
"Yuk, kita mulai lagi ya latihannya..." Hasan memberi komando pada anak-anak untuk kembali ambil posisi masing-masing.
Sudah latihan sejam jadi mereka dikasih istirahat 15 menit. Sekarang semua anak ke bagiannya masing-masing. Untuk Natal mereka buat konser musik kecil. Buat tahun baru mereka mengangkat kisah perjuangan anak yang ingin memiliki keluarga utuh dikemas dalam drama musikal. Cerita itu idenya Lidya.
Elvan dan Melati juga kelihatan sibuk mengatur dan mengarahkan anak-anak. Elvan di bagian musik dengan Hasan, Melati dengan bagian vokal. Ada Tiffany yang bantu di dance.
Sampai hampir sejam kemudian latihan berjalan lancar. Hari ini mereka fokus dengan lagu dan musik. Untuk dialog masih ditunda sampai semua sudah hafal lagunya.
"Oke.. hari ini cukup, ya.. bisa istirahat... yang lapar boleh makan." Hasan mengakhiri latihan.
Anak-anak membereskan peralatan sebelum meninggalkan ruang untuk mereka berlatih. Lalu mereka menuju lobi samping untuk ambil snack, minum, dan makan.
Sementara asyik ngobrol dengan anak-anak, Lidya mendekati Elvan dan Melati.
"Ada yang mau ketemu Bondan," kata Lidya. Dia menunjuk ke pintu depan, di sana ada seorang wanita kira-kira 35 tahun. Manis dengan tubuh agak imut dan sedikit kurus. Memakai kaos coklat dan celana hitam, jaket hitam tanpa ditutup. Dia bawa tas kain di pundaknya.
Elvan dan Melati saling menatap. Dari wajah dan sorot mata wanita itu, Elvan tahu siapa wanita di depan pintu itu.
"Panggil Bondan, Mel. Aku ajak dia ke ruang depan saja," kata Elvan. Melati mengangguk.
Dengan Lidya, Elvan menemui wanita itu. Melati memanggil Bondan.
"Saya... Ita... saya ibu Bondan," ucapnya lirih.
"Saya Elvan." Elvan mengulurkan tangan pas Ita. Dengan malu-malu Ita menerima tangan Elvan. Mereka bersalaman.
"Silakan duduk," kata Elvan. Mereka duduk di kursi di ruang tamu yang sekaligus kantor Rumah Garuda.
"Saya minta maaf baru berani datang hari ini," kata Ita. Dia terlihat menata sikapnya takut salah. "Saya lihat Bondan di TV hari itu. Saya... saya sangat terkejut... dia tampan sekali dan hebat... saya tidak menyangka dia ingin saya pulang.. tapi perlu mengumpulkan keberanian untuk datang..."
Suara Ita sedikit gemetar. "Saya tahu, kesalahan terbesar saya adalah meninggalkan Bondan. Sungguh tidak pantas dimaafkan... waktu itu saya sangat takut... takut mati di tangan Mas Harun.. dan dia mengancam akan membunuh Bondan, kalau saya... bawa dia pergi dari rumah."
__ADS_1
Lidya yang duduk di sebelah Ita mengelus pundaknya. Tidak tahu harus bicara apa. Dia hanya ingin menenangkan Ita. Dia sangat tahu kehidupan berat yang telah dilaluinya. Dan mungkin masih berat sampai hari ini.
Elvan menarik nafas panjang. Dia mengerti Ita. Situasi memaksa dia pergi, dia terlalu luka, kecewa, dan takut. Pergi seperti menjadi opsi terbaik Ita waktu itu.
"Mas Elvan..." panggil Melati. Dia sudah datang dengan Bondan di sisinya.
Elvan, Lidya, dan Ita memandang ke arah Melati dan Bondan. Mata Bondan tak berkedip melihat wanita di depannya itu, duduk di sebelah Lidya. Ita juga tak bergerak melihat Bondan. Tapi air matanya langsung mengalir.
"Bondan..." ucapnya pelan.
"Ibu..." Bondan lari ke arah ibunya. Dia menghambur ke pelukan Ita. Ita sampai terdorong ke punggung kursi dan tidak bisa bergerak. Bondan menekan tubuh Ita dengan kuat. Dia menangis dengan keras. Tidak perduli sekelilingnya.
"Ibu.... uhhukkk..." Tangis Bondan belum reda. Ita memeluk anaknya dengan air mata yang juga tak berhenti terurai.
Elvan, Melati, dan Lidya tak ayal ikut juga menangis. Tanpa suara, tapi masing-masing mengusap matanya yang basah. Elvan memberi isyarat mengajak Lidya dan Melati keluar dari ruang itu. Mereka biarkan Bondan dan Ibunya berdua saja.
Setelah puas menangis, Bondan berlutut di kaki ibunya. "Ibu... jangan pergi lagi..." katanya.
"Bu, Bapak sering nangis waktu Ibu pergi. Manggil Ibu... kenapa ninggalin aku sama Bapak..." kata Bondan.
Mendengar itu hati Ita makin hancur. Sungguhkah Harun sedih karena dia pergi? Apakah dia hanya tempat pelampiasan emosi dan marah? Bukankah karena Harun sudah benci padanya?
"Ibu harus ketemu Bapak. Bapak sekarang kerja, Bu. Bapak tidak jahat lagi," kata Bondan.
Ita terus mengelus rambut Bondan. Dia tidak menjawab apa-apa. Dia tidak tahu apa dia siap bertemu dengan Harun.
"Bapak apa sendirian di rumah?" tanya Ita.
"Iya, kan aku di sini. Kalau Ibu pulang Bapak ga kesepian lagi. Pasti dia senang ada yang beresin rumah. Ibu masakin makanan kesukaan Bapak," ujar Bondan.
Ita tersenyum.
__ADS_1
"Bapak kadang ke sini kalau dia ga kerja sampai malam. Aku baru dua kali pulang ke rumah. Bapak bilang aku boleh di sini kalau aku suka." Bondan menyandarkan kepalanya di bahu Ita.
"Bapak tidak pukul Bondan lagi?" Ita memeluk tubuh Bondan yang lebih berisi sekarang.
"Nggak. Bapak suka peluk aku sekarang," kata Bondan.
"Sungguh?" tanya Ita. Bondan mengangguk.
Benarkah Harun sudah kembali baik? Ita tidak akan lupa Harun dulu pria yang penyayang dan perhatian. Dia memang tegas dan agak keras tapi dia bisa sangat lembut menunjukkan sayangnya. Waktu Bondan masih bayi Harun begitu bahagia. Dia tak canggung menggendong, memandikan dan mengganti popoknya. Tahun-tahun penuh cinta dalam keluarganya.
Tapi semua berubah ketika dia harus kehilangan pekerjaannya. Pekerjaan yang sangat dia sukai. Dia menikmati pekerjaannya bahkan sebelum dia menikah dengan Ita.
"Bondan..." Seseorang memanggil Bondan. Bondan menoleh ke arah pintu.
"Pak..." Wajah Bondan berbinar. Dia berdiri dan langsung memeluk Harun. Tapi Harun tidak memperhatikan Bondan. Dia melihat pada wanita yang duduk bersama Bondan itu. Wanita yang dicintainya yang telah disia-siakannya.
"Pak..." Bondan menarik Harun masuk ke ruangan. Harun ikut saja tapi wajahnya tegang tak beralih dari Ita.
Ita langsung berdiri di tempatnya. Dia mulai merasa takut. Masih terbayang hari-hari dia jadi bulan-bulanan Harun ketika mabuk dan marah. Bondan menarik Harun dekat pada Ita. Jarak mereka kini hanya tiga meter.
Harun tak bisa berkata apa-apa, hanya melihat Ita. Tubuhnya kurus dan kelihatan letih. Wajahnya menunjukkan rasa takut. Di mana dia selama ini? Apakah hidupnya benar-benar sulit?
"Ibu.. pulang dulu..." Tiba-tiba Ita beranjak hendak meninggalkan ruangan itu.
"Ibu..." panggil Bondan.
"Ita..." panggil Harun.
"Maaf... aku..." Ita melangkah lagi.
Bondan lari mengejar ibunya "Ibu jangan pergi lagi... Apa Ibu ga sayang aku?" Bondan menarik tangan Ita sekuatnya. Membuat Ita terpaksa berhenti.
__ADS_1
"Ibu.... Ibu bilang ga akan tinggalin aku lagi... uuhuuukkk..." Tangisan Bondan pecah lagi. Dia merangkul Ita kuat-kuat. Ita juga menangis sesenggukan.