
Melati baru tiba di rumah. Setelah menyelesaikan sidang skripsi dengan hasil gemilang, dia bisa bernafas lega. Dia bisa libur cukup lama sebelum akan tiba hari wisuda.
Ternyata di rumah ada Elvan dan orang tuanya. Melati merasa heran. Ada acara khusus apa? Atau ada urusan kerjaan? Kalau iya kenapa tidak dibicarakan di kantor saja?
"Selamat sore," sapa Melati. Dia menaruh tas yang dibawanya di dekat kursi, menyalami Tirta dan Erika. Lalu memeluk ayah dan ibunya. Sedang Elvan, dia hanya tersenyum tipis memandangnya. Yang dia rasa aneh, wajah mereka tidak ada yang senyum. Tatapan mereka kelihatan sedih dan kecewa.
"Ada apa, Bu?" bisiknya pada Sekar.
"Mari duduk sini, Nak," kata ibunya. Melati menurut. Dengan tatapan bingung dan penuh tanda tanya. Dia duduk di sebelah ibunya.
Elvan melihatnya dengan pandangan sangat sedih. Dia tidak pernah melihat wajahnya sekuyuh itu.
"Om dan tante minta maaf, Melati. Hari ini saat kamu baru pulang justru kami sambut dengan berita yang tidak menyenangkan," kata Tirta. Melati memandang Tirta tak mengerti. Sebenarnya ada apa?
"Elvan membawa kamu bertemu kami tiga tahun lalu, dan kami sangat senang. Mengenal kamu membuat kami tahu, Elvan akan mendapat pendamping yang sangat luar biasa buat hidupnya di masa depan." Tirta mulai menjelaskan tujuan kedatangannya. "Hari ini Om dan Tante mau minta maaf, karena Elvan harus meninggalkan Melati dan akan bertunangan dengan wanita lain."
Bagai diterjang petir jutaan volt Melati mendengar itu. Apa ini? Wajah Melati langsung pucat. Elvan menatap Melati dengan air mata menggantung di ujung matanya. Lalu dia menunduk.
"Tuhan... apakah Kau di sini? Aku berdoa tak terhitung banyaknya buat keajaiban. Tuhan... aku ingin lenyap dari bumi ini rasanya..." doa Elvan di hati.
Melati tidak salah dengar, kan? Tadi malam dia masih chat dengan Elvan. Dia bilang akan pulang. Elvan bilang rindu, tapi dia ga bisa jemput. Ketemu di rumah saja. Jadi, inikah?
"Elvan melakukan kesalahan. Dia mabuk dan akhirnya dia berhubungan intim dengan wanita itu. Keluarganya meminta pertanggungjawaban Elvan. Dan sebagai laki-laki dia harus bertanggung jawab atas tindakannya," lanjut Tirta.
Melati merasa lemas. "Tuhan.... apa ini?" Kenapa hubungannya dengan Elvan harus diguncang seperti ini? Apa memang adalah kesalahan ketika Elvan menyukainya? Apakah kesalahan jika dia juga akhirnya luluh dan mencintai Elvan?
Kerongkongan Melati seperti tercekat. Dadanya terasa sesak dan nafasnya seperti jauh darinya. Melati memegang dadanya dengan tangan kiri dan memegang tangan ibunya dengan tangan kanan. Dia butuh kekuatan dari ibu sekarang.
"Maafkan Elvan. Jangan benci Elvan," kata Erika. Dia mengusap matanya yang basah. Melati bisa merasa duka begitu dalam pada Erika dan Tirta. Mereka sangat sayang padanya. Dan Melati juga sudah menyayangi orang tua Elvan.
"Akhir minggu ini Elvan bertunangan. Mohon mengertilah," kata Tirta.
Melati tidak tahu harus bilang apa. Tubuhnya terasa limbung.
"Saya... permisi, Om, Tante." Melati dengan sempoyongan masuk ke kamarnya.
Di kamar tangis Melati pecah.
"Ly..." katanya dan memeluk Lily dengan erat. Lily membalas pelukan kakaknya dan ikut menangis. Suara tangis pilu Melati terdengar sampai ke depan. Hati Elvan benar-benar hancur. Sekar dan Erika sudah menangis. Tirta dan Gilang juga hanya bisa menunduk pedih.
__ADS_1
Sampai keluarga Edgar pulang Melati tidak keluar kamar. Lily terus menemani kakaknya. Setelah hampir satu jam menangis, Melati mulai berusaha menenangkan dirinya.
"Kapan kamu tahu ini?" tanya Melati pada adiknya.
"Tiga hari sebelum kakak ujian skripsi," jawab Lily.
"Kenapa kamu ga bilang, Ly?" tanya Melati lagi.
"Panjang ceritanya, Kak." Lily mengusap mata Melati yang basah. "Kalau Kakak sudah tenang aku akan cerita semuanya."
Melati mendesah. Dia memandang Lily. "Ceritakan. Semuanya," pinta Melati.
Lily pun mulai menceritakan semua yang dia tahu tentang Fara. Lalu bagaimana gadis itu melakukan berbagai cara mendekati Elvan. Bagaimana Elvan berusaha menghindar. Sampai akhirnya kejadian di hotel malam itu. Lily ceritakan semua sedetilnya. Melati sesekali menarik nafas panjang di tengah Lily menguraikan panjang lebar yang dia tahu.
"Menurut kamu, apakah Elvan memang sayang aku, Ly?" tanya Melati setelah semua tuntas Lily katakan.
"Kak, aku memikirkan lama kejadian yang terakhir. Menghubungkan dengan rentetan kejadian sebelumnya aku hampir pada kesimpulan Kak Elvan tidak bersalah," kata Lily.
Melati diam, menunggu Lily menyelesaikan kesimpulannya.
"Jika Kak Elvan tidak sayang kak Melati, dan sudah beralih hati, dia tidak akan menghindari Fara dari awal. Bahkan dia tahu Fara suka dia sejak sebelum Kakak jadian sama Kak Elvan. Dia tidak perlu keluar dari band. Dia lakukan saja untuk bersenang-senang," lanjut Lily.
"Kenapa dia tidak bilang soal di hotel itu, Ly? Kenapa sampai seperti ini baru aku tahu?" ujar Melati
"Kak Elvan masih mencoba melihat kemungkinan dia cari cela untuk membalikkan keadaan bahwa dia tidak bersalah. Semua rekayasa Fara," kata Lily. "Sayangnya Fara yang punya buktinya. Kak Elvan tidak."
Lagi Melati mendesah. Setidaknya dia tahu Elvan tidak sengaja melukainya. Bagaimanapun dia cinta Elvan. Dia tidak mau membenci Elvan. Tapi sudah tidak mungkin kembali bersama.
Ddrrrt...
Melati mengambil HP-nya.
Elvan Cintaku ❤
- Mel
Melati
- 😔😔
__ADS_1
Elvan Cintaku ❤
- Percaya aku. Aku ga lakukan itu. Aku sayang kamu. cuma kamu
Melati
- lepaskan aku, El
Elvan Cintaku ❤
- tidak mungkin, kalau aku lepas hatiku yang ada di kamu, aku mati, Mel
Melati meletakkan HP-nya. Dia menangis. Lily mengambil HP kakaknya membaca chat barusan. Lily ikut menangis.
"Kenapa kalian berdua semalang ini?" bisik hati Lily.
Esok paginya, belum jam 7, Elvan sudah datang ke rumah Melati. Melati kaget dengan kemunculan Elvan. Matanya agak bengkak, sayu. Jelas dia kurang tidur dan banyak menangis.
"Kita perlu bicara, Mel," kata Elvan.
"Iya. Pamit ayah dan ibu dulu," ucap Melati. Mereka pamitan dan pergi ke taman yang masih sepi di pagi hari begini.
"Kau harus percaya aku, Mel. Mungkin kamu berpikir aku bohong. Meminta kamu menjaga hatimu hanya untukku, lalu aku main hati seenaknya. Tidak, Mel," kata Elvan.
"El, aku tahu. Lily sudah cerita semua. Aku berusaha memahami ini keadaan di luar kendali kita," ujar Melati.
"Aku masih memohon Tuhan buat keajaiban. Itu saja doaku. Berdoalah juga yang sama denganku, Mel. Kita sepakat minta pada Tuhan." Elvan memegang Melati dengan kedua tangannya.
Melati menangis tidak sanggup melihat Elvan begitu rapuh. "Iya... keajaiban..."
"El, aku seorang perempuan. Jika harus kehilangan harga diri siapa yang akan memulihkannya. Adalah pria yang mau bertanggung jawab atas dirinya. Aku coba melihat Fara hari ini. Dia perlu kamu untuk membuat kepalanya bisa tegak lagi," kata Melati.
"Berarti kau belum percaya aku, Mel." Elvan menatap pilu pada Melati.
"El, tinggal menghitung hari kamu akan bertunangan. Fokus untuk itu. Bagaimanapun kamu akan bersama Fara setelah ini. Belajar terima dia. Dan lepaskan aku," kata Melati.
Elvan melepaskan tangannya dari pundak Melati. Dia menunduk dalam-dalam. Bahkan Melati tidak ingin memperjuangkan cintanya. Hampa, kosong, tak ada guna.
Melati ganti memeluk Elvan. Dia lingkarkan kedua tangannya di pinggang Elvan. Dia rindu dekapan hangat Elvan. Yang menenangkan hatinya dan membuatnya nyaman. Tapi pelukannya kali ini ingin memberi Elvan kekuatan, dia pasti bisa melewati ini.
__ADS_1