Hati Putih Melati

Hati Putih Melati
Chapter 48 - Terima Kasih untuk Semuanya


__ADS_3

Seminggu telah berlalu sejak Elvan mengingat dirinya. Dia masih bersikap seperti hari-hari yang lalu. Dewi sudah balik lagi ke Surabaya. Bapak hari-hari ini sibuk di sawah karena katanya tanaman kena hama, jadi harus sering dilihat.


Elvan dan Bu Nanik punya waktu cukup banyak untuk bicara. Elvan menceritakan seperti apa hidupnya pada Bu Nanik. Keluarganya yang saling menyayangi. Bagaimana papa dan mama berjuang untuk membuka usaha sampai berhasil. Bagaimana hubungannya dengan Azka dan Farel. Lalu bagaimana bisa dia pacaran dengan Melati.


Bu Nanik mendengarkan dengan sabar. Dia tahu Elvan sangat merindukan mereka semua. Tidak mungkin pemuda itu ditahan di rumah ini. Dia punya cita-cita yang besar. Dia punya tanggung jawab besar di masa depannya. Dia harus kembali kepada orang-orang yang dia cintai. Karena mereka pasti menanti dia pulang.


"Maafkan Bapak ya, Gus," kata Bu Nanik.


Elvan mengangguk. "Iya, Bu. Aku mencoba mengerti apa yang Bapak rasakan."


"Maaf juga, Ibu tetap panggil kamu Bagus. Memang cocok buat kamu. Boleh, to?" kata Bu Nanik lagi.


"Tidak apa, Bu. Nama itu bagus juga buat aku." Elvan tersenyum.


"Menurut kamu apa kamu sudah siap pulang?" tanya Bu Nanik. Dia memandang wajah Elvan.


"Iya, Bu. Lebih cepat lebih baik," kata Elvan.


"Hmm... paling baik berangkat subuh saja," kata Bu Nanik. "Bapak sering tidur lewat tengah malam. Jadi waktu subuh pasti masih tidur. Nanti ibu kasih tau jalan-jalan menuju perkemahan di sebrang sana."


Lalu Bu Nanik menjelaskan pada Elvan daerah sekitar sini. Kalau dia bisa sampai di perkemahan pasti selalu ada orang yang bisa dimintai bantuan. Tapi Elvan harus hati-hati. Jangan sampai keduluan Pak Karno tahu dia kabur. Karena Pak Karno sangat hafal daerah ini. Dia lahir dan besar di sini. Dia sangat cinta tempat asalnya ini.


"Bu, boleh aku minta kertas dan pulpen?" tanya Elvan setelah mereka selesai mengatur rencana.


"Coba Ibu cari di kamar Dewi. Mudah-mudahan masih ada." Bu Nanik keluar kamar Elvan dan mencari kertas dan pulpen di sana.


"Bu... Bu..." Suara Pak Karno memanggilnya. Rupanya sudah pulang dari sawah. Dia mencari istrinya ke seluruh ruangan. Ternyata di kamar Dewi.


"Ada apa di situ?" tanya Pak Karno.


"Namanya kamar ya dibersihkan to, Pak," jawab Bu Nanik. "Kenapa?"


"Kopi, Bu," kata Pak Karno.


"Iya, sampeyan tunggu di depan. Nanti aku antar," sahut Bu Nanik. Dia melipat kertas dan menyembunyikan pulpen yang ditemukannya. Lalu dia kasih ke Elvan yang masih di kamar.


"Terima kasih, Bu." Elvan tersenyum.


Bu Nanik mengangguk kemudian ke dapur membuat kopi. Di kamar Elvan menulis surat untuk Pak Karno. Bagaimanapun dia pria yang baik. Dia bertanggung jawab atas keluarganya. Dengan kesederhanaannya dia membuktikan bisa melakukan yang terbaik untuk mereka.


Selama lebih sepuluh bulan di rumah ini, yang Elvan dapat adalah kasih sayang dan perhatian. Dia justru banyak belajar dari hidup Pak Karno dan istrinya yang mau saling mengerti dan bukan saling menuntut.


Sampai jam 9 malam Elvan menyelesaikan suratnya. Ada siratan sedih di sana meninggalkan kebaikan hati kedua orang tua itu. Tetapi lebih membuatnya berdebar tak menentu ketika dia tahu, dia akan segera kembali ke rumahnya. Dia akan segera bertemu dengan orang-orang yang dia sayangi. Yang sangat dia rindukan.


Elvan membaringkan tubuh dan berusaha tidur. Tapi membayangkan apa yang akan dia lakukan besok, lari dari rumah ini membuat dia tidak bisa lelap. Pikirannya terus terjaga. Kantuk seperti tidak mau mendekat padanya.

__ADS_1


*


"Gus... Gus... bangun, Nak..." Elvan merasa lengannya digoyang sedikit keras. Dia membuka matanya. Bu Nanik berjongkok di depannya, membangunkannya.


"Ayo, cepat. Nanti keduluan Bapak bangun," katanya pelan. Elvan duduk, mengusap kedua matanya dan segera turun. Dia cepat-cepat bersiap berangkat.


Bu Nanik membawakan air minum dan bungkusan nasi dan lauk. Lalu dia mengantar Elvan keluar. Mereka lakukan dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara yang bisa membangunkan Pak Karno.


"Hati-hati, ya... Kamu jangan lupa sama Ibu dan Bapak," kata Bu Nanik di depan pagar bambu pekarangan rumah itu.


Elvan memeluk erat Bu Nanik. "Tidak, Bu. Aku tidak mungkin lupa Ibu dan Bapak. Terima kasih untuk semuanya."


Lalu Elvan segera keluar. Bu Nanik cepat menutup pagar dan masuk dalam rumah. Dia kembali ke kamar. Suaminya masih tidur lelap, sampai ngorok. Dia pasti sangat lelah karena beberapa hari ini bekerja keras di sawah.


Keluar dari rumah Pak Karno, Elvan berjalan menuju ke arah hutan, melewati jalan pintas ke arah camping ground. Hari masih gelap. Jadi dia menunggu di jalan setapak yang mengarah ke hutan. Karena dia tidak membawa senter untuk penerangan.


Begitu langit mulai merah dan terang, pelan-pelan Elvan masuk ke sana. Agak grogi juga karena dia tidak kenal daerah ini. Tapi dia tidak bisa menunggu lagi. Dia harus tetap maju. Semakin lama suasana semakin terang. Elvan makin mempercepat langkahnya. Entah berapa lama dia berjalan. Yang jelas kakinya mulai lelah, dia merasa haus dan lapar.


Elvan berhenti sebentar untuk makan dan minum. Bu Nanik membawakannya nasi dan telur dadar. Tetap saja enak. Selesai makan dia cepat-cepat meneruskan langkahnya. Matahari agak tinggi waktu dia merasa pepohonan semakin jarang. Diperhatikannya sekeliling, memastikan langkahnya benar. Karena di beberapa tempat tertentu jalan setapak itu bercabang.


Elvan memandang jauh ke depan. Dia nampak ada warna kuning dan biru di kejauhan. Itu seperti warna tenda yang biasa dia lihat orang pakai untuk berkemah. Dia mengarahkan kakinya ke sana. Sedikit terseok-seok karena sudah lelah berjalan, tapi Elvan tidak berhenti.


Akhirnya... dia sampai. Ini camping ground yang tidak jauh dari tempatnya pergi dengan keluarganya waktu itu. Dia mendekat salah satu tenda yang ada.


"Pak... Pak... permisi..." Elvan menyapa seorang bapak yang duduk di depan tenda yang sudah dibongkar. Dia sedang sibuk merapikan barang-barangnya.


"Boleh minta tolong, Pak?" tanya Elvan. Dia masih terengah-engah.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya orang itu. Dia berdiri dan menghampiri Elvan.


"Saya mau pulang, Pak. Ke Malang. Saya bisa lewat mana ya, Pak?" Elvan balik bertanya.


"Kebetulan. Saya mau turun sebentar ini. Sedang beres-beres. Saya bisa bawa kamu sekalian. Saya dari Kediri," kata Bapak itu.


Oya, namaku Dirga. Kamu siapa?" tanya Bapak itu.


"Elvan, Pak. Nama saya Elvan," jawab Elvan.


Dirga berlibur dengan istrinya. Wanita itu tadi masih mencari bunga Adelweis di sekitar lokasi. Kira-kira sejam kemudian mereka sudah berangkat meninggalkan area itu.


*


Pak Karno bangun. Dia lihat istrinya masih tidur di sebelahnya.


"Bu, kok tumben ndak bangun. Sudah terang. Biasanya kamu duluan bangun ketimbang matahari," kata Pak Karno.

__ADS_1


"Aku ndak enak badan, Pak," Jawab Bu Nanik. Dia berbaring membelakangi suaminya. Dia sebenarnya bangun dari tadi. Dia sedang sedih. Dia terus meneteskan air mata karena Elvan sudah pergi.


"Sakit? Badanmu panas?" Pak Karno memegang dahi bu Nanik dari samping. "Ndak panas kok, Bu."


"Sakit semua badanku, Pak," kata Bu Nanik lagi. Tetap dengan posisinya.


"Ya sudah. Istirahat saja. Biar aku bikin kopi sendiri." Pak Karno keluar kamar. Dia ke dapur. Ada yang aneh rasanya. Biasanya jam segini sudah terdengar kesibukan di belakang rumah. Harusnya pintu belakang sudah terbuka, tapi ini masih rapat terkunci.


Pak Karno ke kamar Elvan. Dia buka pintu dan masuk. "Gus, kamu belum bangun..." Pak Karno tidak melihat anak itu di kamar. Kamar sudah rapi. Tapi ke mana dia? Pak Karno mencari ke seluruh rumah. Ke pekarangan depan, ke belakang, setiap ruangan. Dia panggil berulang kali. Tapi Elvan tidak ada.


Dengan panik Pak Karno kembali ke kamar Elvan. Dia mendekat ke ranjang. Kosong. Dia menoleh ke meja. Dia lihat ada lipatan kertas. Ada tulisannya di sana.


'Untuk Bapak dan Ibu'


Surat?


Dengan cepat Pak Karno mengambil lipatan kertas itu dan membukanya.


***


Kepada Bapak dan Ibu yang baik,


Namaku Elvan Alcandra Edgar. Aku punya orangtua dan dua saudara laki-laki. Bagaimana aku bisa sampai di rumah ini Bapak dan Ibu sudah tahu.


Selama aku di rumah ini aku merasakan kasih Bapak dan Ibu yang begitu besar. Bapak dan Ibu menganggap aku sebagai anak. Terima kasih banyak untuk itu.


Tetapi aku harus kembali ke tempat asalku. Ada keluarga aku yang menunggu. Ada seorang kekasih yang menungguku.


Pak, sampaikan maafku sama Dewi, aku tidak bisa menikah dengannya. Karena aku sudah punya tambatan hati, Melati Diandra Adinata. Dewi pasti akan menemukan orang yang tepat untuk mendampingi hidupnya kelak.


Sekali lagi terima kasih untuk semuanya. Aku tidak akan melupakan Bapak dan Ibu.


Salam kasih,


Elvan (Bagus)


***


Tangan Pak Karno gemetar membaca tulisan itu. Bagus sudah pergi. Anaknya tidak ada lagi.


"Baguss!!!!" Pak Karno berteriak sekeras-kerasnya. Dia tidak percaya anaknya sudah meninggalkannya. Dia terduduk dan menangis.


Bu Nanik datang ke kamar itu. Dia mendengar suaminya berteriak begitu keras. Hatinya juga sedih, makin sedih melihat suaminya seperti ini. Tapi Elvan bukan anak mereka. Dia harus kembali pada tempat dia mana dia harusnya berada.


"Pak..." kata Bu Nanik sambil mendekati suaminya.

__ADS_1


"Bagus pergi, Bu. Dia pergi." Pak Karno berkata di tengah isakannya. Bu Nanik mengambil kertas di meja. Itu kertas yang kemarin dia berikan pada Elvan. Dia baca surat itu. Tulisannya rapi. Hatinya terenyuh.


"Kamu baik-baik ya, Gus... Mudah-mudahan satu kali nanti kita bisa ketemu lagi," bisik Bu Nanik di hatinya.


__ADS_2