
Melati berdiri di cermin besar menatap dirinya. Menjadi istri Elvan. Ah, siapa mengira, adik kelasnya yang sangat diidolakan siswi sekolahnya itu sekarang adalah suaminya. Seorang pria yang luar biasa penuh kejutan, sejak Elvan mendekati dirinya.
Elvan berdiri agak jauh dari Melati. Dia pandangi Melati yang tidak menyadari bahwa Elvan sedang menatapnya dengan kelegaan dan cinta yang besar buatnya. Dia lihat Melati mulai melepas mahkota dan cadar yang ada di kepalanya. Lalu mulai membuka resleting di punggungnya. Karena resleting cukup panjang, Melati nampak kesulitan. Perlahan Elvan mendekatinya.
"Sini aku bantu," bisik Elvan. Melati melepaskan tangannya dan diam di tempatnya. Elvan membuka resleting gaunnya. Lalu diputarnya tubuh Melati menghadap ke arahnya. Dia tatap lembut wajah Melati yang bersemu merah.
"Hai... my wife..." ucap Elvan sambil tersenyum tipis.
Melati merasa dadanya sudah meronta-ronta dag dig dug, bertalu-talu, bertubi-tubi. Wajahnya pasti merah dan telinganya juga terasa panas.
"Nervous?" kata Elvan. Melati mengangguk.
Elvan membuka jasnya, menaruhnya di sandaran kursi yang ada di sebelahnya, lalu kembali pada posisinya berdiri di depan Melati. Melati melihat kemeja yang kotor itu. Merah darah sudah jadi gelap. Melati menyentuhnya.
"Mas, mandi dulu, ya... sudah kotor sekali ini.." kata Melati.
Elvan tidak menjawab, dia mendekatkan wajahnya pada Melati dan mengecup bibir Melati lembut. Sengatan listrik seperti mendera tubuhnya, Melati juga merasakan ketegangan di seluruh tubuhnya. Tapi dia membiarkan Elvan menciumnya, semakin dalam. Elvan memegang kepala dan bahunya, Melati melingkarkan tangannya di pinggang Elvan.
Setelah beberapa lama Elvan melepaskan ciumannya. Dia tatap Melati dengan lembut.
"Love you, Mel..." Elvan menyentuh poni Melati yang tergerai bagus di dahinya.
"Love you, too..." kata Melati. Ada rasa malu sedikit meniup di dadanya.
"First kiss?" tanya Elvan. Melati mengangguk. Kata-kata itu membuat merona lagi wajah Melati.
"Me too..." ucap Elvan. Dan lagi dia mencium bibir Melati yang mungil. Kembali letupan di dada membuncah, semakin kuat sekarang.
Yang Melati dan Elvan rasakan, menjaga diri hingga sah menjadi pasangan di hadapan Tuhan dan keluarga rasanya bangga dan luar biasa.
"Terima kasih sudah menjaga dirimu. Benar-benar hanya buat aku," bisik Elvan. Wajahnya begitu dekat dengan Melati. Mata coklat indah itu yang Melati suka melihatnya.
Melati memeluk Elvan. Seperti yang biasa dia lakukan, menyandarkan kepala di dada Elvan, mendengarkan detak jantungnya yang kuat. Kali ini sangat kuat, lebih dari biasanya.
Melati mengangkat wajahnya dan kembali menatap Elvan. "Mas..." Melati meletakkan tangan kanannya di dada Elvan.
__ADS_1
"Jantungku juga ga karuan, Mel... merindukan kamu... pingin ngapa-ngapain kamu." Elvan tersenyum.
Melati makin tersipu. "Aku mandi, ya..." kata Melati. Elvan mengangguk.
Melati masuk kamar mandi dan segera membersihkan dirinya. Lelah tidak terasa karena bahagia yang menguasai hatinya. Rasanya masih tak percaya, dia dan Elvan sudah jadi suami istri. Melati tersenyum sendiri.
Sementara Elvan membuka kemeja putihnya. Dia melebarkan kemeja itu dan menaruhnya di kasur. Ah, memang menjijikkan bekas darah yang ada di sana. Dia merasa lucu mengingat kejadian tadi. Bagaimana tidak? Persis 20 menit dia harusnya ada di altar, justru malah belok ke rumah sakit.
"Semoga kamu sudah baik-baik, Gadis kecil," gumam Elvan lirih. Dia bahkan tidak tahu nama anak yang ditolongnya.
Sambil menunggu Melati Elvan membaringkan badannya di ranjang. Leganya... Semua penat seperti menguap. Baru beberapa menit berbaring, Elvan tertidur.
Pintu kamar mandi terbuka. Melati keluar dengan mengenakan gaun tidurnya. Rambutnya yang basah dia tutupi dengan handuk. Di tempat tidur kemeja Elvan tergolek. Sementara Elvan tidur di sisi lain ranjang. Melati tersenyum dan mendekati Elvan.
Melati duduk di pinggir ranjang, persis di dekat wajah Elvan. Melati memandanginya. Elvan tidur terlentang tanpa baju. Badannya bersih sekali. Bentuk dada dan perutnya bagus. Yang orang bilang roti sobek itu. Lalu Melati mengalihkan pandangan ke wajah Elvan. Kali ini Elvan benar-benar lelap. Ini pertama kali Melati melihat Elvan begitu dekat saat dia tidur. Masih saja tampan. Wajahnya terlihat tenang.
Senyum Melati mengembang. Dia usap lembut kepala Elvan. Rambutnya kecoklatan dan halus. Lalu disentuhnya pipi Elvan. Sepelan mungkin agar tidak membangunkannya.
"Terima kasih. Terima kasih Elvan Alcandra Edgar. Terima kasih mau memaksaku untuk mencintaimu. Aku menikmati cintamu yang selalu membuatku terpana dan merasa begitu istimewa," ucap Melati pelan.
"Hmmm... tanganmu kecil, ya..." ujar Elvan. Matanya tetap terpejam.
"Mas bukannya tidur?" Melati agak terkejut.
"Tidur, kok. Kebangun karena ada yang geli dan hangat di pipi," kata Elvan.
"Mas mandi dulu sana... biar badannya segar."
"Malas... capek dan ngantuk." Elvan masih merem.
"Ternyata, ganteng-ganteng malas mandi... ih, jorok..." Melati menarik tangannya. Dia membalikkan badan membelakangi Elvan.
Elvan membuka matanya. Dia duduk, maju mendekat Melati dan merangkulnya dari belakang. Elvan mencium bahu Melati.
"Eh, mandi dulu..." ujar Melati lagi.
__ADS_1
"Apa aku bau?" kata Elvan.
"Nggak juga. Cuma ga enak kan dari pagi sudah acara sampai malam gini."
"Ya udah, aku ga lama, kok." Elvan melepas pelukannya. Dia turun dari kasur, mengecup kening Melati dan menuju kamar mandi.
Begitu Elvan masuk kamar mandi, Melati beranjak ke meja rias. Dia lepas handuk di kepalanya dan mengeringkannya dan dia sisir rambutnya. Lalu dia ambil HP di tasnya. Ada banyak ucapan selamat. Apalagi di dunia maya. Secara Farel, Lily, Damar, dan Jati sudah pasang gambar pernikahannya.
Melati tersenyum melihat foto-foto itu. Wajah gembira menghiasi senyum orang-orang yang dicintainya. Bersyukur sekali memiliki mereka yang selalu mendukung dan menguatkan hidupnya.
Ayah ibu, adik-adiknya. Papa mama Elvan, Farel, Azka dan keluarga kecilnya. Ranita dan Alfaro. Rumah Garuda dan Yayasan Kasih. Mereka semua berarti buatnya. Tuhan teramat baik. Tidak ada alasan buatnya untuk tidak bersyukur atas semua yang dia punya hari ini. Dan yang paling dia suka, Elvan di sini dengannya. Sekarang.
"Lihat apa?" Elvan sudah berdiri di sisinya. Melati menunjukkan foto-foto itu.
"Simpan dulu. Sekarang waktu kita. Berdua saja. Yang lain anggap saja ga ada," kata Elvan.
"Mana bisa begitu?" ucap Melati.
"Mereka juga ga akan ganggu kita." Elvan menarik Melati berdiri di dekatnya. Dia hanya mengenakan celana pendek. Dadanya yang bagus terlihat begitu jelas. Elvan memeluk Melati. Didekapnya erat di dadanya.
"Mas..." Jantung Melati lagi berdebaran, langsung beradu, seperti terjadi huru hara di sana.
"Kamu belum siap?" Elvan mengangkat dagu Melati.
"Aku..." Melati tidak tahu harus bicara apa. Malu, takut, tapi penasaran, bercampur di hatinya.
"Ga apa. Aku ga akan paksa kamu. Aku mau kita melakukan hubungan terdalam karena sama-sama ingin menikmatinya," kata Elvan.
Elvan menuntun Melati ke ranjang. "Istirahat saja. Kamu pasti lelah."
Melati membaringkan tubuhnya. Elvan ikut naik. Berbaring berhadapan. Melati merasa aneh. Dia pejamkan mata, malu melihat Elvan. Elvan menarik selimut, merapatkan tubuhnya ke Melati. Lalu dia peluk Melati. Dia kecup kening Melati lembut, kemudian memejamkan matanya.
"Good night, Honey. Sleep tight," bisik Elvan.
Malam makin larut. Sambil berpelukan keduanya terlelap.
__ADS_1