Goresan Luka di Hati Fiona

Goresan Luka di Hati Fiona
Batal...


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore, Fiona segera bergegas untuk turun ke bawah. Doni sudah menghubunginya kalau dia menunggu parkiran depan gedung kantornya.


Ketika Fiona sampe di depan loby seseorang menghampirinya. "Fiona."


Fiona sedikit terkejut melihat pria yang ada di depannya. Dia kemudian menengok kanan dan kiri, seperti sedang mencari seseorang. "Kak Leon, kenapa kau ada di sini?" tanya Fiona dengan alis yang saling bertautan.


"Aku ingin berbicara denganmu, penting."


"Bagaimana kalau besok kita baru berbicara Kak? Aku sudah ada janji." Fiona tidak mungkin membatalkan janjinya pada Steven untuk makan malam karena dirinyalah yang mengajaknya.


"Aku hanya butuh satu jam. Aku tidak bisa bertemu denganmu besok karena harus keluar kota," ungkap Leon dengan wajah serius.


Fiona menimang sesaat perkataan Leon. "Baiklah, tunggu sebentar."


Leon mengangguk sambil menatap Fiona yang terihat sedang berjalan menjauhinya sambil menelpon seseoarang.


Beberapa menit kemudian Fiona kembali menghampiri Leon. "Di mana kita akan bicara?"


"Di cafe dekat sini saja," usul Leon.


Fiona mengangguk lalu berjalan bersamaan dengan Leon menuju mobilnya. Leon memutuskan untuk membawa Fiona ke cafe yang berada tepat di sebrang kantor Fiona.


"Kau ingin pesan apa?" Leon menatap Fiona setelah selesai melihat buku menu.


"Coffe latte." Fiona menutup buki menu setelah memesan minuman.


"Kau tidak ingin makan?"


Fiona menggeleng cepat. "Tidak Kak."


Leon mengangguk lalu memanggil seorang pegawai cafe lalu memesan 2 minuman untuk mereka berdua. "Apa yang ingin Kakak bicarakan padaku?"


Fiona hanya memiliki sedikit waktu untuk berbicara dengan Leon. Dia tidak mau membuang-buang waktunya karena harus segera pergi.


"Ibumu bilang kau kabur dari rumah bersama dengan seorang pria? Apa itu benar?"


"Mama menghubungi Kakak?"


"Tidak, kemarin aku ke rumahmu, dan Ibumu bilang kau pergi meninggalkan rumah. Ibumu bilang kau tinggal bersama dengan seorang pria, apa itu benar?"


Fiona menghela napas. "Iyaaa benar."


Leon menatap dalam mata Fiona. "Kalau kau punya masalah tidak seharusnya kau pergi dari rumah dan pergi dengan pria asing. Semuanya bisa dibicarakan baik-baik."


"Aku tidak pergi dengan pria asing Kak.Aku pergi dengan Steven."


"Steven lagi?" Terlihat kalau Leon tidak menyukai Steven.


"Saat ayahmu meninggal kau tinggal bersamanya, sekarang kau tinggal bersamanya lagi. Fiona, kau sudah berubah." Terlihat Leon kecewa dengan Fiona."


"Dulu, saat kau ada masalah kau selalu mendatangiku dan Jesy, jika kau bertengkar dengan ibumu, kau tinggal di rumah Jesy ataupun menginap di rumahku bersama dengan Jesy. Sekarang kenapa kau dengan mudahnya tinggal bersama dengan pria yang bahkan kau tidak mengenalnya dengan baik. Sebenarnya kau menganggapku ini apa?"


"Kak, aku punya alasan kenapa aku pergi dengan Steven. Aku memang berniat untuk menceritakan pada Kakak dan Jesy setelah aku menyelesaikan urusan keluargaku."


"Ikut aku pulang. Aku tidak akan membiarkanmu tinggal bersamanya. Kau bisa jelaskan nanti semuanya padaku."


Fiona mulai panik karena melihat wajah Leon yang tampak marah. "Aku akan menceritakan semuanya padamu, tapi aku tidak bisa ikut denganmu sekarang."


"Kau tidak bisa tinggal bersamanya lagi. Bagaimana pun aku adalah kekasihmu, Terlepas dari kita bersandiwara atau tidak tapi kau masih kekasihku jadi aku tidak setuju kau tinggal bersamanya."

__ADS_1


"Fiona... Apa yang kau lakukan di sini?" Mendengar suara yang familiar Fiona langsung menoleh bersamaan dengan Leon.


"Steve," ucap Fiona dengan wajah terkejut.


Steven langsung menghampiri Fiona dan meraih tangannya. "Ikut aku." Tanpa menunggu persetujuan Fiona, Steven langsung menarik tangannya.


"Steve, tunggu dulu. Aku belum selesai bicara dengan Kak Leon," ucap Fiona dengan wajah panik.


"Kau tidak bisa membawanya. Dia akan ikut bersamaku." Leon menahan tangan Steven yang sedang memegang tangan Fiona untuk menghentikan langkah Steven membawa pergi Fiona.


Steven menoleh pada Leon. "Jangan ikut campur urusanku." Steven menatap Leon dengan tatapan menyalang.


"Fiona adalah kekasihku. Kau tidak bisa membawanya pergi begitu saja tanpa persetujuanku. Aku rasa dulu aku sudah pernah mengatakan padamu saat di pesta."


"Cukup, kalian jangan berdebat di sini." Fiona berusaha untuk menengahi Steven dan Leon.


Steven tersenyum sinis. "Fiona sudah memberitaku kalau kalian hanya bersandiwara. Jangan terlalu percaya diri, dia tidak mencintaimu." Steven menghempaskan tangan Leon lalu kembali menarik tangan Fiona hingga ke parkiran.


Sebelum mencapai parkiran, Fiona menahan langkahnya agar Steven tidak bisa menariknya lagi. "Steve, tolong berikan aku waktu untuk berbicara dengan Kak Leon. Aku harus menjelaskan padanya apa yang sebenarnya terjadi. Lebih baik kau pulang. Kita bertemu lagi nanti malam."


Steven menghentikan langkanya lalu berbalik menatap Fiona. "Kau menyuruhku pergi?"


"Steve, aku harus berbicara dengan Kak Leon dulu. Aku tidak bisa pergi begitu saja tanpa menjelaskan masalahnya pada Kak Leon."


"Jadi, kau lebih memilih bersamanya dari pada aku?" tanya Steven dengan alis mengerut dan tatapan kecewa.


"Bukan begitu Steve, tolong mengerti posisiku. Kak Leon pasti akan datang mencariku ke mansionmu jika aku tidak menjelaskan padanya."


"Untuk apa kau menjelaskan padanya, dia bukan keluargamu," ucap Steven dengan mimik tidak suka.


"Steve, sebelum aku bertemu denganmu, dialah yang selalu melindungiku. Dia sudah seperti keluargaku Steve. Aku tidak bisa pergi begitu saja dan mengabaikannya."


"Kau...." Fiona menggantungkan ucapanya.


Melihatnya tak mampu menjawab pertanyaannya, Steven berkata, "Baiklah, aku mengerti. Pergilah." Steven melepaskan tangan Fiona lalu pergi meninggalkannya.


Fiona menatap sedih pada Steven, menunggunya menghilang dari pandangannya lalu kembali masuk ke dalam.


Pukul 7 malam Fiona kembali ke mansion Steven dengan diantar oleh Leon setelah menceritakan semuanya padanya. Awalnya Leon tidak setuju kalau Fiona kembali ke mansion Steven tapi Fiona mengatakan kalau dirinya akan segera pindah dari mansion Steven, Leon akhirnya setuju.


Fiona berjalan masuk ke dalam kamar Steven. tapi tidak menemukan keberadaannya. Fiona lalu menelpon Steven berkali-kali tapi tidak diangkat, dia kemudian mengirimkan pesan. Setelah menunggu sekita 15 menit, Steven membalas dan mengatakan kalau dirinya ada urusan dan tidak akan pulang. Fiona memutuskan untuk berbicara dengan Steven besok pagi.


******


Di suatu tempat, Steven sedang duduk di depan meja bar sambil memegang gelas yang berisi minuman beralkohol rendah. "Tuan, Nona Fiona menghubungi Anda." Erick memegang ponsel Steven yang tadi di titipkan oleh bosnya.


Steven meletakkan gelas di atas meja lalu melirik tanpa minat pada Erick. "Biarkan saja."


Steven kembali menatap ke depan, mengangkat gelasnya lalu meminumnya. "Bagaimana dengan reservasi restorannya Tuan?"


Tadi pagi, Steven meminta Erick untuk mereservasi meja di salah satu restoran yang terkenal di kotanya untuk acara malam bersama dengan Fiona.


"Batalkan," ucap Steven tanpa melirik pada Erick.


"Lalu bagaimana dengan kejutan yang sudah Anda siapakan dan juga cincinnya?"


"Batalkan semuanya," ucap Steven acuh. Dia kembali menenggak minuman yang ada di gelasnya. "Cincinnya untukmu saja, kalau kau tidak mau, kau bisa membuangnya atau menjualnya."


Membuangnya? Tentu saja aku tidak segila Anda yang akan membuang benda yang yang bernilai tinggi. Ini adalah cincin yang dipesan khusus dan harganya tidak murah. Aku bisa membeli rumah mewah beserta isinya dengan cincin ini.

__ADS_1


"Bukankah Anda sudah mempersiapkan ini sejak lama? Kenapa Anda membatalkannya?"


Steven mengusap kasar wajahnya. "Apa kau ingin aku mempermalukan diriku dan mengemis cinta padanya? Aku juga memiliki harga diri Rick."


"Tapi setidaknya Anda beritahukan perasaan Anda padanya."


"Sudahlah. Jangan membahasnya lagi."


*******


Pagi harinya, Fiona menunggu kedatangan Steven di ruang tamu. "Selamat pagi Nona Fiona, saya diminta tuan Steven untuk mengantarkan Nona ke kantor." Doni baru saja datang dan sedang berdri di depannya.


Fiona lalu berdiri. "Steven ke mana? Apa dia tidak datang?" tanya Fiona penasaran.


"Tuan Steven tidak ke sini Nona. Tuan Steven langsung ke kantor."


Fiona terlihat kecewa. "Baiklah."


"Mari Nona." Doni mengarahkan tangannya keluar untuk mempersilahkan Fiona berjalan terlebih dahulu. Fiona mengangguk lalu berjalan keluar.


Fiona mengirimkan pesan pada Steven untuk memintanya datang ke mansion nanti malam tapi Steven bilang kalau dirinya tidak bisa datang karena sedang ada acara penting. Fiona akhirnya meminta Steven bertemu ke esokan harinya dan Steven menyetujuinya.


Malam ini, Fiona sudah memiliki janji untuk bertemu dengan Reynald untuk menghadiri acaea yang tempo hari Reynald katakan padanya. Setelah bersiap, Fiona menuju kantor Reynald. Dia sengaja bertemu disana karena lebih dekat dari tempat acara pesta itu.


"Hai, Fiona. Kau cantik sekali malam ini," puji Reynlad ketika melihat penampilan Fiona yang yang anggun dan elegan dengan gaun berwarna putih.


Fiona tersenyum canggung. "Aku hanya tidak ingin mempermalukanmu. Kau bilang acara ini hadiri oleh orang-orang penting dan besar. Mana mungkin aku berpenampilan biasa."


Reynlad merasa senang karena Fiona memikirkan imagennya. "Baiklah, kalau begitu kita langsung pergi."


Fiona mengagguk " Iya."


Tiba di tempat acara, Fiona dan Reynald langsung masuk dan disambut dengan beberapa rekan bisnis Reynald. Mereka lalu berbincang sambil berdiri.


Fiona lebih banyak diam sambil membuka mulutnya ketika ditanya. Selesai berbicang, Reynlad kembali mengajak Fiona untuk bertemu dengan rekan bisnisnya yang lain.


Ketika mereka Reynlald sedang asyik berbicara dengan rekan bisnisnya, Fiona tidak sengaja melihat Steven sedang berdiri tidak jauh darinya dan sedang menatap dingin ke arahnya.


"Steve," gumam Fiona dalam hati. Wajahnya terlihat kecewa ketika melihat ada wanita yang sedang berdiri di sampingnya sambil mengapit lengan Steven dengan mesra.


Baik Steven dan Fiona tidak saling sapa, mereka hanya saling menatap dari tempat mereka beridiri sampai akhirnya Steven pergi bersama dengan wanita yang di sampingnya.


Jadi, ini yang kau bilang ada urusan penting hingga kau tidak mau menemuiku. Ternyata kau sedang bersenang-senang di sini.


Fiona tersenyum getir. Aku memang bodoh karena sempat berpikir kalau kau menyukaiku.


"Rey, aku permisi ke toilet dulu."


Reynlad meneloh pada Fiona sejenak. "Apa perlu aku mengantarmu?"


"Tidak, kau tunggu di sini saja."


"Baiklah."


Setelah menanyakan di mana letak toilet pada salah satu pelayan, Fiona berjalan dengan hati-hati sambil memegang gaun yang dia gunakan.


Belum sampai di toilet, Fiona dibuat terkejut ketika tangannya ditarik oleh seseorang. "Ikut aku."


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2