
Pagi datang. Elvan bangun dengan ceria. Dobel girangnya, no, triple malah. Masalah Kak Azka sudah mulai kelar, terima raport, dan jalan bareng Melati nanti sore. Bisakah disebut kencan pertama? Mungkin buat Elvan iya, meski statusnya masih teman doang.
"El, mama ambil raport hari ini, kan? Jam berapa nanti?" tanya Erika pada Elvan yang baru keluar kamar. Habis mandi, kelihatan segar sekali dia.
"Mulai jam 8 sudah bisa ambil kok, Ma. Paling siang jam 12," jawab Elvan.
Erika sudah selesai menyiapkan sarapan dibantu Bi Wanti. Farel juga ada di ruang makan. Dia sedang makan buah melon.
"Kamu raportan hari ini juga, Rel?" tanya Elvan. Dia mengambil air putih dan langsung meneguk beberapa kali.
"Iya," jawab Farel pendek.
"Itulah, dari sekolahmu mama langsung ke sekolah Farel," kata Erika. Dia mengambil piring dan mengisi dengan nasi, sayur, dan lauk. "Sudah, ayo sarapan."
"Iya, Ma," sahut keduanya.
"Papa?" tanya Elvan.
"Subuh tadi berangkat ke Bali. Ada urusan di sana selama empat hari." Erika menjawab sambil mengaduk makanan di piringnya.
"Oo..." jawab Elvan. Dia juga sudah mulai makan.
"Sore mau temani mama ga?" tanya Erika.
"Ke mana, Ma?" Ganti Farel tanya.
"Ke kafe Kak Azka," Jawab Erika. Dia bantu Farel ambil sayur dan lauk.
"Aku ikut." Dengan semangat Farel menjawab.
"Aku ga bisa, Ma. Udah ada janji," kata Elvan.
"Sama cewek, tuh..." sahut Farel.
"Oya? Mama ketinggalan cerita, nih..." Erika langsung noleh ke arah Elvan.
Elvan meringis. "He... hee..."
Farel nyahut lagi. "Ceweknya manis banget, Ma. Cocok sama Kak Elvan. Cuma kulitnya ga terlalu putih."
"Hei, sok tahu kamu." Elvan menjitak pelan kepala adiknya.
"Itu... cewek yang kita ketemu kapan hari di zona main?" ujar Farel.
"Hm, adikmu perhatian, kan, El?" Erika tersenyum. "Emang uda jadian?"
"Masih berjuang, Ma," kata Elvan. "Di lulus tahun ini mau kuliah di UI."
"Kakak kelas?" Erika terkejut anaknya suka kakak kelasnya. "Tapi hebat bisa masuk UI."
"Ya, dia juara kelas tiap tahun." Elvan menambah sepotong ikan ke piringnya.
"Bagus, dong. Siapa namanya?" tanya Erika.
"Melati," jawab Elvan pendek.
"Ooo... good luck ya, buat nanti." Erika tersenyum. Elvan cuma nyengir.
Di rumah keluarga Adinata, kesibukan juga terlihat. Mereka kerja bakti merapikan halaman. Ibu memang suka ajak anak-anaknya rapikan taman kecil depan rumah jika ada waktu. Nanti selesai itu baru ibu akan ambil raport Damar dan Lily. Jati sudah raportan kemarin.
"Bu, sore nanti aku mau perg," kata Melati sementara dia membersihkan rumput di antara bunga-bunga.
"Jalan-jalan?" tanya Sekar, ibunya.
"Iya. Janjian jam 4," jawab Melati.
__ADS_1
"Sama Ranita?" tanya ibu lagi. Dikumpulkannya rumput ke dalam keranjang bambu.
"Bukan. Elvan," ucap Melati pelan. Tanpa melihat ibu.
"Oyaa...??" Ibu melihat kepada Melati lekat-lekat. "Kencan?" Sedikit membelalak, terkejut dan senang.
"Ah, Ibu... Kami ga pacaran, kok," sahut Melati.
"Haa... haaa..." Ibu tertawa. "Pergi saja. Yang penting jangan terlalu malam pulangnya. Batas jam 9," kata Ibu.
"Iya, Bu." Melati mengangguk mantap. Tersenyum kecil sedang tangannya terus sibuk merapikan taman.
Dan, Melati sudah berdiri di depan pintu depan Mall Olympic Garden. Orang-orang biasanya menyebutnya MOG. Melati mengenakan kaos warna peach dipadu jeans biru dan sepatu kets putih. Tidak lupa tas tangan warna hitam kecil, tersampir di pundak melingkar ke badannya.
Melati duduk di bangku depan dekat pintu masuk. Orang-orang lalu lalang di sekitarnya. Mobil bergantian datang menurunkan atau menjemput mereka yang berkunjung ke mall ini. Melati memperhatikan semua itu dan berharap melihat sosok pemuda tampan yang mengajaknya jalan sore ini. Pas banget, ini hari Sabtu.
Deg!!
Elvan terlihat berjalan tenang dari arah depan Melati. Dengan kaos hitam, jeans krem sepatu hitam, cakep. Jaket hitam tipis dikenakannya tampa ditutup resletingnya, menambah keren saja penampilannya.
"Hai... lama nunggu?" tanya Elvan. Dia berdiri di depan Melati.
Melati berdiri dan keduanya mulai berjalan ke dalam mall.
"Nggak juga. Ini jam 4 lewat 3 menit. Ditolerir telatnya dikit," kata Melati. Elvan tersenyum kecil.
Mereka berjalan menyusuri toko-toko yang ada. Di dalam sedang ada expo properti. Beberapa orang memperhatikan mereka. Khususnya kaum hawa. Wajah Elvan memang pasti mengundang sekelilingnya untuk menengok ke arahnya. Tak bisa dipungkiri itu.
Mereka mengunjunginya. Banyak maket perumahan dengan tipe terbaru yang trend ditampilkan. Berbagai promosi dan fasilitas yang menarik ditawarkan. Melati hanya fokus melihat model rumah dan tatanan miniatur perumahan yang dipajang. Cantik.
"Mau pilih yang mana, Sayang? Di perumahan yang terbaru saja, yaa... Rumah yang paling gede ini.. Banyak kamarnya. Jadi anak kita ga akan berebut tempat tidur," kata Elvan sambil mendekatkan wajahnya ke arah Melati.
"Ihh... apaan, sih?" Melati ngakak dengan candaan Elvan. Tapi hatinya ternyata malah berdegup kencang.
Elvan tertawa. Lalu dia kembali memperhatikan rumah-rumahan imut itu. Kemudian mereka menuju food center yang ada di lantai 4 dan memilih duduk di pojok.
"Ga sekalian pesan makan?" tanya Elvan.
"Belum terlalu lapar," jawab Melati.
Elvan menyedot milk shake-nya. Segar dan nikmat rasanya.
"Kapan berangkat ke Depok?" Elvan beralih menanyakan soal persiapan kuliah Melati.
"Pertengahan bulan ini," jawab Melati.
"Jauh deh nanti. Pasti kangen..." ujar Elvan.
"Haa... haa..." Melati tertawa.
"Tapi kamu ga akan lupa sama aku. Dan kamu akan takut kalau mau jatuh hati sama orang lain." kata Elvan. Ditatapnya Melati.
"Pasti lupa. Nanti aku kan sibuk kuliah. Banyak cowok keren di sana. Belum lagi kalau ketemu artis. Depok ga jauh dari Jakarta, kan? Kemungkinan para artis bisa berkeliaran di sana," jawab Melati.
"Ada ini yang akan bikin ingat aku terus." Elvan memegang gantungan kunci pemberiannya yang Melati pakai di tasnya ini.
Melati tersenyum. "Kamu sengaja pesan gantungan kunci itu? Tidak mungkin ada dijual model begitu dengan inisial namamu dan namaku."
"Ya... aku juga punya. Jadi kamu pegang satu, aku pegang satu," kata Elvan.
"Oo..." Melati melongo. Elvan terkekeh.
"Kalau di kota besar hati-hati, ya... Banyak setan berambut hitam. Apalagi setan ganteng." Cowok itu melepas jaket dan menaruh di sandaran kursi sebelahnya.
"Aku sama Ranita, kok. Kami pasti baik-baik." Melati menjawab dengan santai. "Oya, masalahmu sudah selesai?"
__ADS_1
"Masalah?" Elvan menatap mata Melati. Tidak terlalu lebar, tapi bagus.
"Eh, yang waktu aku wisuda hari itu... yang..."
" I see..." Elvan ingat. "Praise God, udah. Hampir."
"Oooo..." Melati tidak tahu mau jawab apa. Dia juga ga enak mau menanyakan apa masalahnya. Tapi Elvan justru menceritakan apa yang terjadi. Soal Azka yang tertipu. Soal bagaimana masalah ini bisa terpecahkan. Bagaimana situasi rumah yang tegang karena masalah Azka dan kelegaan karena semua akhirnya akan selesai.
Melati mendengarkan semua yang Elvan katakan. Dia tidak mengira hal seperti ini dialami keluarga Elvan. Ada rasa senang di hatinya waktu Elvan mau menceritakan semua itu.
"Di rumahmu apa kabar?" tanya Elvan.
"Baik. Ga ada yang istimewa di rumah. Biasa aja," tandas Melati. "Kamu sudah pernah ketemu seluruh keluargaku, kan?"
"Hmm... setiap keluarga pasti ada istimewanya, Mel. Karena keluarga itu penting. Asal kita dari sana. Tempat kita belajar apa saja awal kita hidup dalam keluarga. Kasih sayang orang tua, mengerti dan tahu banyak hal ya dari mereka. Apapun yang kita hadapi keluarga selalu siap melindungi, merangkul, dan menerima apa adanya," kata Elvan.
"Iya, Bapak Elvan. Bijaksana sekali bapak ini." Melati tersenyum lebar mendengar itu. Ternyata cowok ini sangat mengutamakan keluarga.
Tak lama setelah itu mereka pesan makanan. Sambil menikmati makan mereka bercerita tentang sekolah. Betapa mereka cinta dengan sekolah tempat mereka belajar. Teman-teman, guru-guru, kegiatan yang ada, semuanya.
Tiba-tiba datang seorang cewek ke arah mereka. "Kamu dasar tidak tahu malu. Jalan sama pacar orang. Perempuan macam apa kamu??!!!" Dia marah-marah dengan Melati. Menuding-nuding muka Melati.
Kontan Melati bingung dan menatap cewek itu kaget. Cewek ini lumayan tinggi dan cantik. Tapi dia tidak kenal cewek ini. Apa dia pacar Elvan? Jadi, Elvan sebenarnya sudah punya pacar? Ya, cowok seganteng Elvan gitu loo... Elvan memandang Melati dan menggeleng. Wajahnya juga terlihat terperangah kaget. Elvan berdiri dan menatap cewek itu.
"Maaf, Mbak, jangan membuat keributan di tempat umum. Kamu siapa?" tanya Elvan.
Orang-orang di sekitar sudah memperhatikan mereka.
"Kamu juga, yaa... Cowok tidak tahu diri! Aku temannya Citra. Kamu sudah bikin dia nangis gara-gara selingkuh. Sama cewek ini, kan?" Dan tiba-tiba dia mengangkat jus alpukat Melati dan menyiramkannya di dada Melati.
Melati kaget setengah mati. Orang-orang makin ramai melihat kejadian itu. Melati malu sekali. Dia sudah hampir menangis.
"Mbak, jangan keterlaluan, yaa..." Elvan juga sangat kaget. Dia langsung mengambil jaketnya dan menutupkannya ke tubuh Melati.
"Amii... kamu salah orang..." Seseorang datang menarik cewek itu. Yang dipanggil Ami menoleh.
"Maaf, Mas, Mbak. Teman saya sudah salah paham. Dia salah orang. Harusnya dia prank yang di sebelah." Cewek itu menunjuk ke meja sebelah. Seorang cewek dengan baju merah yang juga memperhatikan kejadian itu.
"Apa??" Ami melotot kaget.
Melati dan Elvan saling bertatapan bingung. Cewek itu menjelaskan, temannya yang baju merah sedang ultah. Dia mau bikin surprise mengerjainya. Dia menyuruh Ami menuduhnya jadi selingkuhan pacar temannya. Sayangnya si Ami tidak hafal cewek yang dimaksud. Alhasil, Melati yang jadi korban.
Akhirnya terjadilah maaf memaafkan. Tapi tetap saja Melati sangat malu dengan kejadian ini. Tanpa menghabiskan makanannya Elvan menarik Melati dari situ. Dia menggenggam tangan gadis itu yang masih gugup karena kejutan salah prank. Elvan membawanya ke salah satu toko baju dan memilihkan kaos untuk Melati.
Baju Melati sudah basah dan kotor. Tidak mungkin dia pulang seperti itu. Jadi Elvan memutuskan membelikannya baju.
"Ini aja, biru cerah cantik," kata Elvan. Melati hanya mengangguk. "Dalemannya kamu cari sendiri, ya... hee..." ujar Elvan agak canggung.
"Ihh... iya..." Melati jadi merah mukanya. Dia pergi ke bagian pakaian dalam wanita. Memang siraman tadi membuat basah sampai ke dadanya. Untung hanya bagian atas. Tak lama dia sudah kembali ke tempat Elvan. Keduanya ke kasir. Setelah Elvan membayarnya, Melati langsung berganti pakaian.
"Maaf, aku telat melindungi kamu," kata Elvan.
"Semua tiba-tiba gitu. Malu banget tahu, El. Seperti aku ini pelakor saja," ujar Melati. Rasa malunya belum benar pergi. Padahal mereka sudah jauh dari food center tadi. "By the way, thank you bajunya, Van."
"Hmm..." sahut Elvan pendek.
"Aku tadi pikir cewek itu pacar kamu, El. Cantik dan tinggi. Putih juga kulitnya. Pas banget sama kamu," kata Melati lagi. Sambil senyum-senyum.
"Kenal saja nggak. Lagian aku sudah ada pacar." Elvan melirik Melati. Melati malah menoleh ke arahnya. "Eh, salah. Calon pacar." Senyum Elvan melebar.
Melati merasa wajahnya panas mendengar itu. "Pede amat..." ujar Melati.
"Kencan pertama berantakan. Tapi seru, yaa..." Elvan berbisik di telinga Elvan.
"Ihhh, apa, sihh...?" Melati mendorong tubuh Elvan menjauh darinya. Elvan tertawa.
__ADS_1
Lalu Elvan membeli dua potong kebab dan es teh lemon untuk mereka. Mereka menikmatinya di dekat parkiran belakang. Elvan bilang tadi belum kenyang waktu makan di dalam gara-gara ada accident. Selesai makan, Elvan mengantar Melati pulang.
Melati menolak awalnya, mau pulang sendiri. Tapi Elvan bilang dia harus antar Melati sampai rumah dengan aman. Melati tidak bisa menolak. Jam 8 lewat 45 menit Melati sampai rumah.