Hati Putih Melati

Hati Putih Melati
Chapter 52 - It is My Prayer


__ADS_3

Malam itu Azka dan Adista tak berhenti tersenyum. Semua mata memandang mereka jadi raja dan ratu sehari. Ucapan selamat dari semua keluarga, tamu, dan relasi yang hadir menambah semarak acara pernikahan keduanya.


Kakek dan nenek, Pak Diko dan keluarga, rekan bisnis Tirta dan Azka, serta karyawan semua turut hadir memberi selamat. Kelvin dan Vina, teman Azka juga datang. Mereka menikah tahun lalu dan Vina sedang mengandung empat bulan. Tidak ketinggalan Fara yang adalah adik Kelvin juga datang. Seperti biasa dia mulai bermanja-manja pada Elvan. Elvan menanggapi biasa saja. Sedang Melati dia tidak mau cemburu lagi. Dia yakin hati Elvan hanya buatnya.


Di tengah suasana meriah itu MC memanggil Elvan dan Melati untuk mempersembahkan lagu untuk kedua mempelai. Lagu yang mereka pilih adalah The Prayer, yang dipopulerkan Celine Dion dan Andrea Bocelli. Lagu yang indah dengan syair sarat dengan doa dan harapan hidup yang lebih baik.


Begitu Melati melantunkan bait demi bait, tamu yang hadir menoleh padanya. Suara merdunya tak ayal membuat merinding.


Disusul Elvan yang menyanyikan bait kedua. Suaranya terdengar lembut dan tegas. Bersahutan kemudian suara keduanya. Harmoni dengan musik yang manis dan dinamis.


Azka dan Adista menikmati lagu spesial ini. Puas mereka mendengar lagu yang sangat indah dipersembahkan di hari bahagia mereka. Begitu juga dengan semua yang hadir. Tepuk tangan meriah menyambut keduanya setelah lagu usai dinyanyikan.


"Luar biasa... pasangan serasi, tampan dan cantik. Gagah dan anggun. Dan suaranya woowww...." MC mengomentari penampilan Elvan dan Melati dengan penuh semangat.


"Hebat, Kak..." Farel, Damar, dan Lily yang duduk menikmati makanan mengacungkan jempol bareng ke arah keduanya. Melati dan Elvan tersenyum lebar.


"Kita makan, yuk.." ajak Elvan.


"Ayo.. uda lapar juga," kata Melati. Mereka pun ikut duduk dengan keluarga yang lain, menikmati acara dengan kelegaan.


"Kamu Melati, kan?" seorang gadis menyapa Melati. "Kenalkan, Fara." Dia mengulurkan tangan.


Melati melihat Fara yang tersenyum. Dia membalas uluran tangan Fara. "Iya, aku Melati." Melati tersenyum. Melati ingat gadis ini, yang di kafe saat Elvan ultah 17 waktu itu.


Elvan yang duduk tak jauh dari Melati memperhatikannya.


"Suaramu lumayan juga. Duet kalian asyik," puji Fara soal duet tadi.


"Thank you." Melati mengangguk.


"Kamu apanya Elvan?" tanya Fara.


"Aku..."


"Hai, Fara." Elvan menghampiri mereka. "Melati pacarku," kata Elvan menjawab pertanyaan Fara.


"Serius?" Fara menatap Elvan tak percaya. Lalu ke arah Melati.


"Iya. Kamu ketinggalan berita. Kami sudah lebih setahun pacaran," jelas Elvan.


"Oo... gitu yaa..." Nada suara Fara terdengar tidak enak.


"Iya. Kami ambil minum dulu. Yuk, Mel." Elvan menarik tangan Melati lalu merangkul bahunya mengajak Melati ke stand es buah.

__ADS_1


Elvan tahu Fara tidak suka pada Melati, terlihat dari tatapannya. Melati juga merasakan sama. Elvan memilih pergi daripada nanti Fara ngomong yang aneh-aneh. Mulut cewek itu kadang juga tajam, ngomong ga pakai mikir.


Setelah mengambil es buah, Elvan membawa Melati ke tempat yang agak sepi. Dia ingin menghindari Fara. Lagian memang dia ga pernah betah di tengah pesta lama-lama.


"Mel, kamu jangan kuatir, ya..." kata Elvan.


"Kuatir apa?" tanya Melati.


"Fara. Dia mungkin akan terus ganggu aku. Apalagi aku kan tetap di Malang, kuliah di sini. Percaya aku ya, bagaimanapun nanti, jangan ragukan aku," kata Elvan.


Melati mengangguk dan tersenyum. "Waktu hilang ingatan saja masih ingat janji kita, kan? Aku percaya sama kamu."


"Hee... hee..." Elvan tergelak. "Bener juga. Hampir saja aku jadi suami orang. Ternyata yang menyadarkan aku adalah janji kita."


Melati menyentuh pundak Elvan. Elvan menatapnya. "Kalau ingat waktu kamu hilang, duniaku runtuh. Baru seminggu berjanji sudah harus diuji begitu berat. Tapi entah kenapa aku yakin kamu pasti datang. Buat aku."


Elvan meraih tangan Melati dan menggenggam keduanya. "Tuhan pasti kuatkan kita melewati semua untuk memperdalam kasih yang Dia taruh di hati kita. It is my prayer," ujar Elvan lembut.


"Ya, I know." Melati menatap mata Elvan. Dia masih terkagum-kagum dengan mata itu. Yang dari dulu dia tahu memang bagus, tetapi sekarang makin indah saja buat Melati.


Dari jauh, Fara melihat keduanya dengan wajah kesal dan cemberut. Bagaimana bisa Elvan suka cewek itu? Buat Fara Melati itu biasa aja. Biasa banget malah. Dia yang selama ini berusaha mencari cara dekat dengannya selalu dicuekin. Apa memang sudah tidak mungkin ada kesempatan buatnya?


Pelet apa coba yang Melati gunakan sampai Elvan segitunya lengket sama dia? Apa suaranya itu? Secara Elvan kan juga suka nyanyi. Atau hidupnya yang susah? Biar pun Melati memakai dress sebagus itu, Fara bisa yakin Melati hanya cewek dari kalangan biasa.


Pesta berakhir. Azka dan Adista langsung berbulan madu ke Bali. Adista belum pernah ke sana, jadi Azka mengajaknya menikmati indahnya pulau dewata sebagai hadiah pernikahan.


Bersama orang tua dan adik-adiknya Melati pulang. Elvan yang antar jemput mereka. Jam 10 malam Melati sudah berbaring di kamarnya. Lily memilih tidur di depan TV, menggelar karpet dengan Damar dan Jati. Bapak dan Ibu juga sudah di dalam kamar mereka istirahat.


Melati sedang asyik dengan HP-nya. Elvan chat dia.


Elvan Cintaku ❤


- Kapan-kapan duet lagi ya


Melati


- Hmm boleh


Elvan Cintaku ❤


- tinggal tiga hari barengan. lalu ditinggal lagi nih.


Maksudnya Melati akan balik ke kampus.

__ADS_1


Melati


- mau gimana? kan harus kuliah


Elvan cintaku ❤


- masih belum mau jauhan


Melati


- manja 😌🙄


Elvan cintaku ❤


- ya, abis pisah lama juga


Melati


- bisa telponan, kan?


Elvan cintaku ❤


- beda biar bisa vidcall. ga bisa sentuh


Melati


- apaan?


Elvan cintaku ❤


- hee...


Melati


- istirahat ya, uda malam


Elvan cintaku ❤


- ya udah. sleep tight. good night ❤☺


Melati meletakkan HP di meja, lalu berbaring lagi. Ternyata memang harus begini menjalani hubungannya dengan Elvan. LDR.


Tapi doanya takkan berhenti, Tuhan berikan kekuatan mereka tetap menjaga hati masing-masing sementara di sisi lain mereka berjuang menggapai cita-cita.

__ADS_1


__ADS_2