada di Arsenic Hotel. Temui mereka pukul 7 malam," jawab Sarah, "malam ini, menginaplah di sini setelah menemui James dan keluarganya, beritahu Steven juga agar dia tidak mencarimu."


Fiona mengerutkan kening sesaat sebelum membalas ucapan Sarah. "Baiklah."


Malam harinya, ketika Fiona sudah mandi dan berganti pakaian, dia turun ke bawah untuk berpamitan dengan ibunya. Dia juga sudah meminta ijin kepada Steven, meskipun awalnya Steven tidak menyetujuinya, tapi pada akhirnya Steven menyetujuinya setelah Fiona mencoba membujuknya beberapa kali.


"Kau mau ke mana, Fio?" tanya Cindy ketika melihat penampilan Fiona tampak cantik.


Cindy baru saja pulang ketika melihat Fiona berjalan menuju ruangan keluarga. Tadi siang, saat Fiona mengatakan pada Cindy akan pulang, kebetulan Cindy sudah memiliki janji dengan orang lain sehingga dia tidak bisa pulang bersama dengan Fiona.


Fiona menghampiri Cindy dan ibunya yang sedang duduk di ruang keluarga. "Aku ingin menemui James, Kak," jawab Fiona sambil berdiri di dekat Cindy.


Cindy langsung melirik ibunya. "Fiona, lebih baik kau berangkat sekarang, kau bisa terlambat nanti," sela Sarah ketika melihat tatapan dari anaknya.


"Iyaaa, Ma." Fiona beralih menatap Cindy. "Kak, malam ini aku menginap di sini, nanti malam, aku ingin tidur denganmu."


"Baiklah, aku akan menunggumu pulang."


Fiona mengangguk lalu berjalan keluar. Dia memesan taksi menuju Arsenic Hotel. Setibanya di sana, Fiona langsung mencari ruangan private yang sudah di reservasi atas nama James.


Tidak butuh waktu lama, Fiona bisa langsung bisa menemukan ruangan yang sudah dipesan oleh James dengan bantuan pegawai restoran tersebut.


Ketika Fiona membuka pintu ruangan VIP itu, dia dibuat terkejut ketika melihat hanya ada James di dalam sana dan tidak melihat keberadaan orang tuanya.


"Kau baru datang? Duduklah," ucap James ketika melihat Fiona berjalan mendekatinya setelah pintu tertutup.


Fiona nampak ragu sesaat. "Kenapa kau sendiri? Di mana orang tuamu?"


Fiona nampak masih berdiri dan masih enggan untuk duduk. Kejadian tadi sore sudah membuat Fiona sebenarnya malas untuk menemui James, hanya saja dia tidak bisa selamanya menghindar dari James dan harus segera menyelesaikan urusannya mereka.


"Ibu dan ayahku tidak bisa datang, jadi hanya ada aku di sini. Kenapa? Apa kau keberatan jika hanya aku yang datang?" tanya James dengan alis terangkat.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2