Hati Putih Melati

Hati Putih Melati
Chapter 80 - Hati yang selalu Lapang


__ADS_3

Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan....


*


Sekar duduk dengan gelisah di depan IGD. Masih sangat terkejut dengan kejadian tiba-tiba ini. Doanya ketiga karyawan itu selamat. Ketiganya punya keluarga yang harus dihidupi. Anak dan istri sungguh membutuhkan ayah dalam keluarganya.


"Ibu..." Melati menghampiri ibunya. Dia langsung menggenggam kedua tangan ibu dan duduk di sebelahnya. Tangan ibu dingin sekali.


Elvan ada di belakangnya. Sekarang dia berdiri kira-kira tiga meter jauhnya dari ibu dan anak itu.


"Berdoa saja, Mel. Supaya mereka semua selamat." kata ibu.


"Iya, Bu." Melati mengangguk.


"Siapa saja, Bu, yang luka?" tanya Melati. Terasa suaranya parau.


"Pak Irwan, Pak Diki, dan Pak Lukman," jawab Ibu.


"Ooo..." Melati hanya membulatkan mulutnya. Mereka pegawai yang baik. Selalu bekerja dengan semangat dan riang. Pak Diki sedang menunggu kelahiran anak keduanya. Pak Irwan anaknya memang sudah agak besar, usia anak SMP. Sedang Pak Lukman dia baru menikah beberapa bulan lalu.


"Ya Tuhan, tolong selamatkan mereka. Kau punya kuasa atas segalanya. Kumohon Tuhan, tolong..." rasanya Melati ingin berteriak sekerasnya. Sesak sekali dadanya.


Kira-kira setengah jam kemudian dokter keluar dari ruang IGD. Lalu mendekati ibu dan berbicara dengan sangat serius. Melati dan Elvan memperhatikan agak jauh dan menunggu dengan cemas. Setelah dokter pergi ibu menghampiri Melati dan Elvan.


"Diki dan Lukman selamat. Kondisi mereka tidak terlalu parah. Sedang Irwan, masih kritis. Dokter menunggu hingga dua sampai tiga hari memastikan dia melewati masa kritis," kata Sekar.


"Tuhan, kumohon..." bisik hati Melati.


"Apa bisa kita jenguk, Tante?" Elvan yang bertanya.

__ADS_1


"Satu jam ke depan baru mereka dipindahkan." jawab Sekar.


"Bu Sekar... Mbak Mela..." Dua orang wanita memanggil. Sekar dan Melati menoleh. Istri Diki dan Irwan.


Sekar dan Melati menjelaskan apa yang terjadi. Sementara masih bicara datang juga istri Lukman. Tangis-tangisan terjadi. Ketiganya nampak begitu sedih dan resah.


Sekar tetap mencoba tenang. Seberat apapun para pegawai suaminya ini perlu dihibur dan dikuatkan. Dia tidak bisa menangis meluapkan emosi sekenanya. Dia tidak mau keluarga korban makin kuatir.


"Kita serahkan kepada dokter untuk menangani. Dan kita terus berdoa," kata Sekar.


Malam itu, Melati menemani ibunya di rumah sakit. Elvan pulang karena pagi dia harus kuliah. Jam 9 malam Gilang baru datang setelah memastikan semua berkas dan barang-barang yang bisa diselamatkan sudah dievakuasi. Kepada keluarga korban Gilang berjanji akan menanggung semua biaya pengobatan sampai pulih.


Istri ketiga pegawainya itu hanya bisa pasrah. Mereka juga bersyukur suami mereka bekerja pada keluarga yang baik. Tempat kerja terasa lebih seperti rumah kedua buat suami mereka.


Seluruh badan letih dan lelah. Mata sudah berat, tapi tetap saja pikiran terjaga. Sehingga tidak bisa sedikitpun terlelap.


"Mas, kita pasti bisa lewati ini," kata Sekar


"Ya, kita pasti bisa," ujar Gilang.


"Apa yang Mas pikirkan?" Sekar memandang suaminya yang terlihat begitu letih.


Melati hanya mendengar apa yang orang tuanya bicarakan.


"Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil. Terpujilah nama Tuhan. Kata-kata nabi Ayub muncul di pikiranku." Gilang menarik nafas dalam. "Tuhan ijinkan ini terjadi, kita harus terima dengan lapang. Tuhan selalu menolong kita sesulit apapun. Ini suatu ujian buat kita, apa kita masih mau memilih bersikap benar atau menyalahkan keadaan."


"Ya... Mas benar. Semua datangnya dari Tuhan. Dia tahu kita kuat, makanya diijinkan menghadapi hal ini." Sekar mengangguk. Dia harus yakin.


Dua hari kemudian, Irwan mampu melewati masa kritisnya. Tetapi yang menjadi masalah, kaki kanannya mengalami cacat akibat tertimpa benda berat. Dia juga memerlukan pemulihan lebih lama ketimbang Diki dan Lukman yang dalam waktu maksimal dua minggu bisa pulang.

__ADS_1


Istri Irwan berulang kali menangis. Suaminya seorang yang cekatan bekerja, tidak suka diam. Apa saja dia lakukan untuk mengusahakan kebutuhan di rumah bisa terpenuhi. Sekali waktu dia mengajak anaknya yang mulai besar itu melakukan outbound atau penjelajahan di daerah pegunungan jika ada liburan sekolah anaknya. Dengan kondisinya sekarang pasti tidak mungkin lagi.


"Saya minta maaf, jika Irwan harus mengalami ini. Saya benar-benar menyesal untuk kejadian yang harus Irwan hadapi. Mengenai pengobatan akan terus kita usahakan semaksimal mungkin agar dia bisa pulih." Gilang berbicara dengan istri dan anak Irwan.


Keduanya terlihat begitu sedih. Sedang Irwan dia lebih pasrah. Siapa yang akan mengira akan terjadi kebakaran sore itu. Tidak ada yang mengharap dan meminta.


"Pak, bagaimanapun keadaan saya, apa saya masih boleh bekerja dengan bapak? Tolong jangan berhentikan saya, Pak," pinta Irwan.


"Tentu saja. Kamu salah satu karyawan terbaik Florian. Dari awal kita bangun sama-sama hingga sekarang. Florian adalah rumahmu, Ir," kata Gilang.


"Terima kasih, Pak. Terima kasih banyak," ucap Irwan dengan tulus.


Hati melatih terenyuh melihat Irwan dan keluarganya. Selama beberapa bulan ke depan Irwan harus fokus pemulihan. Bagaimana kehidupan mereka sehari-hari? Biaya sekolah anaknya yang sudah SMP itu?


"Mungkinkah Fandi dimasukkan ke yayasan anak Bu Lidya?" batin Melati. Di sana dia bukan hanya akan sekolah. Dia akan belajar banyak hal untuk memperlengkapi diri dengan berbagai ketrampilan. Dan bisa mengembangkan bakatnya.


Melati membicarakan hal ini dengan Elvan, lalu dengan ayah dan ibunya.


"Itu sangat baik, Mel. Tapi kita harus tanyakan kembali ke Irwan dan istrinya, apakah mereka tidak keberatan anaknya tinggal di yayasan. Nanti ayah akan bicara dan memberi pandangan supaya dipertimbangkan," ujar Gilang.


Elvan juga menghubungi yayasan dan menyampaikan tentang Fandi. Bu Lidya dan suami senang justru bisa membantu. Kemudian hasil pembicaraan ayah dengan Irwan dan istrinya cukup baik. Mereka justru berterimakasih jika ada yang membantu untuk pendidikan dan ketrampilan anaknya. Hanya mereka serahkan apakah anaknya mau tinggal di sana.


Sebagai awal untuk mengenal yayasan, Melati dan Elvan membawa Fandi ke yayasan. Ibunya juga menemani agar tahu bagaimana nantinya jika anaknya akan tinggal di sana.


Setelah berkeliling di yayasan, melihat kondisi di sana, kamar, tempat belajar, ruang makan, dan berbagai ruang untuk mereka mengembangkan diri Fandi sangat senang. Ibunya juga terlihat begitu lega. Yayasan ini juga masih di kota Malang, jadi semisal mereka menjenguk atau Fandi ingin pulang sebentar akan mudah buat mereka.


"Tuhan, satu satu situasi yang berantakan mulai tertata. Pasti semakin hari semua akan pulih dan berjalan seperti sebelum kejadian kebakaran itu. Terima kasih buat kekuatan yang Kau berikan." Melati bersyukur guncangan besar itu hampir usai.


Di kantor Florian Park pembangunan juga berjalan. Sementara kantor menggunakan gedung darurat sampai gedung utama selesai dibangun. Tirta dan Gilang lebih sering bertemu. Bagaimanapun dana yang Gilang pakai untuk membuka taman wisata itu sebagian juga dari Tirta.

__ADS_1


Mereka mengatur lagi semuanya setelah peristiwa kebakaran itu. Satu sisi, dengan kejadian itu justru lebih banyak orang tahu Florian Park sebab sempat diberitakan di media dan TV lokal mengenai musibah kebakaran waktu itu.


Memang dalam segala hal, selalu dua sisi akan muncul, baik dan buruk. Bagaimana menyikapinya itu yang paling penting.


__ADS_2