
Waktu makan siang mereka sampai di Pelabuhan Tanjung Perak. Mereka menuju ruang tunggu dan makan siang di sana. Kapal masih proses bongkar muat. Kira-kira satu atau dua jam lagi baru mereka bisa naik.
Kebanyakan mereka baru kali pertama naik kapal laut. Termasuk Melati juga pengalaman pertama. Hari ini cerah sekali. Karena memang lagi bulannya musim panas. Menurut info kalau bulan begini angin laut tidak terlalu besar, gelombang tidak akan tinggi. Sepertinya mereka memilih perjalanan di waktu yang tepat.
"Kita selfie, yuukkk..." Vera muncul dengan HP-nya. Mengajak mengabadikan momen langka ini.
"Groupfie kaliii..." sontak Difa berseru.
"Serah deh... Pokoknya asyikkk..." sahut Vera. "Pose..." Dan begitulah... Bergaya kiri kanan, senyum, manyun, melotot, terserah enaknya, deh... Yang penting muka ikut nongol di kamera.
Tidak lama sudah terdengar sorakan dan tawa renyah melihat gambar mereka yang di-upload di beberapa sosmed teman-teman. Benar-benar keseruan yang hakiki.
Sejam kemudian ada pengumuman penumpang kapal Oasis tujuan Lombok sudah bisa naik ke kapal. Bergegas mereka membawa barang, berbaris check in dan menuju kapal. Wah, seperti ini ya kalau naik kapal. Melati menikmati setiap proses dan tahap perjalanan ini.
Beberapa temannya yang biasa pergi dengan pesawat menggerutu. Panas, lama, berdesakan, dan ada saja keluhannya. Tapi Ranita tampak tenang saja. Padahal dia salah satu anak orang yang berduit di kelas. Papanya punya beberapa toko mebel dan bangunan tersebar di beberapa tempat di Malang. Kabarnya malah sudah mulai ada yang di kota lain.
"Are you okay?" tanya Melati pada Ranita.
"Santai, Bu. Perjalanan ini tidak akan terulang. Tidak asyik kalau dibuat menggerutu. Nikmati saja," katanya sambil tersenyum lebar.
Mereka terus naik sampai di dek penumpang. Ternyata nyaman juga di dalam kapal. Mereka memilih di dek dengan kursi berjajar, bukan yang menggunakan kasur seperti bangsal. Setelah meletakkan barang-barang Melati dan Ranita berkeliling kapal.
Ada kantin, di paling atas dengan playground kecil. Lengkap juga ya, buat anak-anak yang ikut bisa nyaman ada tempat bermain. Melati memperhatikan proses kapal mulai meninggalkan pelabuhan. Ternyata tidak asal kapal diputar kemudinya. Ada banyak pertolongan kapal kecil yang mengarahkan kapal besar ini bisa ke berputar haluan dan siap menuju laut lepas.
Setelah kapal mulai berlayar, Melati memperhatikan ombak yang bergerak tidak ada henti diterjang kapal. Buih putih bergulung, menerpa satu sama lain di atas warna laut yang biru semakin gelap. Menyenangkan sekali. Karena ombak yang tidak terlalu besar, tidak terasa begitu guncangan. Angin menerpa wajah Melati sementara dia melihat jauh ke laut luas.
Indah sekali karya Tuhan... Laut biru di mana-mana. Kapal ini seperti mainan di kolam yang sangat besar. Di ujung sana, nampak garis panjang laut yang langsung bertemu dengan biru langit. Di bagian tertentu awan tergambar di atas garis biru itu.
"It is amazing... How wonderful..." bisik Melati.
"Yaa... bagus banget, yaa..." Ranita rupanya ikut mengamati apa yang Melati lihat.
__ADS_1
Melati mengambil beberapa foto dari indahnya alam itu. Dia post di IG miliknya dengan caption batas air dan awan. Cantik. Melati tersenyum sendiri.
"Masuk yukk... Sudah mau gelap," ajak Ranita.
"Nooppp... Sunset..." Melati menunjuk ke arah langit yang mulai merah. Datang dari arah depan kapal.
"Ahh... oke." Ranita bertepuk tangan. Keduanya berjalan ke arah depan kapal. Ternyata beberapa teman juga sudah di sana.
Jadilah mereka groupfie lagi. Sambil bercanda dan bernyanyi riang. Menyenangkan sekali. Ini baru di kapal. Coba di tujuan nanti, pasti makin asyikk...
Setelah semakin remang, Melati dan Ranita masuk dalam dek dan duduk di tempatnya. Melati melihat HP-nya. Ada chat di sana.
Elvan
- Batas air dan awan. Sangat tipis. Seperti hati, bisa mudah berbalik menjadi cinta.
Rupanya dia melihat postingan Melati. Tapi dia tidak komen di sana. Langsung chat di WA. Apa lagi maksudnya berbalik menjadi cinta? Ternyata Elvan, Elvan...
Melati
Elvan
- It is ok.
"Masih bisa connect?" tanya Ranita.
"Nyambung ilang gitu, deh," jawab Melati. Hm, dia harus ganti nama Elvan. Kadang Ranita usil lihat HP-nya. Kalau Ranita tahu bisa tanya macam-macam. Melati mengganti nama Elvan dengan Adik Kecil. Hee... dia senyum sendiri.
Waktu terus berjalan. Seperti lambat sekali. Beda dengan waktu di sekolah. Waktu seperti lari dengan cepat. Hari berganti dengan cepat. Dari Senin ke Senin lagi seperti beberapa jam saja. Sedangkan di kapal ini mereka hanya duduk, ngobrol, makan snack, jadinya waktu seperti berhenti berputar.
Akhirnya Melati memilih tidur saja. Supaya begitu bangun tidak terasa sudah ganti hari. Dia tidak begitu perhatikan teman-temannya yang masih asyik ngobrol. Ada yang bernyanyi menghibur diri dari kebosanan. Ranita malah sudah dari tadi terlelap.
__ADS_1
"Mel, temani, dong." Suara Ranita. Dia goyang-goyang pundak Melati.
"Hmmm..." Melati membuka mata, menguap. Dia tutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Temani. Toilet," kata Ranita. Dia minta Melati menemaninya untuk urusan kamar belakang.
"Ya," kata Melati pendek.
Berdua mereka ke toilet. Melati ¹ ikut masuk dan membersihkan mukanya. Langit sudah mulai terang, bukan gelap, tapi abu-abu. Melati melihat arlojinya. Jam 4 lewat.
"Ayoo..." ajak Ranita, mengajak balik ke dek. "Ntar kita lihat sunrise kalau udah lebih terang."
"Oke." Melati setuju saja. Masih rasa mengantuk dan agak penat karena perjalanan jauh. Tapi dia sudah tidak bisa tidur.
Ketika langit terlihat mulai merah, Ranita mengajak Melati keluar dari dek. Banyak juga teman-teman dan penumpang lain yang menunggu sunrise. Ternyata momen ini masih disukai sampai generasi milenial ini hee...
Melati mengambil beberapa gambar yang cantik dari indahnya sunrise. Orang di sekeliling juga sama. Ternyata kecanggihan berbagai alat modern tidak menggantikan keajaiban alam ciptaan Sang Khalik. Justru alat-alat itu digunakan untuk mengabadikannya.
Kapal masih terapung di samudra raya. Melati dan teman-temannya sudah mulai bosan melihat laut. Tapi apa daya, mereka hanya harus sabar menanti kapal tiba di pelabuhan tujuan, hee...
"Aduh, kapan sampai, yaa..." keluh Leon. "Jangan-jangan kapal ini hanya putar-putar saja. Dam bulan depan baru sampai."
"Ngacooo..." Danu menjitak kepala Leon. "Kalau kamu yang jadi nahkoda nah, baru kejadian tuh, muter terus dan nyasar."
"Ooihh... kepala nih... masih berguna. Sembarangan aja." Leon menangkis tangan Danu.
"Kalau kamu bosan, main di luar sana," tandas Melati santai.
"Di luar?" Leon menoleh ke arah Melati.
"Di luar kapal." Lagi santai sekali Melati menjawab.
__ADS_1
"Hhaa... haaa...." Meledak tawa teman-teman mendengar itu.
Lalu terdengar pengumuman bahwa tidak lama lagi kapal akan tiba di pelabuhan yang mereka tujuan. Mereka bersorak girang. Walau begitu mereka masih harus menunggu lebih sejam sampai kapal benar-benar menepi dan penumpang akhirnya boleh turun dari kapal.