
Saat hari jadi datang, apa yang kau pikir?
Saat hari lahir hadir, doa apa yang kau ucap?
Biarlah kebahagiaan akan menghampiri
Dan kekuatan mengarungi samudra hidup kian mengiringi....
*
"Kak, ayo bangun..." Jati menggoyang-goyang pundak Melati. Kakaknya itu menggeliat.
"Kak... ayo... bangun, Kak..." Lagi Jati menggoyang-goyang pundak Melati.
Melati pun membuka mata, mengusap matanya dan duduk. "Hei... ada apa, Jati? Ini jam berapa? Kenapa kamu belum tidur?"
Melati melirik dinding kamarnya, jam 12 lewat. Tengah malam? "Jati, ini sudah malam sekali. Ayo tidur," kata Melati.
Dilihatnya kasur Lily, kok adiknya itu ga di kamar? Apa tidur di depan TV lagi? Ah, semalam Melati rasa lelah sekali, jadi belum jam 9 sudah terlelap dia. Sepertinya berhari-hari lalu tidak bisa tidur karena memikirkan masalah Elvan membuatnya teler.
"Kenapa bangunin Kakak? Jati mau pipis? Apa mau minum?" ujar Melati. Tapi Jati sudah bisa sendiri selama ini. Biar malam hari kalau bangun dia ga pernah ngrepotin kakak-kakaknya. Dia sudah kelas 6 sekarang.
Jati cuma geleng-geleng. "Ikut ya, Kak. Temani aku," kata Jati.
"Kenapa, sih? Kamu ga sakit, kan?" tanya Melati lagi.
"Nggak," ujar Jati sambil keluar dari kamar Melati. Melati pun mengikutinya. Dia menuju ke ruang tengah. Ruangan nampak temaram dan waktu Melati baru tiga langkah berada di ruang itu...
"Happy Birthday....!!" Suara serempak menyambut Melati. Melati kaget sekali.
Ayah, ibu, Lily, Damar, Jati, dan... Elvan?! Mereka duduk melantai, menghadap ke arah Melati dengan Lily membawa kue tar dihiasi coklat dan keju yang cantik.
"Ah... terima kasih..." Wajah Melati langsung cerah, matanya bersinar. Tidak menyangka bakal dapat kejutan seperti ini. Melati maju dan duduk di depan mereka. "Terima kasih... Bisa ya, bikin aku nangis..." Melati mengusap matanya.
"Ga apa... nangis happy..." timpal Lily. Melati tersenyum.
Ibu pindah ke sebelah Melati. "Sebelum meniup lilin, coba bilang dulu kamu punya harapan apa? Nanti kita doakan," kata Sekar.
"Hmmm..." Melati memandang mereka satu-satu. "Aku berharap Ayah dan Ibu sehat, rukun selalu. Lily, Damar, dan Jati, di sekolah jadi murid jempolan, dan... Elvan... cepat selesai kuliahnya..." Melati tersenyum.
"Iya... lalu cepat nikah..." sahut Damar. Meledak tawa mereka mendengar itu.
"Itu keinginan buat orang lain. Keinginan untuk dirimu apa?" Gilang menatap putrinya yang genap 21 tahun.
"Apa, yaa... semua baik-baik, apa yang perlu kuminta lagi?" kata Melati. Dia masih berpikir. "Ya... cita-citaku tercapai. Itu saja."
"Kakak ini memang ga romantis. Pingin tambah disayang sama pacar, gitu kek... adeehhh..." tukas Lily.
"Iya nih, padahal ini kita sampai melek tengah malam gini karena Kak Elvan tuh, provokatornya," Damar nyahut.
"Tapi seru, Kak... aku senang bisa begadang, hee..." Jati ikut bicara.
__ADS_1
Elvan cuma senyum-senyum saja mendengar keriuhan kakak beradik itu.
"Sudah, kapan tiup lilin, nih?" ujar Sekar. Lagi mereka tergelak mendengar itu. Melati pun meniup lilin di depannya. Lalu ayah berdoa untuk dirinya, semua harapannya, masa depannya. Hati Melati sangat terharu.
Lagi, Elvan memberinya surprise untuk kesekian kali. Seperti tidak ada habis idenya membuat Melati merasa begitu dicintai. Bagaimana dia bisa berpaling kepada hati yang lain. Jika cinta dari Elvan sudah memenuhi dirinya bahkan membuatnya begitu bahagia.
Mereka kemudian menikmati kue ulang tahun bersama. Sekar juga menyiapkan minuman untuk mereka. Sampai hampir jam 1 masih juga ngobrol.
"Jadi untuk acara hari ini bagaimana?" tanya Gilang.
"Jam 7 kita berangkat supaya tidak terlalu siang, Om. Nanti di lokasi bisa lebih lama," jawab Elvan.
"Kalau begitu semua harus istirahat supaya ada tenaga. Ayo pada tidur sekarang," kata Gilang pada anak-anaknya.
"Kita mau kemana?" tanya Melati. Dia menyimak percakapan Elvan dan ayah, tapi tidak paham acara yang dibahas.
"Jalan-jalan, ke pantai." Damar menjawab.
"Ya... aku akan berenang di sana. Main pasir, main bola... pasti seru..." Jati menimpali.
"Makanya jangan kecapekan. Biar bisa puas di sana. Ayo, pergi tidur," tambah Sekar.
Lily, Damar, dan Jati masuk kamar. Sedang ibu dan Melati masih membereskan ruang tengah.
"Elvan bisa tidur di kamar Damar. Masih muat, kok. Mereka bisa seranjang yang di atas. Elvan di ranjang bawah," kata Gilang.
"Iya, Om. Terima kasih," ucap Elvan. Gilang masuk dulu ke kamar. Sekar ke dapur menaruh gelas dan menyimpan sisa kue tar.
Elvan mendekati Melati. "Happy birthday, Sayang." Elvan mengecup kening Melati. "Wish you all the best."
"Hee.... aku tidur dulu. Nanti kan harus nyetir, jangan sampai ngantuk di jalan," kata Elvan.
"Hmmm..." Melati mengangguk.
Jam 7 ternyata mereka belum bisa berangkat. Karena melek malam, jadi agak molor bangun.
"Gimana nih, jadi berangkat tidak? Uda pagi-pagi nyusul ya, pada molor..." kata Farel. Dia memang diajak ikut ke pantai. Jam belum setengah 7 dia sudah sampai di rumah keluarga Adinata.
"Sabar dikit... orang sabar disayang Tuhan..." sahut Damar. Dia baru selesai ganti baju. Jati mengikuti di belakang.
"Kak Farel..." Jati tersenyum lebar. "Nanti main bola, ya.. aku uda siapin," kata Jati.
"Oyi... beres..." jawab Farel.
"Ayo, yang siap bisa ke mobil," kata Gilang.
Elvan juga sudah menyiapkan kendaraan yang mereka pakai. Semua oke, tinggal jalan. Satu-satu mereka masuk dalam mobil dan kemudian perjalanan dimulai. Hari ini mereka akan ke Pantai Teluk Asmara di Malang Selatan.
Lokasi wisata ini termasuk relatif baru dibuka. Sepanjang pantai selatan yang panjang di sana, memang berjajar pantai-pantai indah yang menyenangkan untuk dikunjungi.
Perjalanan memakan waktu lebih kurang tiga jam. Sepanjang jalan mereka bercanda, bercerita, bernyanyi, dan saling menggoda. Anak-anak penuh semangat karena agak lama juga tidak melakukan piknik ke pantai.
__ADS_1
Ketika melihat pantai dengan pulau-pulau kecil di kejauhan, begitu cantiknya, anak-anak itu berlarian langsung masuk ke air. Lily, Damar, Jati, dan Farel seperti ayam keluar kandang bertebaran ke mana-mana! Melati, Elvan, Gilang dan Sekar hanya tertawa menyaksikan anak-anak itu.
Melati senang melihat ayah dan ibunya bisa menikmati kegembiraan bersama. Bertahun-tahun perjuangan mereka membesarkan dia dan adik-adik mulai menorehkan hasil. Melati telah tiba di penghujung pendidikan S1-nya. Lily masuk semester tiga di kampusnya, Damar SMA kelas 12, Jati dikit lagi SMP. Mereka tak kenal lelah mengupayakan segala daya agar dia dan adik-adiknya bisa mendapatkan hidup layak, pendidikan yang baik, dan selalu tersenyum karena ada kasih sayang penuh dari mereka.
Senyum Melati merekah melihat ayah menggoda ibu. Dan ibu nampak tersipu malu di sebelahnya. Mereka duduk menggelar tikar di bawah pohon rindang tak jauh dari pantai. Kesulitan dan beratnya hidup justru membuat cinta di antara ayah dan ibu makin besar dan membara di hati mereka. Melati bangga merasakan semua itu.
"Jalan, yukkk... kita bikin seru-seruan sendiri," kata Elvan membuat Melati menoleh padanya.
"Ke pantai?" ujar Melati.
"Yaa... daripada melihat Ayah Ibu mesra aku cuma bengong. Ayo, kita juga mesra-mesraan, hee..." Elvan terkikik.
Melati tersenyum lebar. Dia berdiri dan menggandeng tangan Elvan. "Yuk, kita buat foto sebanyak-banyaknya."
Keduanya berjalan ke arah pantai. Mereka cari spot-spot bagus untuk berfoto. Pemandangan yang indah bikin semangat mengabadikannya. Setelah puas, mereka mendekati adik-adiknya yang masih asyik main pasir dan air. Mereka berfoto bersama.
"Yuhuuuu.... angkat tangan semua!!" seru Lily. Mereka ikut arahan Lily. "Sekarang.... angkat kaki kiri..." Semua ikut. "Nah, hitungan tiga lompat, yaa.... Satu... dua... tiga..." Mereka melompat bersama.
Kemudian berlarian menyerbu Elvan ingin lihat hasil gaya mereka di kamera.
"Ahh, wajahku... Kenapa cuma separo?" ujar Jati.
"Wihh... kakimu tinggi sekali, Rel." kata Damar.
"Yaa, Lily, kok kamu malah noleh belakang!" Farel ga mau kalah ikutan komen.
"Ihh, yang ini paling bagus, nih... posting, ya... posting..." Melati pun posting foto pas mereka lompat bersama di IG-nya. Dia tulis caption 'the happiness is when you see your beloved people smile beside you...'
"Pasang dong foto kita yang baru. Itu sudah dari zaman kapan belum ganti juga, yaa..." kata Elvan memperhatikan IG Melati.
"Itu foto keren, sih..." Melati menatap foto mereka berdua di profile IG.
"Ganti, yang kita foto tadi," ujar Elvan. "Sini, aku yang pilih."
Elvan pilih foto di galeri Melati. Dia tersenyum dan pilih satu foto. Dia ganti profile dengan foto itu. Foto mereka berdekatan dengan Elvan sedikit menunduk melirik ke arah Melati, sedang Melati mendongak ke arahnya dengan mulut agak terbuka.
"Mana lihat?" Melati mengambil HP di tangan Elvan. "Ihh... kok yang ini? Aku mau hapus foto yang itu." Melati cemberut.
"Udah, itu bagus. Awas kalau diganti." Elvan tertawa.
"Elvan, itu kayak aku menatap pria penuh kekaguman terpesona sampai mau ngeces." Melati makin merengut.
Elvan makin ngakak. "Emang aku mempesona... haaa... haaa... makanya kamu jatuh cinta sama aku... haa... haa..."
"Elvan..." Melati manyun dan mencubit pinggang Elvan. Elvan menjerit kesakitan.
Dia pun lari menjauh. Melati mengejarnya. Walau berusaha keras Melati tetap tidak bisa menangkap Elvan. Justru Elvan berputar dan balik menangkap Melati. Keduanya terduduk di pinggir pantai.
"Terima kasih buat hari ini," kata Melati. Dia pandang Elvan yang menatap lurus ke ujung laut biru.
"Hmm..." Elvan menoleh. "Happy Birthday, Bunga Cintaku... Love you, so much...." Senyum Elvan mengembang di bibirnya yang bagus itu.
__ADS_1
"Love you too, El..." Melati menyahut pelan.
Elvan meraih bahu Melati, memeluknya dari belakang. Berdua mereka menatap laut luas, indah. Di ujungnya langit cerah dengan awan menambah semua makin mengagumkan.