
"Beneran Mas Bagus, kan?" Cewek itu cepat berjalan ke arah Elvan. "Ya ampun, Mas... aku ga nyangka bisa ketemu di sini. Mas ingat aku kan, Mas?"
Elvan juga sama terkejutnya melihat gadis ini berdiri di hadapannya. "Apa kabar, Wi?" sapa Elvan.
"Baik, Mas." Dia pandangi Elvan seperti tak percaya melihat cowok ganteng ini lagi. "Mas beda banget sama waktu di rumah. Jadi ini aslinya? Keren abis, lo..."
Elvan tersenyum. "Ini Melati." Elvan mengenalkan Melati yang berdiri bengong dan bingung. Elvan dipanggil Bagus. Melati tahu ini ada hubungannya dengan waktu Elvan hilang yang lalu.
"Mel, ini Dewi, anak Pak Karno." Elvan melihat Melati. Gadis itu mengangguk. Dia tahu kisah Dewi dan Elvan karena Elvan sudah cerita semuanya.
"Pacar Mas Bagus, ya.. Eh, maaf, Mas Elvan..." Dewi tersenyum.
"Mas Elvan tinggal di Malang?" tanya Dewi.
"Iya, benar," jawab Elvan.
"Aku kebetulan abis ikut pelatihan. Ditugaskan bos," jelas Dewi. "Bapak kangen sama Mas Elvan. Bapak sempat sakit waktu Mas Elvan pergi. Sampai sekarang masih sering sedih," cerita Dewi.
Elvan mendengarkan. Dewi melanjutkan, "Kalau ibu lebih kuat, Mas. Ibu baik-baik. Aku lega Mas Elvan baik-baik. Aku bisa cerita sama mereka ga usah kuatir. Mas Elvan tambah ganteng dan gagah." Dewi tersenyum.
Elvan ikut tersenyum. "Aku minta maaf soal yang lalu ya, Wi.."
"Ah... sudah Mas, ga usah diingat. Mas Elvan kan memang sudah ada yang punya. Lagian aku sudah ga jomblo. Sudah punya pacar, kok," ujar Dewi sambil melebarkan bibirnya, tersenyum lepas. Manis.
"Kamu ga pulang ke rumah?" tanya Elvan.
"Akhir minggu ini, Mas. Ini masih mau jalan-jalan sama temen-temen yang juga ikut pelatihan."
"Aku antar kamu, ya..." Entah kenapa Elvan mengatakan itu. Hatinya terenyuh saat dengar Dewi cerita Pak Karno sakit setelah dia pergi.
"Apa, Mas?" tanya Dewi kaget.
"Elvan?" ujar Melati juga kaget.
"Aku antar kamu pulang. Aku mau ketemu Bapak dan Ibu," tegas Elvan.
Melati menyentuh tangan Elvan. Ada rasa kuatir muncul di hati Melati.
__ADS_1
"Aku ajak kamu juga, Mel," ujar Elvan.
"Mas ga bohong ini?" ucap Dewi.
"Ga, Wi," kata Elvan.
"Aku minta nomor kontak Mas Elvan kalau gitu. Nanti aku hubungi kapan berangkat." Dewi mengeluarkan HP-nya.
Mereka bertukar nomor, lalu mereka berpisah. Di jalan menuju pulang Elvan jadi lebih diam.
"El, kamu baik-baik ka?" tanya Melati.
"Maaf, Mel. Aku baper karena bertemu Dewi tadi. Semua kenangan waktu di rumah Pak Karno muncul di pikiranku." Elvan menjawab sambil tetap menyetir mobilnya.
"Kamu yakin akan ke rumah Pak Karno? Apa tidak akan ada sesuatu?" tanya Melati lagi.
"Pak Karno orang baik. Dia tidak akan mencelakai aku. Ada Dewi juga," kata Elvan. "Kamu juga harus bersamaku, Mel."
"Iya. Tentu." Melati menyentuh lengan Elvan berharap membuat Elvan lebih tenang. Tapi justru hatinya yang tidak tenang.
"Elvan, kamu mikir apa, sih? Kok bisa kamu mau balik ke rumah itu? Jelas kamu disekap sama orang itu. Kalau nanti dia paksa kamu tinggal, lalu kamu disembunyikan, gimana? Mama ga sanggup kalau harus kehilangan kamu lagi, El," kata Erika protes keras.
"Ma, aku tidak disekap, Ma... Aku hidup biasa di sana. Ya walaupun hanya sekeliling rumah saja. Bagaimanapun Pak Karno yang menolong aku dan merawat aku. Ibu Nanik juga yang membantu aku bisa kembali pulang." Elvan memberi alasan.
"Ga bisa. Pokoknya Mama ga mau kamu pergi," bantah Erika.
"Aku juga ga sendiri. Ada Dewi, ada Melati." Elvan masih beralasan. "Aku cuma mau mereka tahu aku baik-baik saja. Biar mereka lega. Karena waktu itu aku kan perginya kabur, meskipun Bu Nanik juga ikut merencanakan."
"Anak ini keras kepala, yaa..." Erika mengelus dadanya. "Mas, gimana ini?" Erika menoleh pada suaminya yang dari tadi hanya mendengarkan anak dan istrinya adu mulut.
"Kita pergi," kata Tirta.
"Gimana, Mas?" Erika makin kaget mendengar itu. Tirta bukan mendukungnya malah dia setuju dengan rencana Elvan.
"Mas..." Erika langsung cemberut.
"Aku bisa memahami Elvan. Sepuluh bulan bukan waktu yang singkat untuk mengenal mereka. Mereka menjaga Elvan dengan baik. Justru kita akan pergi mengucapkan terima kasih pada mereka." Tirta menjelaskan maksudnya.
__ADS_1
"Papa... terima kasih," Elvan memeluk papanya. Erika masih cemberut.
"Ma..." Elvan mendekati mamanya. Dia memeluk mamanya dengan sayang. "Ma, jangan kuatir. Aku kan sudah dewasa. Aku tahu apa yang aku lakukan."
"Dewasa apa? Kamu belum 20 tahun," kata Erika. Hatinya masih belum lega. Tapi dia tahu dia tak bisa ngotot lagi. Dia harus menerima keinginan Elvan.
Beberapa hari kemudian, Elvan sudah dalam perjalanan ke rumah Pak Karno. Tirta, Erika, Melati, dan Farel ikut dalam perjalanan itu. Azka tidak ikut karena Adista sedang mengandung pada trimester pertama. Jadi dia tidak bisa pergi ke lokasi yang sulit. Maka Azka memutuskan menemani istrinya saja.
Elvan janjian bertemu Dewi di sekitar daerah Pasuruan dan bersama kemudian menuju rumah Dewi. Sepanjang jalan Elvan berusaha bersikap santai. Tapi Mama masih tegang. Melati dan Tirta yang cukup tenang. Dewi terlihat kikuk. Dia tidak menyangka kalau orang tua Elvan malah ikut. Sedang Farel, dia lebih banyak tidur.
Elvan baru tahu menuju rumah Dewi tak sesulit dan seterjal bayangannya. Ada jalan desa yang cukup bagus di sana. Tapi Elvan tahu, Bu Nanik menyuruhnya lewat hutan waktu itu karena itu jalan pintas ke perkemahan.
Mendekati rumah Dewi pemandangan makin indah. Semua yang di dalam mobil langsung melek dan memperhatikan sekeliling. Lupa perasaan yang campur aduk tadi. Kecuali Dewi. Dia sudah sangat biasa dengan pemandangan itu. Ini tempat asalnya. Dari lahir dia kenal semua ini.
Hampir jam 12 siang perjalanan berakhir. Dewi turun lebih dulu membuka pintu pagar bambu yang tinggi. Dia membuka pagar lebar-lebar agar mobil bisa masuk. Elvan memarkir mobil di pekarangan. Dewi sudah berlari masuk ke dalam rumah. Jam segini pasti ibunya ada di dapur memasak.
"Ibu..." panggil Dewi. Ibunya itu juga sedang berjalan ke arahnya.
"Oo, kamu yang datang, Wi. Ibu dengar suara mobil. Kamu sapa siapa?" tanya Bu Nanik.
"Ibu, ayo ikut aku. Ibu ga akan percaya kalau aku bilang. Ibu lihat langsung aja," ujar Dewi sambil memegang tangan ibunya dan menuntunnya cepat-cepat ke depan.
Bu Nanik jadi bingung dengan tingkah Dewi. Tapi dia ga bisa nolak karena penasaran.
"Bapak mana, Bu?" tanya Dewi.
"Masih cari kayu ke hutan," jawab bu Nanik.
Sampai di depan rumah, Bu Nanik melihat ada beberapa orang yang dia tidak kenal. Tiga orang laki-laki dan dua orang perempuan. Siapa mereka? Bu Nanik yakin tidak pernah lihat. Apalagi dari pakaiannya jelas mereka orang kota dan orang kaya.
"Siapa, Wi?" Bu Nanik ganti memegang tangan Dewi yang sudah melepaskan pegangan dari bu Nanik.
Mendengar itu Elvan yang masih memperhatikan pekarangan luas dengan macam-macam sayuran hijau menoleh. Bu Nanik. Hampir tidak berubah. Wanita tua itu menatapnya. Seperti belum pernah melihatnya, wajahnya penuh tanda tanya.
Elvan mendekat...
"Ibu..." panggil Elvan.
__ADS_1