Goresan Luka di Hati Fiona

Goresan Luka di Hati Fiona
Kemunculan James


__ADS_3

"Bagaimana? Apa kalian menemukan sesuatu?" Steven berjalan menghampiri gedung kosong bersama dengan Erick untuk bertanya langsung pada Jorsh. Steven terlihat tidak sabar menunggu hasil pencarian pengawalnya.


"Tidak Tuan. Saya rasa ini hanya pengalihan. Mereka sengaja meninggalkan mobil Doni di sini untuk mengalihkan perhatian kita dari tempat persembuyian asli mereka," imbuh Jorsh ketika Steven sudah berdiri di depannya.


"Siaaaaal!!" umpat Steven dengan wajah berang.


Melihat Steven yang mulai emosi Erick menoleh pada anak buah Jorsh. "Telusuri semua daerah sini, jangan ada yang terlewatkan. Periksa semua CCTV daerah sini," perintah Erick.


"Baik Tuan," jawab mereka serempak. Mereka semua membubarkan diri.


"Jorsh, apa kau tidak menemukan jejak mereka sedikitpun?" tanya Erick.


"Sebenarnya aku tidak begitu yakin kalau tempat persembunyian mereka di daerah selatan. Pasalnya, jejak gps Doni dan Nona Fiona terakhir ada di utara, berbanding terbalik dengan lokasi penemuan mobil."


Erick dan Steven mengerutkan kening. "Maksudmu?" tanya Steven cepat.


"Saya mendunga kalau tempat persembunyian mereka tidak berada selatan kota, melainkan berada di utara kota sesuai dengan hilangnya jejak gps." Jorsh berhenti sejenak.


"Dan, di utara kota juga terdapat beberapa pulau kecil yang tidak mudah dijangkau oleh orang biasa. Melihat dari sulitnya menemukan mereka, saya rasa kalau mereka bukan dari kalangan biasa. Mungkin saja orang dibalik ini termasuk salah satu orang yang memiliki koneksi dan pengaruh yang besar," duga Jorsh.


"Baiklah, sisakan setengah anak buahmu di sini, setengahnya lagi kerahkan ke utara," perintah Steven.


"Baik Tuan," jawab Jorsh.


Steven melirik Erick. "Persiapkan helikopter untukku, aku sendiri yang akan memeriksa ke sana sebelum anak buah Jorsh tiba."


"Tapi Tuan... Terlalu berbahaya kalau...."


"Apa kau ingin melihat aku menggila di sini? Aku sudah cukup sabar Rick, akan kubuat orang itu membayar berkali-kali lipat kalau sampai dia berani menyakiti Fiona."


**********


"Kau sudah bangun?" Pria yang sedari tadi duduk di tepi tempat tidur sambil memandangi wajah Fiona langsung bertanya ketika melihat mata Fiona mulai bergerak dan perlahan terbuka.


Fiona langsung terbelalak. "James, kenapa kau bisa ada di sini?"


Fiona langsung bangun dan membenahi posisi duduknya. Bagaimana dia tidak terkejut, saat dia terbangun di pagi hari, sudah ada James di sampingnya.


James tersenyum. "Tentu saja untuk bertemu denganmu."


Fiona mengerutkan keningnya. Saat ini, dia sedang disekap di suatu tempat dan entah di mana dia berada. Bagaimana bisa James dengan mudah menemukannya kecuali.....


"Jangan-jangan kau yang meminta orang-orang itu untuk menculikku?" tuduh Fiona yang terlihat mulai emosi.


"Bukan aku yang menculikmu Fiona, tapi orang lain yang melakukannya. Orang tersebut menghubungiku tadi pagi dan memintaku untuk datang ke sini."


"Jangan berbohong!" pekik Fiona dengan suara tinggi.


James berdiri sambil mengitari tempat tidur Fiona. "Kalau kau tidak percaya, kau bisa tanyakan pada pria yang menculikmu. Aku tidak mungkin menyakitimu karena aku sangat mencintaimu Fiona."


"Kalau bukan kau lalu siapa yang menculikku?" Sebenarnya dia juga pernah menduga kalau James pelakunya karenakan selama ini, James tidak pernah melakukan hal yang diluar batas.


James berjalan mendekati Fiona yang terlihat sudah duduk di tepi tempat tidur sambil memandang ke arahnya. "Aku tidak bisa memberitamu, yang pasti orang itu tidak menyukaimu," ungkap James.


"Baiklah, kalau begitu lepaskan aku James. Steven dan keluargaku pasti sedang mencariku."


James berjongkok di depan Fiona kemudian mendongak menatapnya. "Maafkan aku Fiona, tapi aku tidak bisa membiarkanmu pergi."


"Apa maksudmu James? Kau ingin menahanku di sini?"

__ADS_1


James menggeleng. "Tidak, kita akan pergi dari sini setelah kita menikah. Kita akan pergi ke luar negeri di mana tidak seorang pun mengenali kita."


"Kau gilaaa James..!!" umpat Fiona. "Sudah aku bilang, aku tidak bisa menikah denganmu. Steven pasti mencariku. Aku harus pergi." Fiona langsung bangun dan berjalan menuju pintu, mencoba membukanya, tapi tidak bisa.


James berdiri dan mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya. "Pintunya terkunci Fiona. Kau tidak akan bisa keluar dari sini karena kuncinya berada di tanganku." James menggoyangkan kunci itu sambil memperlihatkan pada Fiona.


"Lagi pula, banyak penjaga di luar, kau tidak akan bisa ke mana-mana."


Fiona berbalik dan mendekati James. "James, jangan begini. Kau tidak bisa memaksaku. Jangan libatkan dirimu lebih dalam lagi dalam masalah ini. Tidak butuh waktu lama, maka Steven akan menemukanku. Sebelum itu terjadi, lebih baik kau pergi dari sini. Aku tidak akan mengatakan apapun padanya kalau kau melepaskan aku saat ini juga," bujuk Fiona.


Pada dasar, memang bukan James yang menculiknya, jadi mungkin saja James masih bisa luluh jika dia membujuknya.


James berdiri tepat di depan Fiona lalu memegangnya kedua bahunya. "Fiona, tidak bisakah kau mencintaiku dan hidup selamanya bersamaku? Aku sangat mencintaimu Fio," ucap James dengan tatapan sendu sekaligus tatapan penuh harap.


"James, sudah aku bilang, aku hanya mencintai Steven. Aku tidak bisa mencintaimu meskipun kau memaksaku."


Sorot mata James sekitka berubah berapi-api. "STEVEN... STEVEN... LAGI-LAGI STEVEN!!" ucap James dengan nada tinggi. "Apa yang ada di otakmu hanya dia? Haaah??" tanya James dengan wajah yang sudah diliputi emosi.


"Praaang.. Duuarrr... Braaakk." James membuang dan membanting semua barang yang ada di dalam kamar tersebut. Setelah puas melampiaskan amarahnya dia beralih menatap Fiona.


James menyeringai lalu berkata, "Apa aku harus melenyapkannya baru kau bisa menerimaku??" tanya James.


Tubuh Fiona bergetar tanpa sadar dia perlahan berjalan mundur menjauh dari James. Fiona merasa takut melihat tingkah James yang mulai menggila.


"Kau gila James," pekik Fiona.


James dengan langkah cepat menghampiri Fiona. "Kau yang sudah membuatku gila Fiona," ucap James, "jadilah istriku, maka aku akan membuatmu menjadi wanita paling bahagia dia muka bumi ini." James mulai mengangkat tangannya ingin meraih wajah Fiona.


"Jangan sentuh aku!" Fiona langsung berjongkok sambil mendekap tubuhnya dengan erat. Dia merasa takut melihat tatapan James yang seperti ingin ******* habis dirinya.


James ikut berjongkok. "Fiona, maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk membuatmu takut." James memegang bahu Fiona.


"Baiklah, aku akan pergi. Aku akan menyuruh orang untuk ke sini membawakanmu gaun pengantin dan meriasmu. Persiapkan dirimu. Kita akan menikah siang nanti."


Fiona tidak merespon. Dia masih berjongkok dengan menelungkupkan wajahnya ke bawah sambil mendekap tubuhnya dengan kedua tangannya.


********


Siangnya, seseorang masuk membawa gaun dan beberapa barang untuk Fiona. Orang tersebutlah yang akan merias Fiona. Tidak lama setelah orang itu masuk. James terlihat membuka pintu dan berjalan menghampiri Fiona yang terlihat sedang duduk di tempat tidur.


"Kau keluarlah dulu," perintah James pada orang yang bertugas untuk merias Fiona.


"Baik Tuan."


Wanita itu keluar dengan langkah cepat lalu menutup pintu. James melangkah mendekati Fiona lalu duduk di sampingnya.


"Fiona, jangan berani-berani menolak keinginananku. Menurutlah, jangan sampai aku memaksamu. Jadilah pengantinku, maka akan aku jamin hidupmu akan bahagia tapi jika kau menolak, maka orang lain pun tidak boleh memilikimu."


Tangan dan tubuh Fiona kembali bergetar. Fiona nampak berpikir sejenak. "Aku akan menikah denganmu tapi dengan syarat. Lepaskan Doni. Jangan libatkan dia dalam masalah kita."


Sebenarnya Fiona hanya berusaha untuk mengulur waktu, dia sedang mencari cara untuk kabur dari sana.


James tersenyum lebar. "Aku tidak bisa melepaskan dia Fiona. Dia bisa saja menghubungi Steven, jika aku melepaskannya sekarang. Aku janji akan melepaskannya setelah kita pergi dari sini."


"Baiklah, kalau begitu biarkan aku bertemu dengannya sebentar. Aku hanya ingin memastikan keadaannya baik-baik saja."


James meneliti wajah Fiona sesaat. "Fiona, jangan coba-coba mempermainkan aku."


"Aku hanya ingin bertemu dengannya sebentar James. Dia terluka karena aku, setidaknya aku harus melihatnya untuk terakhir kali," kilah Fiona.

__ADS_1


"Baiklah, setelah itu kau harus langsung bersiap untuk menikah denganku. Jangan coba-coba kabur karena daerah ini sudah dikelilingi oleh orang-orangku."


"Iyaaa." James menarik tangan Fiona keluar dari kamar tersebut menuju ruangan Doni.


"Masuklah." James membuka pintu.


Sebelum masuk, Fiona menoleh pada James. "Berikan aku 5 menit untuk berbicara dengannya."


"Baiklah. Ingat Fiona jangan macam-macam denganku!" ancam James dengan sorot mata tajam.


"Iyaaa." Fiona melangkah masuk mendekati Doni yang nampak duduk di kursi dan tidak sadarkan diri dengan tangan dan kaki yang terikat.


"Doni, bangun Don." Fiona mengguncang tubuh Doni.


Seketika Doni membuka matanya. "Nona, bagaimana kau bisa ada di sini?"


"Sssssttttsss." Fiona meletakkan jari telunjuknya di bibir. "Tenanglah, James sedang ada di depan. Aku ke sini untuk memberikanmu ini."


Fiona mengeluarkan pecahan kaca dari tangannya yang dia dapat dari pecahan vas bunga yang di pecahkan oleh James tadi.


"Gunakan ini untuk membuka ikatan di tangan dan kakimu." Fiona lalu berjalan ke belakang Doni lalu meletakkan di genggamannya.


"Terima kasih Nona. Sebenarnya Nona tidak perlu melakukakan ini. Saya bisa melepaskan sendiri dengan cara saya."


"Maksudmu?"


"Saya akan mengeluarkan Nona dari sini, tapi saya sedang menunggu mereka lengah."


"Kita tidak punya banyak waktu Don, James memaksaku untuk menikah dengannya dan dia berniat membawaku pergi. Aku ke sini untuk memberitahumu hal ini juga."


"Apa?? Jadi, dia dalang dari penculikkan Nona?"


"Bukan, ceritanya panjang."


Doni nampak memutar otak. "Nona, apa Nona masih memakai kalung yang diberikan oleh Tuan Steven, yang sempat saya pinjem waktu itu?" tanya Doni dengan antusias.


"Kalung ini maksudmu?" Fiona mengeluarkan kalung dari dalam bajunya.


"Benar, coba Nona tekan di belakang liontin itu."


Fiona meraba liontin bagian belakang lalu menekannya. "Memangnya apa gunanya?"


"Itu adalah GPS yang sengaja saja saya tanam di dalam liontin kalung Nona atas perintah tuan Steven. Ketika Nona menekannya, otomatis lokasi Nona akan terdeteksi di ponsel Tuan Steven. Mereka akan lebih mudah menemukan lokasi Nona Fiona."


Semenjak Fiona di tahan ibunya, Steven memerintahkan Doni untuk menanam gps pada ponsel Fiona, kemudain Doni juga mengusulkan untuk menambahkan gps tersembunyi yang bisa selalu dibawa oleh Fiona.


Fiona langsung merasa senang. "Benarkah? Kenapa kau tidak memberitahuku saat kita bertemu tadi pagi?" setidaknya dia masih memiliki secercah harapan kalau Steven akan datang menolongnya.


"Saya tidak bisa mengatakan langsung pada Nona karena mereka terus mengawasi gerak-gerik saya. Saya hanya takut mereka akan tahu karena hanya itu satu-satunya alat yang bisa Nona gunakan agar tuan Steven bisa menemukan Nona, jika seadainya saya tidak bisa membawa Nona keluar dari sini."


Fiona nampak terharu sekaligus prihatin dengan kondisi Doni. Terdapat banyak luka lebam di wajahnya, bahkan darah di wajahnya sudah mengering sebelum sempat dibersihkan.


"Doni, terima kasih karena sudah menjagaku selama ini. Dan, maaf gara-gara aku, kau harus terluka seperti ini."


"Nona, ini sudah menjadi tugas saya. Nona tidak perlu sungkan. Saya akan berusaha mengulur waktu sampai tuan Steven menemukan keberadaan kita di sini. Saya harap Nona bertahan sebentar lagi, saya yakin Tuan Steven pasti sudah menuju kesini."


"Duuubraaaak." Pintu terbuka dengan keras.


"Fiona, waktumu sudah habis. Kau harus segera bersiap."

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2